"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Nyonya pemilik toko membentangkan beberapa pilihan mantel di atas meja konter. Perhatian Yisla langsung tertuju pada sepotong mantel wol tebal berwarna putih gading dengan bordiran bunga-bunga merah muda di bagian kerah.
Yisla mengambil mantel itu, menempelkannya di depan dada dengan mata berbinar-binar.
"Julian, lihat! Yang ini bagus, kan? Cantik sekali..."
Harus Julian akui, pilihan gadis itu sangat cocok. Warna merah muda dari bordiran itu mempertegas rona alami di pipi Yisla.
"Iya, bagus banget. Cocok buat kamu," Julian mengangguk mantap. "Sana coba dulu di dalam, biar tahu ukurannya pas atau tidak."
Yisla tersenyum lebar, lalu melangkah riang masuk ke dalam bilik ganti.
Begitu tirai tertutup rapat, senyum manis di wajah Julian seketika luntur. Mode siaga author yang merangkap sebagai anak kos pelitnya langsung aktif. Ia mengendap-endap mendekati meja konter.
"Nyonya," bisik Julian setengah memajukan tubuhnya. "Mantel yang dipilih gadis tadi... harganya berapa, ya?"
Wanita itu membetulkan letak kacamatanya. "Oh, yang itu terbuat dari wol kualitas utama, Anak Muda. Harganya delapan koin perak."
Glek!
Julian menelan ludah dengan susah payah. Delapan koin perak?! Buset, sisa uangku bisa-bisa langsung sekarat! jerit Astra histeris dalam batinnya.
"E-eh... Nyonya, kurangi harganya sedikit, Nyonya. Tolong banget, ya?" mohon Julian, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Wah, tidak bisa, Anak Muda. Itu sudah harga pas. Bahannya asli dari ibu kota Northern."
Otak licik Astra langsung berputar dua kali lebih cepat. Gak bisa begini. Aku harus pakai taktik manipulasi emosi tingkat dewa!
Julian menarik napas dalam-dalam, mendadak mengubah raut wajahnya menjadi luar biasa menderita. Matanya dibuat berkaca-kaca seakan hampir menangis.
"Tolong saya, Nyonya..." lirih Julian, suaranya bergetar. "Nyonya lihat sendiri kan betapa bahagianya dia melihat mantel itu? Sebenarnya... dia itu istri saya, Nyonya."
"Oh, ya?" Pemilik toko tampak terkejut.
"Iya, Nyonya. Kami sepasang suami istri miskin dari desa terpencil dan kami baru saja menikah bulan lalu," dusta Julian lancar, mencoba memanfaatkan bakat mengarang indahnya.
"Istri saya... dia sedang mengidam berat, Nyonya. Dia ingin sekali punya pakaian hangat yang ada bordiran bunga pink-pinknya. Kalau tidak dituruti, nanti anak kami bisa ileran saat lahir!"
Julian merogoh kantong celananya, menunjukkan beberapa koin perak di telapak tangannya yang sengaja dibuat gemetar.
"Uang kami pas-pasan, Nyonya. Tolong kasihanilah calon bayi kami..." ratap Julian, menutup wajahnya dengan satu tangan seolah menahan tangis yang mendalam.
Mendengar kata 'istri hamil', hati wanita paruh baya itu seketika meleleh. Ia menghela napas panjang lalu menepuk pundak Julian lembut.
"Aduh... kasihan sekali kalian. Ya sudah, jangan menangis. Demi calon bayimu, berikan saja aku lima koin perak. Anggap saja ini hadiah kecil dari tokoku untuk pernikahan kalian."
Julian langsung mendongak dengan mata berbinar riang. Dalam hati, Astra berteriak YES! sekencang-kencangnya.
"B-beneran, Nyonya?! Terima kasih banyak! Nyonya adalah wanita paling baik hati di seluruh kota ini!"
Julian buru-buru menyerahkan lima koin perak ke atas meja konter sebelum si nyonya berubah pikiran.
Sret.
Tirai bilik ganti terbuka. Yisla melangkah keluar dengan mantel putih gading terpasang sempurna di tubuhnya.
"Julian, bagaimana? Pas, kan?" tanya Yisla ragu-ragu, gadis itu mulai berputar pelan memamerkan mantel barunya.
Julian tertegun seketika. Sinar lentera toko seolah berpusat pada gadis itu, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih anggun dan... cantik.
"Julian? Kok malah melamun?"
"Ah... iya," Julian berdehem, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mendadak tidak keruan.
"Kamu... sangat cantik, Yisla. Mantelnya benar-benar cocok untukmu."
Pipi Yisla mendadak merona merah padam mendengar pujian blak-blakan itu. Ia memalingkan wajahnya salah tingkah.
Tiba-tiba, nyonya pemilik toko berjalan mendekat dengan senyum haru yang merekah lebar. Tanpa aba-aba, tangan wanita itu terjulur ke depan, mengelus perut rata Yisla dengan sangat lembut.
"Semoga persalinannya lancar ya, Nona Manis. Semoga bayinya lahir sehat, tampan seperti ayahnya, dan cantik seperti ibunya," ujar si nyonya dengan nada mendoakan yang tulus.
Yisla membeku. Matanya membelalak sempurna.
"H-hah?! Persalinan? Bayi?! Nyonya, maksudnya-"
"A-AH! Iya, Nyonya! Terima kasih banyak atas doanya!" potong Julian panik setengah mati. Sebelum Yisla sempat merespons lebih jauh, Julian langsung menyambar lengan Yisla, menariknya paksa menuju pintu keluar toko.
"Julian! Apa-apaan ini?! Kenapa nyonya itu—"
"Sudah, Yisla, nanti kujelaskan di luar! Ayo cepat jalan, udaranya makin dingin!" seru Julian panik sambil terus mendorong punggung Yisla keluar toko, meninggalkan si nyonya pemilik toko yang melambaikan tangan penuh haru melepas kepergian "pasangan suami istri muda" tersebut.
"Julian! Tunggu! Kamu gila, ya?!" seru Yisla keras, menahan langkah kakinya dengan sekuat tenaga tepat di ambang pintu toko yang berdentang kencang.
"Kamu belum bayar mantel ini, Julian! Kita bisa digebuki warga kota kalau dikira merampok!"
Julian sontak mengerem langkahnya hingga sepatunya mencicit di atas lantai kayu.
Otaknya yang sempat korsleting karena panik langsung tersadar.
"Astaga, bisa-bisanya!" umpat Julian lirih. Ia menepuk jidatnya keras-keras.
Tadi dia perasaan sudah menaruh lima koin perak di konter, tapi karena buru-buru menarik Yisla, koin-koin itu belum sempat digeser ke tangan si nyonya, dan parahnya lagi—mantel lama Yisla serta tas rajutnya masih tertinggal di dalam bilik ganti!
"B-bentar, Yisla! Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"
Julian berbalik arah, melesat kembali ke dalam toko dengan kecepatan penuh layaknya dikejar monster level bos.
Wanita pemilik toko yang tadi masih melambaikan tangan penuh haru mendadak tersentak kaget melihat Julian kembali dengan napas terengah-engah.
"Nyonya! Maaf, maaf banget! Pikiran saya mendadak nge-blank karena terlalu bahagia!" dusta Julian buru-buru, langsung menyodorkan lima koin perak yang tadi sempat tergeletak di meja konter ke dalam genggaman si nyonya.
"Ini uangnya, Nyonya! Pas, ya! Lima koin perak!"
"Oh, astaga... iya, iya, Anak Muda. Santai saja," sahut si nyonya sambil terkekeh maklum, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah "calon ayah muda" yang tampak sangat panik ini.
Julian tidak membuang waktu lagi. Ia melesat ke bilik ganti, menyambar mantel lama Yisla yang sudah kusam dan menumpuknya jadi satu. Setelah kembali ke konter, insting manusia modern Astra mendadak keluar tanpa filter.
"Nyonya, ada kantong kresek hitam gak? Atau kresek ukuran gede deh, buat wadah baju lamanya," pinta Julian polos dengan telapak tangan menadah.
Si nyonya pemilik toko mengernyitkan dahi sedalam-dalamnya. Kerutan di wajahnya bertambah tiga kali lipat.
"Ke... kresek? Benda apa itu?"
Julian melongo. Ia baru tersadar kalau di dunia fantasi abad pertengahan yang ia tulis ini belum ada revolusi industri plastik.
Aduh, tolol banget! Di sini mana ada kantong kresek alfa atau indo! jerit Astra frustrasi dalam hati.
"E-eh, maksud saya... anu, Nyonya... karung! Iya, karung mini, atau kain bekas, atau wadah apa saja deh yang bisa dipakai buat membungkus baju-baju ini! Biar gak ribet megangnya di jalan!" ralat Julian panik, sembari menyunggingkan senyum kuda andalannya.
"Ah, bilang dong dari tadi," sahut si nyonya, mendesah lega karena mengira pemuda di depannya hanya sedang mengigau akibat terlalu stres memikirkan biaya persalinan istrinya.
Wanita itu membungkuk di balik konter, lalu mengeluarkan selembar kain goni tipis yang sudah dijahit membentuk kantong sederhana dengan tali pengikat di ujungnya.
"Pakai kantong kain ini saja, Anak Muda. Gratis untuk pelanggan pertamaku."
"Wah, terima kasih banyak, Nyonya! Semoga toko Nyonya makin laris manis ya!" seru Julian tulus.
Dengan gerakan secepat kilat, Julian menjejalkan mantel lama Yisla ke dalam kantong kain tersebut, mengikatnya kuat-kuat, lalu menyampirkannya ke bahu. Tanpa membuang waktu lagi, ia berbalik dan lari keluar toko untuk menemui "istri tiruan"-nya yang sudah menunggu dengan wajah siap menginterogasi di depan pintu.