Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Pertama di Mansion Thorne
Mansion Alistair Thorne di Mayfair adalah sebuah mahakarya arsitektur Victoria yang digabungkan dengan teknologi keamanan tingkat tinggi. Lantainya terbuat dari marmer Italia, dindingnya dihiasi lukisan asli dari abad ke-19, dan suasananya begitu sunyi hingga suara napas pun bisa terdengar menggema.setelah berkenalan di dalam mobil. alistair mempersilahkan Sloane masuk ke dalam rumahnya yang tampak sunyi.
Namun, kesunyian itu baru saja menemui ajalnya.
"Tuan Thorne, apakah kau tinggal di museum atau di rumah? Kenapa dingin sekali di sini? Dan astaga... lihat pilar itu! Ada debu mikroskopis di sela-selanya! Bagaimana kau bisa tidur nyenyak dengan kenyataan mengerikan seperti itu?!"
Alistair berjalan di depan Sloane, langkahnya tetap tenang meskipun telinganya mulai terasa panas. Ia tidak terbiasa dengan suara yang terus-menerus mengalir tanpa henti. Di dunianya, orang bicara hanya jika perlu—dan biasanya itu adalah laporan kematian atau transaksi jutaan poundsterling.
"Itu adalah marmer antik, Nona Sterling. Dan saya rasa rumah ini sudah dibersihkan secara profesional setiap pagi," jawab Alistair tanpa menoleh. Suaranya kaku, seolah ia sedang membaca laporan tahunan perusahaan.
"Profesional? Hah! Mereka pasti hanya mengelap permukaannya saja. Aku bisa mencium sisa-sisa debu yang bersembunyi di balik lukisan tua itu!" Sloane berjalan cepat menyusul Alistair, namun karena ia terlalu sibuk menunjuk ke arah lukisan, kakinya tersangkut pada pinggiran karpet bulu domba yang tebal.
"A—!"
Bruk!
Sloane mendarat dengan wajah lebih dulu di atas karpet.
Alistair segera berbalik, tubuhnya bergerak secara instan untuk membantu. "Nona Sterling! Apakah ada kerusakan pada struktur tulang Anda?" tanyanya dengan bahasa yang sangat kaku, sambil mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam.
Sloane segera bangkit dengan wajah merah padam. Ia menepis tangan Alistair dengan kasar. "Struktur tulang apa?! Aku hanya... sedang mengetes apakah karpet ini asli atau sintetis dengan pipiku! Dan jawabannya, ini asli! Jangan berlebihan, Tuan Kaku!"
Alistair menarik kembali tangannya, merasa sedikit bingung dengan logika gadis ini. "Baiklah. Jika Anda sudah selesai... mengetes karpet, mari saya tunjukkan kamar Anda."
Alistair melangkah menuju ruang tengah yang luas. Karena merasa sudah sampai di zona "aman" rumahnya, ia secara refleks melepas jaket jas charcoal-nya. Tanpa berpikir panjang, ia meletakkan jaket seharga mobil mewah itu di atas sandaran kursi armchair beludru biru di dekatnya.
Baru saja Alistair ingin berbalik untuk bicara, sebuah teriakan melengking menghentikan detak jantungnya sejenak.
"BERHENTI! JANGAN BERGERAK!"
Alistair langsung bersiaga. Ia menarik pistol dari sarung bahunya dan berputar 360 derajat, mencari ancaman. "Di mana penyerangnya? Di mana?!"
"ITU!" Sloane menunjuk ke arah kursi dengan ekspresi ngeri, seolah-olah ada bom yang siap meledak di sana. "JAKETMU! KENAPA KAU MENARUHNYA DI SANA?!"
Alistair menurunkan senjatanya perlahan, napasnya memburu. "Ini... hanya jaket, Nona Sterling. Saya lelah dan ingin melepasnya."
"TIDAK ADA ALASAN!" Sloane berlari mendekat, menyambar jaket Alistair dengan gerakan yang sangat protektif terhadap kebersihan kursi. "Kau lihat gantungan jas berbahan kayu ek di sebelah sana? Itu jaraknya tidak sampai tiga meter! Kenapa kau memilih kursi ini untuk kau nodai dengan debu dari jalanan?!"
"Saya akan memakainya lagi besok pagi—"
"Besok pagi atau seribu tahun lagi, jaket punya tempatnya sendiri! Kursi adalah untuk duduk, bukan jemuran! Bagaimana jika ada tamu yang datang dan menduduki jas mahalamu ini? Kau mau jasmu jadi rata seperti roti sandwich?!" Sloane memarahi Alistair sambil menggantungkan jas itu dengan gerakan sangat rapi—bahkan ia memastikan kerahnya tegak sempurna.
Alistair Thorne, pria yang bisa membuat perdana menteri gemetar, kini hanya bisa berdiri mematung. Ia merasa seperti anak kecil yang baru saja tertangkap basah tidak mencuci tangan sebelum makan.
"Saya... saya minta maaf. Saya akan mencatat hal itu dalam prosedur rutin saya," gumam Alistair, merasa sangat canggung.
"Bagus! Sekarang, aku lapar. Karena aku baru saja menyelamatkan harga diri jasmmu, kau harus memberiku makan!" Sloane berkacak pinggang, menatap Alistair dengan tatapan menantang yang entah kenapa terlihat... manis di mata Alistair yang beku.
Alistair berdeham. "Dapur ada di sebelah sana. Saya tidak memiliki pelayan malam, jadi... silakan gunakan apa yang ada."
Sloane mengangguk mantap. "Oke. Lihat saja, aku akan membuatkan sesuatu yang... luar biasa!"
Dua puluh menit kemudian, Alistair yang sedang mencoba membaca dokumen rahasia di ruang kerja tercium aroma yang sangat mencurigakan. Itu bukan aroma bawang putih atau daging panggang. Itu adalah aroma... plastik terbakar yang dicampur dengan sesuatu yang sangat gosong.
BIP! BIP! BIP!
Alarm asap mansion mulai berbunyi. Alistair segera berlari ke dapur. Di sana, ia menemukan Sloane sedang berdiri di depan kompor dengan spatula di tangan, wajahnya tertutup tepung, dan sebuah wajan sedang mengeluarkan api kecil.
"Nona Sterling! Apa yang Anda lakukan?!" Alistair dengan sigap menyambar kain basah dan mematikan api di wajan.
"Aku... aku hanya ingin membuat telur mata sapi! Tapi telurnya meledak! Dan kenapa kompor ini punya begitu banyak tombol?! Aku pikir ini mesin waktu!" Sloane berteriak, suaranya sedikit bergetar, tampak sangat frustrasi sekaligus malu.
Alistair melihat ke sekeliling dapur. Dapurnya yang biasanya sebersih laboratorium bedah kini penuh dengan ceceran telur, tepung di lantai, dan noda hitam di langit-langit.
"Anda bilang... Anda ahli dalam kebersihan," kata Alistair, menatap Sloane dengan tatapan datar namun ada sedikit binar geli di matanya.
"Aku ahli bersih-bersih, Tuan Pintar! Bukan ahli kimia dapur!" Sloane membela diri, meskipun ia hampir menangis karena merasa gagal. "Aku sudah bilang aku tidak pandai masak! Kenapa kau membiarkan aku masuk ke sini sendirian?!"
Alistair menghela napas. Ia tidak bisa marah, entah kenapa. Melihat Sloane yang tampak begitu berantakan namun tetap berusaha mempertahankan harga dirinya membuat sesuatu yang beku di hatinya sedikit mencair.
"Menjauh dari sana," perintah Alistair kaku.
"Mau apa?! Kau mau mengusirku?!"
"Tidak. Saya akan... menakar proses nutrisi malam ini. Sebelum Anda benar-benar meratakan mansion saya dengan tanah." Alistair menggulung lengan kemeja putihnya yang mahal. Ia mengambil celemek dari laci—celemek polos yang ia beli entah kapan—dan memakainya.
Sloane tertegun. Ia melihat sang bos mafia yang menyeramkan itu kini sedang memegang pisau dapur dengan gerakan yang sangat ahli. Alistair mulai memotong sayuran dengan kecepatan dan presisi yang menakutkan.
"Kau... bisa masak?" bisik Sloane.
"Memasak adalah masalah logika dan waktu yang tepat," jawab Alistair tanpa menoleh. "Sama seperti merakit senjata. Jika variabelnya benar, hasilnya akan memuaskan."
Sloane duduk di kursi bar dapur, memperhatikan punggung lebar Alistair. Ia merasa sedikit bersalah karena telah membuat dapur pria itu berantakan, tapi ia juga merasa senang karena Alistair tidak memarahinya.
"Tuan Thorne?"
"Ya?"
"Terima kasih. Dan... kau tahu, kau terlihat sedikit lebih manusiawi saat memegang spatula daripada pistol."
Alistair berhenti sejenak, tangannya sedikit gemetar mendengar pujian—atau hinaan?—itu. Ia tidak tahu bagaimana cara membalasnya. "Saya... saya hanya tidak ingin mati kelaparan karena rumah saya terbakar," jawabnya kaku.
Sloane terkekeh kecil. "Bilang saja kau perhatian padaku, Pak Bos. Tidak perlu pakai alasan logis segala!"
Alistair tidak menjawab, namun telinganya memerah. Di tengah malam London yang sunyi, di sebuah dapur yang penuh asap, sang predator dingin itu baru saja menyadari bahwa ia telah membiarkan "bencana" paling manis masuk ke dalam hidupnya.
To be continued....