Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Sosok Misterius
Suasana di dalam rumah keluarga Han mendadak menjadi begitu sunyi. Bahkan suara kayu yang terbakar di tungku terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.
Han Zheng masih berdiri di ambang pintu. Tangannya menggenggam keping logam yang diberikan pria asing itu. Sementara Lian Yue berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Tatapannya tidak pernah lepas dari pria tersebut.
"Xian Yue..." Pria itu kembali menyebut namanya.
Kali ini lebih pelan. Namun justru itu yang membuat tengkuk Lian Yue terasa dingin.
Tidak banyak orang di dunia ini yang mengetahui namanya, bahkan mungkin tak ada yang menyadari, jika namanya adalah Xian Yue bukan Lian Yue.
Sejak datang ke keluarga Han, hampir semua orang memanggilnya Nyonya Han. Bahkan warga desa yang sudah mengenalnya lebih lama pun jarang menggunakan nama lengkapnya, atau mereka salah pelafalannya.
Lalu bagaimana pria asing ini bisa mengetahuinya?
Han Zheng mempererat genggaman pada keping logam.
"Siapa yang mengirimmu?"
Pria itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia justru memandang Han Zheng beberapa saat sebelum berkata, "Aku tidak datang untuk mencari masalah."
"Kalau begitu jawab pertanyaanku." Nada suara Han Zheng berubah tegas.
Pria itu tersenyum tipis. "Namaku Gu Chen."
"Dan aku datang karena seseorang ingin memastikan bahwa Xian Yue masih hidup."
Jantung Lian Yue seakan berhenti sesaat. Masih hidup?
Kalimat itu terlalu aneh.
Ia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa dirinya pernah berada di ambang kematian sebelum datang ke keluarga Han.
Lebih aneh lagi...
Bagaimana seseorang dari dunia ini mengetahui hal tersebut? Apakah tubuhnya saat ini memiliki masa lalu yang lain...
"Siapa?" tanya Lian Yue akhirnya.
Gu Chen menatapnya. "Orang yang sudah lama mencarimu."
Lian Yue tidak bergerak. "Siapa orang itu?"
Gu Chen justru menggeleng. "Aku belum bisa memberitahumu."
Han Zheng langsung melangkah maju. "Kalau begitu pergilah."
Gu Chen mengangkat alis. "Aku hanya ingin berbicara."
"Berbicara dengan orang yang datang malam-malam, membawa benda aneh, lalu menyebut nama istriku tanpa memperkenalkan diri?" Han Zheng menatapnya tajam. "Menurutmu itu bukan alasan untuk curiga?"
Gu Chen terdiam. Kemudian ia tertawa kecil. "Benar." Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan bajunya. "Sepertinya Xian Yue memang memilih keluarga yang tepat."
Mata Lian Yue menyipit. "Jangan bicara seolah-olah kau mengenalku."
Gu Chen menatapnya cukup lama. "Aku memang tidak mengenalmu. Tapi ada seseorang yang mengenalmu."
Lian Yue mengepalkan tangan. "Siapa?"
Gu Chen kembali diam. Beberapa detik kemudian, ia justru mengalihkan pandangan ke halaman belakang rumah. Tepatnya ke arah kebun kecil dan ke arah kecambah kedelai.
Tatapannya berhenti di sana. "Tanah di belakang rumah itu..."
Lian Yue langsung berubah waspada. "Ada apa dengan tanah kami?"
Gu Chen tersenyum samar. "Tidak ada. Tanahnya hanya terlihat jauh lebih sehat dibanding tanah di sekitar desa."
Lian Yue tidak menjawab. Han Zheng juga ikut melihat ke arah kebun.
Gu Chen kembali menatap mereka. "Kau benar-benar tinggal di sini."
Lian Yue merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Kenapa kau mengatakan itu?"
"Karena beberapa orang mengira kau berada di tempat lain."
"Beberapa orang?"
"Ya." Gu Chen menghela napas. "Dan mereka mungkin akan segera datang."
Suasana kembali sunyi. Kali ini bahkan Han Zheng tidak langsung menjawab. Lian Yue memandang pria tersebut dengan tatapan dingin. "Kenapa memperingatkanku?"
Gu Chen tersenyum. "Karena aku tidak ingin melihat orang yang baru ditemukan sungguhan mati bukan hanya prediksi."
Kalimat itu membuat ekspresi Lian Yue berubah. "Baru ditemukan?"
Gu Chen sadar bahwa dirinya telah mengatakan terlalu banyak. Ia segera berbalik. "Aku rasa percakapan kita cukup untuk malam ini."
Han Zheng hendak mengejarnya. Namun Gu Chen sudah berjalan menjauh dari halaman. Sebelum menghilang di balik kabut malam, ia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh, ia berkata, "Xian Yue. Jangan pergi ke Bukit Timur."
Tubuh Lian Yue membeku. Gu Chen melanjutkan, "Dan jangan menyentuh batu merah itu."
Setelah itu ia berjalan pergi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada ancaman. Hanya meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
.
.
Han Zheng menutup pintu setelah pria itu benar-benar menghilang. Ia berbalik dan menatap ke arah istrinya.
"Istriku."
Lian Yue masih berdiri diam. "Ya?"
"Siapa dia?"
Lian Yue menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu."
Han Zheng mengerutkan kening. "Dia tahu namamu.. "
"Aku tahu."
"Dia tahu tentang Bukit Timur."
"Aku juga tahu."
"Dan dia tahu tentang batu merah."
Lian Yue menghela napas. "Ya."
Han Zheng terdiam. Kemudian ia mengangkat keping logam yang masih berada di tangannya. "Setidaknya kita punya ini."
Lian Yue mengambilnya. Keping tersebut terasa dingin. Permukaannya memiliki lambang seperti mata yang dikelilingi lingkaran.
Ia membaliknya. Tidak ada tulisan. Namun begitu jarinya menyentuh bagian tengah lambang...
Tubuh Lian Yue tiba-tiba terasa aneh. Hangat.
Sangat hangat. Seolah-olah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang merespons benda tersebut.
Lian Yue segera menarik tangannya, dan keping logam jatuh ke atas meja.
Ting!
Han Zheng terkejut. "Kenapa?"
Lian Yue menatap benda itu. "Jangan sentuh."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu."
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di keluarga Han, Lian Yue merasa takut terhadap sesuatu yang bahkan belum ia pahami.
.
.
Malam itu, Lian Yue sulit tidur. Han Zheng sudah terlelap di sampingnya. Namun pikirannya terus berputar.
Nama.
Batu merah.
Bukit Timur.
Dan orang yang sedang mencarinya. Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang tidak memiliki hubungan. Sampai satu hal muncul di kepalanya. Kemampuan memahami hewan.
Sejak datang ke dunia ini, ia selalu menganggap kemampuan itu sebagai sesuatu yang aneh tetapi tidak terlalu penting.
Ia membantu keluarga Han bertahan hidup.
Itu saja.
Namun bagaimana jika...
Kemampuan tersebut bukan kebetulan?
Bagaimana jika ada alasan kenapa dirinya bisa memahami bahasa para hewan?
Lian Yue membuka mata. Tidak.
Ia tidak ingin memikirkan hal itu. Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin jauh kehidupan sederhana yang ingin ia pertahankan.
Ia membalikkan tubuh dan mencoba tidur.
Namun beberapa saat kemudian...
["Lian Yue."]
Suara kecil terdengar dari luar jendela. Lian Yue langsung membuka mata.
Suara burung.
Ia bangkit perlahan agar tidak membangunkan Han Zheng, lalu membuka jendela.
Seekor burung hantu bertengger di atas pohon jujube.
"Apa?"
Burung hantu menatapnya.
["Orang tadi pergi ke hutan."]
Lian Yue langsung terdiam.
"Gu Chen?"
Burung hantu menggeleng.
["Bukan."]
["Orang lain."]
Jantung Lian Yue kembali berdegup lebih cepat. "Berapa orang?"
Burung hantu menoleh ke arah kegelapan.
["Tiga."]
"Tiga orang?"
["Mereka menuju Bukit Timur."]
Lian Yue memandang langit malam. "Apakah mereka membawa batu?"
Burung hantu diam cukup lama. Kemudian menjawab, ["Tidak."]
["Mereka membawa senjata."]
Lian Yue menghela napas pelan. Jadi benar.
Bukit Timur bukan lagi sekadar tempat berburu.
Ada sesuatu yang sedang terjadi di sana.
.
.
Keesokan paginya, Lian Yue bangun seperti biasa.
Ia tetap mengambil air di sumur, lalu membantu Nyonya Han menyiapkan makanan.
Tetap memeriksa kebun kecil. Tidak ada satu pun anggota keluarga Han yang mengetahui apa yang terjadi semalam. Namun saat ia tiba di petak kedelai, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Kecambah yang kemarin berjumlah beberapa batang...
Kini hampir semuanya mulai muncul.
Lian Yue tersenyum kecil. Ia berjongkok dan menyentuh tanah.
Hangat.
Lembap.
Sehat.
"Setidaknya ada satu hal yang masih berjalan sesuai rencana."
Seekor belalang hinggap di daun. ["Manusia aneh."]
Lian Yue tersenyum. "Kenapa?"
["Kau takut pada manusia lain."]
["Tapi kau senang melihat tanaman."]
Lian Yue seketika terdiam tapi kemudian ia tertawa kecil. "Karena tanaman tidak punya niat buruk."
Belalang itu tampak berpikir. ["Tanaman juga bisa memakan serangga."]
Lian Yue menatap belalang itu dengab ekspresi merengut yang lucu, "Jangan merusak suasana."
["Baik."]
Lian Yue tersenyum. Namun senyumnya segera menghilang ketika seekor burung pipit terbang turun dengan tergesa-gesa.
["Lian Yue!"]
"Apa?"
["Bukit Timur!"]
Lian Yue langsung berdiri. "Apa yang terjadi?"
Burung pipit itu mengepakkan sayapnya dengan panik. ["Pohon-pohon di dekat mata air tumbang."]
Lian Yue mengerutkan kening. "Karena orang-orang itu?"
Burung pipit mengangguk. ["Mereka menggali tanah."]
"Dan batu merah?"
Burung itu diam. Kemudian berkata dengan suara jauh lebih pelan. ["Batu itu sudah tidak ada."]
Lian Yue membeku.
"Apa?"
["Seseorang mengambilnya."] Angin pagi berembus melewati ladang. Daun-daun kedelai bergerak perlahan.
Lian Yue menatap ke arah Bukit Timur. Tiba-tiba ia memahami sesuatu. Kalau batu itu memang membuat hewan menjauh...
Kalau pohon di sekitarnya mati. Dan sekarang seseorang sudah mengambilnya...
Maka masalah sebenarnya mungkin bukan apa yang ada di Bukit Timur.
Melainkan...
Ke mana batu merah itu akan dibawa. Lian Yue berdiri perlahan.
Untuk pertama kalinya, kehidupan sederhana keluarga Han berada di ambang sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun sebelum ia sempat mengambil keputusan, terdengar suara dari belakang.
"Istriku..." Han Zheng berdiri beberapa langkah darinya. "Ada apa?"
Lian Yue menoleh. Ia melihat wajah suaminya, kemudian melihat ladang. Kebun kecil. Rumah sederhana mereka. Dan akhirnya kembali menatap Bukit Timur.
Ia tersenyum tipis. "Tidak ada."
Han Zheng mengerutkan kening. "Benarkah?"
Lian Yue mengangguk. "Benar." Ia lalu mengambil cangkul. "Hari ini kita harus memperbaiki saluran air."
Han Zheng menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Baik."
Keduanya berjalan menuju ladang. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di balik hutan. Tidak ada yang mengetahui siapa yang mengambil batu merah.
Dan tidak ada yang mengetahui mengapa orang-orang dari luar mulai mencari Lian Yue.
Namun jauh di dalam hutan...
Di sebuah gua yang tidak pernah diketahui penduduk Desa Qinghe...
Sebuah keping logam dilemparkan ke atas meja. Gu Chen berdiri di hadapan seorang pria berjubah hitam.
"Sudah ditemukan?"
Gu Chen mengangguk. "Dia hidup."
Pria berjubah hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. "Di mana?"
"Desa Qinghe."
"Sendirian?"
Gu Chen terdiam. Kemudian tersenyum tipis. "Tidak. Dia sudah memiliki keluarga."
Pria berjubah hitam itu termenung dengan tatapan mata yang sedikit bergetar untuk beberapa detik, lalu mengerutkan kening. "Bagaimana dengan kemampuannya?"
Gu Chen menatap ke arah keping logam di atas meja. "Sudah bangkit. Tapi, beruntung tak ada orang yang menyadarinya.."
Ruangan mendadak sunyi. Pria berjubah hitam perlahan mengepalkan tangannya, ekspresinya terlihat lega tapi juga gelisah.
"Kalau begitu... Jangan biarkan dia meninggalkan Desa Qinghe..."
Gu Chen tidak menjawab.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Permainan yang selama ini mereka ulur...
Akhirnya telah dimulai.
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang