NovelToon NovelToon
Istri Kedua Kepala Desa

Istri Kedua Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Henny

Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Kenalan

Semua Penduduk desa kaget saat tahu kalau Sinta akan menikah dengan kepala desa yang fenomenal dari desa tetangga. Mahendra Atmaja.

"Kok bisa ya dia menikah dengan pak kades terganteng se-Indonesia itu? Apakah Sinta menggunakan pelet?"

"Mungkin karena Sinta seorang sarjana dan dinilai bisa mendampingi pak kades."

"Apakah mungkin sebelumnya di kota mereka sudah selingkuh? Sinta kan sebelumnya tinggal di kota."

"Dan dia mungkin sudah terlanjur hamil sehingga harus segera menikah?"

"Mungkin juga. Pak kades itu kan belum memiliki anak dengan istri pertamanya."

"Duh, apapun alasannya, Sinta itu sangat beruntung dinikahi oleh Mahendra Atmaja. Sudah tampan, kaya, terkenal, pokoknya paket komplit. Nggak masalah jika harus jadi istri kedua."

Itulah bisik-bisik para emak-emak yang hadir di pernikahan Sinta. Mereka bahkan hadir sebelum jam yang tertera di undangan karena ingin melihat Kepala Desa itu.

Tepat pukul 10 pagi, rombongan dari pak kades tiba. Ada 3 buah mobil mewah yang terparkir di depan tenda hajatan. Semua mata langsung tertuju pada sosok tampan yang keluar dari mobil Pajero sport berwarna hitam. Ia mengenakan jas pernikahan berwarna putih gading, sebuah kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Para kaum hawa langsung menahan napas melihat pria tampan itu melewati mereka dengan parfum yang membuat buku kuduk berdiri.

"Sepertinya, istri pertama pak kades tak ikut. Perempuan mana sih yang mau dimadu?" bisik-bisik kembali terdengar.

Sementara itu di kamarnya, Sinta sudah selesai didandani. Gadis itu memeluk foto keluarganya. Foto saat ia masih kecil dan mereka berlibur ke air terjun.

"Aku hanya ingin hidup yang sederhana, Bu. Aku tak pernah bermimpi menikah dengan orang kaya. Aku ingin menikah dengan lelaki yang baik. Seseorang yang mau bekerja keras, yang mau menjadi imam yang baik bagiku. Aku ingin menjadi perempuan yang juga bekerja. Aku ingin dicintai dan mencintai. Bukan pernikahan yang seperti ini." Air mata Sinta jatuh membasahi kaca bingkai foto itu.

"Nak.....!"

Sinta menoleh. Bibinya berdiri di sana. "Akadnya akan dimulai. Kamu diminta untuk segera ke depan."

Sinta mengangguk. Demi nama baik keluarga, demi hutang yang harus dilunasi, demi ketenangan jiwa kedua orang tuanya yang sudah pergi, Sinta akan mengubur semua mimpi masa depannya dengan menikahi kepala desa yang tak pernah ditemuinya.

Langkah Sinta terasa berat, ketika ia diapit oleh paman dan bibinya keluar dari rumah. Ada meja yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga yang cantik, ada penghulu yang sudah duduk menunggu, ada ada sosok pria yang membelakanginya.

Kepala Sinta tertunduk. Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ia tahu pesta pernikahan ini akan menjadi pesta paling mewah walaupun disiapkan hanya dalam kurun waktu 1 Minggu. Kalau uang yang berbicara, maka semuanya akan beres.

Mahendra duduk dengan tenang. Ia sudah membuka kacamata hitamnya. Seorang gadis duduk di sampingnya. Mahendra melirik sekilas. Cantik, polos namun seperti tak ada gairah hidup.

Acara sakral itu pun dimulai. Mahendra mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan napas. Tepuk tangan langsung terdengar saat kata 'sah' terdengar.

Buku nikah diserahkan kepada pasangan pengantin. Pemandu acara langsung meminta pengantin berdiri. Saling berhadapan membuat Sinta sadar, berapa tingginya sang suami. Sinta sebenarnya memiliki tinggi yang pas untuk seorang cewek. 165 cm. Namun tetap saja ia terlihat pendek saat berdiri di hadapan suaminya.

Mahendra menyerahkan mahar pernikahan. Seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 50 gram. Lelaki itu menyematkan cincin pernikahan di jari manis Sinta namun ia sendiri tak dipasangkan cincin karena Mahendra sudah memiliki cincin pernikahannya sendiri saat menikahi Gizel.

Acara dilanjutkan dengan sungkeman, pembacaan doa dan nasehat pernikahan dari pak ustad. Setelah itu sambutan dari pemerintah kecamatan, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.

Para penduduk desa nampak senang karena menikmati makanan yang enak-enak.

Menjelang pukul dua siang, acara selesai. Sinta segera digiring untuk masuk ke mobil yang sama dengan suaminya. Pakaiannya sudah dimasukan ke dalam koper dan sudah tersimpan di bagasi mobil.

Ia menatap paman dan bibinya sebelum kaca mobil itu terkunci dan Mahendra menjalankan mobilnya.

Tak ada percakapan yang tercipta selama selama perjalanan. Sinta hanya duduk sambil kedua tangannya ada di pahanya. Ia bingung harus bicara apa, pada pria yang menjadi suaminya itu.

"Kalau kamu harus, ada air mineral di sini." kata Mahendra. Ia menunjuk sebuah kotak yang ada diantara tempat duduk mereka.

"Terima kasih."

Mahendra melirik istrinya sebentar. AC di mobil ini cukup dingin namun Sinta nampak berkeringat dingin.

"Apakah....., kita akan ke rumah abang?" Sinta memberanikan diri untuk bertanya.

Abang? Mahendra ingin tertawa mendengar panggilan itu. Namun ia kembali bersikap kaku dan dingin. "Belum hari ini. Mamaku menyiapkan sebuah vila. Kita akan 3 hari berada di sana."

"Vi...vila? Buat apa ke sana?" Sinta menjadi gugup.

"Terserah kamu mau apa di sana. Kita ikuti saja apa keinginan mamaku. Sebab jika menolaknya, aku malas mendengar omelannya yang tak akan berhenti selama satu bulan."

Sinta kembali diam. Mahendra saja tak mau mencari masalah dengan mamanya. Apakah nyonya Risna sangat menakutkan?

Keduanya kembali diam. Mahendra konsentrasi dengan setir mobil. Hampir satu jam, mereka akhirnya memasuki sebuah kawasan pariwisata. Sinta kaget. Ini kawasan air terjun yang pernah dikunjunginya belasan tahun yang lalu. Tempat ini sudah banyak sekali perubahan.

Mobil terus menanjak menuju ke bagian paling atas. Ada deretan vila yang ada di sana. Nampak sepi karena sekarang bukan weekend. Mobil Mahendra berhenti di villa paling ujung, paling besar dan agak tersendiri.

Sinta membuka pintu mobil. Matanya langsung tertuju ke arah air terjun yang letaknya tak begitu jauh dari vila ini. Kenangan saat ia masih kelas 1 SMP itu kembali melintas di kepalanya.

"Sinta, itu nama kamu kan? Ayo masuk! Apakah kamu tak merasa gerimis mulai turun?" tanya Mahendra yang ternyata sudah selesai memasukkan koper mereka.

Sinta tersentak kaget. Ia pun segera memasuki vila yang bergaya Eropa kuno itu. Ruang tamu yang besar, dengan furniture yang terlihat mewah.

Ponsel Mahendra berdering. Ia melihat kalau itu panggilan dari Gizel.

"Hallo Gizel.....!" sapa Mahendra lalu keluar dari vila.

"Gizel? Bukankah itu nama istri pertamanya? Apakah istrinya cemburu? Ya Tuhan, aku tak pernah mau menjadi madu seseorang." Sinta mengacak rambutnya yang masih di sanggul. Ia kemudian mencari kamar. Satu kamar terbuka pintunya. Sinta melihat ada kopernya di sana. Ia segera masuk dan duduk di depan meja rias. Satu persatu hiasan konde di kepalanya ia buka. Tubuhnya terasa lelah karena tadi cukup lama berdiri karena menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang.

Setelah itu ia membuka kopernya, mengambil baju ganti dan segera ke kamar mandi.

Cukup lama Sinta berada di kamar mandi. Ia mandi sambil mencuci rambutnya sampai dua kali karena rambutnya tadi berikan berbagai hair spray saat disanggul.

Saat ia keluar dari kamar mandi, Sinta kaget saat melihat Mahendra yang sudah membuka jasnya dan menyusahkan kemeja putihnya, nampak sudah tertidur di atas ranjang.

Gadis itu memandang pria yang tidur di atas ranjang itu dengan pandangan yang terasa asing. Sinta melihat wajah suaminya untuk pertama kali secara jelas. Rambutnya hitam, sedikit bergelombang, alisnya tebal dan tersusun rapi, hidungnya mancung dengan bibir yang sedikit tebal, serta bulu matanya tebal. Perpaduan wajah Asia dan Eropa.

Tampan! Dalam hati Sinta mengakuinya. Namun, bukan ketampanan ini yang Sinta inginkan.

Sinta memilih keluar dari kamar. Ia menutup pintu perlahan sambil melangkah ke arah teras depan. Langit sudah mulai gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30.

Perut Sinta mulai berbunyi. Ia sadar kalau sejak pagi ia hanya minum segelas susu. Sepanjang acara resepsi tadi dia tak makan apapun. Sinta masuk lagi ke dalam rumah. Ia melihat ada kulkas di sana. Begitu ia membuka kulkas, ia langsung tersenyum melihat ada beberapa jenis bahan makanan dan sayuran. Di bagian freezer tersimpan daging dan ikan. Sepertinya semua sudah disiapkan. Ia pun dengan cepat menyiapkan makan malam. Memasak bukan hal yang sulit bagi Sinta karena memang ia sangat suka memasak.

Tangannya dengan cekatan membersihkan sayur kangkung dan daging ayam yang sudah tersedia. Sinta hanya ingin menumis kangkung, menggoreng tempe dan ayam serta sambal terasi.

Ia juga menanak nasi di dalam rice cooker. Satu jam kemudian masakan Sinta sudah siap. Ia memanaskan air di teko untuk menyeduh teh hijau yang memang sudah tersedia di sana.

Apakah aku harus membangunkan Mahendra untuk makan? Sinta jadi bingung. Ia akhirnya melangkah ke kamar untuk melihat keberadaan lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam itu. Saat tangannya akan meraih gagang pintu, Mahendra sudah lebih dulu keluar. Lelaki itu nampaknya juga sudah mandi. Ia sudah menggunakan kaos rumahan dan celana training.

"Eh.....aku sudah masak. Apakah....apakah, Abang mau makan?" tanya Sinta sedikit gugup. Ia tak berani memandang wajah Mahendra.

"Kamu bisa masak?"

"Hanya makanan kampung. Kalau abang ingin makan yang lain, aku akan siapkan."

Mahendra melangkah ke arah meja makan. Saat resepsi tadi ia juga tak makan sama sekali. Matanya menatap masakan yang disajikan oleh istri keduanya itu. Cukup membuatnya berselera. Ia pun duduk di depan meja makan. Sinta langsung menyiapkan satu piring lagi.

Lalu keduanya mulai makan. Tanpa suara. Yang terdengar hanya bunyi alat makan.

Selesai makan, Mahendra segera berdiri. Ia mencuci tangannya di tempat mencuci piring lalu segera melangkah ke teras.

"Apakah dia orangnya sedingin itu? Haruskah aku yang memulai percakapan? Ya Allah, orang menikah pastinya sangat bahagia. Mengapa sekarang aku justru merasa gelisah?" Sambil mencuci piring dan peralatan masak yang digunakan, Sinta bicara pada dirinya sendiri.

Sedangkan Mahendra, lelaki tampan itu memilih duduk di teras rumah sambil menikmati sebatang rokok. Lelaki itu sebenarnya bukan perokok berat. Ia hanya merokok jika sedang galau seperti ini.

Kepalanya sesekali menengok ke dalam rumah. Memperhatikan istri keduanya yang sedang membersihkan dapur. Mahendra kemudian mengingat percakapannya dengan Gizel tadi sore.

"Sayang, kamu pasti akan tidur dengan dia kan? Kok hatiku jadinya tak rela ya? Kalian sudah di vila ya? Kenapa sih harus ke sana? Kenapa tak pulang ke rumah saja?"

"Gizel, jangan menyiksa dirimu untuk sesuatu yang tak penting. Pergilah ke kota. Kamu bisa belanja, ke salon dan diskotik. Kamu juga bisa ke luar negeri atau ke tempat manapun yang kamu mau. Oke? Jangan membuat skandal apapun di rumah selama mamaku masih ada di sana. Aku tak mau kalau kalian sampai bertengkar." itulah yang Mahendra ucapkan sebelum mengakhiri panggilan telepon.

Mahendra bingung, mengapa ia tak bisa menolak pernikahan ini. Ia kini berada di persimpangan jalan yang sulit untuk dipilih. Ia terjebak dalam ikatan yang sebenarnya tak dia inginkan semenjak dulu. Mahendra ingin menghukum papanya dengan tak melanjutkan garis keturunan papanya. Mahendra membenci lelaki yang sudah memberikan ia nama Atmaja tapi juga tak bisa berhenti mencintai lelaki itu. Makanya Mahendra bertekad tak akan pernah memiliki anak seumur hidupnya. Sebagai hukuman bagi papanya yang pernah menduakan keluarga Atmaja. Biarlah adiknya yang kini sedang kuliah di luar negeri yang akan melanjutkan garis keturunan Atmaja. Walaupun pada kenyataannya, darah Atmaja tak ada di tubuh adiknya itu.

Bagaimana kisah ini berlanjut?

1
Gia Nasgia
wah pesonanya Sinta emang bikin pakdes klepek2😂😍
Gia Nasgia
Yang ada abang langsung otw ke pondok inimah🤭
Gia Nasgia
psk Desa cemburu tapi nggak sadar juga tapi ada baiknya ada Arsen agar pak Desa tahu klau ternyata sdh cinta dgn istri ke dua nya😍
Gia Nasgia
Semoga Sinta tahu klau Arsen dan Gizel bekerja sama untuk memprovakasi Sinta dan Mahendra
Eka ELissa
karna cinta♥️♥️♥️lah pak kades gimana cih 🤣🤣🤣🤣🤣
Azril Ali
dh lama bgt Bru baca lagi..💪 ka autornya.
Enny Olivia: selamat datang
total 1 replies
Fitria Syafei
waduh Emak Gisel dan Arsen Emak... gimana nih ...😲 Emak cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Maria Kibtiyah
duh semoga mahendra ma shinta bisa bahagia
Eka ELissa
bikin Hendra jatuh ♥️♥️♥️♥️dgn mu Sinta.....
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: nakal emak kayak gimana ya 😄😄
total 1 replies
Eka ELissa
dasar gizel gundik murahan...🫣🫣🫣 slingkuh ma pilot yg udh punya bini dan mreka ceray juga mungkin karna gundik mcem kmu kan gizel 😡😡🫣🫣
Eka ELissa
yg jawab ikan 🐟🐟🐟 tapi gizel GK ngerti bhsa ikan sungai 🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: ikannya bisa jadi panjang dan keras 🤣🤣
total 1 replies
Fitria Syafei
wow Emak cantik mantaf 🥰 kereen 🥰 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
semoga mahendra dan sinta nanti jatuh cinta
Fitria Syafei
Sinta kereeen 👏 Emak cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
bagus shinta buat si gizel tersisih
Eka ELissa
Nex.....Mak....♥️♥️🌹🌹🌹🌹
Eka ELissa
Abang bkln dtang ke pondok tau.....dia udh jatuh cinta dengan mu Sinta ♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
tunggu waktu khncuran mu gizel.....🤣🫣🫣
Eka ELissa
up nya jgn lma2 ya Mak...♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
dia cmburu dgn mu Sinta udh mulai ♥️♥️♥️cinta tu ma bini kedua 🤣🤣🤣👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!