NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Luka Yang Terlambat Terlihat

"Aku hamil." Kalimat Kayla membuat tangan Aurel yang sedang menyusun berkas di meja makan terhenti. Perlahan Aurel mengangkat kepala, menatap perempuan yang berdiri di hadapannya.

Kayla. Sahabatnya sejak remaja. Wajah Kayla pucat. Kedua tangannya gemetar menggenggam sebuah test pack dengan dua garis merah yang tampak begitu jelas.

Aurel tersenyum tipis. "Selamat... akhirnya kamu hamil juga. Terus kenapa malah nangis? Bukannya tinggal minta tanggung jawab sama Ardi?"

Kayla justru menggeleng semakin keras. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.

"Aurel... maafin aku."

Senyum di wajah Aurel memudar. "Maafin apa?"

Kayla terduduk di lantai. Bahunya bergetar hebat. "Bayinya... bukan dari Ardi."

Dada Aurel berdesir. Ia ikut duduk di depan sahabatnya, menggenggam kedua tangan Kayla.

"Terus... dari siapa?"

Keheningan memenuhi ruangan. Kayla menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Aku nggak sanggup ngomong...."

"Kayla!" suara Aurel meninggi. "Jawab!"

Beberapa detik berlalu. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, Kayla berbisik,

"...Mahesa."

Seisi rumah mendadak sunyi. Aurel menatap Kayla tanpa berkedip. Ia menunggu. Menunggu sahabatnya tertawa dan berkata kalau semua itu hanya lelucon yang kelewatan.

Namun tidak ada tawa. Yang terdengar hanya isak tangis.

Aurel tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.

"Jangan bercanda." kata Aurel berusaha mencairkan suasana.

"Aku nggak bohong...." jawab Kayla.

"Kayla."

"Maaf...."

"Kayla!" Aurel berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangnya terjatuh.

"Suamiku?" tegas Aurel.

Kayla menangis semakin keras.

"Sejak kapan?" tanya Aurel.

Tak ada jawaban.

"SEJAK KAPAN?"

"...Tujuh tahun." jawab Kayla sambil terisak.

Kalimat itu menghantam Aurel jauh lebih keras daripada pengakuan sebelumnya. Tujuh tahun. Bukan tujuh minggu. Bukan tujuh bulan. Melainkan tujuh tahun.

Aurel mundur selangkah. Kakinya terasa lemas.

Tujuh tahun.

"Tujuh tahun." ucap Aurel lirih. Ingatan Aurel tiba-tiba melesat pada malam ketika putra pertamanya lahir.

Malam yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun justru menjadi malam paling sepi.

"Aurel, kamu yang kuat ya. Sebentar lagi pembukaannya lengkap." Suara bidan masih terngiang jelas di telinganya.

Saat itu rasa sakit datang bergelombang. Kontraksi membuat tubuhnya menggigil.

Di ruang persalinan, ia terus mencari satu wajah. Mahesa. Suaminya.

"Apa suami saya sudah datang?" tanya Aurel di sela napas yang memburu.

Perawat hanya tersenyum simpati. "Katanya masih ada pekerjaan penting, Bu."

Pekerjaan penting. Begitulah alasan yang diterimanya malam itu.

Mahesa hanya sempat menelepon beberapa menit. "Maaf ya, Sayang. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin pekerjaan. Kamu pasti kuat."

Saat itu Aurel tidak marah. Ia justru meminta maaf karena telah merepotkan suaminya.

"Iya... hati-hati di jalan nanti."

Telepon ditutup. Lalu Aurel melahirkan putra mereka tanpa ditemani suaminya. Yang menggenggam tangannya justru ibunya. Yang pertama kali mendengar tangis bayinya juga ibunya. Sedangkan Mahesa baru datang keesokan paginya. Dengan wajah lelah. Dan sejuta permintaan maaf.

Saat itu Aurel percaya. Ia percaya suaminya memang sedang bekerja. Ia bahkan memarahi siapa pun yang menyalahkan Mahesa.

"Mahesa nggak mungkin sengaja. Dia kerja buat keluarga kami."

Kini..Ucapan Kayla kembali menggema di kepalanya.

"Sejak tujuh tahun lalu." ucap Aurel kembali.

Tepat saat anak pertama mereka lahir. Napas Aurel mendadak tercekat. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, muncul sebuah pertanyaan yang tak pernah berani ia pikirkan.

Kalau malam itu Mahesa tidak sedang bekerja, lalu sebenarnya dia sedang bersama siapa? Dan entah mengapa, Aurel merasa dirinya sudah mengetahui jawabannya. Jawaban yang selama ini bersembunyi di balik kepercayaan yang ia berikan kepada dua orang paling berarti dalam hidupnya.

"Maaf..." Suara Kayla pecah oleh tangis.

"Aku tahu aku nggak pantas dimaafin. Tapi aku benar-benar minta maaf, Rel." kata Kayla.

Aurel tidak menjawab. Tatapannya kosong. Seolah-olah seluruh suara di ruangan itu menghilang. Yang tersisa hanya denging panjang di telinganya.

Mahesa. Kayla. Dua nama itu terus berputar di kepalanya.

"Aurel... tolong bilang sesuatu." Kayla mencoba meraih tangan sahabatnya.

Namun sebelum jemarinya menyentuh kulit Aurel, perempuan itu menarik tangannya seolah baru saja menghindari bara api.

"Jangan sentuh aku." Suara Aurel lirih. Begitu lirih hingga justru terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan.

Kayla menangis semakin keras. "Rel, aku khilaf...."

"Khilaf?" Aurel terkekeh pelan. Tawa yang terdengar begitu asing, bahkan bagi dirinya sendiri.

"Kamu bilang ini khilaf?" Air mata Aurel akhirnya jatuh.

"Satu kali itu namanya khilaf, Kayla." Aurel menatap lurus ke arah perempuan yang selama ini dianggap saudara.

"Tapi tujuh tahun?"

"Tujuh tahun itu pilihan." kata Aurel lagi.

Kayla tak mampu membalas. Ia hanya menundukkan kepala.

"Aku memang perempuan paling jahat...."

"Iya." Jawaban Aurel cepat. Tanpa ragu.

"Kamu memang jahat." Kalimat Aurel membuat Kayla semakin terisak.

"Aku tahu...."

"Nggak." Aurel menggeleng pelan.

"Kalau kamu tahu, kamu nggak akan datang ke rumahku. Nggak akan duduk semeja sama aku. Nggak akan memangku anakku. Nggak akan pura-pura jadi sahabatku."

Setiap kalimat keluar dengan tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Kayla sesak.

"Aku bahkan pernah nitip anakku sama kamu." Suara Aurel mulai bergetar.

"Aku percaya sama kamu lebih dari aku percaya sama orang lain." Tangis Aurel pecah.

"Ternyata selama ini... aku menitipkan anakku pada perempuan yang tidur dengan ayahnya."

Kayla menutup mulutnya. Dadanya terasa dihantam rasa bersalah yang tak lagi bisa ditahan.

"Aurel... aku...."

"Aku capek." Aurel berdiri. Langkahnya pelan. Lututnya terasa begitu lemah hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.

Aurel tidak sanggup lagi menatap wajah Kayla.

Setiap melihat perempuan itu, yang terbayang bukan lagi sahabatnya. Melainkan pengkhianatan.

Tanpa mengatakan apa pun, Aurel berjalan menuju kamarnya.

"Rel... jangan tinggalin aku begini." Kayla mengikuti dari belakang.

"Tolong dengarkan penjelasanku...."

Brak! Pintu kamar tertutup tepat di depan wajah Kayla.

Klik. Suara kunci diputar.

"Aurel!" Kayla mengetuk pintu berkali-kali.

"Rel... buka pintunya. Aku mohon."

Tidak ada jawaban.

"Aku tahu aku salah."

"Aku tahu aku nggak pantas disebut sahabat lagi." Tangis Kayla menggema di balik pintu.

"Tapi jangan diam begini. Aku takut...."

Tetap sunyi. Di balik pintu itu, Aurel bersandar perlahan hingga tubuhnya meluncur jatuh ke lantai. Ia memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong. Dadanya sesak. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencengkeram jantungnya begitu kuat hingga ia kesulitan bernapas.

Semuanya terasa tidak nyata. Beberapa menit yang lalu hidupnya masih baik-baik saja. Ia masih memiliki sahabat terbaik. Masih memiliki suami yang ia cintai.

Kini... Dalam hitungan detik, semuanya runtuh.

"Kenapa...?" Bisik Aurel lirih.

"Apa salahku...?" Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Aurel tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi seperti ini.

Bukan karena suaminya selingkuh. Tetapi karena perempuan itu adalah Kayla.

Perempuan yang selalu ia sebut sebagai saudara. Perempuan yang hadir di setiap momen penting dalam hidupnya.

Perempuan yang menjadi pendamping pengantin saat ia menikah. Perempuan yang memeluknya ketika anak pertamanya lahir.

Perempuan yang ikut merayakan ulang tahun anaknya. Dan kini, Perempuan yang sama mengaku telah mengambil suaminya selama tujuh tahun.

Aurel memejamkan mata. Ingatan demi ingatan mulai bermunculan, seolah kepingan puzzle yang selama ini berserakan perlahan menemukan tempatnya.

Senyum Mahesa yang terkadang berubah canggung saat Kayla datang. Alasan lembur yang terlalu sering. Pesan-pesan yang buru-buru dihapus. Dulu semua itu ia abaikan. Karena satu hal. Kepercayaan. Dan malam ini, ia sadar.

Kepercayaan itulah yang telah membutakan matanya selama tujuh tahun.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!