NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam Yang Sederhana

[Harau, 1281 Masehi]

Angin subuh mengalir naik dari Lembah Harau, membawa suara serangga yang bersahutan dan gemericik sungai di kejauhan. Hattori yang kini menggunakan tubuh dan nama Sena duduk diam di tepi tebing hingga fajar benar-benar merekah.

Sumpah yang ia ucapkan semalam masih menggema di benaknya, namun sumpah tetap tidak bisa mengisi perutnya yang keroncongan.

Ketika matahari muncul sepenuhnya, rasa lapar yang menyengat akhirnya menembus lapisan ketenangan yang ia bangun dengan disiplin bertahun-tahun.

‘Hhh… tubuh ini sangat menuntut,’ batinnya

Ia menuruni bukit dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa aneh, ia memang belum sepenuhnya terbiasa dengan tubuh Sena.

Otot-otot kecil di betisnya masih sedikit gemetar, telapak kakinya lecet oleh batu dan tanah lembap. Hattori bisa mengerti, hidup pemuda ini jelas bukan hidup yang ramah untuk pemuda lemah seperti Sena.

Fragmen ingatan sesekali kembali menyusup, kali ini tanpa rasa sakit yang menusuk. Ingatan itu mengalir pelan, seperti air keruh yang akhirnya mengendap.

Sena Sanjaya. Anak yatim piatu di usia 15 tahun. Ibunya wafat karena sakit yang tak pernah sempat diobati. Ayahnya tewas setelah dihukum cambuk saat kerja rodi membangun jalan batu menuju Pos Garnisun Singasari di wilayah Harau.

Tubuh ayah Sena tak pernah kembali utuh, hanya cerita lirih tentang punggung yang hancur dan napas yang berhenti di tengah terik matahari. Sejak hari itu, Sena hidup dari sisa belas kasihan warga desa.

Ia menjadi tenaga kasar, pemikul kayu, pemecah batu untuk menggantikan posisi ayahnya dalam daftar kerja rodi di usianya yang masih belia. Tubuhnya kurus bukan karena malas, melainkan karena jatah makan yang selalu kurang.

Dan Balun, pemuda gempal itu adalah anak kepala kelompok kerja rodi. Teman masa kecil Sena yang kini jadi algojo kecil yang gemar menginjak yang lebih lemah demi mempertahankan kuasanya.

Tentu semua orang ingin hidup nyaman, baik Sena maupun Balun, mereka semua dipaksa oleh keadaan.

“Dendammu begitu sederhana, Sena” gumam Hattori pelan. Tidak ada kebencian berlebihan dalam ucapannya, hanya sebuah pengamatan dingin.

Ia tiba di desa ketika pagi mulai ramai. Rumah-rumah panggung dari kayu berdiri di antara pohon kelapa dan rumpun bambu. Asap dapur mengepul, membawa aroma singkong rebus dan kayu bakar. Orang-orang meliriknya, sebagian dengan curiga, sebagian dengan jijik, dan sebagian dengan iba.

Sena dikenal sebagai anak yang pendiam, tak percaya diri dan sering jadi bahan cemoohan teman bermainnya.

Tapi hari ini, mereka melihat sesuatu yang janggal. Tubuhnya masih cungkring dan tampak ringkih, namun sorotan matanya kini memiliki temperamen yang berbeda.

Sena berjalan menuju gubuk reyot di tepi desa. Atap rumbia bocor, dindingnya miring, dan lantainya hanya tanah keras yang retak-retak. Namun saat ia melangkah masuk, ada rasa hangat yang aneh menyelusup ke dadanya.

Ini bukan rumah Hattori Zen, sang Jonin Iga. Tapi di tempat inilah Sena bertahan hidup.

Ia duduk bersila. Memeriksa napas. Menghitung denyut nadi. Membuka telapak tangan dan menggerakkan jari-jarinya perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak tewas di salju Iga, Hattori tersenyum tipis. “Menarik.” Gumamnya pelan menerima keadaan kehidupan barunya.

Hari-hari berikutnya, perubahan itu dimulai.

Hattori tetap berperilaku layaknya Sena. Ia tetap bekerja memikul kayu, membersihkan ladang, dan mengangkut batu. Namun ritmenya berbeda.

Ia tidak lagi menghamburkan tenaga. Ia mengatur napas, membagi beban, memindahkan berat tubuh secara efisien.

Luka-luka goresan kecil tetap ada, tetapi tidak lagi membusuk menjadi cedera berat.

Setiap malam, ketika desa terlelap, ia berlatih dalam diam. Bukan latihan keras yang merobek otot, melainkan latihan postur, keseimbangan, dan pernapasan. Ia mempelajari ulang cara berdiri, cara melangkah, cara menjatuhkan tubuh tanpa mencederai diri sendiri.

Hattori sedang melatih tubuh barunya, tubuh Sena Sanjaya cara untuk bertahan hidup.

Balun memperhatikan dari kejauhan. Pemuda gempal itu masih sering mengumpat, namun tidak lagi mendekat.

Tangannya yang pernah terkena kuncian saraf belum sepenuhnya pulih. Rasa nyeri memang telah memudar, tetapi ada ketakutan yang tertinggal, ketakutan yang tak dimengertinya, sebuah trauma. Namun sebuah trauma bila dibiarkan, sering kali melahirkan niat jahat.

Pada malam keempat belas, ketika gerimis turun dan desa tenggelam dalam sunyi, ia terbangun oleh firasat tajam. Naluri pembunuh yang telah ditempa puluhan tahun berteriak dalam jiwanya.

Bahaya---! Nalurinya seolah berteriak untuk memperingatkannya. Ini bukan respon tubuh Sena, tapi insting seorang Jonin, Hattori Zen.

Ia mengintip dari sela dinding gubuknya yang retak. Tampak bayangan bergerak di kejauhan.

‘Mereka sudah mulai,’ batinnya. Namun bayangan-bayangan itu hanya mengawasi, tidak berani mendekat.

Tak mau menunggu lebih lama. Ia segera mengemasi barang-barang seperlunya dan meninggalkan desa sebelum fajar. Tujuannya jelas: melatih tubuh Sena hingga mampu mengadaptasi teknik-teknik Shinobi tingkat tinggi tanpa hancur lebih dulu.

Untungnya tubuh Sena sebenarnya cukup kuat, kerja rodi telah membangun fondasi kasar. Hanya saja kekurangan makan dan gizi yang membuatnya jadi rapuh dan ringkih.

Lembah Harau di pagi hari bagaikan lukisan agung yang digoreskan semesta dengan kabut dan pancaran sinar matahari.

Tebing-tebing granit setinggi ratusan meter berdiri angkuh seperti raksasa purba yang menjaga rahasia bumi. Di celah-celahnya, vegetasi hijau merambat bak permadani zamrud, menyembunyikan segala yang liar dan terlarang.

Bagi Hattori Zen, keindahan ini hanyalah medan. Di puncak salah satu tebing yang jarang dijamah manusia, Sena duduk dalam posisi Seiza.

Napasnya ditarik dalam, melewati tenggorokan yang masih terasa kaku. Setiap hembusan terasa panas dan berat, seperti uap yang keluar dari perut bumi.

“Rin… Kyo… Toh… Sha… Kai… Retsu… Zai… Jin… Zen…”

Ini bukan sekedar mantra, bukan pula sekadar gumaman. Setiap suku kata adalah jangkar yang menautkan tubuh, pikiran, dan jiwa. Jemarinya membentuk segel tangan dengan presisi yang tak seharusnya dimiliki remaja seusianya.

Ia hanya melatih tubuh ini, untuk mengingat setiap segel dan dimana saraf-saraf di tangan harus di tekan. Tapi untuk saat ini, ia tidak benar-benar menekan sarafnya, karena Hattori tahu, tubuh ini belum siap, belum mampu untuk menahannya.

Tubuh Sena adalah tanah liat yang lama terbengkalai. Kerja rodi telah memberinya otot keras namun kaku, seperti besi tua berkarat.

Hattori tahu, teknik Shinobi Iga tidak membutuhkan kekuatan kasar, melainkan kelenturan otot yang kenyal seperti rotan, responsif seperti tali busur. Dan pelatihan sebenarnya kini dimulai. Ia mulai berlari, memperkuat otot tangan, kaki dan tentu saja kelenturan tubuh.

Hari terus berganti, di bulan pertama, ia berlari menguatkan otot kakinya. Di awal-awal ia sering terjatuh, terpeleset, salah injak, namun seiring waktu ia mulai selaras dengan tubuh Sena, hingga akhirnya ia tidak lagi berlari seperti pelari jarak jauh. Ia melompat dari akar ke akar, dari batu ke batu.

Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Awalnya, lumpur meninggalkan jejak dalam di bawah telapak kakinya. Namun perlahan, jejak itu kian memudar yang menandakan langkahnya semakin ringan, kontrol kakinya semakin presisi.

Menginjak bulan kedua, ia semakin mahir dengan shinobi-aruki, sebuah teknik cara berjalan senyap yang memindahkan berat badan ke sisi luar telapak kaki. Bergerak di antara semak berduri tanpa mematahkan satu ranting pun, meniru gerak macan dahan yang mengintai mangsa.

Bulan ketiga, otot-otot bagian atasnya kian kokoh, lengannya kini mampu mencengkram kuat di dahan pohon. Setiap sore, ia juga berdiri di bawah air terjun yang menghantam bebatuan Harau. Ribuan liter air menghantam tubuhnya seperti palu godam.

Kulitnya memerah, napasnya tersengal, dan beberapa kali ia hampir kehilangan kesadaran.

Namun ia harus tetap bertahan.

“Lebih kuat,” bisiknya. “Jika dunia ini rimba, maka aku harus menjadi pemangsa yang tak terlihat.”

Sementara itu, Desa Harau mendidih dalam ketegangan sunyi.

Hilangnya Sena bukan sekadar urusan seorang anak miskin. Bagi Datuk Lagang sebagai seorang kepala desa, itu adalah tamparan terhadap kewibawaannya. Di bawah kekuasaan Singasari yang tengah berekspansi ke tanah minang, ketertiban adalah mata uang utama.

Satu tenaga kerja yang hilang berarti berkurangnya setoran upeti ke Dharmapuri, sebuah kerajaan kecil yang kini di kuasai Singasari.

Balun berjalan gontai di belakang Purwa Wangsa, seorang Bekel (Komandan Peleton/Danton) Pos garnisun Harau. Wajah sang Bekel itu keras, dengan bekas luka melintang di pipinya, bukti jejak seseorang yang pernah menatap maut dan mampu bertahan.

“Kau bilang dia sudah tiga bulan menghilang?” suara Purwa berat, seperti batu diseret di atas pasir.

“Be-benar, Tuan Purwa,” jawab Balun tergagap.

Mereka memasuki gubuk reyot Sena yang kini ditumbuhi rumput liar. Purwa berjongkok, jemarinya menyentuh lekukan kecil di lantai tanah.

“Bocah ini tidak sekadar pergi,” gumamnya. “Ini bekas orang yang duduk bersila lama. Seimbang, seperti orang yang bertapa.”

Balun menelan ludah mendengar gumaman Purwa.

“Cari dia,” perintah Purwa dingin. “Jika mati, bawa jasadnya. Jika hidup patahkan kakinya dan bawa dia kehadapanku.”

Balun menggigil. Dia hanya seorang remaja desa yang di beri wewenang oleh Purwa untuk menarik upeti, kenapa bukan prajurit Singasari saja yang mencarinya? Pikir Balun protes, tapi tak berani mengungkapkannya.

Bagi Balun, uang adalah darah, kenyamanan adalah kehidupannya. Dan Sena telah berhenti mengalirkan keduanya.

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!