NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - TIGA TRILIUN RUPIAH

Pak Hendra menghela napas panjang, sengaja menunjukkan ketidaksabarannya. “Begini saja. Kalau memang belum mampu, jangan memaksakan diri. Kuliah juga tidak harus sekarang. Banyak anak berhenti dulu, kerja dulu, baru lanjut kalau ada rezeki.”

Nada kalimat itu terdengar seperti nasihat.

Tetapi mata Pak Hendra tidak sedang menasihati.

Ia sedang merendahkan.

Arkan menatap map biru di atas meja. Di dalamnya ada berkas Naya. Kertas-kertas itu seharusnya hanya dokumen, tetapi hari ini terasa seperti kunci pintu yang dijaga oleh orang yang menikmati posisi berdirinya.

“Pak, saya minta waktu sampai sore ini,” ucap Arkan. “Saya usahakan sisanya.”

Pak Hendra tertawa pelan.

Tidak keras.

Justru karena pelan, tawa itu terasa lebih menghina.

“Arkan, kamu pikir uang bisa muncul begitu saja hanya karena kamu usahakan?” Ia bersandar kembali ke kursi. “Kita realistis saja. Umur kamu sudah dua puluh dua. Kuliah sendiri tidak jelas, kerja tetap tidak ada, sekarang mau menjamin kuliah adikmu juga?”

Naya langsung menoleh ke Arkan. Matanya memerah, bukan karena marah, tetapi karena malu.

Itu yang membuat dada Arkan terasa seperti diremas.

Pak Hendra belum selesai.

“Bapak bukan mau merendahkan. Tapi kadang orang harus tahu batas. Tidak semua mimpi bisa dikejar kalau keadaan tidak mendukung.”

Di dalam kepala Arkan, suara asing itu kembali muncul.

[Penghinaan verbal terdeteksi.]

[Sumber: manusia paruh baya dengan otoritas administrasi terbatas.]

[Level ancaman: rendah.]

[Level kesombongan: tidak sebanding dengan saldo pribadinya.]

Arkan nyaris kehilangan fokus.

Apa-apaan suara ini?

[Rekomendasi sementara: target tidak perlu membalas.]

[Alasan: target belum memiliki dana yang cukup untuk membuat balasan terlihat elegan.]

Arkan menggertakkan gigi.

Bahkan suara aneh di kepalanya pun ikut meremehkannya.

Ia menatap Pak Hendra, mencoba menjaga nada suaranya agar tidak pecah. “Bapak boleh bicara soal aturan. Tapi jangan bicara seolah adik saya tidak pantas kuliah hanya karena keluarga kami belum punya uang cukup.”

Senyum Pak Hendra menghilang sedikit.

Pegawai perempuan di sampingnya berhenti mengetik lagi.

Naya menahan napas.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, Arkan tidak terdengar seperti pemohon. Suaranya masih pelan, tetapi ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Sesuatu yang membuat udara di antara meja terasa berubah.

Namun Pak Hendra cepat mengembalikan ekspresi angkuhnya.

“Kalau begitu buktikan.” Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya. “Lunasi sekarang. Berkas keluar sekarang. Sederhana.”

Arkan diam.

Itulah masalahnya.

Sederhana bagi orang yang punya uang.

Keji bagi orang yang tidak punya pilihan.

Ia membuka ponselnya, bukan karena tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena tubuhnya bergerak mencari kemungkinan terakhir. Layar ponsel tua itu menyala dengan sedikit jeda. Retakan halus di sudut kacanya memantulkan cahaya lampu ruangan.

Aplikasi bank terbuka.

Saldo muncul.

Angkanya kecil.

Terlalu kecil.

Cukup untuk membuat harapan tampak seperti lelucon.

Pak Hendra melirik layar itu sekilas, lalu mengembuskan napas lewat hidung. “Sudah saya duga.”

Naya bangkit perlahan. “Bang, sudah. Kita pulang aja.”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi bagi Arkan, rasanya seperti ada sesuatu yang patah.

Adiknya menyerah bukan karena tidak ingin kuliah.

Naya menyerah karena tidak ingin melihat abangnya dihina lebih lama.

Arkan menatap wajah adiknya. Wajah yang beberapa hari lalu masih diam-diam membuka situs universitas terbaik di ibu kota, membaca syarat pendaftaran, lalu menutupnya cepat saat ibu mereka masuk ruang tamu. Wajah yang setiap malam berpura-pura tidak kecewa ketika bicara tentang kampus yang “dekat-dekat saja” agar tidak membebani keluarga.

Tidak.

Arkan tidak bisa membiarkan ini selesai seperti ini.

Tapi uangnya memang tidak cukup.

Dan kenyataan adalah musuh yang tidak bisa ditinju.

Lalu suara itu datang lagi.

Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Seolah sesuatu yang sejak tadi hanya memindai akhirnya memutuskan untuk bicara langsung.

[Proses evaluasi selesai.]

[Target: Arkan Pradipta.]

[Usia: 22 tahun.]

[Status ekonomi: sangat rendah.]

[Status mental: tertekan, tetapi belum runtuh.]

[Status keluarga: prioritas tinggi.]

[Analisis akhir: target memenuhi kriteria.]

Arkan membeku.

Kriteria apa?

Di layar ponselnya, aplikasi bank tiba-tiba berkedip.

Bukan karena sinyal buruk.

Bukan karena baterai lemah.

Seluruh layar berubah hitam selama satu detik, lalu muncul lingkaran emas tipis yang berputar perlahan di tengah layar. Arkan hampir menjatuhkan ponselnya. Matanya membesar, napasnya tertahan.

Tulisan-tulisan asing muncul, lalu berubah menjadi bahasa Indonesia.

[Sistem Triliuner Absolut sedang mengikat tuan rumah.]

[Harap tidak panik.]

Arkan justru semakin panik.

[Sebenarnya, berdasarkan kondisi finansial tuan rumah, panik adalah respons yang wajar.]

[Sistem memahami.]

[Sistem juga akan panik jika memiliki saldo seperti itu.]

Rahang Arkan mengeras.

“Sial,” bisiknya tanpa sadar.

Pak Hendra menyipitkan mata. “Apa lagi?”

Arkan tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar.

Lingkaran emas itu berputar lebih cepat.

[Pengikatan berhasil.]

[Sistem Triliuner Absolut aktif.]

[Catatan pembuka: tuan rumah memiliki riwayat ekonomi yang sangat buruk.]

[Namun sistem tidak datang untuk memberi motivasi kosong.]

[Sistem datang membawa uang.]

Ruangan terasa menjauh.

Suara AC, ketukan jari Pak Hendra, napas tertahan Naya, semuanya menjadi samar.

Di layar ponsel Arkan, muncul satu baris tulisan baru.

[Saldo awal sedang disiapkan.]

Lalu ponselnya bergetar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Notifikasi bank masuk berturut-turut.

Arkan membuka pesan pertama dengan tangan yang mulai dingin.

Matanya membaca angka itu.

Lalu berhenti.

Ia mengira salah lihat.

Ia menghitung nolnya sekali.

Lalu dua kali.

Lalu tiga kali.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin ada uang sebanyak ini masuk begitu saja.

Rp3.000.000.000.000.

Tubuh Arkan terasa kehilangan pijakan.

Ia menutup aplikasi bank, lalu membukanya lagi. Angkanya tetap sama. Ia mematikan layar ponsel, menyalakannya lagi, membuka kembali aplikasi. Angka itu masih ada.

Tiga triliun rupiah.

Di rekeningnya.

Atas namanya.

Naya menyentuh lengan Arkan. “Bang, abang kenapa?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya hari itu, hinaan Pak Hendra tidak lagi terdengar paling tidak masuk akal.

Yang paling tidak masuk akal adalah suara di kepalanya yang kembali berbicara dengan nada datar.

[Selamat, Tuan Rumah.]

[Mulai detik ini, Anda resmi menjadi triliuner muda.]

[Rekomendasi tindakan pertama: lunasi tunggakan adik Anda.]

[Rekomendasi tindakan kedua: jangan pingsan di depan manusia yang tadi meremehkan Anda.]

[Itu akan merusak momentum.]

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!