"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Mesin motor matic tua itu menderu kasar, suaranya yang tidak stabil seolah mencerminkan detak jantung Arumi yang sedang tidak karuan. Motor itu adalah satu-satunya harta benda peninggalan almarhum ayahnya yang masih tersisa, sebuah benda yang kini menjadi kaki bagi Arumi untuk mengantar jemput anak-anak dan berbelanja ke pasar. Meski catnya sudah kusam dan knalpotnya sesekali mengeluarkan asap tipis, Arumi tetap merawatnya dengan penuh kasih sayang, layaknya ia merawat kenangan tentang orang tuanya.
Di atas aspal yang mulai panas oleh matahari pagi, pikiran Arumi kembali terlempar pada kejadian di meja makan beberapa puluh menit yang lalu. Sebuah adegan yang bagi sebagian orang mungkin sepele, tapi bagi seorang ibu, itu adalah goresan luka yang dalam.
Flashback On
Suasana di ruang makan yang sempit itu begitu sunyi. Hanya ada suara putaran kipas angin tua yang menempel di dinding, berusaha mengusir hawa gerah. Di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk, tersaji tiga potong ayam goreng hasil sisa belanjaan kemarin lusa. Itu adalah protein terakhir di rumah mereka.
Pras duduk dengan tenang, matanya fokus pada ponsel di tangan kiri, sementara tangan kanannya dengan cekatan mengambil potongan ayam yang paling besar. Tanpa bertanya, tanpa basa-basi, ia memakan bagian favoritnya itu dengan lahap. Bagi Pras, keberadaan makanan di meja adalah haknya sebagai kepala keluarga, tanpa pernah peduli bagaimana cara makanan itu sampai ke sana.
Arumi hanya diam. Ia terbiasa mengalah. Ia mengambil piring, mengisi sedikit nasi, tapi membiarkan ruang untuk lauk itu tetap kosong. Ia berniat memberikan dua potong sisa itu sepenuhnya untuk kedua anaknya.
Setelah Pras menghabiskan kopinya dan berangkat kerja dengan kemeja licin hasil setrikaan Arumi hingga tengah malam, suasana mendadak berubah haru.
Si Kakak yang kini sudah duduk di kelas 6 SD, menatap piring ibunya dengan tatapan sendu. Ia anak yang peka, mungkin terlalu peka untuk anak seusianya.
"Ibu, kenapa piring Ibu nggak ada ayamnya?" suara si Kakak memecah kesunyian.
"Ibu lagi nggak pengen makan ayam, Kak. Lagi pengen nasi pakai kerupuk saja," bohong Arumi, sebuah kebohongan yang sudah ribuan kali ia ucapkan demi perut anak-anaknya.
Si Kakak tidak percaya. Ia menoleh pada adiknya yang duduk di sebelah, lalu menarik piring si Adik dengan lembut.
"Dek, kita makan satu piring berdua saja ya? Biar ayam yang ini buat Ibu. Kita kan sudah makan ayam kemarin," bisik si Kakak.
Si Adik, bocah kelas 2 SD yang biasanya paling doyan ayam, kali ini mengangguk tanpa ragu. Ia mendorong piringnya ke arah Arumi. "Iya, Bu. Ibu harus makan. Ibu kan kerjanya ngetik sampai pagi, nanti kalau Ibu sakit, siapa yang nemenin kita?"
Arumi tercekat. Kerongkongannya terasa tersumbat. Ia harus berbalik, pura-pura mencuci tangan di wastafel hanya untuk menyeka air mata yang mendadak tumpah. Betapa adilnya dunia anak-anak, dan betapa egoisnya dunia orang dewasa yang sedang ia jalani.
Flashback Off
Klakson truk di belakang menyentak Arumi kembali ke dunia nyata. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu membelokkan motornya ke parkiran pasar tradisional yang becek. Ia harus belanja. Dengan uang seratus ribu rupiah di saku, ia harus memutar otak agar cukup untuk makan tiga hari ke depan.
Arumi berjalan menyusuri lorong pasar yang pengap. Sebagai menantu yang dididik dengan tata krama tinggi, ia selalu menjaga sikapnya. Ia menyapa setiap pedagang dengan senyum ramah, meski hatinya sedang mendung. Hingga langkahnya terhenti di depan lapak daging sapi yang paling ramai.
Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaya glamor. Ibu mertuanya.
Ibu Pras tampak sedang memilih bagian daging sapi terbaik. Gelang emas di pergelangan tangannya berkilauan setiap kali ia bergerak, kontras dengan kulit tangan Arumi yang kusam karena terlalu banyak terpapar sabun cuci dan debu jalanan. Arumi tahu, hubungan mereka tidak pernah baik. Sejak awal, ibu mertuanya menginginkan menantu yang juga bekerja di kantor, bukan seorang penulis online yang dianggapnya hanya pengangguran berkedok hobi.
Namun, Arumi tetaplah Arumi. Ia menghampiri mertuanya dengan sopan, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.
"Pagi, Ibu... Sedang belanja juga?" sapa Arumi lembut, suaranya nyaris tenggelam oleh bisingnya pasar.
Ibu Pras menoleh, matanya memicing sinis. Ia memandangi daster Arumi yang tertutup jaket pudar, lalu beralih ke keranjang belanjaan Arumi yang baru berisi kangkung dan tempe.
"Eh, kamu Ar. Iya, Ibu lagi beli daging sapi dua kilo. Kasihan si bungsu dan adik-adiknya Pras di rumah, kalau nggak makan daging badannya lemas. Pras selalu bilang ke Ibu kalau dia nggak tega lihat adik-adiknya kekurangan," kata Ibu mertuanya dengan nada membanggakan anaknya.
Arumi tersenyum pahit. Tidak tega pada adiknya, tapi tega membiarkan anak kandungnya makan satu piring berdua?
Ibu Pras kemudian menunjuk keranjang Arumi. "Kamu mau beli daging juga, Ar? Sesekali anak dan suami kamu itu beliin daging lah. Masak cucu-cucu Ibu selalu dikasih ikan asin saja? Setiap kali Ibu mampir ke rumahmu, baunya selalu ikan asin. Kesal Ibu lihatnya. Malu tahu kalau kedengaran tetangga."
Arumi menunduk, ia tidak ingin membantah dengan nada tinggi. "Iya, Bu... Ini Arumi rencananya mau beli ikan laut dulu, anak-anak lagi pengen yang segar-segar," elak Arumi sehalus mungkin.
"Halah, alasan! Ikan laut juga murah kan? Kamu itu jangan terlalu pelit jadi istri. Pras itu sudah kerja banting tulang di kantor, berangkat rapi pulang malam. Ya mbok dikasih makan yang enak. Jangan cuma uangnya kamu simpan sendiri buat kepentinganmu. Ibu tahu ya, penulis-penulis kayak kamu itu uangnya banyak, masa sekilo daging saja nggak kebeli? Malu-maluin keluarga Pras saja."
Kalimat itu menusuk tepat di jantung Arumi. Ingin sekali ia mengeluarkan mutasi rekeningnya dan menunjukkan bahwa hampir 90% kebutuhan rumah tangga, termasuk listrik dan SPP anak, ia yang bayar. Ingin sekali ia bilang bahwa uang yang dipakai mertuanya beli daging itu adalah uang nafkah yang "dicuri" dari meja makannya.
Tapi, bibir Arumi tetap terkatup rapat. Ia hanya mampu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan ribuan teriakan. "Iya, Bu. Terima kasih nasihatnya. Arumi duluan ya, mau jemput anak-anak."
Arumi melangkah pergi dengan kaki yang terasa seberat timbal. Di belakangnya, ia masih sempat mendengar mertuanya bergumam pada penjual daging, "Tuh, lihat menantu saya. Orangnya memang sopan, tapi pelitnya minta ampun. Anak saya itu kasihan, dapat istri yang cuma tahu ngetik tapi nggak tahu cara urus suami."
Arumi terus berjalan tanpa menoleh. Ia menuju lapak ikan asin di pojok pasar. Dengan tangan gemetar, ia membeli ikan asin seharga lima belas ribu rupiah. Di kepalanya, ia sudah menyusun alur untuk novelnya malam nanti. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya dengan cara yang salah, atau bahkan tidak mencintainya sama sekali.
Baginya, setiap luka adalah satu bab baru. Dan siang ini, lukanya cukup dalam untuk menjadi sebuah mahakarya yang menyakitkan.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏