Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Masa kini 2
Sinar matahari pagi yang hangat menyinari kamar pribadi Raja Reynold, membangunkan Ratu Aurelia dari tidurnya yang nyenyak. Ia membuka mata, merasakan kesegaran pagi yang menyegarkan, namun juga sedikit terganggu oleh cahaya yang terlalu terang. Ratu Aurelia melihat ke samping, namun tempat tidur Raja Reynold sudah kosong, menandakan bahwa sang Raja telah meninggalkan kamar.
Dengan suara lembut, Ratu Aurelia memanggil dayang pribadinya, Laila. Yang telah berdiri di depan pintu sejak tadi. "Laila," ucapnya, memecahkan kesunyian pagi.
Laila segera masuk ke dalam kamar, membungkuk dengan hormat. "Salam yang mulia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa-dewi," ucapnya dengan suara yang tenang.
Ratu Aurelia membalas salam Laila. "Semoga Zorvath selalu diberkati," jawabnya.
"Ada yang bisa saya bantu, yang mulia?" tanya Laila.
Ratu Aurelia memandang Laila dengan mata yang masih setengah terpejam, namun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia duduk di tepi ranjang, rambut pirangnya yang panjang terjuntai di punggungnya, dan menatap Laila dengan rasa ingin tahu.
"Apakah ada masalah hingga yang mulia raja pergi begitu saja tanpa membangunkan aku?" tanya Ratu Aurelia, suaranya yang lembut namun penuh rasa ingin tahu.
Laila menundukkan kepalanya, "Iya yang mulia, Raja Reynold memang sudah bangun sejak pagi. beliau berada di istana timur . Ia memerintahkan saya untuk tidak membangunkan Anda, karena Anda masih beristirahat" jawab Laila, mencoba menjelaskan situasi dengan hati-hati.
Ratu Aurelia mengangguk, memahami situasi. "Baiklah, aku mengerti," ucapnya dengan nada yang tegas, namun masih lembut. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Laila dengan mata yang lebih fokus. "Apa agenda ku hari ini, Laila?"
Laila mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku bajunya dan membukanya. "Yang mulia, hari ini jadwal anda mengunjungi rumah sakit zorvath , kemarin banyak siswa akademi kerajaan yang mengalami keracunan makanan ."
Ratu Aurelia mendengarkan dengan seksama, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah,Apa lagi?"
Laila melanjutkan, "beberapa dokumen menunggu persetujuan anda yang mulia?"
Ratu aurelia mengangguk"Baik, yang mulia, hamba mohon undur diri, pelayanan akan membantu Anda bersiap," ucap Laila dengan nada yang sopan dan hormat.
Ratu Aurelia mengangguk, "Hem," sautnya, sambil mengisyaratkan Laila untuk pergi.
Laila membungkuk rendah, lalu berbalik dan meninggalkan kamar Ratu Aurelia. Setelah Laila pergi,beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita masuk ke kamar"Yang mulia, air mandi sudah siap," katanya dengan nada yang hormat.
Ratu Aurelia mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pelayan wanita itu membantu Ratu Aurelia melepaskan pakaian tidurnya, lalu membantu dia mandi dan bersiap untuk hari itu.
Setelah selesai mandi, Ratu Aurelia duduk di depan cermin, membiarkan pelayan wanita menata rambutnya.
〰️〰️〰️〰️〰️
RUANG THRONE, RUANGAN KEPALA AKADEMI HOWARD
Udara di dalam ruangan yang megah itu terasa mencekam, seolah-olah waktu berhenti berputar. Ratu Aurelia duduk di kursi kepala akademi, mata hijaunya yang tajam menatap Earl Sebastian of Kent, Kepala Akademi Howard.
"Salam yang mulia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa-dewi," ucap Earl Sebastian, suaranya yang dalam dan khidmat sedikit bergetar.
Ratu Aurelia mengangguk perlahan, "Semoga Zorvath selalu diberkati. Bagaimana kondisinya sekarang, Earl Sebastian?"
Earl Sebastian menundukkan kepalanya, "Maaf yang mulia, beberapa siswa yang keracunan dalam kondisi kritis. Para wali menuntut pertanggungjawaban."
Ratu Aurelia menatap Earl Sebastian dengan tatapan datar. "Apa tenaga medis kita tidak bisa mengatasi ini? Kenapa kondisinya sampai seperti ini?" tanyanya.
"Di dalam makanan mereka terdapat tanaman Abrus precatorius, yang mengetahui penawarnya saat ini hanya Kerajaan Arvendom." Jelas Earl Sebastian
Ratu Aurelia hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Earl Sebastian. Kerajaan Arvendom adalah kerajaan terkuat sekarang, dengan teknologi, sains, pengetahuan, serta pertahanan yang sangat maju. Namun, kerajaan ini sangat tertutup, tidak sembarang orang yang bisa keluar masuk, dan sangat sulit untuk menjalin kerja sama. Hingga saat ini, belum ada yang bisa bekerja sama dengan kerajaan ini.
Ratu Aurelia memikirkan berbagai kemungkinan, tetapi tidak ada satu pun yang membuatnya yakin bahwa mereka bisa mendapatkan bantuan dari Kerajaan Arvendom.
Ratu Aurelia berdiri dari kursinya, suaranya yang tegas dan berwibawa berkata, "Saya akan mendiskusikan masalah ini dengan yang mulia raja. Untuk sementara, berikan pengobatan terbaik yang bisa kita lakukan untuk meringankan akibat keracunan ini."
Earl Sebastian membungkukkan kepala, "Baik, yang mulia," jawabnya dengan suara yang tegas.
Ratu Aurelia melangkah keluar dari ruangan, Laila mengikuti di belakangnya dengan langkah yang cepat dan tenang. Mereka berjalan melewati koridor istana, meninggalkan Earl Sebastian of Kent yang masih berdiri di tengah ruangan, membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Selamat membaca bagi yang suka 🤭 , maaf ya ceritanya membosankan, author cuma penulis amatir 😅
Happy next day
Berarti ini udaa beberapa tahun kemudian begitu kah🙈