Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menemukannya
“Aku menemukannya,” ucapan Ansel membuat Aaron segera berdiri dari kursinya. Ia menghampiri Ansel yang sedang mengotak atik komputernya untuk melacak keberadaan Paula.
Ansel adalah manusia serba bisa, selain ahli bermain-main dengan pisau, ia juga seorang hacker handal yang selalu bisa diandalkan para sepupunya dalam keadaan terdesak.
Aaron memperhatikan titik merah di layar persegi itu, titik yang menunjukkan di mana keberadaan Paula. “Pusat perbelanjaan X?” Aaron menatap Ansel, berharap pria itu menggelengkan kepala.
“Oh shit!”makinya dan segera ke luar dari ruangannya. Ansel yang terlihat bingung, berdiri dan segera menyusul, ia yakin hal yang tidak baik sedang terjadi.
“Ada apa?” tanya Ansel begitu mereka sudah ada di jalan raya. Ansel harus berpegangan kuat karena Aaron melajukan mobilnya dengan kecepatan angin.
Ingin meminta pria itu menurunkan laju mobilnya, Ansel tidak mempunyai keberanian karena melihat rahang Aaron yang mengetat keras serta sorot mata tajam penuh ketakutan. Salah berbicara sedikit saja, ia yakin Aaron tidak akan segan untuk melemparnya ke luar dari dalam mobil.
Kurang dari 10 menit, akhirnya mereka sampai. Aaron ke luar dengan segera. “Parkirkan mobilnya,” perintahnya tanpa menoleh kepada Ansel.
Aaron memasuki mall, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Deringan pertama, panggilannya langsung dijawab.
“Ya, apa kau sudah merindukanku?” terdengar suara manja dari seberang telepon. Luna adalah sang pemilik suara.
“Aku dan Ansel sedang berada di pusat perbelanjaan X. Pria itu datang mengacau untuk mengajakku makan siang. Jika tidak keberatan, maukah kau bergabung dengan kami?”
Aaron melayangkan tatapannya ke segala penjuru, berharap mata elang menangkap sosok yang ingin ia lihat.
Terdengar tawa renyah wanita itu, “10 menit lagi pertemuanku selesai, pesankan untukku seperti biasa, aku akan menyusul.”
Aaron memutuskan panggilan telepon, ia berbalik untuk melihat Ansel yang kebetulan sudah berjalan ke arahnya. “Mari kita makan siang.”
“Aku sedang diet,” sahut Ansel dengan wajah minta ingin ditinju.
“Aku mengatakan pada Luna, kau yang mengajakku untuk makan siang, untuk itu cari restoran yang biasa kau datangi,” Aaron merangkul pundak Ansel dan menuntunnya untuk berjalan.
“Kukira kita datang untuk mengintai Paula,” ucap Ansel begitu mereka duduk.
“Hm, pergunakan matamu dengan baik, bisa saja Paula lewat di depan kita.”
Tidak berapa lama Luna pun datang. Ia tersenyum sembari mendaratkan satu kecupan di pipi Aaron.
“Hai, Ansel.”
“Ya, Luna.” Ansel menyunggingkan senyum tipis sembari melambaikan sebelah tangannya.
“Bagaimana kabar Annina, Aunty dan juga Uncle?”
“Baik. Sangat baik. Dad selalu jatuh cinta, dan mom kewalahan menghadapinya. Annina, ia sedang mempersiapkan ujian tengah semester,” jelas Ansel meladeni basa basi wanita yang sudah menjadi kekasih kakak sepupunya itu sejak lama.
Sejauh ingatan Ansel, Aaron dan Luna selalu bersama sejak kepergian ayah Luna dalam insiden kebakaran itu. Bahkan Aaron meminta Luna untuk ikut bersama dirinya ke luar negeri melanjutkan study-nya saat itu, di
mana pada waktu itu Luna masih duduk di bangku SMP.
Aaron memaksa kedua orang tuanya untuk mengurus kepindahan Luna. Saat itu kedua orang tuanya, Allan dan Salena menolak, karena ingin Aaron fokus pada study-nya. Tapi Aaron tetap memaksa dan mengancam tidak akan melanjutkan study jika Luna tidak ikut bersamanya. Sejak hari itu, keluarganya menganggap bahwa Aaron menyukai Luna.
“Aku tidak tahu kau mempunyai waktu yang sangat senggang, adik sepupu?”
Ansel mengangkat kepalanya, dan menemukan Pax sedang menyeringai ke arahnya.
Mendengar suara yang begitu sangat familiar, Aaron dan Luna menoleh ke belakang. Pax yang baru menyadari keberadaan Aaron dan Luna, mengangkat sebelah alisnya. Paula, di sampingnya mengetatkan pegangannya di
lengan saudaranya. Pax segera merangkul Paula, memberi perlindungan dan kenyaman.
“Hai, Pax, Lala,” Luna segera berdiri. “Aku tidak percaya kita bertemu di sini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita bertemu, Pax? Jika kalian ingin makan siang, bergabung lah dengan kami,” ajak Luna dengan senyum andalannya.
Pax melirikkan matanya pada Aaron yang sedang menatap adiknya dengan lekat, ia tersenyum iblis sebelum sengaja berdecak kesal membuat Aaron mengalihkan tatapannya.
“Pantang bagiku untuk duduk satu meja dengan seorang pecundang,” Pax menatap Aaron secara terang-terangan.
Pax kemudian tergelak melihat wajah pias yang ditujukkan kakak sepupunya itu. “Yang kumaksud sebagai pecundang adalah Ansel, dia menolak untuk turun ke atas ring,” jelas Pax yang membuat Aaron mendengus.
Ia tahu Pax jelas sedang menyindir dirinya.
Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Paula. Gadis itu terlihat menghindari tatapannya. Aaron merasa kesal tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengepalkan kedua tangannya, dari tempatnya duduk, ia bisa melihat wajah Paula yang sedikit pucat. Lagi dan lagi, ia hanya bisa mengumpat dirinya sendiri.
“Jadi kau berkencan dengan Pax?” pertanyaan Ansel membuat Paula menoleh ke arahnya. Paula hanya menganggukkan kepalanya.
“Pax?” Paula mendongak, memohon melalui sorot matanya.
“Kau muak melihat mereka?” tanya Pax dengan gamblang sembari mengusap rambut Paula. Ansel tergelak, sementara Aaron dan Luna hanya terdiam.
“Kau tidak sendiri, aku juga muak pada mereka. Sebaiknya kita pergi,” tanpa permisi, Pax membawa Paula menjauh dari mereka.
Di dalam mobil, Paula lebih banyak diam, sorot matanya memancarkan kesedihan. Tangan Pax terulur mengusap kepalanya, membuat ia menoleh.
“Aku baik-baik saja,” Paula tersenyum manis untuk meyakinkan saudaranya itu.
Pax menganggukkan kepala, “Tidakkah sebaiknya kau menyusul Mom dan Dad berlibur?” usulnya menatap Paula penuh khawatir.
Paula menggeleng dengan segera, “Aku tidak ingin mengganggu bulan madu mereka dan berlibur tanpamu dan juga Lux tidak akan menyenangkan. Ceritakan padaku bagaimana kau bisa mengenal Alena?”
Pax seketika tergelak, “Pertemuan kami selalu di luar dugaan. Kau ingat wanita asing yang kusebut menyerang aset berhargaku?”
“Jangan katakan wanita itu adalah Alena?” Paula memekik girang.
“Sepertinya kau akan senang jika aku mengatakan, ya.” sahut Pax dengan nada malas.
Paula tertawa, “Oh astaga, aku tidak percaya ini. Aku bahkan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, Pax. Dan mengetahui hal ini aku semakin mencintainya. Berikan aku nomor ponselnya,” Alena mengulurkan sebelah tangannya meminta ponsel milik pria itu.
“Aku tidak memilik nomornya,” sahut Pax dengan tidak acuh membuat tawa di wajah Paula menghilang seketika.
Sementara itu di rumahnya, Alena menatap penuh rindu selembar foto seorang pria tampan. Kembali ia merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Ia membawa foto tersebut ke dalam dekapannya, “Aku sungguh merindukanmu, Daf.”
Alena mengembuskan napas dalam. Kembali kemarahan menghinggapinya. “Bahkan setelah 3 bulan sejak berita kematianmu, aku masih sulit untuk mempercayainya, tapi mengapa mereka begitu sangat kejam membunuhmu. Apa kesalahan yang sudah kau perbuat sehingga kau mendapat perlakuan kejam seperti itu. Tolong berikan aku petunjuk untuk mencari kebenarannya dan membalaskan ketidak adilan yang kau terima.”
Ting
Sebuah notif masuk ke ponselnya, Alena segera membacanya.
"Aku sudah mengurus kartu anggotamu, kau bisa masuk ke sana."