Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Sang Miliader
Lantai 50.
Di sinilah puncak dari rantai makanan dunia bisnis ibu kota berkumpul.
Dari balik dinding kaca setinggi empat meter yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu jalanan mirip hamparan debu intan,.
Andra berdiri dalam keheningan.
Asap tipis dari rokok yang dijepit jemarinya mengepul pelan,
membuyar di udara berpendingin ruangan sebelum akhirnya lenyap.
Di luar sana,
jutaan orang berdarah-darah membanting tulang demi sesuap nasi.
Sementara di ruangan ini—dengan satu jentikan jari saja—Andra bisa mengubah jalannya roda ekonomi sebuah negara.
Di usianya yang baru menginjak kepala tiga,
titelnya terdengar mengerikan bagi para pesaing: CEO Utama PT Adhikari Corp.
Konglomerat raksasa yang mencengkeram sektor properti hingga teknologi.
Tapi apa gunanya punya brankas yang takkan habis dalam tujuh turunan.
Kalau setiap kali memandang cermin, yang kau lihat hanyalah sekumpulan topeng?
Andra mematikan puntung rokoknya di asbak kristal.
Ia menghela napas panjang, berat.
Semenjak posisinya di puncak, hidupnya berubah jadi panggung sandiwara raksasa.
Wanita-wanita berbalut gaun haute couture dan wangi parfum mahal antre mendekatinya.
Mereka tersenyum manis,
memuji ketampanannya,
menatapnya dengan binar penuh puja-puji.
Akan tetapi Andra tidak tergiur sedikit pun dengan semua itu.
Andra tahu betul apa yang sebenarnya mereka tatap.
Bukan wajahnya.
Bukan hatinya.
Mereka sedang menatap lembar saham,
saldo rekening berseri-seri,
dan kunci mobil sport yang tergeletak di atas meja.
Mereka mencintai statusnya, bukan orangnya.
Belum lagi intrik busuk dari para dewan direksi yang mulai berani menikam dari belakang demi merebut kursi kekuasaannya.
"Sudah terlalu lama aku hidup di dalam sangkar emas ini,"
gumam Andra pelan, suaranya berat bergesek dengan keheningan malam.
Malam itu, sebuah kegilaan merayap di kepalanya.
Sebuah ide nekat yang kalau didengar oleh sekretaris pribadinya mungkin bakal membuat pria tua itu jantungan di tempat.
Andra ingin berhenti jadi orang kaya.
Ia ingin turun ke jalan, menanggalkan seluruh atribut kekuasaannya, dan mencari satu hal yang paling langka di dunianya: ketulusan yang murni tanpa embel-embel harta.
Langkah kakinya menggema tegas di atas lantai marmer ruangan kerjanya.
Tanpa memanggil siapa pun, Andra membuka lemari rahasia di sudut ruangan.
Di dalam sana tersimpan sebuah ransel kain kumal dan beberapa helai pakaian murah—pakaian yang dibelinya secara anonim beberapa hari lalu.
Ia melepas jam tangan berlapis emas putih berharga miliaran rupiah dari pergelangan tangannya.
Menggantinya dengan jam tangan plastik murah yang mati sebelah.
Setelan jas rancangan desainer Italia miliknya dilepas, lalu ditukar dengan jaket kain usang yang sudah sedikit pudar warnanya.
Di depan cermin besar, pria yang tadinya memancarkan aura penguasa mutlak itu kini bertransformasi menjadi sosok pria biasa, nyaris seperti gelandangan kota.
"Mari kita lihat,
siapa yang benar-benar tulus melihatku saat aku tak punya apa-apa,"
bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.
Pukul dua belas malam, lift pribadi lantai 50 membawanya turun ke basement sunyi, menghindari sorot mata para pengawalnya.
Andra melangkah keluar gedung.
Langkah kakinya menapak keluar dari pintu belakang basement.
Meninggalkan kemegahan lobi utama gedung Adhikari Corp yang biasa dijaga ketat oleh barisan satuan pengamanan.
Udara malam ibu kota langsung menyergap kulitnya, terasa jauh lebih pekat dan berat dibandingkan udara steril dari pendingin ruangan lantai 50 tadi.
Bau aspal basah bercampur asap knalpot jalanan menyambutnya—sebuah aroma realitas yang sudah bertahun-tahun tidak ia hirup secara langsung.
Di saku jaket kain usang miliknya, ponsel mewahnya telah ia matikan dan dibuang ke dalam laci meja kerjanya.
Sebagai gantinya, sebuah ponsel jadul dengan kartu SIM prabayar tanpa nama terselip di sana.
Uang tunai secukupnya hasil tarikan ATM terakhir bergesekan dengan lembar-lembar uang lecek di dalam dompet kulit sintetis yang murah.
Andra berjalan kaki meninggalkan kawasan segitiga emas perkantoran.
Semakin jauh ia melangkah, gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca yang menjulang angkuh itu perlahan-lahan berganti rupa.
Lampu-lampu neon kota yang tadinya berpendar mewah mulai meredup.
Digantikan oleh deretan warung tenda emperan jalan, lampu petromak pedagang kaki lima, dan lorong-lorong permukiman padat penduduk.
Kakinya terus membawa menyusuri trotoar yang mulai sepi.
Di sebuah sudut persimpangan jalan yang remang-remang, di bawah naungan jembatan penyeberangan yang catnya sudah mengelupas, hiruk-pikuk malam terasa berbeda.
Di sinilah denyut nadi kehidupan kelas bawah berdetak kencang—tempat orang-orang berjuang mati-matian hanya untuk memastikan perut mereka tidak lapar keesokan paginya.
Tiba-tiba, suara rintihan kecil dan suara barang terjatuh menghentikan langkah Andra.
Di dekat sebuah warung kopi kecil yang hampir tutup, seorang wanita berpenampilan sederhana sedang membereskan kursi plastik yang berserakan.
Sebuah kotak kardus berisi botol-botol sirup kemasan tidak sengaja tersenggol oleh sikunya sendiri.
Membuat benda-benda itu meluncur jatuh dan berserakan di atas paving block yang kasar.
Beberapa botol bahkan pecah, meninggalkan genangan cairan manis yang langsung dikerubungi semut.
Wanita itu langsung berjongkok panik, mencoba memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar tanpa alas pelindung apa pun.
"Aduh...
ya ampun, malah tumpah,"
gumamnya lirih,
terdengar keputusasaan yang kentara di balik suaranya yang lelah.
Tanpa berpikir panjang, Andra mengubah arah langkahnya.
Ia mendekati wanita itu, lalu ikut berjongkok di atas dinginnya tanah.
Jemari tangannya yang biasa meneken kontrak triliunan rupiah kini bergerak memunguti pecahan kaca yang berserakan dengan hati-hati.
"Pelan-pelan, nanti tanganmu bisa terluka,"
suara Andra terdengar tenang, memecah kesunyian malam di sudut jalan itu.
Wanita itu tertegun, mendongakkan kepalanya perlahan.
Di bawah lampu neon warung yang berkedip-kedip, wajah wanita itu terlihat penat, namun sorot matanya memancarkan kelembutan yang luar biasa tulus.
Rambut sebahunya sedikit berantakan karena angin malam.
Itulah pertama kalinya Andra menatap mata Kirana—wanita yang kelak mengubah arti hidupnya secara keseluruhan.
Sentuhan tangan Andra yang ikut memungut pecahan kaca membuat Kirana buru-buru menarik napas.
Wanita itu mengedipkan mata beberapa kali, seolah tak percaya ada orang asing yang mau repot-repot membantunya di jam rawan seperti ini.
"Ah... tidak usah, Mas.
Nanti tangan sampeyan ikut terluka.
Biar saya saja,"
ujar Kirana dengan suara lembut yang terdengar serak karena kelelahan seharian bekerja.
"Sudah terlanjur pegang.
Lagian bahaya kalau dibiarkan berserakan di jalan begini, nanti kena kaki orang lewat," balas Andra santai.
Suaranya yang berat dan tenang berhasil meredakan kepanikan di wajah Kirana.
Setelah pecahan kaca dan barang-barang yang berserakan berhasil dibersihkan, Andra turut membantu merapikan kursi-kursi plastik warung tersebut hingga tersusun rapi di dekat meja.
Kirana menatap pria berjaket usang itu dengan penuh rasa terima kasih.
Melihat kondisi Andra yang tampak sebatang kara dan tidak membawa barang bawaan, nurani wanita itu terketuk.
"Kawasan sini sudah sepi, Mas.
Kalau belum punya tempat tinggal malam ini, silakan berteduh di bilik kecil samping warung," kata Kirana menawarkan tempat secara tulus.
"Ada tikar tipis di sana yang bisa dipakai istirahat sampai pagi."
Andra menatap kunci dan pintu bilik yang ditunjukkan Kirana.
Untuk seorang mantan miliarder, tempat itu tentu jauh dari kata layak.
Namun, kehangatan dan ketulusan yang ditunjukkan oleh wanita di hadapannya jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan di lantai 50 yang baru saja ditinggalkannya.
"Terima kasih, Kir," jawab Andra singkat namun penuh makna.
Malam itu, di bawah atap seng warung sederhana yang sunyi, sang mantan CEO merebahkan tubuhnya di atas lantai semen yang dingin.
Menatap langit-langit gelap dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Sebuah babak baru dalam hidupnya resmi dimulai, mengubah jalan takdirnya selamanya dan bersiap menyambut badai baru yang menanti di keesokan harinya.