NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Sudah Ditampar, Masih Tanya Berani?

Nathan menurunkan Amaya di depan pintu utama rumah Halim.

"Besok pagi aku bisa menjemputmu," katanya.

"Nggak perlu. Aku akan mengurus pindahan."

"Secepat itu?"

"Aku mulai di rumah sakit pukul tujuh. Lebih baik cepat."

Nathan ingin membantah, tetapi Amaya sudah menutup pintu mobil.

Rumah tampak sepi. Karina berada di ruang doa bersama dua pelayan untuk merapikan hadiah ulang tahun, sedangkan Robert belum pulang dari perjalanan kerja.

Amaya naik ke lantai dua dan membuka pintu kamarnya.

Bau lembap menghantam lebih dulu.

Jendela terbuka lebar. Tirai basah menempel pada dinding. Air hujan menggenang dari balkon hingga ke bawah ranjang, membasahi karpet, seprai, dua kardus dokumen, dan pakaian yang jatuh dari kursi.

Kamar itu berubah menjadi kolam kecil.

Amaya melangkah masuk dengan hati-hati. Air merembes ke dalam sandal. Salah satu kardus berisi catatan proyek sudah lunak di bagian bawah, tetapi flashdisk utama tetap aman di tas yang dibawanya.

Di dekat jendela, pengait besi berdiri tegak. Bukan rusak dan bukan terdorong angin. Seseorang telah membukanya dengan sengaja, lalu menarik tirai agar air masuk lebih jauh.

Ini trik lama Selena. Ketika Amaya berusia enam belas tahun, segelas jus pernah tumpah ke seragamnya tepat sebelum acara sekolah. Ketika berusia delapan belas, pemanas air kamarnya mendadak mati seminggu. Kesalahan selalu cukup kecil untuk dianggap kebetulan dan cukup menjengkelkan untuk membuatnya terlihat emosional jika mengadu.

Bedanya, Amaya sekarang tidak akan berteriak tanpa bukti.

Tidak ada jendela lain di lantai dua yang terbuka.

Amaya tidak memanggil pelayan. Ia mengambil gambar dari pintu, merekam jendela, genangan, dan jam di layar ponsel. Lalu ia mengirimkannya kepada Karina.

Ia juga memotret pengait, jejak kaki samar di lantai balkon, dan seluruh jendela kamar lain yang terlihat tertutup dari halaman samping. Bukti itu belum cukup menuduh siapa pun, tetapi cukup untuk memastikan dirinya bukan gadis manja yang sekadar tidak suka kamar basah.

Pesan kepada Karina sengaja singkat. Tidak ada nama Selena. Tidak ada tuduhan. Biarkan ibunya datang dengan kesimpulan sendiri.

`Ma, kamarku kebanjiran karena jendelanya dibuka. Aku takut dokumen proyek rusak. Mama bisa naik?`

Setelah pesan terkirim, ia berjalan ke ujung koridor.

Pintu kamar utama yang menghadap selatan tertutup. Kamar itu dahulu milik Amaya sebelum ia hilang. Selena menempatinya selama lebih dari sepuluh tahun dan tidak pernah mengembalikannya setelah Amaya pulang.

Amaya mengetuk tiga kali.

Selena membuka pintu dengan pakaian tidur sutra. "Ada apa malam-malam?"

"Keluar."

"Apa?"

"Malam ini aku mau kamar ini kembali."

Selena memandang melewati bahunya. "Kamarmu kenapa?"

"Ci Selena lebih tahu."

"Jangan menuduh tanpa bukti. Mungkin pelayan lupa menutup jendela."

"Aneh. Mereka cuma lupa di kamarku, tepat setelah Ci kehilangan muka di pesta dan proyekmu mulai diperiksa."

"Jaga ucapanmu."

Amaya mendorong pintu sedikit lebih lebar. "Ini kamar yang kutinggali sampai umur lima tahun. Setelah aku hilang, Ci mengambilnya. Sekarang aku sudah pulang. Jadi keluar."

"Papa Mama memberikannya kepadaku."

"Karena mereka pikir anak kandungnya mungkin nggak akan kembali."

Wajah Selena menegang.

"Kamu sudah punya kamar lain."

"Yang barusan digenangi hujan."

"Bukan urusanku."

"Kalau begitu urusan Ci sederhana. Kemasi barang dan pindah ke kamar tamu."

Selena tertawa pendek. "Kamu pikir menjadi anak kandung membuatmu bisa mengambil apa pun?"

"Setidaknya aku nggak perlu tinggal belasan tahun di kamar orang lain."

"Amaya."

"Orang tua kandung Ci meninggal terlalu cepat untuk memberimu rumah sendiri, tapi itu bukan alasan menjadikan rumahku milikmu."

Selena menatapnya dengan mata merah. "Jangan bawa mereka."

"Kenapa? Ci selalu memakai kematian mereka untuk membuat semua orang merasa bersalah. Tapi saat aku kehilangan sepuluh tahun hidupku, Ci menyuruhku bersyukur masih diberi kamar kecil."

"Kamu nggak tahu apa pun tentang hidupku."

"Aku tahu Ci dibesarkan di rumahku, memakai barangku, memanggil orang tuaku Papa dan Mama, lalu masih merasa akulah yang merebut."

"Mereka juga keluargaku!"

"Kalau begitu perlakukan anak mereka seperti keluarga. Bukan membuka jendelanya saat hujan."

"Aku nggak melakukannya!"

"Bagus. Berarti Ci nggak perlu takut saat Mama melihat foto dan bertanya."

Kalimat tersebut menghantam bagian yang paling Selena sembunyikan.

Tangannya terangkat.

Amaya tidak bergerak. "Silakan."

Ia sengaja berdiri di bawah lampu koridor, tepat menghadap tangga. Jika Selena memukul, Karina akan melihat akibatnya begitu tiba. Jika Selena menahan diri, Amaya masih punya cara lain untuk merobek topeng itu.

Telapak Selena berhenti di udara. Ia sadar satu bekas merah akan menjadi bukti yang tidak bisa dibantah.

Ia menurunkan tangan perlahan. "Kamu sengaja memancingku."

Plak!

Amaya menamparnya lebih dulu.

Kepala Selena berpaling. Bekas lima jari muncul di pipinya.

"Kamu berani memukulku?"

Amaya mengusap telapak tangannya. "Sudah kutampar, masih tanya berani?"

"Kamu gila!"

"Aku anak kandung. Kalau aku membuat masalah, Papa Mama mungkin masih memaafkan. Ci berani mengambil risiko yang sama?"

Kalimat itu kejam dan Amaya tahu persis dampaknya. Selena hidup dari keyakinan bahwa dirinya harus selalu tampak lebih baik agar tetap dipilih. Sekali ia lebih kasar, lebih liar, atau lebih tidak terkendali daripada Amaya, seluruh bangunan tersebut runtuh.

Amaya hanya perlu mendorong retakan yang sudah ada.

Selena menjerit dan menerjang.

Amaya mundur tepat saat langkah kaki Karina terdengar dari tangga.

"Selena!"

Karina berdiri di ujung koridor dan melihat tangan Selena terulur ke arah wajah Amaya.

"Kamu mau memukul adikmu?"

Selena membeku. "Ma, dia yang menamparku lebih dulu!"

Amaya menurunkan kepala. "Iya, Ma. Aku salah."

Pengakuan cepat itu membuat Karina terdiam.

"Aku cuma marah karena kamar kebanjiran dan dokumen kerjaku rusak. Aku minta Ci Selena mengembalikan kamar lama, tapi kami bertengkar. Aku menamparnya."

"Dia menghina orang tua kandungku!" seru Selena.

"Aku bilang kamar ini rumahku sebelum aku hilang. Kalau kalimatku terlalu kasar, aku minta maaf."

Air mata Selena jatuh. "Mama selalu percaya dia sekarang."

Karina melihat pipi merah Selena, lalu Amaya yang berdiri dengan pakaian lembap di ujung rok. Foto kamar yang tergenang masih terbuka di ponselnya.

"Mama, jangan marahi Ci Selena," kata Amaya. "Aku juga terpancing. Aku seharusnya menunggu Mama."

Karina memandangnya. Sikap mengakui kesalahan itu berlawanan dengan Selena yang hanya menuntut pembelaan.

"Kamu memang salah menampar," katanya. "Nanti Mama bicara lagi denganmu. Tapi kamar yang sengaja dibuka saat hujan juga harus dijelaskan."

"Kenapa Mama bilang sengaja?" Selena membalas. "Bisa saja angin."

Amaya menunjukkan foto pengait jendela. "Pengaitnya terbuka penuh. Kalau terdorong angin, posisinya nggak seperti ini."

Selena terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk dilihat Karina.

"Siapa yang membuka jendela Maya?"

"Aku nggak tahu."

"Pelayan bilang semua jendela sudah diperiksa sebelum hujan."

"Jadi Mama menuduhku?"

"Mama bertanya."

"Karena dia mengirim foto dan menangis sedikit, aku langsung jadi penjahat?"

Amaya menyentuh lengan Karina. "Sudahlah, Ma. Aku tidur di kamar tamu malam ini. Nggak perlu bertengkar lagi."

Selena semakin marah melihat sikap mengalah itu.

"Jangan pura-pura baik! Kamu datang ke sini untuk merebut kamarku."

"Itu memang kamar Maya," kata Karina.

Selena menatapnya tidak percaya.

"Besok pindahkan barangmu ke kamar lain. Maya berhak mendapat kamar lamanya kembali."

"Setelah bertahun-tahun?"

"Dia kehilangan bertahun-tahun itu bukan karena pilihannya."

"Kalau Papa Mama kandungku masih hidup, apa aku perlu menumpang di rumah ini dan diperlakukan seperti orang luar?"

Karina memucat. "Mama nggak pernah menganggapmu menumpang."

"Tapi sekarang Mama mengambil semua yang kupunya untuk dia!"

Selena masuk ke kamar dan membanting pintu. Kunci berputar dari dalam.

Karina berdiri lama di depan pintu tertutup. Amaya memeluk lengannya.

"Mama jangan sedih."

"Mama cuma ingin kalian berhenti saling menyakiti."

"Aku minta maaf sudah menamparnya."

"Kamu juga nggak boleh melakukan itu lagi."

"Iya."

Karina membawa Amaya ke kamar tamu. Pelayan menyiapkan seprai baru sementara yang lain menyelamatkan dokumen dari genangan.

Setelah pintu tertutup, Karina duduk di tepi ranjang kecil. Wajahnya tampak jauh lebih lelah daripada saat pesta.

"Mama akan menyuruh orang membersihkan kamarmu malam ini," katanya. "Dokumennya akan dikeringkan satu per satu. Besok Selena harus keluar dari kamar lama."

"Nggak perlu memaksanya."

"Itu memang kamarmu. Mama seharusnya mengembalikannya saat kamu pulang."

"Waktu itu Ci Selena sudah tinggal di sana sepuluh tahun. Mama takut dia merasa tersingkir."

Karina menunduk. "Mama selalu takut melukai dia sampai lupa kamu yang terus dilukai."

Pelukan Amaya mengencang. Untuk sesaat, tidak ada siasat. Tubuh pemilik lama merasakan penyesalan seorang ibu dan menjawabnya dengan hangat yang nyata.

Amaya duduk di belakangnya dan memeluk pinggang ibunya.

Keputusan pindah sebenarnya sudah dibuat sebelum ia masuk rumah. Kamar yang digenangi air hanya memberinya alasan yang tidak bisa dibantah. Ia akan tinggal dekat rumah sakit, jauh dari perangkap Selena, dan tepat di seberang seseorang yang bersikeras tidak boleh diganggu.

Namun saat memeluk Karina, Amaya tahu ia tidak ingin keputusan itu terdengar seperti hukuman bagi ibunya.

Ia menempelkan pipi ke bahu Karina dan memilih suara selembut mungkin.

"Ma."

"Hm?"

"Aku pindah keluar saja, ya."

Karina berbalik cepat. Di matanya muncul ketakutan lama, seolah putri yang baru kembali itu akan menghilang sekali lagi di tengah hujan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!