NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Pemegang Saham Terbesar

Vania datang dan langsung mengaitkan lengan pada Reza.

"Kenapa kamu berdua?" Ia menatap Senja dari ujung kepala sampai kaki. "Oh, mantanmu itu? Biar jelas, Reza pacarku sekarang."

Senja mengenal Vania sejak kuliah keperawatan. Ia pernah meminjam catatan Senja, ikut makan bersama, bahkan mendengar keluhannya tentang hubungan dengan Reza.

"Kalian mulai kapan?" tanya Senja.

Reza membuka mulut, tetapi Vania mendahului. "Setelah kalian putus. Enggak usah merasa masih punya hak."

Mata Senja panas. Ia memilih pergi sebelum air matanya jatuh.

Di tikungan lorong, rombongan direktur rumah sakit berjalan mendekat. Damar berada di tengah mereka. Semua dokter senior menjaga setengah langkah di belakangnya.

Senja menepi dan menunduk. Baru saat itu ia mendengar direktur berkata, "Sebagai pemegang saham terbesar, keputusan Pak Damar akan kami jalankan."

Suaminya bukan sekadar orang kaya yang punya koneksi. Ia adalah pemilik kekuasaan terbesar di tempat Senja menggantungkan masa depan.

Vania berlari mendekat. "Om Damar!"

Senja kembali terpaku.

Damar menatap keponakannya. "Sedang jam kerja."

"Aku cuma ketemu Reza sebentar."

"Kalau menimbulkan masalah, langsung angkat kaki dari rumah sakit ini."

Pandangan Damar beralih kepada Senja sepersekian detik. Teguran itu terasa mengenai mereka berdua.

Setelah rombongan pergi, Vania tersenyum puas. "Sekarang tahu, kan? Omku pemilik terbesar rumah sakit ini. Kalau kamu masih dekati Reza, aku pastikan kamu enggak betah kerja di sini."

Senja menahan mual. Mantan kekasihnya kini berpacaran dengan keponakan suaminya. Secara keluarga, perempuan yang mengancamnya itu bahkan harus memanggilnya tante.

"Saya enggak tertarik pada Reza," jawabnya. "Silakan dijaga baik-baik."

Ia kembali bekerja. Pukul empat, Vania menyindir ketika Senja pulang lebih cepat, tetapi Senja tidak menoleh.

Dalam perjalanan menjemput Bintang, Hana menelepon sambil menangis.

"Kak, Bapak sama Emak terima mahar Rp 250 juta. Aku disuruh pulang dan nikah sama orang yang enggak aku kenal. Mereka mau jemput ke kampus."

Senja berhenti di tepi jalan. Bunyi kendaraan terasa menjauh.

"Jangan pulang. Kunci kamar kos dan hubungi keamanan kampus."

"Kak..." Hana terisak. "Bapak bilang kamu juga sudah nikah. Katanya kamu dikasih mahar Rp 288 juta. Bener?"

Senja menggenggam ponsel sampai buku jarinya putih.

Ia meminta Hana mengirim lokasi, foto pintu kos, dan nomor petugas keamanan kampus. Hana menurut sambil terus terisak. Senja berjanji akan menelepon lagi setelah Bintang aman di rumah.

Panggilan berakhir tepat saat Bintang keluar dari gerbang sekolah. Anak itu berlari membawa gambar matahari dan langsung memeluk Senja.

"Mama habis nangis?"

"Kena debu."

Bintang meniup kedua matanya. "Sudah sembuh?"

Senja mengangguk dan memeluknya lebih erat. Membayangkan seseorang datang untuk membawa paksa anak yang ia sayangi membuat kemarahannya kepada Bapak dan Emak naik sampai tenggorokan.

Di mobil, ia mengingat pertemuan di rumah sakit. Damar adalah pemegang saham terbesar, sedangkan Vania keponakannya. Satu kalimat pria itu dapat menjaga pekerjaannya, tetapi meminta bantuan berarti membuka alasan tentang Hana, uang, dan keluarga yang selama ini Senja sembunyikan.

Ia memilih diam.

Sesampainya di rumah, Bintang menunjukkan gambar kepada Bik Inah. Senja masuk kamar mandi dan akhirnya membiarkan dua tetes air mata jatuh. Ia membasuhnya cepat, lalu menelepon Hana lagi.

"Satpam sudah tahu?"

"Sudah. Teman sekamar juga ada."

"Bagus. Kalau Bapak datang, rekam dari dalam. Jangan buka pintu."

"Kakak sendiri aman?"

Pertanyaan itu membuat Senja menatap kamar mewah yang bukan miliknya. "Aman."

Malamnya, Damar pulang ketika Senja membantu Bintang membaca. Senja hampir menyebut krisis Hana, tetapi Damar hanya bertanya apakah putrinya makan cukup dan apakah perutnya sakit. Jarak di antara mereka kembali menutup kesempatan.

"Tidak ada es krim," kata Senja. "Saya sudah hafal semua pantangannya."

Damar melihat daftar yang ditempel Senja di pintu kulkas. Ia tidak memuji, hanya mengangguk.

"Bagus."

Satu kata itu anehnya membuat Senja sedikit lega. Ketika Damar berbalik, ponselnya berbunyi. Pesan Hana muncul: Bapak dan Emak sudah membeli tiket menuju kotanya.

Senja menatap punggung suaminya, lalu kembali menyimpan ponsel. Untuk saat ini, ia harus menyelamatkan Hana dengan caranya sendiri.

Ia membuka aplikasi pemesanan dan mencari penginapan murah dekat kampus Hana. Harga akhir pekan membuatnya menghela napas. Setelah membandingkan belasan tempat, ia memesan kamar yang memiliki resepsionis dua puluh empat jam dan akses kartu. Keselamatan lebih penting daripada sisa tabungan.

Sebelum tidur, Senja memeriksa kembali lokasi Hana. Titik biru itu masih berada di kos. Ia mengirim pesan agar adiknya menyalakan berbagi lokasi sepanjang malam.

Damar melewati pintu kamar dan melihat cahaya ponsel. "Belum tidur?"

"Sebentar lagi."

"Besok kerja."

"Saya tahu."

Ia berharap Damar bertanya lebih lanjut. Pria itu justru berjalan pergi. Senja menatap pintu yang kembali sunyi dan menyadari pernikahan sah tidak otomatis membuat seseorang menjadi tempat meminta tolong.

Di kamarnya, Damar berhenti beberapa langkah setelah pintu Senja. Ia mendengar isakan pendek yang segera ditahan, tetapi memilih tidak kembali. Ia meyakinkan diri masalah Senja bukan urusannya selama Bintang aman.

Namun ia tidak langsung masuk kamar. Dari celah pintu, terlihat Senja menempelkan daftar nomor penting di samping meja dan memeriksa lokasi seseorang melalui ponsel. Tidak ada riasan, tas belanja, atau percakapan romantis seperti yang dibayangkan Damar. Yang ada hanya wajah tegang seorang kakak.

"Mas?" Senja menyadari bayangannya.

Damar berdiri tegak. "Bintang memanggil."

Itu bohong kecil. Bintang sudah tertidur. Senja tetap bangkit dan memeriksa kamar anak tersebut. Setelah memastikan napasnya teratur, ia memperbaiki selimut lalu kembali keluar.

"Dia tidur."

"Kalau ada urusan yang mengganggu tugasmu di rumah, beri tahu."

Senja hampir menceritakan tentang mahar Hana. Kata-kata sudah sampai di bibir, tetapi tatapan Damar masih membawa jarak seorang pemberi kerja.

"Saya bisa urus."

Damar mengangguk. Mereka berpisah dengan persoalan yang sama-sama telah dilihat, tetapi tidak dibuka. Beberapa menit kemudian, Senja menerima pesan Hana bahwa orang tua mereka telah membeli tiket. Ia menyalakan alarm setiap dua jam untuk memeriksa lokasi adiknya sepanjang malam.

Di kamar sebelah, Damar pun tidak tidur nyenyak. Isak singkat Senja terus terdengar dalam ingatannya, mengganggu keyakinan bahwa ia sama sekali tidak peduli.

Menjelang subuh, ia mengirim pesan kepada Bayu untuk memastikan keamanan kampus Hana tanpa menyebut alasan. Pesan itu kemudian dihapus sebelum terkirim. Damar belum siap mengakui bahwa masalah keluarga Senja telah menjadi sesuatu yang ingin ia lindungi.

Senja, yang tidak mengetahui keraguan tersebut, tetap berjaga sendiri sampai titik lokasi Hana bergerak menuju tempat aman. Baru setelah azan subuh terdengar, ia memejamkan mata. Tiga puluh menit kemudian alarm kerja berbunyi, dan kekhawatiran itu dibawanya kembali ke rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!