"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Jeruji Besi
..........
...Cerita ini hanya Fiksi Belaka....
...Tidak untuk ditiru....
...Terimakasih....
...Happy Reading....
.........
Bunyi logam yang beradu dengan lantai beton bergema malas di sepanjang koridor Pengadilan Distrik Pusat Seoul. Persidangan itu berjalan tertutup, kilat lampu kilat dari kamera wartawan di luar gedung meredup digantikan oleh kesunyian yang mencekam di dalam ruang sidang utama. Tidak ada drama pembelaan yang dramatis, tidak ada air mata penyesalan, dan tidak ada teriakan kemarahan dari kursi terdakwa.
Marysa duduk di sana dengan punggung tegak, dibalut pakaian tahanan berwarna biru pudar yang longgar. Rambut hitam panjangnya yang biasa terurai indah kini diikat asal-asalan ke belakang. Di atas podium tinggi, hakim membacakan vonis dengan suara monoton yang berat, menjabarkan satu per satu dosa Klan Baekje, klan mafia yang dipimpin Marysa, mulai dari penyelundupan skala besar, pencucian uang, hingga keterlibatan dalam bentrokan berdarah antar-geng di pinggiran kota.
"Menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa remisi selama dua puluh tahun pertama di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Wanita Cheongju."
Ketukan palu hakim terdengar tiga kali. Tok. Tok. Tok. Sebuah keputusan yang mengunci sisa masa muda Marysa di balik dinding batu. Bukan hukuman mati, karena jaksa tahu mengeksekusi seorang kepala klan hanya akan memicu perang saudara yang lebih besar di jalanan. Mereka memilih untuk menguburnya hidup-hidup di tempat paling terisolasi.
Marysa tidak bergeming. Dia bahkan tidak melihat ke arah hakim. Sepasang matanya yang kelam justru bergerak ke sudut belakang ruang sidang, tempat di mana seorang pria berdiri dengan seragam dinas kepolisian yang rapi dan kaku.
Herry berdiri di sana, melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya sedingin es, tanpa ekspresi, seperti patung marmer yang tidak tersentuh oleh emosi manusia. Di dadanya, lencana emas kapten tim elit reserse kriminal berkilau sombong. Dia datang untuk memastikan bahwa buronan yang dia tangkap benar-benar disingkirkan dari masyarakat.
Saat Marysa dipaksa berdiri oleh dua petugas penjaga untuk dibawa keluar, langkahnya sengaja melambat ketika melewati posisi Herry. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh pagar kayu pembatas. Marysa mendongak, menatap mata pria itu yang sedingin jelaga.
"Kerja bagus, Kapten," bisik Marysa, nyaris tak terdengar.
Herry tidak berkedip. Rahangnya mengeras, memberikan tatapan asing yang begitu pekat, seolah Marysa hanyalah tumpukan berkas kasus yang akhirnya bisa dia tutup dan arsipkan. Dingin. Benar-benar tidak ada sisa ingatan tentang malam berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon di dalam mata itu. Herry hanya memalingkan wajahnya ke depan, mengabaikan eksistensi Marysa sepenuhnya.
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Cheongju bukan tempat bagi narapidana biasa. Tempat itu adalah lubang pembuangan bagi para pembunuh, pengedar narkoba kelas berat, dan wanita-wanita yang kehilangan kemanusiaannya di jalanan. Bau udara di sana adalah perpaduan antara antiseptik murah, dinding lembap yang berjamur, dan keringat dingin dari keputusasaan.
Pintu sel nomor 407 terbuka dengan derit besi yang memilukan. Petugas mendorong punggung Marysa kasar hingga dia melangkah masuk ke dalam ruangan sempit yang dihuni oleh lima wanita lain. Begitu pintu besi kembali dikunci dengan bunyi klek yang final, atmosfer di dalam ruangan langsung berubah drastis.
Lima pasang mata menatap Marysa. Itu bukan tatapan penasaran, melainkan tatapan berdarah dari sekumpulan serigala yang kedatangan mangsa baru. Mereka semua mengenali wajah Marysa. Berita tentang runtuhnya ratu mafia Gangnam telah menyebar ke seluruh televisi penjara sejak pagi.
"Lihat siapa yang datang," sebuah suara serak memecah keheningan. Seorang wanita bertubuh gempal dengan tato ular yang menjalar di lehernya bangkit dari ranjang beton. Namanya Chae-won, seorang mantan eksekutor geng motor yang sudah mendekam di sana selama sepuluh tahun. "Ternyata si putri tidur dari klan besar itu tidak lebih dari sekadar tikus yang basah kuyup sekarang."
Marysa tidak menjawab. Dia berjalan tenang menuju sudut ruangan yang kosong, berniat untuk duduk di lantai beton. Namun, sebelum tubuhnya sempat turun, sebuah tendangan keras menghantam pinggang kirinya.
Bugh!
Tubuh ramping Marysa terjerembap ke lantai, menabrak dinding semen yang kasar. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar ke rusuknya, membuat napasnya tercekat selama beberapa detik. Kulit pipinya tergores lantai, mengeluarkan setitik darah segar yang kontras dengan kulitnya yang pucat.
"Di sini, kamu bukan bos, jalang," desis Chae-won, melangkah mendekat dan mencengkeram rambut Marysa, memaksa kepala wanita itu terdongak. Wanita-wanita lain di dalam sel terkekeh sinis, menikmati tontonan gratis ini. "Klannmu sudah hancur. Ayahmu sudah membusuk di tanah. Dan kamu? Kamu hanya daging segar yang siap kami cabik-cabik setiap hari."
Chae-won melayangkan satu pukulan mentah ke rahang Marysa, membuat sudut bibir Marysa pecah. Darah hangat mulai mengalir, menetes ke kerah baju tahanannya. Kejam, kasar, dan tanpa ampun.
Namun, di luar dugaan semua orang di dalam sel itu, Marysa tidak menangis. Dia tidak memohon.
Di tengah rasa sakit yang mendenyut di wajah dan tubuhnya, sepasang mata kelam Marysa justru berkilat aneh. Perlahan, sebuah senyuman tipis senyuman yang terlihat sangat kontradiktif dengan kondisinya yang babak belur, terukir di bibirnya yang berdarah. Dia terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang membuat Chae-won tiba-tiba merasa merinding tanpa tahu alasannya.
"Kenapa kamu tersenyum, gila?!" bentak Chae-won, mempererat cengkeramannya pada rambut Marysa.
Marysa menatap Chae-won menembus helai rambutnya yang berantakan. Di dalam benak Marysa, rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya. Pikirannya tidak berada di sel kotor ini. Pikirannya melayang kembali ke ruang sidang beberapa jam lalu, pada sosok Herry yang berdiri tegak dengan seragam kepolisiannya.
Marysa tersenyum karena dia tahu, selama dia berada di sistem hukum ini, selama kasusnya belum sepenuhnya selesai dengan eksekusi mati, Herry akan tetap terikat dengannya. Sebagai kapten yang menangkapnya, Herry akan dipaksa untuk terus memantau perkembangannya, menghadiri interogasi lanjutan tentang sisa aset klan, atau sekadar datang memeriksa berkasnya.
Bahkan jika kamu tidak mengingatku, Herry... setidaknya di tempat ini, aku bisa melihatmu lagi. Kita berada di bawah langit yang sama, terikat oleh rantai yang sama, batin Marysa. Rasa senang yang sakit dan menyimpang itu tumbuh di dadanya, menjadi bahan bakar tunggal yang membuatnya tetap waras di tempat sebuas ini.
Chae-won yang merasa dihina oleh senyuman itu mendorong kepala Marysa ke lantai dengan kasar hingga terdengar bunyi benturan yang cukup keras, sebelum akhirnya meludah dan kembali ke ranjangnya. "Biarkan dia membusuk di sana malam ini. Jangan beri dia bagian jatah makan."
Marysa membiarkan tubuhnya berbaring di atas lantai beton yang sedingin es. Dia meringkuk, menekan perutnya yang terasa nyeri akibat tendangan tadi. Matanya menatap keluar melalui celah kecil jeruji besi di pintu sel, menatap koridor luar yang remang-remang. Dia membayangkan wajah Herry, mencoba mengingat kembali kehangatan tangan pria itu lima tahun lalu di Incheon sebelum kecelakaan sialan itu merenggut ingatan Herry dan merubah pria itu menjadi sosok monster hukum yang dingin. Marysa rela menerima semua siksaan ini, asal dia bisa tetap berada di dalam jangkauan radar hidup Herry.
...
Dua minggu berlalu dalam ritme yang lambat dan menyiksa. Setiap hari adalah tentang bertahan hidup dari intimidasi fisik, namun Marysa menjalaninya seperti robot yang mati rasa. Kulitnya dipenuhi memar baru di atas memar lama, namun matanya tetap jernih dan tajam.
Sore itu, waktu kunjungan dan pemeriksaan administrasi bagi tahanan baru tiba. Marysa dibawa ke ruang komunal kecil dengan tangan diborgol ke depan, mengantre bersama beberapa tahanan lain untuk mengambil beberapa keperluan sanitasi dasar yang dibagikan oleh petugas sosial dan kepolisian distrik yang berjaga.
Di depan meja panjang, dua orang petugas sipir wanita sedang mengobrol santai sambil mencocokkan data, mengabaikan para tahanan yang berdiri berbaris di depan mereka. Suara mereka yang cukup keras menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Hei, kamu lihat berita di buletin internal kepolisian pagi ini?" tanya sipir bertubuh kurus sambil menyodorkan sebotol sampo ke arah tahanan di depan Marysa.
"Berita yang mana? Tentang mutasi jabatan?" sahut sipir yang satunya lagi, sibuk membolak-balik lembaran kertas tugas.
"Bukan. Tentang Kapten Herry dari Divisi Reserse Kriminal Pusat. Pria dingin yang memimpin penangkapan kepala klan mafia itu dua minggu lalu." Sipir itu terkekeh pelan, ada nada kagum sekaligus patah hati dalam suaranya. "Dia dikabarkan akan segera melangsungkan pertunangan bulan depan. Wanita itu adalah putri dari Wakil Komisaris Jenderal Kepolisian Seoul. Sempurna sekali, kan? Kariernya pasti akan langsung melejit ke puncak."
Sipir yang lain menghentikan aktivitasnya sejenak, matanya membelalak. "Wah, benarkah? Padahal aku mengira pria sekaku dia tidak punya ketertarikan pada wanita. Siapa nama tunangannya?"
"Jessica Hwna won, kalau tidak salah. Mereka kabarnya sudah dijodohkan oleh keluarga sejak setahun lalu, dan setelah kasus besar klan mafia ini selesai, pernikahan mereka akan dipercepat."
Deg.
Dunia di sekitar Marysa mendadak kehilangan suaranya. Bunyi gemerincing borgol, langkah kaki tahanan lain, dan dengung lampu neon di langit-langit seolah lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam yang bergemuruh di dalam dadanya.
Napas Marysa tercekat di tenggorokan. Jantungnya, yang bahkan tidak berdegup kencang saat dia ditodong pistol atau saat dia dipukuli hingga berdarah di dalam sel, kini terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat mata hingga remuk. Rasa sakitnya begitu intens, begitu nyata, hingga membuat jemarinya yang terborgol bergetar hebat.
Tunangan?
Kata itu bergema di dalam kepalanya seperti melodi kematian.
Selama lima tahun ini, Marysa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia bawah tanah, menumpahkan darah dan mengambil alih kekuasaan klan yang kotor, semuanya hanya demi satu tujuan, menjaga agar dirinya tetap cukup kuat untuk bisa berdiri di hadapan Herry suatu hari nanti tanpa membuat pria itu terancam oleh musuh-musuh klannya. Dia tahu Herry melupakannya karena amnesia pascatrauma akibat malam di pelabuhan itu. Dia menerima kenyataan bahwa Herry menatapnya dengan kebencian sebagai seorang polisi kepada penjahat. Dia bahkan rela membiarkan dirinya ditangkap dan disiksa di penjara ini, asalkan dia tahu bahwa di dalam hidup Herry, tidak ada orang lain. Asalkan dia tahu bahwa dia adalah satu-satunya potongan masa lalu yang pria itu.
Namun sekarang... sebuah kenyataan baru menghantamnya tanpa ampun. Herry tidak hanya melupakannya. Herry telah melangkah maju. Pria itu telah membangun hidup yang baru, yang bersih, yang sempurna, bersama seorang wanita yang pantas bersanding di bawah lencana emasnya. Wanita yang bukan seorang kriminal. Wanita yang tidak memiliki darah di tangannya.
"Hei, tahanan nomor 407! Maju! Jangan melamun!" bentakan kasar sipir memecah lamunan gelap Marysa.
Marysa tersentak kecil. Dia melangkah maju dengan kaku, kedua tangannya yang terborgol terulur untuk menerima paket keperluan sanitasi dari atas meja. Sipir itu menatap wajah Marysa yang pucat dengan sudut bibir yang masih membiru akibat luka lama.
"Ada apa dengan wajahmu? Kamu sakit?" tanya sipir itu dengan nada tidak peduli.
Marysa tidak menjawab. Dia mengambil paket itu, lalu berbalik arah untuk berjalan kembali menuju selnya. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah-olah pergelangan kakinya diikat oleh pemberat timah seberat ratusan kilogram.
Di sepanjang koridor penjara yang dingin dan suram, air mata yang selama dua minggu ini dia tahan dengan kekuatan penuh, akhirnya jatuh juga. Satu tetes air mata mengalir melewati pipinya yang memar, jatuh dan menguap di atas lantai beton yang kotor. Marysa menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajahnya yang hancur.
Senyuman yang beberapa hari lalu selalu menghiasi bibirnya kini telah lenyap tanpa bekas. Berganti dengan rasa sesak yang teramat sangat, sebuah kehampaan yang begitu pekat hingga membuat jiwanya terasa mati merangkak di dalam kegelapan sel penjara Cheongju.
Herry benar-benar telah membuangnya bukan hanya dari ingatannya, tapi juga dari masa depannya.
...