Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C002: Mengurus Perbaikan Internal Perusahaan
...Selamat Baca...
Setelah masuk, mereka lanjut berbincang sedikit. "Jadi bagaimana menurutmu, setelah menjadi trainee di sini, meski pamanku tidak kompeten."
"Saya cukup menyukainya, karena tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima saya, saya cukup berterima kasih untuk perusahaan ini." Katanya tersenyum, Ethan mengangguk.
"Baiklah, kamu tetap bisa kembali latihan seperti biasa, saya akan memulai dari awal dengan dana yang ada," kata Ethan, Evan mengerti dan mereka bicara tentang pekerjaan mereka ke depannya.
Sinar matahari sudah mulai tinggi menyinari bagian dalam gedung setelah Ethan dan Evan masuk melalui pintu utama yang mengeluarkan suara squeak pelan saat dibuka.
Udara dalam ruangan terasa lembap dan sedikit berdebu, dengan aroma kayu tua yang menyatu dengan bau lumut dari luar.
“Mari kita mulai dari lantai dasar dulu,” ujar Ethan sambil menarik keluar buku catatan dan pulpen dari kantong jasnya. “Bantu saya catat apa saja yang perlu diperbaiki.”
Evan mengangguk, tangannya sudah siap memegang buku kecil yang selalu dia bawa. Mereka berjalan melewati lorong gelap yang hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari jendela pecah di ujung lorong.
“Yang pertama—pintu utama ini perlu dicat ulang dan diganti engselnya, kak,” ujar Evan sambil menunjuk ke arah pintu kayu gelap yang sudah mengelupas. “Kaca pintunya juga perlu diganti, ada banyak goresan dan sebagian pecah.”
Ethan menuliskan dengan cepat. “Benar. Selain itu, lampu lorong ini hampir semua mati. Kita perlu mengganti bohlamnya dan periksa kabel listriknya agar aman.”
Mereka melanjutkan ke bagian kanan lantai dasar—ruang resepsionis yang dulunya megah kini hanya menyisakan meja kayu besar yang berlubang dan kursi rotan yang sudah roboh.
Di dinding belakang, tulisan “LUCIFER ENTERTAINMENT – WHERE DREAMS COME TRUE” sudah pudar dan sebagian tertutup debu.
“Ruang resepsionis ini bisa kita jadikan ruang tunggu dan area sambut tamu nanti,” kata Ethan sambil menyentuh permukaan meja.
“Meja ini bisa diperbaiki atau diganti yang lebih simpel tapi rapi. Dindingnya perlu dicat ulang dan kita bisa pasang logo grup yang akan kita bentuk nanti disini.”
Dari situ mereka naik ke lantai dua melalui tangga besi yang sedikit berkarat. Suara langkah kaki mereka bergema keras di lorong kosong.
“Lantai dua ini ada ruang kantor dan ruang penyimpanan, kak,” jelas Evan sambil membuka pintu ruangan yang tidak terkunci.
“Ruang kantornya masih ada meja dan kursi, tapi kebanyakan sudah rusak. AC nya juga tidak bisa menyala lagi.”
Ethan masuk dan melihat sekeliling. “Beberapa meja masih bisa dipakai kalau diperbaiki. Kita bisa jadikan satu bagian sebagai ruang kerja admin, dan bagian lain sebagai ruang kreatif untuk menulis lagu atau merancang koreografi."
"AC dan sistem pendingin perlu kita perbaiki segera, terutama kalau nanti ada teman baru yang akan bergabung dengan kita.”
Mereka melanjutkan ke lantai tiga—tempat ruang latihan tari dan vokal. Pintu ruang tari terbuka selebarnya, menampakkan lantai kayu yang sudah goyah di beberapa bagian dan dinding cermin besar yang retak di sudut kanan.
Speaker besar di sudut ruangan terlihat penuh debu dan salah satu sudah tidak berfungsi. “Ini adalah bagian yang paling perlu diperhatikan,” kata Evan dengan nada sedikit serius.
“Lantai kayu harus diganti sebagian agar aman saat menari. Dinding cermin besar juga perlu diganti, dan speakernya harus diperbaiki atau diganti yang baru.”
“Benar,” tutur Ethan sambil menyentuh lantai kayu yang bergoyang. “Ruang vokalnya bagaimana?”
Mereka pindah ke ruangan sebelahnya. Ruang vokal memiliki soundproof yang sudah aus, mikrofon yang tersebar di atas meja terlihat tidak terawat, dan piano digital di sudut ruangan tidak bisa menyala ketika dicoba.
“Soundproof perlu diperbaiki agar suara tidak mengganggu bagian lain. Mikrofon dan piano juga harus kita cek atau ganti yang baru,” ujar Ethan sambil mencatat semua poin penting.
Setelah mengecek lantai empat (ruang kostum dan rias yang penuh dengan barang lama dan kotak kosong) dan lantai lima (ruang rapat yang sudah tidak terurus dan gudang kecil yang penuh dengan barang tak berguna).
Mereka turun kembali ke lantai dasar dan duduk di area ruang tunggu yang masih bisa digunakan—beberapa kursi plastik yang masih layak dan meja kecil yang sudah dibersihkan.
Ethan meletakkan buku catatannya di atas meja dan menarik napas panjang. “Baiklah, sekarang kita urusin prioritasnya dulu.”
“Baik kak, apa yang harus kita lakukan pertama?” tanya Evan dengan tatapan penuh perhatian.
“Yang paling penting adalah masalah hukum dan administrasi,” jawab Ethan dengan tegas.
“Besok pagi saya akan menghubungi pengacara yang sudah saya cari informasi kemarin."
"Kita perlu memperbarui semua izin usaha perusahaan, membuktikan bahwa hak kepemilikan benar-benar ada pada kita, dan membersihkan nama perusahaan dari perbuatan paman saya."
“Kalau biayanya bagaimana? Kita punya dana terbatas kan?”
“Tenang, saya sudah alokasikan bagian dana untuk itu. Sekitar tiga puluh juta akan kita gunakan untuk biaya hukum dan administrasi. Sisanya kita bagi untuk perbaikan infrastruktur.”
Ethan membuka buku catatannya dan menunjukkan daftar yang sudah dia susun:
“Prioritas perbaikan:
1. Ruang latihan tari dan vokal (lantai tiga) – biaya sekitar dua puluh juta. Kita akan mengganti lantai kayu yang rusak, memperbaiki soundproof, mengganti cermin dan speaker yang tidak berfungsi.
2. Infrastruktur dasar – biaya sekitar lima juta. Ganti bohlam lampu, perbaiki kabel listrik, perbaiki pintu dan jendela yang rusak di seluruh lantai.
3. Area depan dan lobi – biaya sekitar sepuluh juta. Membersihkan halaman, mencat ulang pintu utama dan plakat nama perusahaan, memperbaiki meja resepsionis dan membuat area tunggu yang nyaman.
4. Ruang kantor dan admin – biaya sekitar lima juta. Memperbaiki meja dan kursi, mengaktifkan kembali AC dan internet, serta membeli perlengkapan dasar seperti komputer dan printer.”
“Bagaimana dengan rencana anda mencari teman baru untuk menjadi peserta trainee?” tanya Evan dengan mata yang bersinar sedikit.
“Untuk itu saya sudah siapkan dana tambahan sekitar sepuluh juta,” jelas Ethan.
“Untuk akomodasi sementara, kebutuhan makan sehari-hari, dan alat latihan pribadi mereka kalau sudah ada yang mau bergabung."
"Selain itu, setelah urusan hukum dan perbaikan dasar selesai, saya akan mulai mencari calon trainee di akademi teater, restoran, sekolah swasta, dan juga di acara tantangan yang sering ada di mall."
"Saya ingin kumpulkan anak-anak yang punya bakat tapi tidak punya kesempatan.”
“Anda sudah merencanakan semuanya dengan matang ya,” ujar Evan dengan senyum kecil.
“Saya sangat bersyukur bisa bekerja sama denganmu. Saya juga sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman baru yang akan kita kumpulkan nanti.”
Ethan tersenyum balik dan menepuk bahu Evan. “Kita akan membangun semuanya dari nol bersama, Evan. Nanti kita akan membentuk grup idol yang kuat dan berbeda dari yang lain."
"Nama grupnya pun akan saya pikirkan sendiri dengan baik agar sesuai dengan semangat kita berdua dan teman-teman yang akan datang. Sekarang, ayo kita pulang dulu."
"Besok kita akan mulai bertindak dan menghubungi pengacara serta kontraktor yang akan membantu kita memperbaiki perusahaan ini.”
Mereka berdiri bersama dan keluar dari gedung yang mulai terlihat lebih cerah dengan sinar matahari sore yang menyinari halaman.
Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan belum ada satu pun calon trainee lain yang bergabung.
Namun dalam hati mereka sudah merasa penuh semangat, untuk membangun kembali Lucifer Entertainment dan membawa impian mereka menjadi kenyataan.
***
Pukul 06.30 Waktu Aurelia Zone (WAZ) pagi, tanggal 26 Maret, musim semi.
Matahari sudah mulai menyinari langit kota Aurelia ketika Ethan bangun dari tidurnya.
Ethan bangun pagi pagi dan bersiap siap mandi, mengenakan pakaian kasual, memasak sarapan, sarapan, dan mengganti pakaiannya.
Dia sudah menyiapkan pakaiannya yang lebih kasual hari ini: Kemeja hitam, celana hitam, sepatu pantofel hitam, jam tangan, kacamata tipis yang tidak membuatnya rabun atau blur.
Dan membawa berkas berkas yang tersimpan di ruang kerja ayahnya di mansion ini. Dia bersiap pergi ke pengacara, dan memutuskan untuk melakukan pembersihan nama perusahaan.
Setelah sarapan sederhana, dia mengambil tas yang sudah diisi dengan berkas penting perusahaan dan nomor kontak yang sudah dia catat kemarin.
“Waktunya bertindak,” gumamnya sambil melihat cermin sebentar, lalu keluar rumah menuju mobilnya.
Di jalan menuju kota pusat Adelia, lalu lintas sudah mulai ramai dengan orang-orang yang sedang berangkat kerja. Suara penjaja pagi dan klakson kendaraan mengisi udara pagi musim semi yang segar.
Ethan menyetir dengan tenang, matanya fokus ke jalan tapi pikirannya sudah mulai menyusun langkah-langkah hari ini.
Pukul 08.00 WAZ, Ethan tiba di kantor pengacara bernama "Claude & Associates" yang terletak di kawasan bisnis pusat kota.
Kantornya tidak terlalu besar tapi terlihat profesional dengan plakat nama yang jelas di depan pintu.
Setelah diperiksa oleh petugas keamanan, Ethan masuk dan diantar ke ruang tamu. Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan jas abu-abu muda datang menghampirinya dengan senyum ramah.
“Selamat pagi, Tuan Ethan Lucifer?” tanya pria itu dengan aksen khas luar negeri. “Saya Henry Blackwood, pengacara yang Anda hubungi kemarin.”
“Selamat pagi, Pak Henry,” jawab Ethan dengan sopan sambil menjabat tangannya. “Terima kasih sudah mau menerima kunjungan saya.”
“Tidak masalah sama sekali, Tuan Ethan,” ujar Henry sambil mengajaknya masuk ke ruang kerja yang rapi. “Mari kita duduk dan bahas mengenai kasus perusahaan Anda.”
Mereka duduk di meja kerja yang penuh dengan buku hukum dan dokumen. Ethan segera mengambil berkas penting dari tasnya dan menempatkannya di atas meja.
“Sebelumnya, saya ingin menjelaskan kondisi sebenarnya dari Lucifer Entertainment, Pak Henry,” ujar Ethan dengan jelas.
“Perusahaan ini adalah milik keluarga saya, namun setelah orang tua saya meninggal saat saya berusia 13 tahun, paman saya mengambil alih dan melakukan berbagai penyalahgunaan kekuasaan—korupsi, pencucian uang, bahkan pelecehan karyawan."
"Saya sudah berhasil memenjarakan dia dan keluarganya, namun perusahaan kini hanya tinggal cangkang kosong dengan satu trainee yang masih setia.”
Henry membaca berkas dengan cermat sambil mengajukan pertanyaan. “Apakah Anda memiliki bukti kepemilikan sah atas perusahaan, Tuan Ethan?”
“Ya Pak,” jawab Ethan dengan tegas, mengambil dokumen kepemilikan tanah dan perusahaan dari tasnya.
“Ini adalah sertifikat asli yang ditandatangani oleh orang tua saya sebelum mereka meninggal. Semua tanda tangan dan cap resmi masih jelas terlihat.”
Henry mengangguk perlahan. “Baiklah, Tuan Ethan. Berdasarkan dokumen yang Anda berikan, kita bisa mulai proses untuk memperbarui semua izin usaha perusahaan, membuktikan kepemilikan yang sah, dan membersihkan nama perusahaan dari tuduhan yang tidak benar."
"Biaya untuk proses hukum dan administrasi akan sekitar tiga puluh juta Aurelia—apakah itu sesuai dengan anggaran Anda?”
“Ya Pak Henry, saya sudah menyisakan dana untuk itu,” jawab Ethan dengan tenang.
“Baik, saya akan mulai menangani kasus ini segera. Dalam tiga hari kedepan, saya akan memberikan laporan awal tentang perkembangan proses hukumnya,” ujar Henry dengan suara yang meyakinkan.
“Selain itu, saya juga akan membantu mengurus pembaharuan izin usaha agar perusahaan bisa beroperasi kembali secara legal.”
Setelah menyelesaikan pembicaraan dan menandatangani beberapa dokumen awal, Ethan mengucapkan terima kasih dan keluar dari kantor pengacara.
Dia merasa lega karena masalah hukum perusahaan mulai ada jalan keluarnya.
Setelah dari kantor pengacara, Ethan langsung pergi ke toko bahan bangunan dan kantor kontraktor bernama "Mason & Co. Construction".
Di sana dia bertemu dengan seorang pria muda bernama Leo Martinez yang akan menangani perbaikan gedung.
“Selamat pagi, Tuan Ethan,” ujar Leo dengan senyum ramah. “Saya sudah mengecek lokasi perusahaan Anda kemarin sore. Berikut perkiraan biaya dan jadwal perbaikan.”
Leo membuka buku catatannya dan menunjukkan rincian:
•Perbaikan ruang latihan tari dan vokal: 19,5 juta
•Perbaikan infrastruktur dasar (listrik, pintu-jendela): 4,8 juta
•Perbaikan area depan dan lobi: 9,7 juta
•Perbaikan ruang kantor dan admin: 5,2 juta
“Totalnya sekitar 39,2 juta, Tuan Ethan. Saya bisa mulai bekerja besok pagi kalau sudah ada persetujuan dan uang muka sebesar 50%,” jelas Leo.
“Baiklah Pak Martinez, saya setuju dengan perkiraan ini,” jawab Ethan sambil mengambil kartu pembayaran.
“Saya akan transfer uang muka segera. Hanya satu permintaan—pekerjaannya harus selesai dalam tiga minggu.”
“Tentu saja, Tuan Ethan! Saya akan menyusun jadwal kerja agar tepat waktu,” ujar Leo dengan percaya diri.
Setelah menandatangani kontrak dengan Leo, Ethan kembali ke mobilnya.
Matahari sudah mulai menjelma sore, dan sinarnya menyinari jalan raya yang ramai. Pikirannya sudah mulai berpindah ke rencana mencari calon trainee berikutnya.
“Besok saya akan ke Akademi Teater Astra dulu,” gumam Ethan sambil menyetir menuju rumah. “Semoga semua berjalan dengan baik.”