NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 . Kartu ATM

Malam semakin larut. Aku akhirnya selesai mandi dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Rasanya seluruh badanku pegal. Aku bahkan belum sempat memejamkan mata ketika ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari bagian keuangan kantor.

"Selamat bergabung. Gaji karyawan baru akan ditransfer setiap tanggal 28 ke rekening masing-masing. Mohon memastikan data rekening sudah sesuai."

Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.

Setidaknya...

Gajiku akan langsung masuk ke rekening pribadiku. Aku mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. Tanpa kusadari... Dari balik pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata memperhatikan layar ponselku sejak tadi.

Bu Mirna berdiri diam. Tatapannya berhenti pada satu kalimat yang sempat muncul di layar.

"..ditransfer ke rekening masing-masing."

Perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya.

"Kalau begitu...rekeningnya saja yang harus Mama pegang."

Aku sama sekali tidak mendengar gumaman nya. Aku sudah terlelap karena terlalu lelah. Tanpa mengetahui... Bahwa seseorang mulai menyusun rencana baru untuk menguasai hasil kerja kerasku.

***

Sebulan berlalu sejak aku mulai bekerja. Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan rutinitas ku. Bangun pukul empat pagi. Seperti biasa Memasak, Mencuci piring, Menyapu, Mengepel. Lalu berangkat bekerja.

Sore harinya pulang, aku kembali mencuci pakaian, memasak makan malam, dan membereskan rumah hingga hampir pukul sepuluh malam. Tubuhku memang lelah. Namun aku tetap bertahan. Aku berpikir, mungkin suatu saat nanti Mama akan melihat kesungguhanku dan mulai menerimaku sebagai bagian dari keluarga.

Pagi itu, saat sedang menyetrika pakaian kerja Mas Viyan, ponselku berbunyi. Sebuah pesan dari bagian HRD.

"Selamat pagi, Bu Fitri. Mohon dipastikan data rekening payroll sudah benar. Gaji bulan ini akan ditransfer besok pagi."

Aku tersenyum kecil. Besok adalah hari gajian pertamaku. Bukan karena nominalnya. Melainkan karena itu adalah hasil kerja pertamaku setelah menikah. Aku ingin mengajak Mas Viyan makan malam sederhana sebagai bentuk rasa syukur.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Mas Viyan.

Suara Mas Viyan membuatku menoleh.

"Besok gajian, Mas." Jawabku dengan tersenyum lebar.

"Wah...Selamat ya."Mas Viyan ikut tersenyum.

"Besok malam kita makan di luar yuk mas." Ajak ku.

"Loh, enggak usah sayang. Mending buat beli kebutuhan kamu aja" Tolak Mas Viyan.

"Sesekali saja mas." Ucapku lagi.

"Sayang uangnya sayang."

Aku tersenyum jahil.

"Anggap saja aku traktir suamiku."

Mas Viyan terkekeh pelan. "Ya sudah. Kalau itu maunya istriku."

Aku mengangguk senang. Tanpa kami sadari... Bu Mirna berdiri di balik pintu dapur sejak tadi. Beliau mendengar semua pembicaraan kami.

Siang harinya, saat aku sedang bekerja, Bu Mirna menghubungi Mas Viyan.

"Yan."

"Iya, Ma."

"Besok Fitri gajian ya?"

"Iya, Ma."

"Bagus."

"Emang kenapa ma?" Tanya Mas Viyan.

"Suruh nanti kartu ATM sama buku tabungannya kasih ke Mama."

Mas Viyan langsung terdiam lalu menjawab "Untuk apa, Ma?"

"Biar aman."

"Kan Fitri bisa pegang sendiri." Ucap Mas Viyan lagi.

"Namanya juga perempuan. Mama lebih pengalaman mengatur uang." Ucap Bu Mirna.

Mas Viyan tampak ragu dan berkata "Nanti aku bicarakan dulu sama Fitri ya, Ma."

"Loh. Masa sama istri sendiri harus dibicarakan? Uang istri itu suami juga ada hak. Kamu kan kepala keluarga, ya terserah kamu lah" Ucap Bu Mirna.

"Ya kan itu uangnya Fitri ma."

Bu Mirna mulai menghela napas panjang.

"Yan."

"Kenapa lagi ma?"

"Kamu berubah ya sekarang." Ucap Bu Mirna.

"Ma, bukan berubah tapi.." Ucap Mas Viyan namun di potong

"Dulu semua uang kamu Mama yang pegang. Kenapa sekarang berubah?"

"Maa.. Kan Viyan udah ada Fitri maa. Dia istri aku."

"Sekarang gara-gara istri, Mama sudah enggak dipercaya." Ucap Bu Mirna keras kepala.

Mas Viyan memijat pelipisnya. "Ma, jangan begitu."

"Ya sudah." Bu Mirna menutup telepon lebih dulu.

Malam harinya. Aku sedang melipat pakaian bersih ketika Mas Viyan masuk ke kamar. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Mas? Lagi mikirin apa?" Tanyaku perhatian.

"Hm."

"Ada masalah di kantor?" Tanyaku lagi.

"Enggak ada sayang." Jawabnya.

"Lalu?"

Mas Viyan duduk di sampingku.

"Sayang."

"Iya mas?"

"Besok kamu gajian kan?"

"Iya."

"Ehmm..." Beliau tampak ragu.

"Mama minta ATM kamu." Ucap Mas Viyan lirih.

Tanganku yang sedang melipat pakaian langsung berhenti.

"ATM?" Ucapku heran.

"Iya."

"Buat apa mas?" Ucapku.

"Katanya biar Mama yang mengatur." Jawabnya.

Aku menatap wajah suamiku beberapa detik.

"Mas. Kalau ATM itu aku kasih...apa Mas yakin uangnya akan tetap utuh?" Tanyaku.

Mas Viyan tidak langsung menjawab.

Aku melanjutkan. "Aku enggak keberatan membantu kebutuhan rumah. Tapi kalau ATM aku dipegang orang lain...Aku enggak bisa mengatur keuangan rumah tangga kita."

Mas Viyan mengusap wajahnya pelan.

"Aku paham sayang. Mas juga engga bisa berfikir jernih di setiap mama minta sesuatu sampai ngambek begitu"

"Ngambek? Mama sebegitu nya ingin pegang Atm ku mas?" Tanya ku begitu.

"Iya.. tadi beliau telpon mas tiba-tiba bilang gitu"

"Tapi Aku juga ingin belajar menabung buat masa depan kita mas." Ucapku jelas.

"Aku tahu sayang."

Aku menggenggam tangan suamiku. "Mas. Kita baru menikah. Insyaallah nanti kita punya rumah sendiri. Punya anak dan banyak kebutuhan lainnya. Kalau dari sekarang kita enggak belajar mengatur keuangan...kapan lagi?"

Mas Viyan mengangguk pelan.

"Iya. Mas setuju."

Hatiku sedikit lega.Aku kembali menatapnya. "Tapi...Mas yang ngomong sama Mama ya. "Mas menarik napas panjang.

"Iya. Akan Mas coba."

Aku tahu. Menghadapi Bu Mirna, mertuaku bukanlah hal yang mudah bagi suamiku.

Keesokan paginya. Aku baru saja selesai sarapan ketika Bu Mirna menghampiriku.

"Fitri." Panggil mertua ku.

"Iya, Ma."

"Hari ini gajian ya?"

"Iya, Ma." Jawabku singkat.

"Nanti pulang kerja jangan lupa."

Aku tersenyum sopan.

"Iya, Ma."

"Kartu ATM sama buku tabungannya Mama simpan."

Senyumku perlahan menghilang.

"Ma..."

Belum sempat aku menjelaskan, Mas Viyan yang baru keluar kamar langsung menyela.

"Ma... ATM Fitri biar dipegang Fitri saja." ucap Mas Viyan.

Suasana mendadak hening. Bu Mirna memandang anaknya cukup lama.

"Lho...kenapa?"

"Soalnya kami mau belajar mengatur keuangan sendiri." Jawaban Mas Viyan terdengar pelan, tetapi tegas.

Untuk pertama kalinya... Ia tidak langsung mengiyakan permintaan ibunya. Wajah Bu Mirna langsung berubah.

"Oh...jadi sekarang Mama sudah enggak boleh pegang apa-apa lagi?"

"Bukan begitu, Ma."

"Lalu bagaimana?"

"Kami tetap akan membantu kebutuhan rumah."

Bu Mirna tersenyum. Namun senyum itu terasa begitu dipaksakan.

"Iya sudah. Mama ngerti sekarang."

Beliau berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Saat melewati ku, beliau berbisik sangat pelan.

"Fitri..."

Aku menoleh.

"Kamu hebat ya. Mama enggak sangka...baru beberapa bulan menikah, kamu sudah bisa membuat anak Mama berani melawan orang tuanya." Ucap pelan Bu Mirna.

Jantungku langsung berdegup kencang. Aku ingin menjelaskan. Namun Bu Mirna sudah lebih dulu masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Aku berdiri mematung. Sedangkan Mas Viyan tidak mendengar satu kata pun yang baru saja diucapkan ibunya.

Dan aku mulai menyadari... Hari ini bukan akhir dari masalah. Melainkan awal dari permainan baru yang akan membuat hubungan ibu dan anak itu perlahan retak karena ulah seseorang yang selalu merasa dirinya paling benar.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!