NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Perlindungan sang Resi

Aki Sasmita meniup serbuk kayu dari boneka.Bau kemenyan semakin pekat menusuk hidung.Anehnya, suara cakaran di luar mendadak berhenti.

"Aki... geuning mahluknya langsung diam?" tanya Dawala keheranan.

Ini Golek Pancasona," jawab Aki Sasmita parau. "Boneka kayu khusus penyerap kutukan hitam."

Aki menyerahkan boneka kuning itu kepada Cepot.Aneh, wajah boneka itu kini mirip wajah Cepot.Saat dipegang, kayunya terasa hangat seperti kulit manusia.

"Mahluk tadi itu suruhan Ki Burak," kata Aki. "Dukun hitam penyembah iblis dari hilir sungai."

Brak!

Atap bambu rumah tiba-tiba jebol hancur.Kepala terbang tanpa tubuh itu merangsek masuk.Ususnya menjulur cepat, hendak melilit leher Dawala.

"Pot! Tulung, Pot! Urang tilar dunia ini mah!" jerit Dawala panik.

Cepot refleks mengangkat golek kuning tinggi-tinggi.

Wuss!

Cahaya emas memancar dari mata boneka kayu.Mahluk teluh itu menjerit kepanasan sangat hebat.Kulit wajahnya melepuh seperti tersiram minyak mendidih.

"Kurang ajar sia!" raung mahluk itu kesakitan

Ia terbang kabur menembus lubang atap rumah.Suasana kembali sunyi, menyisakan bau gosong pekat.

"Hebat euy boneka sakti ini, Ki!" puji Cepot

Aki Sasmita menggeleng lemah dengan wajah pucat.Energi batinnya habis untuk mengaktifkan boneka tersebut.

"Itu baru peringatan, barudak," bisik Aki Sasmita. "Besok malam adalah puncak gerhana merah. Kalian harus menghancurkan sarang Ki Burak sebelum seluruh desa habis."

Sinar matahari pagi menyelinap di antara celah dinding bambu rumah Aki Sasmita. Wangi kopi hitam dan singkong rebus langsung menusuk hidung Cepot. Alih-alih segar, wajahnya justru kusut seperti baju belum disetrika.

"Dawala, hudang euy! Malah ngaguher waé manéh mah!" seru Cepot sambil menendang pelan pantat adiknya yang masih terbungkus sarung.

"Hhh... lima menit deui, Kang. Keur ngeunah ngimpi kawin jeung mojang geulis," gumam Dawala tanpa membuka mata. Hidung panjangnya kembang kempis.

Cepot mendengus. "Geulis ti mana? Paling ogé manéh ngimpi panggih jeung jurig hulu leupas nu peuting tadi!

"Mendengar kata 'jurig', Dawala langsung terduduk tegak. Matanya melotot. Kesadarannya pulih seratus persen. "Demi naon, Kang?! Di mana jurig? Halik, uing rek kabur!"

kabur!""Tah, boga dulur teh kieu pisan. Borangan!" Cepot terbahak, membuat wajah merahnya makin mencolok.

Dari arah dapur, Aki Sasmita berjalan perlahan dibantu tongkat bambunya. Meski sepasang matanya putih tanpa selaput hitam, langkahnya begitu mantap seolah bisa melihat seisi ruangan. Di tangan kirinya, beliau membawa sebuah wadah anyaman berisi bubuk berwarna abu-abu kehijauan.

"Sampurasun. Sudah bangun, kalian?" sapa Aki Sasmita dengan suara berat yang menenangkan.

"Rampes, Aki," jawab Cepot dan Dawala serempak. Mereka segera merapat, duduk bersila di depan sang tetua.

Aki Sasmita meletakkan wadah anyaman tersebut di lantai kayu. "Waktu kita tidak banyak. Malam nanti, bulan akan berwarna semerah darah. Gerhana Merah adalah puncak kekuatan Ki Burak. Jika kita tidak menghancurkan sarangnya di puncak Bukit Tengkorak sebelum bulan tertutup sepenuhnya, ilmu hitamnya akan abadi."

Dawala menelan ludah. Jakun di lehernya yang kurus naik turun. "Aki, apa tidak sebaiknya kita panggil hansip sewetan? Atau minimal bawa obor yang banyak? Jujur, Aki, nyawa uing cuma satu, belum pernah dimutilasi."

"Ih, manéh mah sok ngaco! Mana mempan hansip ngalawan dukun teluh, Dawala!" potong Cepot. "Tapi Ki, bagaimana cara kita menembus hutan itu? Kemarin malam saja baru di pinggir jalan sudah dicegat kepala terbang."

Aki Sasmita tersenyum tipis. Beliau meraba kantong kain di pinggangnya, lalu mengeluarkan Golek Pancasona—boneka kayu berwajah Cepot yang malam tadi memancarkan cahaya pengusir setan.

"Golek Pancasona ini adalah kunci," ujar Aki Sasmita. "Dia tidak hanya melindungi, tapi juga penunjuk arah. Ke mana pun wajah boneka ini menoleh, ke sanalah jalan menuju sarang Ki Burak."

Aki kemudian menunjuk bubuk di dalam wadah anyaman. "Ini adalah awu pamunah—abu penawar. Ki Burak memagari bukitnya dengan kabut beracun bernama Halimun Getih. Siapa pun yang menghirupnya akan gila dalam hitungan detik. Usapkan abu ini ke hidung dan leher kalian sebelum mendaki.

"Cepot mengambil sejumput abu tersebut. Bau belerang dan daun sirih menyengat hidungnya. "Wah, bau jéngkol bosok kalah euy ku ambeu ieu mah, Ki!"

"Tong sagala dika-komentaran, Kang! Nu penting salamet!" Dawala buru-buru menyambar abu tersebut dan mengusapkannya ke hidung panjangnya sampai cemong. "Tah, ambeh aman!

Ingat," wajah Aki Sasmita berubah sangat serius, auranya mendadak mencekam. "Ki Burak memiliki tiga murid utama yang menjaga lereng bukit. Mereka bukan lagi manusia biasa, melainkan wadah bagi siluman hitam. Jangan pernah berpisah. Jika salah satu dari kalian tersesat, Golek Pancasona akan kehilangan kekuatannya."

Golek Pancasona erat-erat di pinggangnya memakai kain sarung. Gigi tonggosnya merapat, memancarkan keberanian yang jarang ia perlihatkan. "Kulan, Aki. Kami mengerti. Biar saya ulek itu si Burak sampai jadi sambal goang!"

"Gaya manéh, Kang. Padahal tadi peuting lumpatna pangheulana," sindir Dawala pelan.

"Béak kéjo manéh nya, Dawala!" Cepot melotot.

Aki Sasmita hanya terkekeh mendengar perdebatan kakak beradik itu. Namun, tatapan kosongnya mengarah ke luar jendela, menembus langit pagi yang perlahan mulai menggelap secara tidak wajar. Angin dingin mulai berembus kencang, membawa aroma anyir darah yang samar.

Perjalanan maut menuju Bukit Tengkorak resmi dimulai.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!