Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - KAU MELAKUKANNYA DENGAN SENGAJA
Duduk bersila di kursi rotan itu, Pangeran Panji menemukan pemandangan yang sangat menghibur pagi itu: sahabat karibnya yang terkenal dingin tengah dikunjungi tamu yang justru berperilaku seperti pemilik rumah, dan tamu itu tak lain adalah Nona Ketujuh keluarga Ardani — badai kecil ibu kota. Baru saja ia disuruh menutup pintu oleh Nalendra, dan kini kesempatan membalas kekalahan kecil itu terbentang lebar. Peluang mengusili begini tidak datang dua kali.
"Kau bukannya sedang menunggu pernikahan di kediaman Ardani, jadi kenapa kau ada di sini?" Ia mengangkat alisnya dan berkata sambil tersenyum menggoda, "Menurut adat Kesultanan, pria dan wanita tidak diperbolehkan bertemu sebelum pernikahan, tahu."
Kenapa orang ini mengatakan hal yang persis sama dengan Kakak Waskita? Wulan mengerucutkan bibirnya, lalu berbohong dengan mata terbuka. "Maaf, Yang Mulia, Wulan tidak mengetahui kebiasaan ini." Ucapannya sopan, tetapi jelas-jelas tidak ada sesalnya sama sekali. Di balik senyumnya, ia justru semakin ingin membuat kedua pangeran itu terus salah paham.
Pangeran Panji mendecakkan lidahnya. Kedua orang ini benar-benar cocok satu sama lain — lihatlah kemampuan berbohongnya dengan mata terbuka itu. Dibandingkan dengan Nalendra, Wulan sama sekali tidak kalah. Jika keduanya bersekongkol, seluruh ibu kota bisa diperdaya. Untungnya, yang berani berkongsi hanyalah cangkir teh dan senyum.
"Aku sudah beberapa hari tidak keluar, kenapa semua sudah berubah? Bukankah ini Nona Ketujuh keluarga Ardani yang..." Sebelum Pangeran Panji bisa menyelesaikan kata-katanya, ia dihentikan oleh kemunculan tiba-tiba cangkir teh hijau dengan bunga plum berguguran di depannya — tepat di depan mulutnya. Cangkir itu muncul begitu cepat, tanpa suara, seolah memang sudah lama menunggu di sana. Pangeran Panji menatap cangkir itu, lalu menatap Nalendra, dan untuk sesaat ia memutuskan bahwa lebih aman menuruti nasihat sahabatnya itu.
Nalendra menuangkan secangkir teh panas, menyodorkannya ke dekat mulut Pangeran Panji, dan berkata dengan lembut, "Minumlah tehmu." Suaranya datar, tetapi menyimpan peringatan yang tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Ada senyum tipis di bibir Nalendra yang hampir tidak terlihat, seolah ia sedang menikmati kekacauan kecil yang ia ciptakan sendiri.
"Hiss — panas!" Pangeran Panji begitu tersentak sehingga ia buru-buru menepis tangan Nalendra dan menghirup udara dingin, lidahnya menjulur keluar. Wulan menunduk untuk menyembunyikan senyum yang nyaris meledak.
Wulan tiba-tiba menahan tawa. Ia mengambil secangkir teh hangat di depannya dan menyesapnya pelan. Ya, suhu setinggi itu — ia khawatir ujung lidah Pangeran Panji sudah melepuh parah.
"Kau melakukannya dengan sengaja!" Pangeran Panji mengusap ujung lidahnya dan menatap Nalendra dengan marah, seperti anak kecil yang dikerjai. Namun di balik amarah yang dibuat-buat itu, tersembunyi rasa geli yang tidak bisa ia sembunyikan — jarang sekali ia melihat Nalendra melindungi seseorang dengan cara sehalus ini.
Nalendra tampak biasa saja. "Ya, senang mengetahuinya." Ia bahkan tidak merasa perlu berpura-pura.
Mulut Pangeran Panji membuka-mengelap, tetapi tidak satu kata pun berhasil keluar. Ia mengalah.
Baiklah, sekarang ia sudah tahu — jangan katakan apa pun yang tidak seharusnya dikatakan di hadapan orang yang tengah dijaga Nalendra ini.
Pangeran Panji menutup mulutnya, tetapi matanya yang jernih tetap menatap Wulan, penuh kebingungan. Ia tidak mengerti — apa sebenarnya yang dilihat sahabat baiknya dari Nona Ketujuh ini, sampai-sampai ia menjaganya seperti itu. Ia mulai curiga bahwa ada hal yang tidak ia ketahui tentang hubungan keduanya — sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjodohan yang ditetapkan Sultan.
Ada banyak gadis di ibu kota yang menangis dan berteriak ingin menikah dengannya. Namun, pria itu seolah buta dan jatuh cinta pada gadis yang sombong, mendominasi, manja, dan tidak becus — Nona Ketujuh keluarga Ardani. Semakin ia pikir, semakin tidak masuk akal. Tetapi semakin ia mengamati, semakin ia melihat kelembutan yang tersembunyi di balik sikap dingin Nalendra — sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di depan siapa pun.
Dari segi latar belakang keluarga, meskipun Wulan adalah putri sah Adipati Pramana dan kedudukannya memang berharga, ia tetap kalah dengan Nalendra — Pangeran Senja yang berprestasi militer hebat dan mendapat dukungan besar. Dengan kedudukan Nalendra, bahkan putri dari keluarga kerajaan dan putri para pangeran pun bisa dipilih sesuka hatinya. Jadi mengapa harus Nona Ketujuh ini? Pangeran Panji benar-benar tidak mengerti. Ia bahkan sempat berpikir untuk bertanya langsung kepada Nalendra, tetapi pengalaman mengajarinya bahwa sahabatnya itu tidak akan menjawab.
Dari segi penampilan, Wulan memang terlahir cantik, tetapi ada banyak putri dari keluarga bangsawan yang jauh lebih cantik darinya.
Kalau soal watak... ya, itu perlu dibicarakan secara detail. Dan justru pada watak itulah letak misteri yang paling menarik — karena gadis yang dikabarkan tidak becus itu tampak begitu tenang di hadapan Panglima Senja.
Keluarga Ardani memiliki dua cabang. Karena Nenek Utari masih hidup, keluarga besar ini belum dibagi-bagi. Adipati Pramana saat ini adalah putra sah Nenek Utari. Adiknya bernama Tuan Wirawan, lahir dari seorang selir. Meski berasal dari dua ibu yang berbeda, keduanya tumbuh di bawah pengawasan ketat Nenek Utari yang selalu menjaga keutuhan keluarga.
Tuan Wirawan tidak berpendidikan. Ia hanya tahu menghabiskan hari-harinya dengan berpesta dan bersenang-senang. Berdasarkan nama besarnya, Adipati Pramana mengatur sebuah jabatan ringan baginya di istana — meskipun tidak memiliki kekuasaan nyata, setidaknya ia tetap menerima gaji dari kerajaan, sehingga jika keluarga dibagi kelak, cabang kedua tidak akan mati kelaparan. Cara itu mungkin terkesan merendahkan, tetapi justru menunjukkan betapa baiknya Adipati Pramana menjaga adiknya meskipun mereka berbeda ibu.
Suatu kebetulan yang aneh, keturunan langsung Adipati Pramana ada tujuh anak. Selama belasan tahun, Adipati Pramana dikaruniai enam anak lelaki berturut-turut, sehingga ia mendambakan seorang putri — kehadiran anak perempuan terakhir itu hampir membuat seluruh Puri Ardani bergembira. Enam putra itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang cakap, tetapi tidak satu pun yang bisa menandingi keriangan yang ia rasakan ketika akhirnya lahir seorang putri.
Tuan Wirawan yang terlahir dari selir itu juga memiliki tujuh orang anak. Namun secara kebetulan yang aneh, ketujuh-tujuhnya adalah perempuan. Dengan begitu, dua cabang keluarga ini seakan diatur oleh takdir untuk saling melengkapi — yang satu kekurangan putri, yang lain kekurangan putra.
Dengan begitu, Nona Ketujuh menjadi semakin istimewa. Adipati Pramana awalnya mengira anak yang ketujuh itu masih lelaki, tetapi tak disangka ternyata seorang perempuan. Adipati Pramana hampir menangis kegirangan. Dan Nona Ketujuh pandai benar memilih waktu lahirnya — ia lahir Di penghujung tahun, ketika salju pertama turun di musim dingin. Maka Adipati Pramana menamainya Wulan — dari kata "bulan" yang bersinar di malam bersalju — dengan julukan Wuri. Wulan, bulan yang bersinar di tengah malam bersalju, dan Wuri, panggilan kecil yang kelak hanya ia izinkan untuk orang-orang terdekatnya. Nama yang indah, bukan?