Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah kata "sah" berkumandang, suasana tegang yang sempat menyelimuti mansion kini mencair sepenuhnya.
Prosesi dilanjutkan dengan sesi dokumentasi. Mario yang mendadak alih profesi menjadi fotografer dadakan sibuk mengarahkan gaya.
Kenzo dengan posesif merangkul pinggang Liana, sementara Liana tersenyum malu-malu ke arah kamera.
Beberapa anak buah geng Black Cobra bahkan ikut berfoto bersama, memamerkan pose garang namun dengan senyum lebar yang terlihat menggelikan.
Usai sesi foto, Kenzo menghampiri paman Bunga.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan penuh rasa hormat, sekaligus menyelipkan sebuah cek dengan angka nol yang berderet panjang ke telapak tangan sang penghulu.
"Terima kasih sudah bersedia menunggu dan melancarkan hari ini, Paman," ucap Kenzo tulus. Ia kemudian menoleh ke arah Bunga yang berdiri di samping pamannya.
"Bunga, bantu pamanmu mencairkannya besok. Pastikan semuanya beres."
Bunga melirik angka di cek tersebut dan matanya langsung berbinar.
"Siap, Bos! Aman, laksanakan!" jawab Bunga bersemangat sambil menuntun pamannya untuk beristirahat di ruang tengah.
Kini tinggal Kenzo dan Liana. Dengan lembut, Kenzo merangkul pundak istrinya dan mengajaknya berjalan menuju meja resepsi yang dipenuhi oleh berbagai aroma masakan catering.
"Mau makan apa?" tanya Kenzo, menatap Liana dengan tatapan penuh perhatian.
Liana yang sejak pagi belum memasukkan makanan berat langsung bersemangat.
"Sate kambing!"
"No," jawab Kenzo cepat tanpa ragu.
Liana cemberut, lalu menunjuk menu lain.
"Tengkleng?"
"No," tolak Kenzo lagi dengan tegas.
Liana mulai kesal.
Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ketus suaminya itu.
"Semuanya no, lalu aku boleh makan apa? Aku lapar, Kenzo!"
Kenzo hanya terkekeh rendah melihat wajah menggemaskan istrinya yang sedang merajuk.
Sebagai seorang dokter kandungan, ia tentu tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil, terutama yang baru saja mengalami ancaman keguguran.
Rasa lapar Liana tidak boleh dituruti secara sembarangan.
Dengan cekatan, Kenzo mengambilkan piring dan mulai memilihkan menu yang menurutnya paling aman.
Ia menyendokkan nasi putih hangat, lalu menambahkan ayam kukus sayur sop yang kaya nutrisi, serta semangkuk besar salad buah segar sebagai pelengkap.
"Ini makananmu hari ini," ucap Kenzo sambil memberikan piring tersebut ke tangan Liana.
"Ayam sayur sop untuk memulihkan tenagamu, dan salad buah untuk vitamin anak kita. Makanan tinggi kolesterol dan pembakaran arang seperti sate dan tengkleng dicoret dulu dari daftar menu sampai bayimu lahir dengan selamat. Paham, Sayang?"
"Iya, paham, Pak Dokter," gerutu Liana pasrah, meski bibirnya masih sedikit mengerucut.
Kenzo tersenyum puas, lalu mencubit gemas pipi Liana yang kini terasa lebih berisi.
"Pintar. Sekarang, aku menyapa anak-anak dulu di depan, ya. Kamu habiskan makanannya di sini."
Liana menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Begitu Kenzo berbalik dan berjalan menjauh untuk menemui para anggota geng Black Cobra, Liana langsung duduk dan mulai menikmati sop ayam serta salad buah pilihan suaminya.
Makanannya memang segar dan enak, tapi aroma sate kambing yang dibakar di sudut halaman benar-benar terus menggoda iman dan indra penciumannya.
Liana melirik ke kanan dan ke kiri. Kenzo sedang asyik mengobrol memunggungi dirinya.
Kesempatan, batin Liana nakal.
Dengan gerakan secepat kilat dan sangat hati-hati, Liana berdiri lalu berjalan mengendap-endap mendekati meja pondokan sate.
Tanpa sepengetahuan suaminya maupun anak buah geng yang sedang berjaga, tangan mungilnya dengan lihai menyambar satu tusuk sate kambing yang masih hangat dan juicy.
Hanya dalam beberapa suapan besar di balik pilar, sate itu langsung berpindah ke dalam mulutnya.
Nikmat luar biasa!
Setelah misinya berhasil, Liana kembali ke tempat duduknya dengan wajah tanpa dosa.
Ia buru-buru membuang tusuk sate bambunya ke dalam tempat sampah di bawah meja agar tidak meninggalkan barang bukti fisik.
Sambil mengelus perutnya yang kini terasa jauh lebih tenang, Liana berbisik pelan pada janinnya,
"Satu tusuk saja ya, Anak Mama. Nanti Papa-mu yang galak itu bisa mengamuk kalau tahu."
Baru saja Liana menghela napas lega karena misinya berhasil, tiba-tiba sebuah gejolak hebat terjadi di dalam perutnya.
Perut Liana berbunyi riuh, melilit dengan suara yang cukup kencang. Wajahnya yang semula puas seketika berubah menjadi panik.
Sengatan rasa mulas yang luar biasa menghantamnya tanpa ampun.
Tanpa menunggu Kenzo kembali, Liana segera bergegas naik ke lantai atas dengan setengah berlari.
Begitu sampai di kamar, ia langsung menerobos masuk ke kamar mandi.
Di dalam sana, Liana langsung murus-murus hebat. Efek daging kambing yang berlemak dan berbumbu tajam rupanya langsung menolak bekerja sama dengan lambung sensitifnya yang baru saja pulih dari stres.
Setelah beberapa menit yang menyiksa, Liana keluar dari kamar mandi dengan napas terengah-engah.
Namun, baru dua langkah kakinya menapak di karpet kamar, perutnya kembali melilit seperti diremas-remas.
"Aduh, tidak bisa ditahan!" pekik Liana tertahan.
Ia berbalik arah, buru-buru masuk lagi ke dalam kamar mandi.
Liana kembali murus-murus untuk yang kedua kalinya, membuat seluruh sisa tenaganya terkuras habis.
Sementara itu di lantai bawah, Kenzo yang baru saja selesai menyapa anak buahnya mengedarkan pandangan ke ruang resepsi.
Dahinya berkerut dalam saat mendapati kursi yang tadinya diduduki Liana kini telah kosong melompong.
Piring sop ayam dan salad buahnya pun belum habis.
Firasat buruk seorang suami sekaligus dokter kandungan langsung bekerja.
Kenzo melangkah lebar, setengah berlari menaiki anak tangga dan langsung menuju kamarnya.
Ceklek!
Kenzo membuka pintu tepat saat Liana baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertumpu pada dinding.
Jantung Kenzo rasanya mau copot melihat kondisi istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Kenzo panik, langsung memburu dan mendekap tubuh Liana yang sudah lunglai.
"Aku... aku diare, Kenzo... Lemas sekali," rintih Liana dengan suara yang terputus-putus.
Deg!
Jantung Kenzo berdegup kencang karena cemas.
Ia melihat istrinya yang kini benar-benar lemas, pucat pasi, dan berjalan terseok-seok seperti zombie yang kehilangan arah.
Efek diare pada ibu hamil yang baru saja mengalami ancaman keguguran bisa sangat berbahaya karena memicu dehidrasi dan kontraksi susulan.
Kenzo memapah Liana dengan hati-hati untuk duduk di tepi ranjang.
Matanya menatap tajam, menginterogasi dengan nada penuh selidik namun terselip rasa khawatir yang teramat sangat.
"Apakah kamu makan makanan yang lain saat aku pergi tadi?" tanya Kenzo, menuntut jawaban jujur.
Liana tidak berani menatap mata suaminya. Dengan bibir yang bergetar karena lemas dan takut, ia perlahan mendongak dan mengaku dengan suara mencicit, "A-aku... aku hanya mengambil satu tusuk sate kambing tadi... diam-diam..."
Kenzo menghela napas panjang, menatap Liana dengan perpaduan antara gemas, kesal, dan rasa khawatir yang mendalam.
Ia memijat pangkal hidungnya sejenak sebelum akhirnya menyentil pelan kening istrinya itu.
"Hmmm... Dasar nakal pasienku yang satu ini," omel Kenzo dengan nada baritonnya yang rendah namun sarat akan peringatan.
"Baru saja rahimmu tenang, sekarang kamu malah membuat lambungmu mengamuk."
Kenzo beranjak ke lemari medis di sudut kamar, mengambil satu kantung cairan elektrolit baru dan set jarum infus yang steril. Aura dokternya kembali keluar secara otomatis.
"Ayo, aku harus menginfusmu lagi agar tidak dehidrasi. Ibu hamil yang diare itu sangat berbahaya bagi janin," ucap Kenzo sembari mendekati ranjang dengan perlengkapan medis di tangannya.
Pria itu kemudian duduk di tepi kasur, menatap lekat-lekat mata Liana yang layu sembari menaikkan satu sudut bibirnya, membentuk senyum seringai khas pimpinan Black Cobra.
"Apa perlu aku ikat sekalian tanganmu di ranjang ini agar kamu patuh, Sayang? Biar tidak mengendap-endap lagi mencuri makanan."
Mendengar ancaman bernada posesif dan intimidasi khas Kenzo, Liana langsung membelalakkan matanya yang lemas.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
"Nggak mau! Jangan diikat..." cicit Liana dengan wajah memelas.
"Makanya, turuti kata suamimu yang dokter ini," balas Kenzo melembut.
Ia meraih lengan Liana dengan sangat hati-hati, mengusap permukaannya dengan alkohol, lalu dengan satu gerakan yang terampil dan tidak sakit, jarum infus itu kembali terpasang rapi di pembuluh darah Liana untuk menyalurkan cairan yang dibutuhkannya.
Kenzo terkekeh rendah melihat reaksi Liana. Ia merapikan selimut tebal hingga sebatas dada istrinya, memastikan posisi tidur Liana sudah benar-benar nyaman dan aman.
"Sekarang kamu harus istirahat total," ucap Kenzo, nadanya berubah serius namun tetap lembut.
"Aku akan turun sebentar untuk menemani para tamu dan anak-anak geng yang akan pulang. Ingat, jangan nakal lagi atau aku akan menyuntikmu dengan jarum khususku."
Dahi Liana yang masih agak lemas berkerut bingung.
"Jarum khusus?"
"Ini?" tanya Kenzo dengan seringai nakal yang mendadak terukir di wajah tampannya.
Pria itu dengan percaya diri menunjuk ke arah celananya, merujuk pada "Joni kecilnya" yang tertutup setelan celana bahan mahal.
Mata Liana langsung membelalak sempurna. Rasa lemas akibat diare tadi mendadak lenyap digantikan oleh semburat merah yang menjalar hebat di kedua pipinya.
"Ishhh! Menyebalkan!" seru Liana ketus sambil melempar bantal kecil ke arah suaminya.
"Mesum! Aku tidur saja, Kenzo!"
Liana langsung berbalik memunggungi Kenzo dan menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajahnya yang memerah padam karena malu sekaligus kesal.
Kenzo tertawa renyah, suara baritonnya menggema renyah di dalam kamar mandi sebelum ia menangkap bantal yang dilempar Liana dengan mudah.
Ia mendekat, mengecup sekilas puncak kepala istrinya yang tertutup selimut, lalu melangkah keluar dengan senyum puas untuk menyelesaikan urusan resepsinya di bawah.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak