"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Love You So Much!
Aurel menurunkan ponselnya dengan perlahan. Tangannya sedikit bergetar. Bukan karena ragu, melainkan karena kelegaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Baru saja ia melontarkan kalimat, "Bu...aku sudah dilamar." Padahal kenyataannya belum ada cincin, belum ada janji pernikahan. Yang terjadi hanyalah Adrian menariknya ke pangkuan dan berbisik, "l love you."
Namun Aurel sudah lelah. Lelah dengan semua tingkah Bayu. Lelah mendengar setiap hari ibunya memuji Bayu yang dianggap mapan dan berasal dari keluarga baik-baik. Ibunya belum tahu jika Bayu adalah musang berbulu domba. Licik.
Begitu Sarwina menelepon dan mengatakan Bayu bersama orang tuanya datang, pikiran Aurel menjadi kosong. Insting untuk melindungi diri bekerja dengan cepat.
Kalimat "sudah dilamar" menjadi perisai paling efektif, agar Bayu tidak diberi harapan. Agar Sarwina menghentikan desakannya.
Yang mengejutkan adalah ketika ucapan itu keluar dari bibirnya, dada Aurel tidak terasa sesak. Karena jauh di dalam hatinya, ia sudah memilih Adrian. Pria yang dulu membuatnya kesal, kini menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman.
Mungkin ini terlalu cepat untuk disebut cinta, tapi Aurel ingin mencobanya. Dia ingin memulai dan belajar untuk hubungan ini.
_Kreek_
Pintu kamar terbuka, Dita masuk membawa dua mangkuk Indimie rebus. Malam ini sahabatnya itu sedang menginap di tempat kosnya.
"Dilamar? Jadi Adrian udah bener bener ngelamar elo Rel? Bentar lagi elo jadi istri sultan? Perasaan baru siang tadi kalian jadian, gercep bener sih," tanya Dita beruntun, dia ikut seneng karena pada akhirnya Aurel mau menjalin hubungan dengan seorang pria.
Dita empat tahun lebih muda dari Aurel, di usianya yang masih tergolong muda ini dia bahkan sudah menyandang gelar janda. Dita hanya takut jika Aurel tak mau memulai hubungan karena melihat kegagalan rumah tangganya.
Aurel selalu berkata jika pria tak akan pernah memiliki cinta, mereka menikah hanya karena 'butuh'.
"Nggak ada lamaran. Gue hanya capek ngadepin Bayu, bebal banget itu orang. Udah jelas jelas gue tolak ehhh malah tadi dateng ke rumah dengan bokap nyokapnya. Sarap emang," kesal Aurel.
"Lah lagian nggak ada angin nggak ada hujan tiba tiba dateng kerumah, parah itu sih! Jangan jangan tadi dia sengaja biar Ibu Sarwina bisa langsung diterima lamarannya. Ibu kamu kan penggemar beratnya"
Dita duduk bersila, matanya berbinar. "Jujur saja, tadi pagi gimana bisa elo memutuskan menyerahkan hati ke Adrian? Padahal tiap hari elo ngeluh, 'Adrian nyebelin, Adrian bikin puyeng, Adrian nggak tau malu'."
Aurel mengaduk Indimie di dalam mangkoknya, uapnya masih mengebul. sebenarnya diapun masih bingung kenapa bisa menerima begitu saja seorang Adrian.
"Dulu kesal karena dia terlalu dominan. Sekarang... gue nggak tahu. Ketika dia marah karena ada orang nyakitin gue, ketika dia duduk jongkok biar sejajar sama gue, ketika dia berkata 'kamu bukan beban'... entah. Rasanya sakit itu hilang."
Dita mengangguk-angguk dengan serius. Lalu ekspresinya berubah menjadi lebih serius lagi. "Tapi Rel, jujur ya sebagai sahabat. Kalian memiliki perbedaan kelas yang sangat jauh. Bukan apa apa tapi pada kenyataannya dia bilyuner, pewaris Dirgantara Group. Duit Adrian nggak bakal habis dimakan tujuh turunan tujuh tanjakan. Sementara elo... staf perusahaan dengan gaji UMR."
Aurel terdiam, sendoknya berhenti mengaduk. Apa yang dikatakan Dita sudah ia pikirkan jauh jauh hari. Dulu hal itu adalah salah satu ia memasang 'tameng' agar Adrian tak bisa mendekat.
Dita melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Keluarga besar Adrian pasti akan memandangmu sebelah mata, Rel. Mantan mantan Adrian juga pasti anak konglo semua."
Aurel menatap Dita. Tatapannya tidak goyah sedikit pun.
"Lalu?" Aurel menyuap Indomie. "Jika dipandang sebelah mata, maka gue akan membuktikan bahwa gue layak. Jika dikatakan tidak pantas, maka gue akan memantaskan diri."
Ia meletakkan mangkuk Indimienya. Tatapannya tegas. Walau jujur jauh di dalam hatinya, ada sedikit....sedikit keraguan tentang keputusannya.
"Gue nggak akan kasih lampu hijau kepada Bayu. Dengan alasan apa pun. Hati gue sudah ada di Adrian. Jika ini adalah tantangan, gue bakal hadapi. Jika keluarga besarnya meremehkan, biarlah. Gue nggak takut."
Dita terdiam selama tiga detik. Kemudian ia berteriak sambil memeluk Aurel. "AUREELLL....elo keren banget!!"
Aurel tertawa sambil memukul lengan Dita. Tanpa dia tahu jika Dita udah merekam suaranya dan mengirim rekaman itu ke Adrian. Dita hanya ingin Adrian bisa melakukan hal yang sama seperti Aurel. Berjuang untuk cinta mereka.
Malam itu suasana kosan Aurel menjadi riuh.
Perbedaan kelas? Itu tantangan.
Keluarga yang meremehkan? Akan dihadapi.
Masa lalu Adrian dengan mantan mantannya? Akan dilewati.
Dan di sebuah tempat seorang pria sedang tersenyum bahagia mendengar rekaman suara wanita yang dicintainya.
"Jadi kangen gini sama kamu Yank, l love you so much."