NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Batu Palsu dan Mata Asli

"Kalau Martapura itu laut, tempat ini pelabuhannya."

Hendra menunjuk papan besar bertuliskan Toko Zamrud Nusantara di ujung deretan ruko. Dari luar, tempat itu lebih mirip galeri daripada toko batu. Lampu putih menyorot meja kaca, kamera pengawas menghadap setiap sudut, dan bongkahan bahan mentah diletakkan di atas dudukan kayu berlabel harga.

Bayu masih mengenakan kaus pudar, celana jin lama, dan sandal jepit. Hendra lebih buruk. Noda oli di kausnya belum kering.

Begitu mereka masuk, seorang pegawai mendekat, lalu melambat setelah melihat pakaian keduanya.

"Bagian batu murah ada di sebelah kiri," katanya.

"Kami mau lihat semuanya," jawab Bayu.

Pegawai itu tersenyum tipis. "Yang di ruang utama mulai puluhan juta."

"Mataku tidak memungut biaya berdasarkan harga."

Hendra menahan tawa. Pegawai tersebut belum sempat menjawab ketika seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari belakang meja kasir.

"Ada apa?"

"Mereka ingin melihat koleksi utama, Pak Gunawan."

Gunawan memandang Bayu dari kepala sampai sandal, lalu mengangguk ke arah rak kiri. "Silakan lihat. Jangan memindahkan batu tanpa minta bantuan."

Ia kembali memeriksa tablet, seolah urusan selesai.

Bayu tidak tersinggung. Kemarin, orang-orang juga menilai dari sepatunya. Batu yang tampak jelek justru memberinya lima puluh juta. Manusia ternyata tidak terlalu berbeda dari kulit batu.

Ia berjalan perlahan di antara dudukan.

Bongkahan pertama memiliki warna hijau, tetapi retaknya menembus sampai pusat. Bongkahan kedua memancarkan cahaya emas tipis, tidak sebanding dengan label Rp80 juta. Yang ketiga lebih baik, namun bidang bersihnya terlalu kecil.

Bayu tidak sekadar mengandalkan cahaya. Ia membandingkan kulit, berat yang tertera, bekas pelapukan, dan arah retak. Semua itu akan menjadi alasan yang bisa ia ucapkan jika seseorang bertanya.

Di tengah ruangan berdiri sebuah kotak kaca terpisah.

Di dalamnya ada batu seukuran kepala orang dewasa. Sebuah jendela kecil telah dibuka pada kulitnya, memperlihatkan warna hijau pekat. Label di bawahnya tertulis:

KOLEKSI UTAMA — Rp500.000.000.

"Nah, ini baru batu sultan," bisik Hendra. "Kalau jatuh ke kakiku, batunya tetap utuh dan masa depanku yang remuk."

Bayu memusatkan pandangan.

Lapisan luar menjadi transparan.

Ia menunggu cahaya emas yang seharusnya memenuhi batu seharga setengah miliar.

Tidak ada.

Hanya cahaya pucat yang tidak merata.

Warna hijau pada jendela berhenti beberapa sentimeter di bawah permukaan. Di baliknya terdapat inti abu-abu keruh. Bayu melihat rongga-rongga kecil yang dipenuhi bahan bening, jalur bor tipis yang ditutup campuran epoxy dan debu batu, serta pewarna yang mengumpul di sepanjang retakan.

Batu itu menyimpan masalah yang jauh lebih parah daripada kualitas buruk.

Ia telah dimanipulasi dengan perlakuan mirip B+C: bagian tertentu diputihkan, diisi polimer, lalu diberi warna agar jendela tampak meyakinkan.

"Pak Gunawan," panggil Bayu.

Gunawan mendongak, jelas tidak senang. "Ya?"

"Batu utama ini sebaiknya jangan dijual dulu."

Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Gunawan meletakkan tabletnya. "Maksud Mas?"

"Ada kemungkinan jendelanya sudah diberi perlakuan. Warna berkumpul di retakan, permukaannya terlalu rata, dan ada bekas penutupan di sisi belakang."

"Mas menuduh toko saya menjual batu palsu?"

Nada Gunawan berubah tajam. Pegawai tadi langsung berdiri lebih tegak.

Hendra mendekat setengah langkah ke sisi Bayu, tetapi Bayu tetap menatap kotak kaca.

"Saya bilang mungkin ada masalah. Bapak bisa membuktikan saya salah dengan lampu ultraviolet dan pemeriksaan berat jenis. Kalau hasilnya bersih, saya akan minta maaf di depan semua pegawai."

Gunawan menatapnya lama.

"Dari mana Mas belajar melihat bekas perlakuan hanya dari luar?"

"Ambil lampunya dulu."

Keheningan itu berlangsung beberapa detik. Akhirnya Gunawan membuka kotak kaca sendiri, membawa batu ke meja pemeriksaan, lalu meminta pegawai mengambil lampu ultraviolet.

Lampu ruangan diredupkan.

Ketika sinar ultraviolet jatuh pada sisi belakang, sebuah garis biru keputihan muncul di tempat yang ditunjuk Bayu. Fluoresensi mineral alami seharusnya menyebar merata, sedangkan garis itu tipis, lurus, dan berakhir pada titik bundar seukuran kepala jarum.

Bekas saluran injeksi.

Gunawan mengubah posisi batu. Garis lain muncul di dekat jendela.

Wajahnya kehilangan warna.

"Matikan lampu," perintahnya.

Ia menoleh kepada pegawai. "Tutup pintu depan. Tulis bahwa toko sedang audit stok."

Lalu ia memandang Bayu. Kali ini tidak ada lagi penilaian terhadap sandal.

"Mas Bayu, ikut saya ke belakang."

Hendra menunjuk dirinya. "Saya?"

"Teman Mas Bayu juga."

Ruang belakang dipenuhi rak dokumen, timbangan digital, dan kotak-kotak stok. Gunawan mengunci pintu, lalu meletakkan batu Rp500 juta itu di bawah lampu kerja.

"Batu ini masuk enam bulan lalu," katanya. "Dari pemasok yang dibawa mantan rekan usaha saya. Ada laporan pemeriksaan, tapi sekarang saya tidak yakin dokumen itu asli."

Bayu mendengar bagian yang tidak diucapkan. Toko sebesar ini seharusnya memeriksa sendiri barang setengah miliar. Gunawan mungkin benar-benar ditipu, tetapi kelalaiannya nyata.

"Karantina batu ini," kata Bayu. "Jangan pindahkan, jangan gosok titik injeksinya, dan buat berita acara internal dengan foto serta waktu. Kirim ke laboratorium independen. Kalau dokumennya palsu, Bapak punya dasar untuk melapor dan menuntut pemasok."

Gunawan mengangguk perlahan. "Mas benar."

"Kalau Bapak menjualnya setelah tahu ada masalah, posisi Bapak berubah menjadi pelaku."

Kalimat itu membuat Gunawan menatap Bayu sekali lagi.

"Saya mengerti."

Ia membuka sebuah pintu menuju gudang kecil. Puluhan batu tersusun di rak baja, sebagian belum diberi harga.

"Mas Bayu sudah menyelamatkan nama toko saya. Pilih dua batu dari rak ini. Tidak perlu bayar."

Hendra hampir menjatuhkan botol air yang dipegangnya. "Dua? Gratis?"

Gunawan mengangguk. "Semuanya dari koleksi sampingan dan masuk melalui jalur resmi."

Bayu tidak langsung menerima. "Buatkan kuitansi nol rupiah dan tulis bahwa dua batu diberikan sebagai imbalan konsultasi. Saya tidak ingin nanti ada sengketa kepemilikan."

Untuk pertama kalinya, Gunawan tersenyum tulus. "Mas ternyata pandai membaca syarat juga."

"Orang miskin harus lebih rajin membaca syarat."

Hendra berbisik, "Kemarin orang miskin. Hari ini saldo koen empat puluh lima juta."

"Tetap lebih miskin dari isi toko ini."

Bayu berjalan menyusuri rak. Ia membatasi pandangan, memeriksa satu baris demi satu baris. Cahaya emas muncul pada beberapa batu, tetapi dua bongkahan di rak bawah jauh lebih terang. Yang pertama berkulit cokelat kusam. Yang kedua kecil, tertutup bercak putih, dan terjepit di belakang peti kayu.

"Dua ini," katanya.

Gunawan memeriksa pilihan itu. "Mas tidak mau yang sudah dibuka jendela?"

"Saya lebih suka barang yang belum terlalu banyak dibicarakan orang."

Kuitansi dibuat. Nomor stok, berat, foto, dan alasan pemberian dicatat. Gunawan bahkan membubuhkan cap toko.

Saat Bayu mengangkat kedua batu, Gunawan bertanya, "Siapa guru Mas?"

Pertanyaan itu sudah ia tunggu.

"Seorang guru tua di Pacitan," jawab Bayu. "Beliau tidak suka namanya disebut. Saya hanya pernah diberi dasar. Selebihnya saya masih belajar."

Itu cukup dekat dengan kebenaran untuk diucapkan tanpa ragu.

Gunawan tidak memaksa. Ia hanya menyerahkan kartu namanya dan berkata, "Kalau Mas butuh akses pemasok atau ruang potong, hubungi saya langsung. Pegawai depan tidak punya wewenang mengaturnya."

Mereka membawa dua batu ke area potong di belakang toko.

Pak Gunawan berdiri di ambang pintu, memandangi punggung pemuda bersandal jepit itu. Seumur hidup ia membeli dan menjual batu, tetapi Bayu melihat kebohongan setengah miliar hanya dalam satu tatapan.

Untuk pertama kalinya, Gunawan bertanya-tanya apakah guru tua dari Pacitan itu benar-benar ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!