Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
Panggilan telepon itu terputus dengan bunyi bip yang dingin. Suara angin malam di atas menara Gedung Astronomi Tua mendadak terasa jauh lebih menusuk tulang.
Julian membeku di tempatnya. Ponsel mahal di genggamannya meluncur masuk kembali ke dalam saku mantelnya dengan gerakan lambat. Raut wajahnya yang tadinya hangat kini tertutup bayangan kelam, dipenuhi kemarahan dan rasa bersalah yang luar biasa.
Ia perlahan menatap Rory. "Rory... apa yang baru saja kamu dengar"
"Aku mendengarnya, Julian," potong Rory pelan. Suaranya sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Ia memegang cangkir kopinya dengan kedua tangan, menatap uap tipis yang menghilang ke udara malam.
"Itu keputusan sepihak Ayahku," tegas Julian, suaranya naik satu nada, memancarkan urgensi yang sangat kuat. Ia melangkah mendekati Rory, meraih kedua bahu gadis itu agar menatap matanya. "Aku tidak pernah menyetujuinya, Rory. Aku tidak akan pernah mendatangi manor itu untuk menandatangani dokumen apa pun."
Rory menatap mata hazel Julian yang bergetar. Ia bisa merasakan kehangatan dan ketulusan murni dari pria di hadapannya. Namun, pikiran logis Rory yang dibentuk oleh kerasnya kehidupan
tetap bekerja dengan sangat tajam.
"Julian," panggil Rory lembut, mengusap punggung tangan Julian yang berada di bahunya. "Kamu seorang Radcliffe. Bisnis, nama besar, dan pengaruh keluargamu adalah hal yang sudah melekat padamu sejak lahir. Jika kamu menolak, harga yang harus kamu bayar tidak akan murah."
"Aku tidak peduli dengan nama Radcliffe jika itu artinya aku harus mengorbankan hidupku sendiri!" bisik Julian tajam, menatap Rory lurus-lurus. "Selama ini aku selalu menuruti semua standar dan keinginan mereka. Tapi untuk hal ini... untuk perasaan ini, aku tidak akan mengalah."
Rory tertegun. Kata-kata Julian menghantam dadanya dengan getaran yang sangat kuat. Pria aristokrat yang biasanya begitu teratur dan selalu mengikuti aturan, kini bersiap memicu perang dingin dengan keluarganya sendiri demi sebuah perasaan yang baru bersemi.
"Kembalilah ke manor besok pagi, Julian," kata Rory akhirnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keteguhan.
Julian berkerut kening. "Rory?"
"Pergilah. Bukan untuk menyerah atau menandatangani dokumen itu," perjelas Rory mantap. "Tapi untuk menyelesaikan urusanmu dengan tegas. Selesaikan sebagai Julian Radcliffe yang mandiri. Sementara itu, aku akan tetap di sini, fokus pada kuliah dan risetku."
Julian menatap Rory dengan rasa kagum yang tak terbendung. Gadis ini tidak menangis, tidak melarangnya pergi, dan tidak memintanya untuk membuat janji manis yang tak pasti. Rory memberinya kepercayaan penuh dan ruang untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Julian membawa tangan Rory ke bibirnya, mencium punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut dan lama.
"Tunggu aku kembali, Rory," janji Julian pelan. "Aku akan menyelesaikan ini."
Keesokan harinya, suasana di St. Jude’s College terasa sedikit sepi tanpa kehadiran Julian. Pria itu sudah bertolak menuju Radcliffe Manor di kawasan pedesaan Hampshire sejak subuh.
Rory menepati janjinya. Ia tidak membiarkan pikirannya terdistraksi. Sepanjang pagi hingga sore, ia menghabiskan waktu di perpustakaan dan laboratorium, menuntaskan revisi riset biokimianya dengan ketelitian tingkat tinggi.
Gemma, yang duduk di samping Rory di kantin kampus saat jam makan siang, menatap sahabatnya dengan cemas.
"Kamu beneran enggak apa-apa, Rory?" tanya Gemma pelan, menggeser piring piza-nya. "Leo cerita kalau Julian tadi pagi dipanggil mendadak ke Hampshire. Dan... rumor soal Victoria Montgomery makin heboh di kalangan senior."
Rory mengunyah roti gandumnya dengan tenang, lalu meneguk air mineralnya. "Aku baik-baik saja, Gem. Rumor itu tidak ada hubungannya dengan nilai atau laporan praktikumku."
Gemma mendesah, geleng-geleng kepala. "Kamu ini beneran terbuat dari baja ya? Kalau aku di posisi kamu, aku pasti sudah panik setengah mati."
"Panik tidak akan mengubah kenyataan atau menyelesaikan masalah, Gemma," jawab Rory realistis. "Julian sedang memperjuangkan haknya, dan tugas terbaikku saat ini adalah menjaga agar diriku sendiri tidak menjadi kelemahannya."
Gemma tersenyum haru, memegang tangan Rory. "Kamu keren banget, Rory. Beneran."
Sementara itu, di Radcliffe Manor sebuah istana megah berarsitektur klasik di tengah hamparan taman ratusan hektar di Hampshire.
Suasana di dalam ruang kerja utama terasa sangat mencengkeram. Arthur Radcliffe duduk di balik meja kayu mahoni raksasa, menatap putra tunggalnya yang berdiri tegap di tengah ruangan.
Di sisi meja, berkas pertunangan dengan keluarga Montgomery sudah terbuka rapi.
"Tandatangani dokumen ini, Julian," kata Arthur dengan suara berat dan tak tersentuh. "Keluarga Montgomery telah menyetujui investasi sepuluh juta pound untuk laboratorium pusat kita. Ini adalah langkah terbaik untuk masa depanmu dan nama besar Radcliffe."
Julian berdiri tegap dengan mantel hitamnya. Wajahnya sedingin es, mata hazel-nya menatap sang ayah tanpa ada sedikit pun rasa takut.
"Saya tidak akan menandatanganinya, Ayah," jawab Julian datar namun penuh penekanan.
Arthur menaikkan alisnya, tatapannya berkilat berbahaya. "Apa kamu bilang?"
"Saya bilang, tidak," ulang Julian tegas, melangkah satu pijakan lebih dekat ke meja ayahnya. "Saya bukan aset bisnis yang bisa Ayah perjual belikan demi investasi. Masa depan saya, riset saya, dan dengan siapa saya akan menikah adalah keputusan saya sendiri."
"Kamu lupa siapa yang membiayai hidupmu dan memberi nama besar itu padamu, Julian?!" bentak Arthur, berdiri dari kursinya hingga mengebrak meja. "Jika kamu menolak, aku bisa mencabut seluruh fasilitasmu di St. Jude’s! Aku bisa memastikan karier akademismu berhenti detik ini juga!"
Ancaman itu adalah ancaman terbesar yang biasa digunakan Arthur untuk menundukkan siapa pun. Namun, kali ini, Julian hanya menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman dingin yang sangat mirip dengan milik ayahnya sendiri.
Julian merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu kredit utama keluarga dan kunci mobil mewahnya, lalu meletakkannya di atas meja mahoni tersebut.
"Cabut saja seluruh fasilitas itu, Ayah," kata Julian tenang namun mematikan. "Saya memenangkan beasiswa riset independen dari Oxford bulan lalu atas nama saya sendiri, bukan nama Radcliffe. Saya bisa membiayai hidup saya sendiri."
Arthur terpaku, matanya membelalak tak percaya melihat keberanian putra tunggalnya.
"Dan satu hal lagi," tambah Julian sebelum berbalik pergi. "Wanita yang saya pilih tidak diukur dari berapa banyak saham yang dimilikinya, melainkan dari seberapa terhormat pikiran dan hatinya. Dan orang itu bukan Victoria Montgomery."
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya yang murka, Julian berbalik dan melangkah keluar dari istana megah itu dengan kepala tegak.
Ia melepaskan seluruh ikatan kekuasaan keluarganya, demi mempertahankan harga diri dan cintanya pada Aurora Vance.