Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Taktik jahil Aruna.
Rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya membuat Aruna sadar dari lamunannya. Ia buru-buru beranjak dari pangkuan Axel. Lalu duduk rapi di kursi sebelahnya dengan wajah yang berusaha terlihat datar dan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa tadi.
Tatapan matanya langsung beralih dan menyoroti hidangan-hidangan mewah yang tersaji di meja.
"Wah kelihatannya makanannya enak banget. Apa boleh aku makan?" tanya Aruna dengan wajah polos padahal tangannya sudah siap menyambar sendok dan garpu.
"Ya silahkan," jawab Axel singkat.
Tanpa perlu disuruh dua kali Aruna langsung melahap makanan dengan lahap. Bukan karena ia sangat lapar tapi ini adalah strategi barunya. Ia berniat membuat Axel jijik dan menganggapnya wanita yang tidak sopan, kasar dan aneh.
"Aruna pelan-pelan," tegur Axel lembut, melihat cara makan Aruna, yang seperti orang dikejar setan. Buru-buru, tak karuan.
"Kalau pelan-pelan aku gak bakalan kebagian!" jawab Aruna ketus sambil menarik semua piring ke dekat dirinya seolah-olah takut makanan itu akan hilang atau justru diambil oleh Axel.
Axel hanya bisa tertawa terkekeh melihat tingkah laku gadis di depannya itu. Ia mencoba ikut mengambil makanan tapi Aruna bagaikan orang kesurupan. Setiap kali Axel hendak mengulurkan tangan Aruna lebih cepat menyambar makanan itu, dan mengambilnya dalam porsi yang sangat banyak sampai mata Axel terbelalak melongo.
Pada akhirnya, Jenderal TNI bintang empat itu tidak jadi makan. Ia hanya menjadi penonton setia acara mukbang dadakan ala Ratu Aruna.
Namun berbeda dengan harapan Aruna di dalam hati Axel dia sama sekali tidak merasa terganggu atau membencinya. Justru rasa penasarannya pada wanita unik ini makin tumbuh besar.
Lama-kelamaan piring-piring di hadapan mereka mulai kosong dan perut Aruna terasa sangat penuh. Ia berhenti makan lalu bersendawa dengan keras dan santai.
"Huah... kenyang juga." ucap Aruna sambil memijat perutnya sambil memasang wajah paling menyebalkan yang bisa ia buat.
Axel menghela napas panjang lalu menatap wanita itu dengan tatapan tajam namun lembut.
"Aruna... katakan hobi kamu apa? Saya dengar dari ayah kamu jika kamu katanya suka berburu... apa itu benar?" tanya Axel memulai percakapan serius.
Aruna menoleh sebentar lalu tersenyum miring dengan penuh percaya diri.
"Oh tentu saja... dari dulu sampai sekarang hobiku gak pernah berubah. Aku memang sangat suka berburu... berburu uang maksudnya." jawabnya santai dan blak-blakan. "Tapi bukan uang sembarangan yang aku suka. Aku sangat suka uang gratisan dari hasil ngebolang dari orang-orang kaya seperti kamu."
Axel kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dan jujur itu. Suara tawanya renyah dan membuat suasana menjadi lebih cair. Ia justru makin terhibur dengan segala sikap 'nakal' Aruna.
Melihat Axel tertawa, dan justru terlihat sangat menyukai tingkahnya, Aruna mulai panik dalam hati.
'Ih sialan... dia malah kelihatan suka sama aku... aduh harus gimana lagi aku bertindak.. kayaknya cara-caraku malah gak ada yang mempan sama sekali.' batin Aruna kesal.
'Sialnya lagi... senyumnya manis banget. Bikin jantung aku senam aerobik aja,' gerutu batinnya, menepuk pelan dadanya sendiri yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Aruna kamu adalah wanita pertama yang membuatku begini... sungguh luar biasa saya terkesan dan terhibur karena sikpmu," ucap Axel tulus matanya tak lepas memandang wajah gadis di depannya.
"Terhibur? Tapi aku bukan wanita penghibur loh Tuan Panglima..." sahut Aruna dengan wajah sedikit keheranan dan sedikit kesal, seolah tersinggung dengan kata yang dipilih Axel. Padahal sebenarnya dia tak perduli sama sekali.
"Ah maaf, maaf... maksud saya bukan begitu. Menghibur di sini bukan arti yang negatif," Axel buru-buru mengklarifikasi sambil tertawa kecil melihat reaksi Aruna.
Aruna hanya mendelik malas, tak mau memperpanjang masalah.
"Aku ke toilet dulu sebentar," katanya singkat, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan. Sedangkan Axel hanya terdiam melongo.
"Luar biasa.. Dia unik sekali. Kalau menikah dengannya mungkin hidup ini akan jauh lebih berwarna," gumam Axel dalam hati.
***
Sesampainya di dalam toilet, Aruna langsung menghampiri cermin besar di dinding. Matanya terbelalak kaget melihat pantulan dirinya sendiri. Riasan wajahnya terlihat sangat tebal dan mencolok hampir membuatnya tidak mengenali bayangannya sendiri.
"Astaga... siapa ini? Aduh... memalukan sekali penampilanku..." serunya, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan panik. Merasa sangat bersalah dan malu pada dirinya sendiri.
"Padahal sudah seaneh ini kok Axel malah biasa saja ya melihatku? Dia memang punya selera yang aneh," gumam Aruna sambil menggelengkan kepala.
"Yasudah kalau gitu kita ubah taktiknya. Sekarang jadi natural aja manja dikit... siapa tahu Axel justru gak suka sama cewek kayak gitu."
Dengan semangat baru Aruna segera mengeluarkan micellar water dan kapas dari tasnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan telaten, menghapus semua lapisan makeup yang tebal itu. Setelah itu, ia mencuci muka menggunakan facial foam hingga bersih.
Saat semua riasan hilang total, Aruna kemudian mengoleskan pelembab ke seluruh wajah dan leher. Lalu menyentuh bibirnya dengan lipstik berwarna sangat natural.
Ia kembali menatap cermin. Kali ini wajah cantik alaminya terlihat begitu mempesona. Kulitnya tampak bersih, bercahaya, dan halus. Matanya yang besar dan tajam kini terlihat lebih lembut dan menawan. Aruna benar-benar tampak seperti dewi kayangan yang turun ke bumi, cantiknya luar biasa dan sangat memikat.
"Nah, gini dong..." bisik Aruna pada pantulannya sendiri sambil tersenyum miring, siap dengan strategi barunya.
Aruna berjalan dengan percaya diri kembali ke meja. Axel sampai terpana dibuatnya. Terpana Melihat Aruna yang kini terlihat cantik luar biasa. Wajah alami gadis itu jauh lebih menawan daripada saat memakai riasan tebal tadi.
"Maaf ya lama... ma'lum dandan dulu biar maksimal," ucap Aruna sambil tersenyum riang berusaha terlihat santai padahal jantungnya berdegup kencang.
"Kamu pakai filter lagi?" tanya Axel sedikit mengodai, matanya tak lepas memandang wajah cantik di depannya.
"Ah tau aja... filter mahal nih nggak ada di online shop atau klinik kecantikan." balas Aruna dengan gaya percaya diri khasnya. Centil tapi menggoda tanpa harus mencoba.
"Cantik..." puji Axel tulus suaranya lembut dan penuh kekaguman.
Aruna malah mendelik malas berusaha menyembunyikan rasa senang yang mulai menjalar di hatinya.
"Ya cantik dong masa enggak. Kan filternya goib susuk gitu." ungkapnya nyeleneh membuat suasana jadi lebih cair.
"Haha... kamu ada-ada saja Aruna," tawa Axel pecah, hatinya terasa hangat berada di dekat gadis ini.
"Hah taulah aku emang gini adanya... eh... gimana kalau kita pergi aja yuk, jalan ke mall atau apalah gitu... kamu bayarin belanjaan aku gimana?" tawar Aruna berani meski dalam hati ia bergumam, 'Cowok pasti gak suka kan... sama ceweknya matre...'
"Boleh. Hanya satu syaratnya..." jawab Axel tenang.
"Apa tuh? Kalau disuruh angkat senjata aku kalah deh. Gak bisa aku... disuruh keliling reaktor juga aku ogah ah. Atau mau suruh aku sit up, push up.. ah gak mau juga. Nanti makanan tadi pada keluar semua kan gak lucu ya," celetuk Aruna cepat membayangkan hal-hal aneh yang mungkin diminta Axel. Ekpresinya sangat menjiwai setiap perkataan yang keluar. Axel sampai geleng-geleng kepala.
"Gak bukan itu. Saya mau kamu setuju dengan perjodohan kita," kata Axel tegas menatap mata Aruna dalam-dalam.
"Ah gampang itu... aku datang kesini karena memang setuju kok," ucap Aruna santai seolah itu hal biasa padahal jantungnya kini berdebar jauh lebih kencang dari sebelumnya. Dan jelas, dia sebenarnya ingin pertunangan itu batal.
Dengan berani Aruna mendekatkan tubuhnya ke arah Axel. Wajahnya mendekat hingga hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Lalu ia berbisik pelan dengan suara yang sangat mengoda.
"Cium aku dong Tuan Panglima... biar romantis," bisiknya lembut.
Axel sampai menelan ludah dengan kasar Mendengar permintaan itu. Tubuhnya sedikit tegang, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Padahal alasan Aruna meminta itu nukan karena ia menginginkannya sungguhan. Tapi masih menjalankan taktik jahilnya agar Axel merasa risih dengannya.
"Aruna jangan panggil saya Tuan Panglima begitu. Rasanya agak kurang enak didengar." kata Axel berusaha mengatur napas.
"Oh yaudah ganti aja jadi Bos? Gimana? Sesuai kan... karna kamu yang bayar semua." tawar Aruna santai.
"Itu terlalu formal malah terdengar seperti saya atasan kamu saja," jawab Axel menggeleng pelan.
"Oh... kalau gitu gimana kalau sayang?" ucap Aruna mencoba nama panggilan baru.
"Itu lebih baik." jawab Axel cepat tanpa ragu sedikitpun.
'Dih malah kesenengan dia... Arghhht... kesel deh. Tapi kenapa jantungku malah gak bisa tenang begini. Kayak ada gempa bumi aja.' batin Aruna gemas melihat pria itu justru terlihat senang. Ditambah detak jantungnya yang mulai tak karuan.
"Yasudah mana ciumannya sayang? aku nungguin loh..." pinta Aruna lagi, dengan wajah yang sengaja dibuat manja.
Axel terdiam diam seribu bahasa. Baru kali ini dia dibuat speechless dan bingung harus bertindak bagaimana di depan seorang wanita.
"Kamu yakin minta itu?" tanya Axel memastikan, matanya menatap tajam ke manik mata Aruna.
"Iya dong..."
'Ayo... gak berani kan kamu cium aku... mana ada Panglima kaku mau romantis kan...' batin Aruna mencoba menebak-nebak yakin Axel pasti akan menolak atau malu.
Tapi siapa sangka...
Axel malah dengan santainya mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Aruna cukup lama, dan dengan cara yang sangat intim juga lembut. Sentuhan itu hangat membuat kulit Aruna seakan terbakar.
Aruna sampai melongo lebar dibuatnya. Tidak menyangka pria itu akan semudah itu melakukannya. Dengan cepat ia menepis wajah Axel menjauh. Wajah cantiknya sudah manyun luar biasa. Seolah sangat tidak suka padahal pipinya mulai memerah padam.
"Kenapa? salah ya? apa mau dicium di bibir?" tanya Axel santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ah sudahlah... ayo pergi saja... aku sudah mulai bete nih." seru Aruna ketus mengalihkan obrolan. Sambil memalingkan wajah berusaha menyembunyikan jantungnya yang kini berpacu sangat kencang.
"Yakin?" ucap Axel pelan, suaranya terdengar berat dan penuh godaan.
Mendengar itu wajah Aruna makin memerah. Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meledak-ledak.
"Aku serius... aku sudah gak sabar ngabisin duit kamu loh," ucap Aruna berusaha terdengar santai dan cuek, seolah-olah itu satu-satunya alasan dia mau bersama Axel. Padahal di dalam sana jantungnya meronta hampir mau copot rasanya.
Axel terkekeh pelan, melihat tingkah lucu gadis di depannya. Ia mendekat lagi lalu dengan lembut menarik tangan Aruna yang menutupi wajahnya.
"Oke kalau begitu... ayo," kata Axel sambil tersenyum menggoda, "Biar saya lihat seberapa hebat kamu menghabiskan uangku..."
***