Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANJASMARA
"Alya...tunggu."
"Apa sih, Anjas!"
"Tunggu kataku!"
"Gak usah narik tangan segala!"
"Kalau aku bilang tunggu, ya, tunggu!"
"Gak usah tarik-tarik, Anjas, sakit tau!"
"Makanya udah diam dulu!"
Alya akhirnya dia membiarkan Anjasmara menggenggam tangannya.
"Kalau dibilangin tungguin aku, ya tunggu Alya, jangan malah pergi gitu aja."
"Aku capek Anjas, aku capek."
"Kita sama-sama capek Alya, gak usah saling nyalahin."
"Aku capek hubungan kayak gini terus Anjas."
"Hubungan kayak gimana maksudmu? Ikut aku dulu cepat."
"Anjas, udah dong, ini gak bakal selesai-selesai, aku harus pulang, aku capek banget."
"obrolan ini harus diselesaikan."
Akhirnya Alya nurut juga, karena kalau Anjasmara gak diturutin maunya, seperti yang udah-udah dia akan main fisik. Dia gak malu dilihat orang ramai lagi ribut. Bahkan gak sekali dua kali Alya harus menahan malu karena Anjasmara membentaknya di hadapan orang ramai.
"Anjas, udah dong, jangan ditarik-tarik! Sakit tau!"
"Diam makanya."
Dengan langkah yang terburu-buru Anjasmara menarik paksa Alya ke sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka adu argumen tadi. Beberapa orang pasang mata melihat mereka, namun mereka acuh tak acuh dan melanjutkan urusannya masing-masing.
Yah begitulah di sini, empati dan kepekaan sosial makin berkurang. Tapi herannya kalau ada curanmor atau penjambretan orang-orang dengan cepat berkerumun. Tapi, kalau terjadi kekerasan pada salah satu pasangan yang sedang berdebat atau berantem, orang-orang agak ragu untuk turut campur urusan pasangan.
Entah karena tidak mau ikut campur urusan pribadi orang lain, entah nanti gak mau terseret masalahnya. Biasanya seperti itu. Jadinya Alya terpaksa ikut dengan apa yang dimau Anjasmara.
"Duduk di situ dan jangan ke mana-mana, paham!"
Alya di suruh duduk oleh Anjasmara di sebuah bangku cafe yang posisinya paling ujung di luar cafe. Anjas memilih duduk di bagian outdoor biar lebih leluasa bicara dengan Alya.
"Diam kataku!"
Alya yang dibentak Anjasmara tersurut untuk pergi dari sana. Ia terpaksa dia mematung. Sementara Anjasmara ke dalam cafe untuk memesan minuman.
Ahh, ini bakal lama batinnya.
Padahal Alya malam ini mau packing barang untuk dibawa pulang kampung karena besok dia bakal naik travel ke pekanbaru. Dia tidak ingin terlambat bangun dan kesiangan esok hari.
"Nih, minum dulu."
Alya menegak minumannya. Tatapannya kosong ke arah lain.
"lihat apa?"
"Gak, gak lihat apa-apa?"
"Trus kenapa melihat ke arah sana?"
Alya mengalihkan pandangannya pada Anjasmara. Kini ia melihat ke dua bola mata Anjasmara, mencari kesungguhan hati Anjasmara untuk mencintainya.
Anjasmara yang ia kenal dulu tidak ada lagi sudah berganti dengan Anjasmara yang pemarah, cemburuan, dan egois. persis seperti penderita NPD, Anjasmara menjadi orang yang selalu mencari kesalahan Alya. Ia selalu membuat batin Alya tertekan.
Kalau Alya tidak menurut dengan kemauannya, ia akan mengeluarkan kalimat-kalimat andalan yang menjebak Alya untuk merasa bahwa yang salah adalah Alya. Alya yang harus meminta maaf atas kesalahan yang menurut Alya bukanlah kesalahannya dan ia pun tidak tahu bagaimana sampai Anjasmara bisa demikian menuduhnya.
Misalnya saja saat ia sudah menunggu Anjasmara dua jam di depan koridor kampus Anjasmara, Anjasmara baru turun dari lab bahasa, ia keluar bersamaan dengan Febiola.
Alya berusaha menekan rasa cemburunya saat mereka keluar berdua sembari tertawa bahagia. Namun, bukannya kata maaf yang keluar dari mulut Anjasmara malah makin yang keluar dari mulutnya.
"Kok kamu lama betul sih datangnya."
"Loh aku kan dah tunggu kamu dari tadi Anjas, dah dua jam aku di sini."
"Kok gak ngabarin?"
"Aku chat kamu, lihat deh, cuma ceklis satu. Gak tahu hp kamu kenapa gak aktif?"
"Oh jadi kamu nyalahin gue. Tau gak untung Febiola nemenin gue tadi ngerjain tugas di lab. Kalau gak bosen nungguin kamu."
"Loh kok malah yang salah aku Anjas."
"Ya udah, jadi jalan gak?"
"Ya iya, kan aku dah datang ke sini Anjas."
"Ya udah diam makanya."
Begitulah makanan sehari-hari Alya. Dia sudah pernah minta putus pada Anjasmara namun malah dapat bentakan keras dari dia dan berakhir sebuah tamparan di pipinya.
"Sekali lagi kamu minta putus, awas kamu!"
...
"Hei, bengong!"
"Mmm..enggak.aku gak bengong."
"Lalu apa itu, gue panggil diam aja."
"Djas sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku?"
karena vivi itu licik