Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28 — Menyembunyikan Indentitas
Huo Li memang sedang bangkrut total dalam urusan kristal spiritual, namun jika ditelusuri lebih dalam di kantong spasialnya, ia masih memiliki beberapa botol Pil Esensi Penyembuh Tingkat 1. Pil-pil itu adalah sisa rampasan dari Zhao Feng dan pengikutnya yang sengaja ia simpan dan tidak ia ubah menjadi Kristal surgawi.
'Karena aku masih memiliki beberapa botol pil esensi penyembuh, ini bisa menjadi modal awalku di kota ini,' batin Huo Li.
Ia melangkah masuk ke dalam sebuah toko obat yang cukup besar di pinggiran jalan utama Kota Sungai Hijau. Aroma herbal yang menyengat langsung menyambut penciumannya.
Melihat ada pelanggan masuk, sang penjaga toko bertubuh tambun yang tadinya sedang mengelap meja langsung tersenyum semringah. "Selamat datang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu? Kami memiliki berbagai macam herbal segar dan pil—"
"Aku tidak datang untuk membeli," potong Huo Li dengan nada datar. Ia mengeluarkan tiga botol giok kecil dan meletakkannya di atas meja palayanan. "Aku ingin menjual ini. Pil Esensi Penyembuh Tingkat 1."
Senyum di wajah penjaga toko itu seketika luntur, digantikan oleh raut kecewa. Ia mendengus pelan sambil memeriksa botol tersebut sekilas.
"Ah, Tuan... Jika Anda berniat menjualnya demi kristal spiritual, saya terpaksa menolaknya," ujar penjaga toko itu sambil menggeleng. "Anda bisa lihat sendiri, di toko kami sudah ada terlalu banyak stok Pil Tingkat 1. Menjelang pelelangan ini, banyak kultivator pengembara yang menjual pil dasar mereka. Toko kami tidak bisa mengeluarkan kristal spiritual lagi untuk barang semacam ini."
Huo Li tidak menarik kembali botolnya. Ia menatap penjaga toko itu dengan tenang. "Siapa bilang aku menginginkan kristal spiritual? Aku menjualnya untuk mendapatkan perak."
Mata penjaga toko itu langsung membelalak. Wajahnya yang tadi muram seketika meledak oleh senyum lebar yang sangat semringah, seolah baru saja menemukan emas jatuh dari langit. Bagi seorang kultivator, mata uang seperti perunggu, perak atau emas nyaris tidak ada harganya dibandingkan kristal spiritual. Namun bagi toko yang beroperasi di kota, perunggu, perak, dan emas masih sangat berguna untuk biaya operasional sehari-hari.
"Hahaha! Perak, ya? Itu hal mudah!" tawa penjaga toko itu kegirangan, tangannya dengan cepat menyapu ketiga botol giok itu ke dalam pelukannya. "Berikan padaku pilmu, Tuan! Biar aku tukar dengan semua perak yang kumiliki di laci ini!"
Setelah melakukan transaksi yang sangat menguntungkan di mata sang penjaga toko dan cukup memuaskan bagi kebutuhan dasar Huo Li, ia melangkah keluar dengan sekantong besar perak di balik jubahnya.
Dengan perak tersebut, Huo Li mampir ke sebuah toko pakaian. Ketika ia keluar dari sana, penampilannya telah berubah total.
Jubah pengembara abu-abunya telah berganti dengan jubah hitam panjang yang tebal dan elegan, menutupi keseluruhan tubuhnya hingga ke ujung kaki. Di wajahnya, ia kini mengenakan sebuah topeng logam berwarna hitam dengan pola garis keemasan yang melintang tajam di sekitar mata, menyembunyikan identitas dan ekspresi wajahnya dengan sempurna.
Huo Li berjalan melangkah menyusuri keramaian kota dengan postur yang tegap dan punggung lurus. Auranya yang sebelumnya sengaja ia tekan kini dibiarkan menguar sedikit, memancarkan ketenangan yang mengintimidasi. Orang-orang di jalanan tanpa sadar menyingkir, memberi jalan bagi sosok misterius berjubah hitam tersebut.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan termegah di pusat Kota Sungai Hijau. Bangunan berlantai empat yang dihiasi lampion-lampion merah dan ukiran bunga anggrek raksasa di gerbang utamanya: Cabang Paviliun Dagang Anggrek Merah.
Huo Li melangkah menaiki tangga menuju pintu masuk utama.
Sring!
Sring!
Baru saja ia hendak melangkah melewati ambang pintu, dua orang penjaga lapis baja menyilangkan tombak mereka, menghadang jalannya.
"Berhenti di sana," ucap salah satu penjaga. Walaupun tindakan mereka menghalangi, nada bicara penjaga itu terdengar sesopan mungkin. Mata mereka yang terlatih melihat postur, jubah mahal, dan aura ketegasan yang memancar dari sosok bertopeng di depan mereka. "Ini bukan sembarang tempat, Tuan. Jika Anda ingin berbelanja di lantai dasar, silakan gunakan pintu samping."
Di balik topengnya, Huo Li menyipitkan mata. Ia memusatkan sedikit Energi Surgawi ke tenggorokannya, memanipulasi pita suaranya agar terdengar jauh lebih berat, serak, dan penuh tenaga yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.
"Aku tidak sedang ingin bermain," ujar Huo Li mutlak, suaranya bergema rendah. "Aku hendak ingin melakukan transaksi dengan pemilik paviliun ini."
Kedua penjaga itu tersentak. Mata mereka melebar.
"Apa?!" seru salah satu penjaga, rasa sopannya seketika menguap digantikan oleh kemarahan. "Beraninya! Kau pikir kau siapa? Sosok mencurigakan sepertimu berani menargetkan kepala cabang Paviliun Dagang Anggrek Merah kami?!"
Huo Li diam, tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya memancarkan seutas tekanan dingin yang membuat kedua penjaga itu tanpa sadar mundur selangkah.
Tuk... Tuk... Tuk...
Di tengah ketegangan itu, terdengar suara langkah kaki bernada ritmis dari sepatu hak tinggi yang menuruni tangga dari dalam paviliun.