NovelToon NovelToon
SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: YANDRI HS

Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 1: Syntax eror

Gema tawa meremehkan memantul di dinding marmer Ruang Ujian Akademi Sihir Aethelgard. Di tengah ruangan yang megah dan diterangi pilar-pilar kristal raksasa itu, berdirilah Kaelen Vance. Pakaiannya sederhana, jauh dari jubah sutra mahal yang dikenakan oleh para pewaris bangsawan di sekelilingnya.

Di hadapannya, Master Therion, seorang penguji senior dengan lencana emas di dadanya, menatap Kael dengan raut wajah bosan yang dibuat-buat. Jari-jarinya mengelus lencana itu dengan gerakan arogan.

"Kaelen Vance. Putra dari *Baron* Vance... yang kabarnya wilayahnya baru saja disita," ucap Therion lambat-lambat, memastikan suaranya terdengar oleh seluruh murid bangsawan di tribun. Beberapa kekehan pelan terdengar menyusul kalimat tersebut. "Ujianmu sederhana. Tembakkan mantra api dasar ke arah boneka target itu. Biarkan Alat Ukur *Mana* di sebelahnya menilai seberapa besar potensi sihir yang ada di dalam darahmu. Tentu saja, aku tidak berharap banyak."

Kael tetap diam. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam memindai ruangan.

Bagi orang lain, pilar kristal di sebelah boneka itu adalah artefak suci ciptaan para pendahulu. Bagi Kael, itu tidak lebih dari sebuah *packet sniffer*—alat pembaca data—dengan konfigurasi keamanan yang sangat menyedihkan.

Penyihir normal akan mulai merapal mantra sekarang. Mereka akan meneriakkan barisan kalimat kuno selama puluhan detik, membuang-buang energi hanya untuk mengumpulkan *mana* dari udara. Sangat tidak efisien, membuang *bandwidth* magis tanpa alasan. Kael tidak perlu melakukan itu. Struktur magis untuk mantra api tingkat tinggi sudah tersimpan secara permanen di dalam ingatannya—layaknya memori *NVRAM* yang tak akan pernah terhapus meski ia tertidur pulas. Ia hanya perlu mengeksekusi perintahnya.

Namun, jika ia menembakkan sihir aslinya, boneka itu, kristal pengukurnya, dan setengah dari ruangan ini akan menguap. Ia akan diklasifikasikan sebagai jenius mutlak, dimasukkan ke Kelas A, dan diawasi dua puluh empat jam oleh pelindung magis kerajaan. Itu adalah mimpi buruk bagi agendanya. Kael tidak butuh sorotan; ia butuh titik buta.

Jadi, Kael merakit paket sihir di ujung jarinya. Menggunakan salah satu cincin peraknya yang bertindak sebagai *router* mini, ia mengalihkan jalur energi mantranya dan dengan sengaja menyuntikkan "kode rusak" ke dalam struktur api tersebut. Ia mengubah rute sasarannya menjadi sebuah *loop* mati.

Kael mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jari. *Execute.*

*Pft.*

Sebuah percikan api yang sangat kecil, seukuran kepala korek, muncul di udara selama sepersekian detik. Api itu bahkan tidak sempat menyentuh boneka target sebelum akhirnya padam menjadi seuntai asap tipis yang menyedihkan.

Keheningan melanda ruangan itu selama dua detik, sebelum akhirnya meledak oleh tawa yang riuh. Para bangsawan muda memegangi perut mereka, menunjuk ke arah Kael yang masih berdiri dengan tangan terangkat.

Therion menggelengkan kepalanya dramatis, mencoret sesuatu di perkamennya dengan kasar. "Luar biasa. Bahkan seorang petani tanpa bakat sihir bisa memantik api lebih besar dari itu. Alat ukur *mana* bahkan tidak repot-repot menyala." Therion menatap Kael dengan tatapan jijik. "Kapasitas sihir: Nol. Eksekusi: Gagal total. Kau memalukan sejarah akademi ini, Vance. Kau dibuang ke Kelas F. Pergi dari hadapanku."

Kael menundukkan kepalanya, mengambil langkah mundur seolah-olah beban rasa malu menghancurkan harga dirinya. Namun, di balik poni rambutnya yang menutupi mata, Kael tersenyum tipis. Sangat tipis.

*Kelas F.* Terletak di sayap bangunan tua di ujung akademi. Sebuah area terbuang di mana sistem perlindungan magis dan *firewall* kerajaannya belum pernah diperbarui selama lebih dari dua ratus tahun. Sistem di sana pasti penuh dengan celah kerentanan dan protokol yang kedaluwarsa. Kael kini memiliki akses masuk ke jaringan akademi, dan tidak ada satu pun radar musuh yang akan mencurigai keberadaannya. Semuanya berjalan persis seperti yang ia jadwalkan.

Tinggi di atas ruangan ujian, tersembunyi di balik bayangan balkon pengamat, seorang wanita berpakaian gelap berdiri bersedekap. Elara Vane menatap tajam ke arah sosok Kael yang berjalan meninggalkan arena. Tidak seperti para penguji dan bangsawan di bawah sana, Elara tidak tertawa. Alisnya berkerut dalam.

Matanya terpaku pada kristal pengukur *mana* raksasa di sebelah boneka target. Bagi mata awam, kristal itu sekadar tidak merespons. Tetapi Elara, yang telah menghabiskan seluruh hidupnya meneliti anomali, melihat hal lain. Selama tepat satu detik penuh—saat Kael menjentikkan jarinya—seluruh matriks cahaya di dalam kristal itu membeku secara paksa. Alat pengukur magis paling canggih di akademi itu sempat *hang* dan kehilangan fungsinya secara total, sebelum melakukan *restart* mandiri.

"Anomali macam apa yang baru saja kau tulis ulang ke dalam realitas kita, Kaelen Vance?" bisiknya pelan, matanya tak lepas dari pintu keluar tempat Kael baru saja menghilang.

Pintu kayu ek raksasa menuju Sayap Selatan berderit keras saat Kael mendorongnya. Tidak ada engsel magis berlapis emas di sini, hanya besi berkarat dan pelitur yang mengelupas. Udara berbau apek perkamen basah dan aroma samar ozon—tanda dari sirkuit sihir yang sudah bocor dimakan usia.

Di atas pintu reyot di ujung lorong, sebuah ukiran kusam bertuliskan: **KELAS F - Remedial & Anomali**.

Kael menatap bingkai pintu itu sejenak. Mata abu-abunya tidak melihat serbuk debu, melainkan jaring-jaring benang *mana* kelabu yang saling tumpang tindih. Sistem keamanan magis ruangan ini tidak memiliki enkripsi.

*Terlalu banyak celah,* batin Kael. Ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk.

**"BENTAR, BENTAR! INI MELENCENG! AWAS!"**

Sebuah jeritan melengking menyambutnya. Baru satu detik Kael berdiri di dalam ruangan, sebuah bola angin seukuran kepala manusia melesat tak terkendali dari sudut kelas, berputar tidak stabil langsung ke arah wajah Kael.

Di sudut ruangan, seorang remaja laki-laki berambut ikal meringkuk di bawah meja, menutupi kepalanya dengan tas kulit. "Kita bakal mati! Tolong bilang ini nggak bakal meledak!"

Waktu seakan melambat bagi Kael. Di pandangan Kael, bola angin itu bukanlah ancaman mematikan; itu hanyalah sebongkah paket data dengan koordinat X dan Y yang salah ketik.

Ibu jari Kael bergeser satu milimeter, menyentuh cincin perak di jari telunjuknya. *Override,* perintah Kael dalam hati.

Tanpa kilatan cahaya atau gema mantra, Kael membelokkan "alamat" target bola angin tersebut di udara. Tepat lima sentimeter sebelum menghantam hidung Kael, bola angin itu berbelok tajam dengan sudut 90 derajat yang menyalahi hukum fisika. Benda itu menghantam sebuah ember pel di sudut ruangan hingga pecah, menumpahkan air kotor ke lantai.

Remaja di bawah meja perlahan mengintip. "Woah... astaga," ia merangkak keluar, membersihkan debu dari jubah abu-abunya. "Gila, gue kira lo bakal rata sama lantai tadi! Anginnya tiba-tiba belok sendiri? Hoki banget lo, sumpah!" Ia mengulurkan tangan yang gemetar. "G-gue Bax. Spesialis... eh, ledakan tak terduga."

Kael melirik tangan Bax yang terjulur, lalu menatap residu *mana* dari mantra Bax yang berhamburan liar di udara.

"Struktur mantramu terlalu longgar. Kau membuang empat puluh persen energi di titik pelepasan. Tidak efisien," ucap Kael datar. Suaranya tenang, nyaris seperti mesin otomatis yang membacakan laporan kerusakan.

Bax menarik tangannya, menggaruk kepalanya. "Hah? Struktur apa?"

"Dimengerti," balas Kael singkat. Kael berjalan melewati remaja itu, memilih kursi di baris paling belakang yang letaknya tepat di atas titik buta formasi sihir pengawas ruangan ini.

Begitu duduk, Kael tidak mengeluarkan buku. Ia menyandarkan punggungnya, membiarkan jari-jarinya mengetuk pelan tepi meja kayu. *Tap. Tap. Tap.* Ia mulai memetakan jalur jaringan magis akademi dari terminal barunya ini.

Bax menelan ludah. "Oke... orang aneh baru masuk," bisiknya.

Sementara itu, di luar ruangan, tanpa Kael atau Bax sadari, sebuah gagak ilusi dengan mata semerah saga bertengger di dahan pohon kering. Melalui mata gagak tersebut, jauh di dalam perpustakaan tua, Elara Vane sedang duduk mencatat sesuatu di perkamennya dengan senyum miring.

*"Angin tidak membelok secara instan tanpa gangguan spasial,"* gumam Elara. Ujung bulu angsanya menari di atas perkamen. *"Variabel yang sangat, sangat menarik."*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!