Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Taktik jahil Aruna.
Rasa hangat yang menjalar, ke seluruh tubuh. Akhirnya, membuat Aruna sadar, dari lamunannya. Ia buru-buru beranjak tiba-tiba, dari pangkuan Axel, lalu duduk rapi, di kursi sebelahnya, dengan wajah berusaha, terlihat datar dan tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa tadi.
Tatapan matanya langsung beralih, dan menyoroti hidangan-hidangan mewah, yang tersaji di meja.
"Wah, kelihatannya makanannya enak banget.. Aku makan boleh?" tanya Aruna, dengan polos, padahal tangannya sudah siap, menyambar sendok dan garpu.
"Ya silahkan," jawab Axel singkat.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Aruna langsung melahap makanan, dengan lahap. Bukan karena ia sangat lapar, tapi ini adalah strategi barunya. Ia berniat membuat Axel ilfil, dan menganggapnya wanita yang tidak sopan, kasar, dan aneh.
"Aruna, pelan-pelan," tegur Axel lembut, melihat cara makan Aruna, yang seperti orang dikejar setan. Buru-buru, tak karuan.
"Kalau pelan-pelan, aku gak bakalan kebagian!" jawab Aruna ketus, sambil menarik semua piring ke dekat dirinya, seolah-olah takut makanan itu, akan hilang atau diambil oleh Axel.
Axel hanya bisa tertawa terkekeh, melihat tingkah laku gadis, di depannya itu. Ia mencoba ikut mengambil makanan, tapi Aruna bagaikan orang kesurupan. Setiap kali Axel hendak mengulurkan tangan, Aruna lebih cepat, menyambar makanan itu, dan mengambilnya, dalam porsi yang sangat banyak, sampai mata Axel terbelalak melongo.
Pada akhirnya, Jenderal TNI bintang empat itu, tidak jadi makan. Ia hanya menjadi penonton setia, acara mukbang dadakan, ala Ratu Aruna.
Namun, berbeda dengan harapan Aruna, di dalam hati Axel, dia sama sekali tidak merasa terganggu atau membencinya. Justru, rasa penasarannya, pada wanita unik ini, makin tumbuh besar.
Lama-kelamaan, piring-piring di hadapan mereka mulai kosong, dan perut Aruna terasa sangat penuh. Ia berhenti makan, lalu bersendawa dengan keras dan santai.
"Huah... kenyang juga." ucap Aruna, sambil memijat perutnya, memasang wajah paling menyebalkan yang bisa ia buat.
Axel menghela napas panjang, lalu menatap wanita itu dengan tatapan tajam, namun lembut.
"Aruna... katakan padaku, hobi kamu apa? Aku dengar dari ayahmu, jika kamu katanya suka berburu... apa itu benar?" tanya Axel memulai percakapan serius.
Aruna menoleh, tersenyum miring dengan penuh percaya diri.
"Oh tentu saja... dari dulu sampai sekarang hobiku gak pernah berubah. Aku memang sangat suka berburu... Berburu uang." jawabnya santai dan blak-blakan. "Tapi uang gratisan, dari orang-orang kaya seperti kamu."
Axel kembali tertawa lepas, mendengar jawaban polos dan jujur itu. Suara tawanya renyah, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Ia justru makin terhibur, dengan segala sikap 'nakal' Aruna.
Melihat Axel tertawa, dan justru terlihat sangat menyukai tingkahnya, Aruna mulai panik dalam hati.
'Ih sialan... dia malah kelihatan suka, sama aku... aduh mau gimana lagi, aku bertindak.. kayaknya, cara-caraku malah gak ada yang mempan, sama sekali.' batin Aruna kesal.
'Sialnya lagi... senyumnya manis banget! Bikin jantung aku senam aerobik aja,' gerutunya dalam hati, menepuk pelan dadanya sendiri yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Aruna, kamu adalah wanita pertama yang membuatku begini... sungguh luar biasa, aku terhibur karena sikpmu," ucap Axel tulus, matanya tak lepas memandang wajah gadis di depannya.
"Terhibur? Tapi aku bukan wanita penghibur loh, Tuan Panglima..." sahut Aruna dengan wajah sedikit keheranan, dan sedikit kesal, seolah tersinggung, dengan kata yang dipilih Axel. Padahal sebenarnya, dia tak perduli sama sekali.
"Ah maaf, maaf... maksudku bukan begitu. Menghibur di sini bukan arti yang negatif," Axel buru-buru mengklarifikasi, sambil tertawa kecil melihat reaksi Aruna.
Aruna hanya mendelik malas, tak mau memperpanjang masalah. "Aku ke toilet dulu sebentar," katanya singkat, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan. Sedangkan Axel hanya terdiam melongo.
"Luar biasa.. Dia unik sekali. Kalau aku menikah dengannya, mungkin hidupku akan jauh lebih berwarna," gumam Axel dalam hati.
***
Sesampainya di dalam toilet, Aruna langsung menghampiri cermin besar, di dinding. Matanya terbelalak kaget, melihat pantulan dirinya sendiri. Riasan wajahnya, terlihat sangat tebal dan mencolok, hampir membuatnya, tidak mengenali bayangannya sendiri.
"Astaga... apa ini? Memalukan sekali penampilanku... aduh!" serunya, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, panik. Merasa sangat bersalah, dan malu pada dirinya sendiri.
"Padahal sudah seaneh ini, kok Axel malah biasa aja ya lihat aku? Dia emang punya selera yang aneh banget," gumam Aruna sambil menggelengkan kepala. "Yasudah, kalau gitu, kita ubah taktiknya. Sekarang jadi natural aja, manja dikit... siapa tahu Axel justru gak suka sama cewek kayak gitu."
Dengan semangat baru, Aruna segera mengeluarkan micellar water, dan kapas dari tasnya. Ia mulai membersihkan, wajahnya dengan telaten, menghapus semua lapisan makeup yang tebal itu. Setelah itu, ia mencuci muka menggunakan facial foamx hingga bersih.
Saat semua riasan hilang total, Aruna mengoleskan pelembab ke seluruh wajah, dan leher, lalu menyentuh bibirnya, dengan lipstik berwarna sangat natural.
Ia kembali menatap cermin. Kali ini, wajah cantik alaminya, terlihat begitu mempesona. Kulitnya tampak bersih, bercahaya, dan halus. Matanya yang besar, dan tajam kini terlihat lebih lembut, dan menawan. Aruna benar-benar tampak seperti dewi kayangan, yang turun ke bumi, cantiknya luar biasa dan sangat memikat.
"Nah, gini dong..." bisik Aruna pada pantulannya sendiri, sambil tersenyum miring, siap dengan strategi barunya.
Aruna berjalan, dengan percaya diri kembali ke meja. Axel sampai terpana, dibuatnya. Melihat Aruna yang kini terlihat cantik luar biasa. Wajah alami gadis itu, bersinar begitu memikat, jauh lebih menawan daripada saat, memakai riasan tebal tadi.
"Maaf ya lama... ma'lum dandan dulu biar maksimal," ucap Aruna sambil tersenyum riang, berusaha terlihat santai, padahal jantungnya berdegup kencang.
"Kamu pakai filter lagi?" tanya Axel sedikit mengodai, matanya tak lepas memandang, wajah cantik di depannya.
"Ah tau aja... filter mahal nih, gak ada di online shop, atau klinik kecantikan." balas Aruna dengan gaya percaya diri khasnya. Centil tapi memikat.
"Cantik..." puji Axel tulus, suaranya lembut dan penuh kekaguman.
Aruna malah mendelik malas, berusaha menyembunyikan rasa senang, yang mulai menjalar di hatinya. "Ya cantik dong, masa enggak. Kan filternya goib, susuk gitu." ungkapnya nyeleneh, membuat suasana jadi lebih cair.
"Haha... kamu ada-ada saja Aruna," tawa Axel pecah, hatinya terasa hangat berada di dekat gadis ini.
"Hah taulah aku emang gini adanya... eh... gimana kalau kita pergi aja yuk, jalan ke mall atau apalah gitu... kamu bayarin belanjaan aku, gimana?" tawar Aruna berani, meski dalam hati ia bergumam, 'Cowok pasti gak suka kan... sama cewek matre...'
"Boleh. Hanya satu syaratnya..." jawab Axel tenang.
"Apa tuh? Kalau disuruh angkat senjata, aku kalah deh. Gak bisa aku... disuruh keliling reaktor, juga aku ogah ah. Atau mau suruh aku sit up, push up.. ah gak mau juga. Ntar makanan tadi pada keluar semua, kan gak lucu ya," celetuk Aruna cepat, membayangkan hal-hal aneh yang mungkin diminta Axel. Ekpresinya sangat menjiwai, setiap perkataannya yang keluar. Axel sampai geleng-geleng kepala.
"Gak bukan itu. Aku cuman mau kamu setuju, sama perjodohan kita," kata Axel tegas, menatap mata Aruna dalam-dalam.
"Ah gampang itu, aku datang kesini karena memang setuju kok," ucap Aruna santai seolah itu hal biasa, padahal hatinya kini berdebar jauh lebih kencang dari sebelumnya. Dan jelas, dia sebenarnya ingin pertunangan, itu batal.
Dengan berani, Aruna mendekatkan tubuhnya, ke arah Axel. Wajahnya mendekat, hingga hanya berjarak beberapa sentimeter, lalu ia berbisik pelan, dengan suara yang sangat mengoda.
"Cium aku dong, Tuan Panglima.. biar romantis," bisiknya lembut.
Axel sampai menelan ludah, dengan kasar. Mendengar permintaan itu. Tubuhnya sedikit tegang, jantungnya berdegup lebih kencang, dari biasanya. Padahal, alasan Aruna meminta itu, bukan karena ia menginginkannya sungguhan. Tapi, masih menjalankan taktik jahilnya, agar Axel merasa risih dengannya.
"Aruna, jangan panggil saya Tuan Panglima begitu, rasanya kurang enak didengar." kata Axel berusaha mengatur napas.
"Oh yaudah ganti aja jadi Bos? Gimana? Sesuai, karna kamu yang bayar semua." tawar Aruna santai.
"Formal sekali. Kayak saya atasan kamu saja," jawab Axel menggeleng pelan.
"Oh.. kalau gitu gimana kalau Sayang?" ucap Aruna mencoba nama panggilan baru.
"Itu lebih baik." jawab Axel cepat tanpa ragu sedikitpun.
'Dih, malah kesenengan dia.. eh.. kesel deh. Tapi, kenapa jantung, malah gak bisa tenang begini. Kayak ada, gempa bumi aja.' batin Aruna gemas melihat, pria itu justru terlihat senang. Ditambah, detak jantungnya, yang mulai tak karuan.
"Yaudah mana ciumannya, Sayang? Aku nungguin loh.." pinta Aruna lagi, dengan wajah yang sengaja dibuat manja.
Axel terdiam diam seribu bahasa. Baru kali ini, dia dibuat speechless dan bingung, harus bertindak bagaimana, di depan seorang wanita.
"Kamu yakin minta itu?" tanya Axel memastikan, matanya menatap tajam ke manik mata Aruna.
"Iya dong.."
'Ayo.. gak berani kan kamu cium aku.. mana ada Panglima kaku, mau romantis kan..' batin Aruna mencoba menebak-nebak, yakin Axel pasti akan menolak atau malu.
Tapi siapa sangka..
Axel malah dengan santainya, mendekatkan wajahnya, lalu mencium pipi Aruna, cukup lama, dan dengan cara yang sangat intim dan lembut. Sentuhan itu hangat, dan membuat kulit Aruna seakan terbakar.
Aruna sampai melongo lebar, dibuatnya. Tidak menyangka, pria itu akan semudah itu melakukannya. Dengan cepat, ia menepis wajah Axel menjauh. Mukanya, sudah manyun luar biasa. Seolah sangat tidak suka, padahal pipinya, mulai memerah padam.
"Kenapa? Salah ya? Apa mau dicium di bibir?" tanya Axel santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ah udahlah.. ayo pergi aja.. aku udah mulai bete nih !" seru Aruna ketus, mengalihkan obrolan. Sambil memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan jantungnya yang kini berpacu sangat kencang.
"Yakin?" ucap Axel pelan, suaranya terdengar berat dan penuh godaan.
Mendengar itu, wajah Aruna makin memerah. Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meledak-ledak.
"Aku serius.. aku udah gak sabar ngabisin duit kamu," ucap Aruna berusaha terdengar santai dan cuek, seolah-olah itu satu-satunya alasan, dia mau bersama Axel. Padahal di dalam sana, jantungnya meronta, hampir mau copot rasanya.
Axel terkekeh pelan, melihat tingkah lucu gadis di depannya. Ia mendekat lagi, lalu dengan lembut menarik tangan Aruna, yang menutupi wajahnya.
"Oke kalau begitu.. ayo," kata Axel sambil tersenyum menggoda, "Biar aku lihat seberapa hebat kamu menghabiskan uangku.."
***