NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: tamat
Genre:Pembantu / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”

Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.

Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis

“Itulah, An. Harusnya kamu dengerin Mbak, Roy itu memang bukan laki-laki baik, aku sudah tau kelakuannya! Kamu malah ngotot mau dinikahi. Sekarang kamu sendiri ‘kan yang repot?!” oceh Mbak Asih—kakak perempuan Ana.

Ana menunduk dalam, memandang lekat wajah mungil Aidar yang sedang lahap nenen sembari memainkan ujung kakinya.

“Kamu sampai mau nekat ke luar negeri? Apa kamu ndak mikir nasib anak-anakmu?!” lanjut Mbak Asih.

“Justru aku nekat karena mikirin anak-anak, Mbak? Kalau keadaanku begini terus, gimana sekolah mereka nanti?” sahut Ana, pelan.

“Ya suruh suamimu! Kenapa harus kamu yang pergi?!”

Mbak Asih kemudian berjalan mendekati Ana, menatap sendu Aidar yang sudah melepas nenen nya. Bayi mungil itu tersenyum polos, kaki kecilnya menendang-nendang udara.

Wanita itu kemudian meraih Aidar ke gendongannya, meciumi pipi gembulnya. “Kalau ibumu nekat pergi bener, kamu di rumah Bude saja, ya, Nak.”

“Siapa yang mau pergi?” tanya mamak Ana saat baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ana,” sahut Mbak Asih.

Mamak menatap heran, dahi keriputnya mengerut tipis. “Mau pergi kemana?”

Ana menghela napas dalam, matanya mulai berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya— ragu saat ingin menyampaikan niatnya.

“A-ana … mau merantau ke Taiwan, Mak,” ucapnya terbata.

Mamak terbelalak, raut wajahnya berubah sendu. “Jangan bercanda, An. Nanti kalau malaikat lewat di catat benar, bagaimana?”

“Ana ndak bercanda, Mak. Berkas-berkasnya semua sudah siap, tinggal nunggu jadwal buat medikal saja.”

Mamak masih mematung— tak percaya, sampai pelukan Ana memecah tangis mereka.

“Maafkan Ana, Mak? Ana tidak tau harus bagaimana lagi. Kebutuhan anak-anak semakin besar, sedang penghasilan Mas Roy dan hasil jualan minim, ndak bisa menutupi kehidupan kami,” ujarnya, terisak.

“Lalu anak-anak bagaimana, Nduk?” tanya Mamak sembari mengusap rambut Ana, lembut.

Ana melepaskan pelukannya, tangan kanannya menyeka air mata dengan jarik selendang. “Aidar biar sama Mbak Asih, Danu dan Raka sementara sama ayahnya dulu, nanti kalau Ana sudah berangkat, terserah mereka mau tinggal di sini atau tetap di rumah.”

Mamak menatap datar, sudut matanya basah. “Danu sama Raka biar di sini saja, Mamak ndak menjamin kalau dia hidup sama ayahnya.”

Ana menggenggam tangan keriput Mamak, matanya sayu, wajahnya mengguratkan kelelahan. “Sementara biar di rumah dulu, Mak. Sampai Aku berangkat. Takutnya Mas Roy tersinggung terus gagal kasih izin Ana,” jelasnya.

“Apa benar-benar tidak ada pilihan lain, An?” lirih Mamak.

Ana menggeleng mantap. “Ana sudah pikirkan matang-matang, Mak. Merantau satu-satunya jalan buat merubah nasib .”

Mamak membelai lembut pucuk kepala Ana, suaranya sedikit bergetar. “Tapi Aidar masih nenen, An, kasian kalau harus lepas di usia yang belum genap tujuh bulan.”

Ana tak mampu menjawab, suaranya tercekat di tenggorokan, dadanya kembali bergetar, air mata tak tertahan—dalam pelukan hangat mamak Ana menumpahkan segala keluhnya.

“Sholat ashar dulu sana, biar sedikit tenang,” titah Mamak.

“Tapi, Mak, Ana takut … bagaimana izin ke bapak,” ucap Ana pelan.

“Sholat dulu, nanti baru bicara, bapakmu juga masih tidur sepertinya,” ujar Mamak.

Mbak Asih menatap sinis saat motor Roy memasuki halaman rumah. “Lihat gayanya … gitu kok kamu tergila-gila, An, sama laki modelan begitu.”

Ana tak menjawab, memilih beranjak dari duduknya, melangkah dengan gontai untuk mengambil air wudhu, ia sempat menengok ke arah sang bapak yang tidur meringkuk di kamar belakang.

Sudah dua tahun ini, laki-laki hebatnya itu menderita stroke, menyebabkannya tidak bisa beraktifitas seperti sedia kala. Bapak hanya bisa terbaring lemah di kasur, semua kebutuhannya mengandalkan bantuan dari mamak.

Sebelum menikah lagi dengan Roy, Ana yang mengurus semua, namun setelah menikah dia memilih mengontrak, alasannya ingin mandiri. Tapi, sebenarnya bukan itu yang jadi penyebab, tapi suami barunya—Roy.

Laki-laki itu memiliki tempramen tinggi, mudah tersinggung, dan kalau bicara semaunya. Ana tidak mau orang tuanya semakin kepikiran atau bahkan sampai sakit hati dengan sifat Roy.

Ana dengan ragu masuk ke kamar bapak saat sudah menyelesaikan sholat asharnya, dengan lembut dia memijat punggung bapak, membuat laki-laki sepuh itu tersentak kecil.

“Kapan kamu dateng, Nduk?” tanya bapak.

“Barusan, Pak,” bohong Ana, “Bapak mau Ana bantu mandi tidak? Mumpung Aidar masih bubuk,” tawarnya kemudian.

Bapak menghela napas dalam. “Kamu apa ndak capek, Nduk?”

Ana menggeleng pelan. “Ndak. Aku siapkan airnya dulu, ya, Pak?”

Bapak mengangguk kecil, sembari tersenyum hangat.

“Kita duduk di depan sebentar mau, Pak? Itu ada Mas Roy dan Mas dwi juga,” tawar Ana saat sudah selesai memandikan dan mendandani sang bapak, yang terlihat tampan dengan sarung salur dan baju koko warna putih tulang.

Ana kemudian memapah bapak ke ruang tamu, Bapak memang masih bisa jalan, namun harus di papah—setengah di gendong.

“Kalau ada Ana ganteng bapakmu,” celetuk Mamak.

Mbak Asih yang sedang memangku Aidar, tersenyum getir. “Gitu kok mau kamu tinggal pergi, An. Terus siapa nanti yang telaten ngurusi kaya kamu gitu.”

“Mbak Asih, lah. Siapa lagi?” sahut Ana pelan.

Mbak Asih mencebik kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kaya mau aja tak urusin, ganti baju aja kalo nggak terpaksa, nggak mau!” protesnya.

Bapak memang jarang mau diurusi orang lain selain Ana dan Mamak. Hal itu yang terkadang membuat Ana berat untuk pergi selain anak-anaknya.

“Mamak ngukus singkong, An, di belakang. Udah mateng kayanya? Sekalian bikin kopi sama teh buat Mas mu dan ayahnya Aidar,” ucap Mamak.

Ana menghela napas berat, tatapannya sendu. Ia kemudian berjalan menuju dapur, menyeduh dua gelas kopi dan dua gelas teh, lalu kembali membawanya ke ruang tamu bersama sepiring penuh singkong kukus—makanan favorit bapak.

Laki-laki sepuh itu nampak berbinar saat melihat singkong yang masih mengepulkan uap tipis.

“Ini singkong samping rumah, Mak?” tanya bapak sembari menyomot satu potongan besar.

“Bukan, Pak. Ini di kasih Pak Rt tadi, dia habis panen katanya,” jawab Mamak yang juga turut mengambil satu potong.

Mas Dwi—suami Mbak Asih yang juga hobi makan singkong ikut mencicipi. “Lebih pulen singkong samping rumah,” timpalnya.

“Ayahnya Aidar, ini ndak mau, to?” tawar Mamak.

Roy yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya melirik sekilas. “Iya, Mak, tunggu agak dingin dulu.”

“Singkong enaknya, ya, panas-panas begini, lebih emprul,” sahut Mbak Asih.

Ana tersenyum getir menyaksikan kehangatan keluarganya, ada rasa berat di hatinya, namun seketika berubah saat menoleh ke arah Roy. Wajah angkuh laki-laki itu mebuatnya semakin bertekad ingin pergi.

Ana memberanikan diri membuka suara sembari memijat kaki bapak.

“Bapak … Ana mau bicara.”

Bersambung.

1
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
ojok goblok Nompo Roy....
awas 👊🏻
Muhammad Arifin
saran ya .... jgn masukkan unsur agama jika jln ceritanya begini terkesan ana murahan.apalagi ana memakai jilbab, stigma orang berjilbab JD buruk.
Anna: Terima kasih sarannya, Kak.
Tapi mohon maaf, saya tidak setuju Anda mengatakan stigma orang berhijab jadi buruk hanya karena penggambaran tokoh Ana. Banyak kok penggambaran cerita wanita muslimah kelakuan bejat, bahkan di dunia nyata contohnya juga ada.
Tapi, apapun pendapat Anda, terima kasih sudah sudi mampir di karya sederhana saya, dan semoga Anda membaca hingga selesai, siapa tau pola pikir Anda tentang Ana sedikit berubah. 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
semangat kak buat terus menulis 🔥🔥🔥
Anna: Terima kasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
tuti raniati
Terimakasih Thor ceritanya sangat bagus, perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya yang penuh pengorbanan menyentuh sekali membacanya, sukses selalu Thor teruslah berkarya
Nurgusnawati Nunung
ceritanya bagusss
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. bagus ceritanya..
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
Anna: Amin, mkasih banyak kak.
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Bagus ya jalan ceritanya... Author the beast
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
untung mertuanya baik..
Anna: lebih ke mengerti keadaan.
total 1 replies
Moch Sholeh
dahh,ngk tau lah Thor mau komen apa,, tapi yg pasti ini cerita* TOP MARKOTOP* semangat terus berkarya 👍
Anna: Makasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
Linceu thea
jeng jeng siapa kamu sampai ga setuju woy 🤣🤣🤣
Anna: Nyonya Huang. 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
siapa yang Ndak setujuuu.....
Anna: Yang pasti bukan Andi.🤭
total 1 replies
Linceu thea
😍😍 nah lho akhirnya
Anna: ketemu juga 🤭
total 1 replies
Mul Yanto
lanjut Kak Ana 💪 semangat
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
CallmeArin
habis kmana aja kak, lama banget ngilangnya. udah jamuran aku nunggu😭🤣
Anna: Amin, makasih kakak-kakak yang baik 🫶
total 4 replies
Kustri
oalaaah ternyata bp tiri... hla pantes sayang cm pura"
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?
Mul Yanto
cerita nya bagus dan menarik
Siti Musyarofah
sampe lupa jln ceritanya Thor
Anna: Kakak, mohon maaf. karya ini memang saya revisi total dari bab 1, jadi ada sedikit perubahan. 🙏
total 1 replies
CallmeArin
akhirnya setelah sekian purnama
Anna: doa kan ya kak, semoga revisi yang satu nya bisa cepet beres, biar setiap up karya bisa crazy up. 🙏🙏🫶
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!