NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4- Sebuah keputusan

Hari ini semua orang berkumpul di markas Vanzara Empire. Para petinggi, para eksekutor. Orang-orang yang selama ini hidup dan mati di bawah satu nama,

Crimson Queen.

Kini Alena tengah berdiri di hadapan mereka. Ia tampak anggun dan tenang.

Namun kali ini sorot matanya berbeda. Bukan dingin bukan juga amarah melainkan rasa kelelahan yang mendalam.

Kini Vincent melangkah maju sedikit seraya menunduk. "Semua sudah berkumpul, Nona.”

Alena pun mengangguk dan melangkah ke depan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, menatap semua orang yang menunggu dalam diam.

Dan saat ia berbicara, suaranya tetap sama, terdengar tegas dan berwibawa.

“Aku akan langsung ke inti.”

Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat beberapa orang mulai saling berpandangan.

“Aku… akan mundur," lanjut Alena.

“Apa…?” salah satu dari mereka tak mampu menahan suaranya saking terkejut.

“Nona… maksud Anda—” Vincent mengernyit dan mencoba memastikan.

“Aku akan meninggalkan semuanya,” lanjut Alena tanpa ragu. “Mulai hari ini… aku bukan lagi bagian dari dunia ini.”

“Tidak bisa!”“Ini tidak masuk akal!”“Kita butuh Anda!”“Tanpa Anda—kita akan hancur!”

Suasana pun menjadi pecah, suara-suara itu saling bersahutan.

Namun...

“Cukup.”

Satu kata dari Alena dan membuat semua kembali terdiam.

Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang tidak menekan melainkan dengan tatapan yang jujur.

“Aku sudah menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan. Aku lelah hidup seperti ini. Setiap hari… darah, pengkhianatan, dan kehilangan.”

Alena menarik napas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku ingin… hidup sebagai manusia biasa.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi mereka, para anak buah, itu hampir mustahil.

Kemudian, Vincent melangkah maju lebih dekat. “Dan kami?” suaranya lebih rendah, namun penuh arti. “Apa yang harus kami lakukan tanpa Anda?”

Alena menatapnya cukup lama.

“Kalian kuat,” jawabnya. “Bahkan sebelum aku ada.”

“Itu tidak benar,” potong Vincent dengan tegasnya. “Kami menjadi seperti sekarang karena Anda.”

Yang lain pun mengangguk.

“Nona… kami bisa berubah.”“Kita bisa kurangi operasi…”“Kita bisa cari jalan lain—”

Namun Alena menggeleng pelan-pelan.

“Kalian tidak mengerti. Ini bukan tentang organisasi ini.”

Ia meletakkan tangannya di dadanya sendiri. “Ini tentang aku. Aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang ditakuti.”

Alena tersenyum tipis seakan lelah.

“Aku ingin… menjadi seseorang yang bisa tertawa tanpa harus melihat ke belakang.”

Tidak ada yang langsung menjawab, karena untuk pertama kalinya mereka melihat Alena sebagai manusia bukan sebagai ratu pembantai.

Beberapa detik pun telah berlalu dalam keheningan. Lalu Vincent menghela napas panjang dan menunduk.

“Kalau itu keputusan Anda…”

Semua mata pun tertuju Vincent.

“…maka kami akan menghormatinya.”

Beberapa orang terkejut mendengar penuturan Vincent. Namun perlahan satu per satu di antara mereka ikut menunduk.

“Terima kasih atas segalanya, Nona.”“Anda menyelamatkan hidup kami…”“Kami tidak akan melupakan itu.”

Suasana pun berubah. Kini tidak ada penolakan lagi, melainkan rasa perpisahan yang membuat sorot mata Alena sedikit melembut karena terharu.

“Jangan panggil aku ‘Nona’ lagi,” katanya pelan. “Mulai sekarang… aku hanya Alena.”

“Baik… Nona Alena.”

______

___________

Beberapa jam kemudian...

Alena berdiri di depan gerbang besar markas dengan hanya membawa satu tas kecil. Tanpa pengawal dan tanpa simbol kekuasaan.

Sementara Vincent berdiri di belakangnya lalu bertanya, “Apakah Anda yakin… ingin pergi sendirian?”

Alena menatap ke depan, ke jalan yang panjang, ke arah yang tidak pasti, namun menuju kebebasan.

“Aku sudah terlalu lama tidak sendiri,” jawabnya.

Ia pun melangkah, namun berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Jaga mereka.”

“Selalu,” jawab Vincent.

Gerbang terbuka dengan perlahan dan Alena melangkah keluar dengan ringan sebagai seseorang yang baru.

_______

____________

Dua tahun telah berlalu.

Dunia bawah tanah yang dulu mengenal nama Crimson Queen kini hanya menyisakan bisikan-bisikan samar. Sebagian mengira ia telah mati. Sebagian lagi percaya jika ia menghilang.

Namun tidak ada yang benar-benar tau, bahwa sang ratu… memilih untuk hidup sebagai manusia biasa di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan.

Ya, kini Alena berdiri di balik etalase toko bunganya. Sebuah toko sederhana di pinggir jalan yang cukup ramai. Tokonya tidak besar, namun selalu dipenuhi warna-warni bunga segar yang tertata rapi.

Aroma mawar dan lavender bercampur lembut di udara. Dan di sanalah ia menjalani hidupnya dengan nama baru dan dengan kehidupan baru meski dengan hati yang belum sepenuhnya pulih.

“Selamat pagi, Kak Alena!”

Seorang gadis kecil berlari menghampirinya dengan wajah yang ceria. Alena pun tersenyum hangat, ekspresi yang dulu hampir mustahil ia lakukan.

“Pagi juga, Rina. Mau bunga lagi untuk ibumu?” tanyanya lembut.

Gadis kecil bernama Rina itu mengangguk semangat. “Iya! Ibu bilang bunga dari kakak selalu bikin rumah jadi wangi.”

Alena tertawa kecil lalu mengambil beberapa bunga segar dan merangkainya dengan cekatan. Gerakannya lembut dan terlatih, tidak nampak jika ia dulu pemegang senjata yang handal.

“Ini untuk ibumu,” katanya sambil menyerahkan buket kecil.

Rina pun menerimanya dengan mata yang berbinar. “Terima kasih!”

“Titip salam untuk ibumu, ya.”

Gadis kecil itu mengangguk lalu berlari pergi. Alena memperhatikannya sesaat dengan senyumnya yang masih tersungging di pipi. Namun perlahan senyumnya memudar ketika pandangannya menjadi kosong.

##

Hari-hari terus berjalan. Pembeli datang silih berganti. Dan seperti biasa, beberapa dari mereka bukan hanya datang untuk membeli bunga.

“Alena, kamu tidak capek kerja sendirian?” tanya seorang pria muda dengan senyum yang percaya diri.

Namun Alena tetap merangkai bunga tanpa menatapnya. “Tidak juga. Saya sudah terbiasa.”

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku yang bantu? Sekalian… kita makan malam nanti?”

Alena akhirnya menoleh seraya tersenyum sopan. “Terima kasih, tapi tidak perlu.”

Pria itu tertawa kecil, namun tidak mau menyerah. “Kamu selalu menolak. Memangnya belum ada yang berhasil mengambil hatimu?” tanyanya.

Sejenak tangan Alena berhenti. “Tidak,” jawabnya singkat.

Bukan karena tidak ada yang mencoba. Namun karena hatinya itu sudah tertinggal di masa lalu dan belum pernah benar-benar kembali.

Saat sore menjelang langit mulai berubah menjadi jingga. Alena berdiri di depan tokonya sambil menyiram bunga-bunga yang tersisa.

Angin yang berhembus pelan memainkan rambutnya yang kini lebih sederhana dengan mengenakan gaun ringan, tanpa kemewahan dan tanpa aura menakutkan.

Ia tampak seperti gadis biasa. Cantik, ramah, hangat. Namun, jika seseorang melihat lebih dalam ke matanya, mereka akan menemukan sesuatu yang berbeda.

“Cantik sekali.”

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang hingga membuat Alena menoleh dan melihat seorang pria berdiri di sana yang nampak tidak seperti pelanggan biasanya.

Tatapannya tajam namun ia tersenyum santai sambil berkata, “Bunganya… atau yang menjualnya?”

Alena menatapnya beberapa detik dan merasakan keanehan tapi ia tidak menunjukkannya.

“Kalau ingin membeli bunga, silakan pilih,” jawabnya datar.

“Menarik," sahut sang pria seraya tersenyum tipis.

Ia lalu melangkah mendekat namun segera berhenti untuk menjaga jarak.

“Sudah lama aku tidak melihat orang seperti kamu di kota ini.”

Alena tidak menjawab. Ia hanya kembali fokus pada bunganya.

“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya.

“Hanya… firasat," jawab pria itu sambil mengangkat bahunya.

“Kalau tidak jadi membeli, saya harus tutup toko," ujar Alena.

“Baiklah. Sampai jumpa Nona. Kita pasti akan bertemu lagi.”

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!