Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
La Bonna melangkah keluar dari ruang rias menyertai deretan wanita penari lainnya. Sepanjang berada di dalam ruang rias tadi, bagian belakang kepala Bonna terasa panas dan menyengat. Penyebabnya tak lain adalah tatapan mata tajam nan penuh permusuhan yang tak henti-hentinya dilayangkan oleh Seraphina dan teman-teman satu komplotannya.
Mereka tidak sekadar melempar tatapan tak senang. Secara terang-terangan dan berbisik nyaring, wanita-wanita itu mencibir Bonna—menghina bentuk fisik Bonna yang kurus kering dan dipenuhi bekas luka memar, sangat berbanding terbalik dengan lekuk tubuh mereka yang sintal dan terawat.
Mereka juga mengolok-olok status Bonna yang tak lebih dari seorang tahanan rampasan perang, seorang tawanan bernasib sial yang dikirim oleh musuh bebuyutan Tuan Nolan.
Satu per satu penari mulai berjalan beriringan meninggalkan ruang rias, menyusuri lorong temaram menuju area panggung utama. Bonna berjalan di barisan paling belakang, persis seperti hari pertama ketika ia menyusup ke tempat ini atas perintah Dorris.
Begitu naik ke atas panggung berlantai kayu licin, Bonna sengaja mengambil posisi di bagian paling pinggir—area terluar panggung yang tidak begitu tersorot oleh kilau lampu spotlight.
Sebaliknya, di bagian tengah panggung yang menjadi pusat perhatian, Seraphina sudah berdiri dengan angkuh. Memakai gaun stripper minim bertabur kristal yang membuat dadanya hampir tumpah, wanita pirang itu memamerkan senyum lebarnya yang memikat saat dentuman musik bertempo sedang mulai menggema menghentak ruangan.
Tepat saat tarian baru saja dimulai, sosok yang paling ditakuti di tempat itu kembali muncul entah dari mana. Ezequiel Nolan Ashford melangkah masuk.
Pria itu tampil menawan sekaligus intimidatif dalam balutan kemeja serba hitam dan sarung tangan kulit yang melapisi kedua tangannya. Nolan melangkah tegap menuju lantai mezanin atas, lalu mendudukkan tubuh kekarnya di atas sofa kulit hitam yang mewah.
Dua orang anak buah bertubuh tegap berdiri siaga di sisi kanan dan kirinya. Salah satu dari mereka segera menuangkan minuman beralkohol mahal ke dalam gelas kristal, sementara Nolan secara perlahan melepaskan sarung tangan kulitnya jari demi jari.
Bonna melihat seluruh gerakan pria itu dari kejauhan sembari jemarinya meremas erat tiang dansa besi di pinggir panggung. Secara mengejutkan, pandangan mata tajam Nolan tidak tertuju pada panggung utama, melainkan bergulir lurus ke arah Bonna.
Pria itu mengamati setiap lekuk gerakan tarian Bonna yang agak kaku, menyesap minumannya secara perlahan tanpa sekalipun mengalihkan matanya.
Bukan hanya Bonna yang menyadari arah tatapan itu. Seraphina, yang sejak awal tariannya memfokuskan seluruh pesonanya ke arah sofa atas demi menarik perhatian sang ketua mafia, perlahan merasakan senyum lebarnya luntur.
Wajah cantiknya menegang saat menyadari tatapan mata Nolan sama sekali tidak tertuju padanya. Pria itu justru mengabaikan pertunjukan utamanya dan malah menatap wanita lain—menatap lurus pada sosok La Bonna De Luca yang berada di sudut gelap.
Alis Seraphina menukik tajam. Ia menggigit bibir bawahnya menahan amarah yang membakar dada seraya berputar cepat mengelilingi tiang dansa. Seraphina teramat tidak senang.
Biasanya, dari atas sofa megah itu, Nolan hanya akan melayangkan pandangannya khusus untuk Seraphina yang selalu menjadi bintang utama setiap malam.
Namun kali ini, fokus tuannya justru bergeser ke sudut belakang panggung yang redup, tertuju pada seorang wanita tawanan yang bahkan tidak ada separuh cantiknya dibanding dirinya, wanita yang bentuk tubuhnya pun terlihat mengenaskan bagai tulang terbungkus kulit.
°°°
Lima menit kemudian, musik bertempo cepat meredup dan tarian sesi pertama berakhir. La Bonna dengan cepat melangkah turun dari panggung.
Dari jarak agak jauh, Bonna sempat melihat bagaimana Seraphina terburu-buru melangkah menaiki tangga menuju lantai atas. Wanita itu menghampiri Nolan, lalu dengan gerakan manja yang sudah terbiasa, Seraphina mendaratkan tubuh bahagian atasnya langsung ke pangkuan pria itu—menampilkan aksi manja pasca-pertunjukan seperti yang biasa ia lakukan.
Namun, baru beberapa langkah Bonna berjalan menuju arah balik panggung, seorang anak buah Nolan bertubuh tinggi besar tiba-tiba memotong jalannya.
"Kau," tegurnya dingin. "Tuan Nolan menyuruhmu naik ke atas sekarang."
Bonna tentu saja tidak memiliki pilihan selain menurut. Berjalan mematuhi instruksi anak buah tersebut, Bonna melangkahkan kakinya menaiki tangga-tangga kecil menuju lantai mezanin atas. Langkahnya terhenti saat ia tiba dan berdiri tepat di samping sofa kulit yang diduduki Nolan.
Pandangan mata Bonna seketika beradu rapat dengan Seraphina yang tengah duduk santai di atas pangkuan Nolan. Wanita pirang itu dengan sengaja menempelkan tubuhnya rapat-rapat seperti ulat bulu pada dada Nolan, sembari melirik Bonna dengan sudut mata penuh keangkuhan—seolah-olah tengah memamerkan posisinya sebagai penguasa hati pria tersebut.
Nolan mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang kelam melirik Bonna dari atas ke bawah dengan tatapan yang sarat akan penghinaan.
"Lihat dirimu," Nolan membuka suara, nadanya tenang namun dingin menusuk. "Kau terlihat teramat menyedihkan. Bahkan seekor anjing yang didandani di jalanan jauh lebih menarik untuk dipandang dibandingkan dirimu."
Perkataan pedas yang meluncur lurus dari bibir Nolan membuat Seraphina yang berada di pangkuannya seketika meledakkan tawa berderai. Wanita itu terbahak-bahak hingga matanya berkaca-kaca, merasa teramat puas karena Bonna dihina sedemikian rupa di hadapan umum.
"Kutebak," Seraphina menimpali seraya mengusap sudut matanya yang basah karena tawa, "pasti tidak ada satu pun laki-laki hidung belang di klub ini yang mau membayar untuk tidur dengannya. Pria-pria di bawah mungkin mau melakukannya jika gratisan, tapi untuk merogoh kocek demi tubuh papan seperti itu? Mereka pasti akan berpikir ribuan kali."
Nolan hanya memutar-mutar gelas kristalnya perlahan, membiarkan es batu beradu menyentuh dinding kaca tanpa membantah sepatah kata pun dari ucapan Seraphina.
Namun, setelah jeda hening yang singkat, Nolan mengalihkan pandangannya kembali pada Bonna dan berkata datar, "Pergi ke kamar 101. Seperti kemarin."
Seketika itu juga, senyum lebar di wajah Seraphina luntur sepenuhnya.
Wanita pirang itu membeku di pangkuan Nolan. Ia menatap pria di bawahnya dengan pandangan tak percaya, lalu bertanya dengan intonasi suara sensual yang menyiratkan kepanikan terselubung, "Tuan Nolan... Anda akan menghabiskan malam dengan wanita busuk ini lagi? Bagaimana denganku? Bukankah malam ini jadwal Anda bersamaku?"
Alis Nolan menukik tajam. Sorot matanya berubah menjadi kian menggelap dan berbahaya saat ia menatap wajah Seraphina yang menempel di dadanya.
"Sejak kapan aku harus meminta izinmu untuk memilih dengan siapa aku menghabiskan malamku?" jawab Nolan dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Seraphina... hanya karena aku sering tidur denganmu, bukan berarti aku harus melakukannya bersamamu selamanya. Kau bukan istriku. Ingat posisimu di tempat ini."
Nolan mendorong tubuh Seraphina menjauh dari pangkuannya tanpa sedikit pun rasa canggung, lalu menambahkan perkataan yang telanjang dan menampar harga diri wanita itu. "Kau dan Bonna sama saja di tempat ini. Sama-sama seorang pelacur."
Raut wajah Seraphina berubah pucat pasi. Ia tampak jelas terhantam dan terluka hebat oleh kata-kata kasar yang diucapkan Nolan di depan para pengawal dan di hadapan Bonna.
Namun, Bonna tidak memiliki waktu atau minat sedikit pun untuk bersimpati pada wanita itu. Bonna memilih langsung memutar badannya dan pergi secepat mungkin, mematuhi perintah Nolan untuk segera menuju ke kamar 101.
La Bonna sadar betul bahwa jika ia berdiri lebih lama di sana dan menyaksikan drama penghinaan antara Nolan dan Seraphina, wanita pirang itu justru akan semakin melipatgandakan dendam padanya karena merasa dipermalukan secara brutal.
Sembari melangkah cepat menyusuri lorong dingin menuju kamar 101, hanya ada satu pertanyaan besar yang berputar-putar di dalam kepala Bonna:
Jika aku memang sama sekali tidak menarik, jika aku terlihat tak lebih dari seekor anjing yang didandani, lalu kenapa Nolan lebih memilih untuk menghabiskan malamnya denganku lagi kali ini?
Apakah semua ini murni karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Electra? Atau karena pria iblis itu memang menemukan kepuasan sadis saat menyiksa dan menghancurkan fisiknya?
Bonna tidak tahu pasti jawabannya. Namun satu hal yang sangat ia yakini: malam ini, tubuhnya akan kembali dipukuli dan dihantam oleh kebrutalan pria itu. Memar dan luka baru akan kembali bertambah di sekujur kulitnya saat Nolan menggunakannya serta mempermainkannya seperti boneka pemuas nafsu semata.
Dan yang paling berbahaya, Bonna akan semakin menjadi sasaran empuk bagi kegilaan Seraphina.
Hari ini Bonna mungkin baru sebatas menjadi bahan gunjingan dan celaan di ruang rias. Namun esok hari, setelah Nolan menghabiskan dua malam berturut-turut di kamarnya, Seraphina dipastikan akan membuat hidup Bonna menjadi neraka yang sesungguhnya di luar kamar 101.
Bonna akhirnya menyadari taktik licik yang sedang dimainkan oleh Nolan. Ini memang tujuan pria itu sejak awal: secara sengaja memancing cemburu dan dendam dari pelacur kesayangannya agar hidup Bonna semakin menderita di setiap sudut markas ini.
Nolan tidak merasa cukup menyiksa Bonna hanya dengan tangannya sendiri; pria itu kini juga ingin tangan orang lain menyiksa dan menghancurkan Bonna hingga lumat.
Laki-laki bajingan ini benar-benar iblis yang licik, batin Bonna seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat di depan pintu kamar 101. Dia ingin hidupku di tempat ini menjadi neraka yang begitu pekat, sampai aku sendiri yang menyerah dan memilih untuk bunuh diri.
Bagi Ezequiel Nolan Ashford, nyawa dan penderitaan La Bonna De Luca tak lebih dari sekadar hiburan kejam yang tidak berharga sama sekali.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔