NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima—Negoisasi

Gu Mingyue membalikkan tubuhnya terlebih dahulu, melambaikan tangan memberi isyarat agar Fan Li’er mendekat.

"Siapkan teh krisan terbaik dan kue manis musim semi," perintahnya lembut.

"Baik, Nona."

"Mari, Jenderal Agung Shen."

Derap langkah keduanya membawa mereka menuju area luar paviliun. Di sana berdiri sebuah gazebo kayu yang tenang, dilengkapi dengan satu set meja dan kursi yang tertata rapi.

Tanpa memedulikan formalitas atau rasa sopan, Shen Mufeng langsung mengambil tempat duduk di salah satu kursi. Melihat kelakuan acuh tak acuh sang Jenderal Agung, Gu Mingyue hanya menyunggingkan senyum samar.

"Apakah jamuan di aula tadi terasa melelahkan, Jenderal?" tanya gadis itu pelan sembari ikut mengambil tempat duduk di seberangnya.

Tak lama kemudian, Fan Li'er melangkah mendekat sembari membawa nampan berisi teko teh krisan yang baru dipesan, beberapa cangkir porselen, serta sepiring camilan kue manis khas musim semi.

Gu Mingyue menatap pelayannya. "Apakah suasananya sudah aman, Li'er?"

"Sudah tidak ada siapa-siapa di sekitar lorong setapak, Nona," jawab Fan Li'er pelan dan tanggap, sebelum ia membungkuk hormat dan mundur beberapa langkah untuk berjaga di batas luar gazebo.

Gu Mingyue menuangkan teh dengan gerakan perlahan yang anggun. Aroma lembut dari bunga krisan yang diseduh air panas seketika menyeruak, membawa sensasi menenangkan.

"Kurasa, ini untuk pertama kalinya sebuah jamuan terasa menyenangkan," ucap Shen Mufeng tenang. Ia mengulurkan tangan, mengambil secangkir teh yang baru saja dituangkan untuknya.

Gu Mingyue melirik pria itu dari balik bulu matanya yang lentik. "Tentu saja, karena kediaman kami telah menyiapkan hidangan terbaik untuk menyambut kepulangan Jenderal Besar Gu."

"Bukan karena itu," potong Shen Mufeng telak.

"Lalu, apa maksud Jenderal Agung?"

"Dulu kupikir semua orang di kediaman Gu akan memiliki perangai yang sama saja," ujar Shen Mufeng sembari menatap riak teh di cawannya. "Namun nyatanya, Nona Besar Gu jauh lebih berbeda."

Gu Mingyue menyesap tehnya perlahan. Senyum tipisnya tersembunyi dengan sempurna di balik cawan porselen. "Benarkah begitu? Apa alasan Jenderal Agung Shen sampai memiliki pemikiran semacam itu tentang saya?"

"Karena Anda begitu berani menyeret saya ke dalam skandal di depan para pejabat istana tadi," jawab Shen Mufeng, sepasang matanya kini mengunci pandangan Mingyue dengan kilat menyelidik.

Gu Mingyue meletakkan cawannya kembali ke atas meja tanpa menimbulkan suara. "Saya justru sedang membantu Anda, Jenderal."

Shen Mufeng mengangkat sudut bibirnya. Ia kembali menyesap tehnya perlahan. "Nona Besar Gu tampaknya terlalu besar hati. Seharusnya bantuan semacam ini tidak perlu Anda lakukan."

Gu Mingyue melemparkan senyum yang jauh lebih lembut, namun sorot matanya mengunci pria di hadapannya tanpa ragu. "Saya hanya ingin bernegosiasi dengan Anda, Jenderal."

Sebelah alis Shen Mufeng terangkat, tertarik dengan perubahan arah pembicaraan ini.

"Saya akan memberikan sebuah informasi yang teramat berharga kepada Anda," lanjut Gu Mingyue sengaja menjeda kalimatnya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap Shen Mufeng, menantang binar ketajaman sang Jenderal Agung yang kini terpancar jelas di bawah sinar rembulan. "Sedangkan sebagai gantinya, Anda ... harus menikahi saya."

Shen Mufeng tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Suara baritonnya yang rendah terdengar mengalun, memecah keheningan di gazebo itu.

"Anda tahu seberapa berbahayanya pernikahan ini jika sampai terjadi?"

"Tentu," jawab Gu Mingyue lebih cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

"Penawaran yang luar biasa berani," ucap Shen Mufeng, tubuhnya sedikit condong ke depan untuk mengintimidasi secara halus. "Namun, semua itu tentu saja tergantung pada semenarik apa informasi yang Anda miliki, Nona Gu."

Gu Mingyue menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sandaran kursi. "Semenarik informasi mengenai korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh beberapa pejabat penting istana."

Shen Mufeng mendengus pelan, kembali bersandar. "Jika hanya itu, Anda tahu sendiri bahwa urusan audit keuangan pejabat bukanlah bagian dari wewenang militer saya."

"Korupsi dana militer," potong Gu Mingyue telak, membuat udara di gazebo itu mendadak terasa lebih berat. "Bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling mendasar..." Gadis itu sengaja menjeda kalimatnya, berpura-pura berpikir cukup lama sembari mengetuk jemarinya di atas meja.

"Pemotongan gaji pensiun milik ratusan prajurit di perbatasan ibu kota."

Deg.

Seketika itu juga, tubuh Shen Mufeng menegak kaku. Aura santai dan jenaka yang tadi ia tunjukkan lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membunuh lawan bicara biasa. "Apa saja yang Anda ketahui tentang hal itu, Nona Gu?" tuntutnya dengan suara yang merendah berbahaya.

Melihat respons yang persis seperti dugaannya, Gu Mingyue hanya tersenyum tenang. "Jenderal, jangan terburu-buru. Ini baru sekadar hidangan pembuka dari saya."

Shen Mufeng menatap lekat gadis di hadapannya, mencoba mencari celah kebohongan atau keraguan, namun ia tidak menemukan apa pun selain keyakinan mutlak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seringai tipis yang sarat akan apresiasi berbahaya. Matanya melirik ke arah jemari Gu Mingyue yang kini dengan santai mengambil sepotong kue manis musim semi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

"Anda ... memang teramat menarik, Nona Besar Gu."

"Tentu saja," sahut Gu Mingyue setelah menelan kuenya, menatap balik sang Jenderal Agung tanpa gentar. "Dan Anda tahu persis nilai dari informasi itu."

Shen Mufeng ikut menyandarkan tubuhnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil sepotong kue manis musim semi. "Anda tentu tahu bahwa menikah dengan saya..." Pria itu menjeda kalimatnya selama beberapa saat, membiarkan sepoi angin musim semi menerpa wajahnya. "...artinya Anda harus siap dengan segala konsekuensinya."

"Saya siap," sahut Gu Mingyue tanpa keraguan sedikit pun.

"Anda terlalu tergesa-gesa, Nona Gu."

Gu Mingyue terkekeh pelan. "Tentu saja, karena sampai saat ini saya masih mengingat dengan jelas bagaimana kegagahan Anda."

"Anda masih bersikeras menggunakan alasan yang sama seperti saat memercikkan skandal di aula tadi," sindir Shen Mufeng lembut namun tajam.

"Oh, Jenderal Agung Shen. Alasan itu sepenuhnya benar."

"Lalu, apa lagi yang akan saya peroleh selain informasi itu?" tanya Shen Mufeng. Ia menolehkan wajahnya, menatap lekat ke arah Gu Mingyue.

"Saya akan menjadi seorang istri yang sangat lembut kepada Anda."

Shen Mufeng mendengus geli. "Nona, Anda tahu sendiri taktik rayuan seperti itu tidak akan bekerja pada saya."

"Baiklah," Gu Mingyue tersenyum menantang, "saya akan menjadi istri yang lembut di hadapan Anda, namun berubah menjadi sosok yang tegas di hadapan para musuh serta rekan Anda."

"Masih kurang."

"Menjadi wanita yang keji dan tak kenal ampun di hadapan musuh-musuh kita."

"Itu terdengar jauh lebih baik," sahut Shen Mufeng dengan binar kepuasan yang berbahaya di matanya.

Shen Mufeng kemudian bangkit berdiri lebih dulu, mengibaskan mantel putihnya beberapa kali dari kelopak bunga yang menempel. "Saya akan mempertimbangkan tawaran informasi ini."

Pria itu melirik ke arah Gu Mingyue yang masih setia tersenyum tenang. "Dan untuk tawaran pernikahan..."

Shen Mufeng mengalihkan pandangannya ke arah depan, menatap halaman paviliun yang kian meremang diselimuti kegelapan. "...saya akan menilai seberapa pantas Anda untuk menjadi istri seorang Shen Mufeng. Saya pamit undur diri, Nona Besar Gu."

"Saya harap bisa segera mendapatkan jawaban yang baik dari Anda, Jenderal," ucap Gu Mingyue sembari ikut bangkit berdiri dan membungkuk anggun untuk memberi salam perpisahan.

Gu Mingyue melepas pandangannya, menatap lekat derap langkah kaki Shen Mufeng yang perlahan menjauh dari paviliun pribadinya. Saat sosok berwibawa itu melewati pagar pembatas pekarangan, ritme langkahnya tampak begitu tegas dan konstan—sebuah gestur alami yang dengan jelas mempertunjukkan posisi serta wibawa militernya yang tak tergoyahkan.

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!