NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Tumpeng untuk Sang Kolonel

Kendaraan Kolonel Sutrisno berhenti di depan aula ketika kremes terakhir baru diangkat dari minyak.

Parjo menutup wadah rendang. Laras memeriksa ujung tumpeng yang berdiri tegak di atas tampah berlapis daun pisang. Bu Ratna dan regu penerima tamu sudah berbaris di depan, sementara para prajurit serta keluarga memenuhi kursi.

“Jangan panik,” kata Laras. “Kita sudah terlambat untuk panik.”

Parjo menelan ludah. “Kalimat Bu Guru tidak membantu.”

“Tangan Bapak berhenti gemetar.”

Parjo melihat tangannya sendiri. Laras benar.

Di aula, Kolonel Sutrisno duduk di tengah meja utama. Bima berada di satu sisi, Sudibyo di sisi lain. Beberapa perwira staf mengambil tempat sesuai urutan. Satya berada bersama Bu Titin dekat pintu dapur agar Laras bisa menyusui jika diperlukan tanpa keluar jauh.

Acara dibuka dengan doa dan laporan singkat. Setelah itu tumpeng dibawa masuk.

Warna kuning nasi mengilap lembut, dikelilingi ayam kremes, urap, tempe tahu bacem, telur pindang, sambal merah, lalapan, dan hiasan daun pisang yang dipotong rapi. Tidak ada bahan mahal yang dipamerkan, tetapi setiap warna memiliki tempat.

Percakapan di aula menurun.

Kolonel Sutrisno mengamati tampah. “Dapur batalyon sekarang belajar berdandan?”

Parjo berdiri tegak. “Siap, Pak Kolonel. Hasil latihan bersama.”

Potongan puncak tumpeng diserahkan kepada prajurit berprestasi, bukan kepada perwira paling tinggi. Kolonel mengangguk puas. Setelah simbolis selesai, hidangan dibagi.

Ayam goreng menghasilkan bunyi renyah saat dipotong. Kremesnya tipis, tidak berminyak. Urap tetap segar, kelapa berbumbu tidak basah. Tempe bacem berwarna cokelat tua dengan rasa manis yang tidak menutup ketumbar.

Seorang staf mengambil tempe kedua.

“Ini menu anggaran atau menu restoran?” tanyanya.

Parjo menjawab, “Menu dapur, Pak.”

Di meja keluarga, anak-anak mencari kremes. Para ibu yang semula meragukan menu tempe mulai meminta sambal tambahan. Bu Ratna duduk kaku ketika Bu Darmi memuji urap di depan semua orang.

Laras tetap di balik pintu dapur. Ia melihat aliran piring, bukan wajah pejabat. Regu penyaji mencatat hidangan mana yang paling cepat habis. Ketika satu nampan ayam menipis, ia menahan mereka agar tidak membuka cadangan terlalu awal.

“Meja belakang belum dapat,” katanya. “Jangan semua dibawa ke depan.”

Pembagian tetap merata.

Di tengah penyajian, satu masalah muncul. Tumpeng kedua mulai retak karena dibiarkan terlalu dekat dengan kipas. Regu penyaji panik dan hendak menutup retakan dengan hiasan cabai.

“Jangan sembunyikan nasi kering di bawah hiasan,” kata Laras. “Ambil bagian yang retak untuk porsi dapur. Pakai tumpeng cadangan yang masih tertutup.”

Bu Ratna mendengar. “Kalau cadangan dibuka sekarang, meja keluarga belakang dapat apa?”

“Nasi kuning dalam bak tetap cukup. Tumpeng hanya bentuk penyajian.”

“Tamu akan melihat ada dua bentuk berbeda.”

“Tamu lebih ingat rasa dan apakah semua kebagian.”

Laras tidak memberi kesempatan perdebatan. Tumpeng retak dipindahkan, cadangan masuk, dan porsi dapur tetap layak dimakan. Tidak ada makanan dibuang demi tampilan.

Seorang prajurit dari meja belakang datang membawa piring kosong. “Bu, urapnya masih ada? Anak saya baru mau makan sayur kalau dicampur kelapa itu.”

Laras memberikan satu porsi kecil dan mencatat permintaan. Bagi dirinya, pujian tersebut sama pentingnya dengan komentar Kolonel. Menu murah berhasil memberi makan anak yang biasanya menolak sayur.

Di meja prajurit, sambal teri habis lebih dulu. Regu dapur tidak menambah garam pada batch baru, karena teri yang tersisa lebih asin. Keputusan kecil itu mencegah rasa berubah saat acara berjalan.

Parjo mulai memahami apa yang dimaksud Laras dengan menjaga proses, bukan menghafal resep. Ia memeriksa setiap nampan sebelum keluar, tetapi tidak lagi menunggu Laras memberi perintah.

“Meja depan cukup. Kirim ayam ke penjaga gerbang,” katanya.

Laras mendengar dan tersenyum. Dapur itu sudah mulai berdiri dengan kakinya sendiri.

Kemudian rendang keluar.

Panci meja umum lebih dulu dibuka. Aroma santan matang, serai, lengkuas, dan daging yang dimasak semalaman menyebar di aula. Beberapa orang langsung menoleh sebelum nampan mencapai meja.

Porsi meja utama datang terakhir. Potongannya utuh, bumbu gelap menempel tebal, minyak merah kecokelatan hanya membasahi dasar wadah.

Kolonel Sutrisno mengambil satu potong. Ia memotong dengan sendok. Daging terbelah tanpa hancur.

Suapan pertama membuat tangannya berhenti.

Bima melihat perubahan itu. Sudibyo pun berhenti bicara.

Kolonel mengunyah perlahan, lalu mengambil sedikit bumbu dengan nasi.

“Parjo.”

“Siap, Pak Kolonel.”

“Kamu mencuri juru masak Korem?”

Tawa pecah di meja.

Parjo berdiri semakin tegak. “Tidak, Pak. Kami belajar memperbaiki urutan masak.”

“Ini lebih enak daripada dapur Korem.” Kolonel mengambil potongan kedua. “Santannya matang, dagingnya tidak mati. Siapa yang pegang panci?”

Parjo melirik dapur sekilas, lalu mengingat pesan Laras. “Anak-anak bergiliran, Pak. Hasil kerja bersama.”

“Jawaban aman.”

“Jawaban benar, Pak.”

Kolonel tertawa. “Bagus. Kalau satu orang pergi dan dapur kembali buruk, berarti kalian tidak belajar.”

Laras mendengar dari balik pintu dan mengembuskan napas lega. Itulah tepatnya alasan ia menolak mengambil semua pujian.

Seorang ajudan mendekati dapur untuk meminta tambahan rendang. Parjo menyerahkan satu nampan, tetapi Laras menahan wadah cadangan.

“Sisakan untuk prajurit jaga malam.”

“Meja utama minta lagi.”

“Berikan separuh. Penjaga gerbang juga bagian acara.”

Ajudan mendengar dan mengangguk. “Benar. Separuh cukup.”

Sikap itu kemudian sampai ke telinga Kolonel. Ia menoleh ke arah dapur, tepat saat Laras keluar untuk mengambil Satya yang mulai rewel.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Kolonel melihat seorang perempuan muda dengan celemek sederhana, bukan koki berseragam. Bima mengikuti arah pandangnya dan sedikit menggeser posisi, seolah secara naluriah menutup Laras dari perhatian terlalu lama.

“Itu pelatih teknis?” tanya Kolonel.

Sudibyo menjawab lebih dulu, “Ibu susuan anak Pak Bima. Katanya pandai masak.”

Nada `katanya` membuat Bima menatapnya dingin.

Parjo maju. “Bu Laras membantu kami menyusun teknik, Pak. Tapi seluruh regu menjalankan.”

Kolonel mengangguk. “Panggil setelah anaknya tenang.”

Laras menyusui Satya di ruang perempuan. Jantungnya berdegup bukan karena takut dipuji, melainkan karena nama dan pekerjaannya kini tidak bisa lagi disembunyikan sepenuhnya.

Ketika kembali, ia berdiri di tepi meja dengan Bu Titin di dekat pintu dan banyak orang masih berada di aula.

“Mbak Laras,” kata Kolonel, “belajar memasak di mana?”

“Dari keluarga, pasar, warung, dan banyak kegagalan, Pak.”

“Sekolah tata boga?”

“Tidak.”

“Tapi kamu membuat sistem kerja seperti orang yang pernah mengelola katering.”

“Kalau makanan untuk ratusan orang hanya bergantung pada ingatan satu orang, dapurnya mudah kacau. Saya cuma menulis urutan dan membagi tanggung jawab.”

“Berapa kenaikan anggarannya dibanding menu bulan lalu?”

Petugas perbekalan menyerahkan lembar biaya. “Tidak sampai lima persen, Pak. Tambahan rempah tertutup penghematan sayur kebun dan pengurangan sisa makanan.”

Kolonel membaca angka sisa. “Turun hampir separuh?”

“Prajurit mengambil sesuai kebutuhan karena lauknya dimakan, bukan ditinggalkan,” jawab Laras.

“Kamu menghitung sisa juga?”

“Yang dibuang tetap uang satuan.”

Kolonel memandang Parjo. “Pertahankan cara ini setelah acara. Jangan hanya cantik ketika atasan datang.”

“Siap, Pak.”

“Dan jangan sembunyikan pelatihnya sampai orang mengira tempe berubah enak karena mukjizat.”

Tawa kecil terdengar. Laras menunduk, sementara Bu Ratna semakin sulit mengangkat wajah.

Kolonel menatap lembar kecil yang dibawa Parjo, penuh tanda waktu dan suhu.

“Bukan cuma bisa masak,” katanya. “Bisa membuat orang lain ikut bisa.”

Bu Ratna menunduk pada piringnya.

Kolonel kemudian mengumumkan bahwa dapur batalyon akan direkomendasikan mengikuti lomba masak antar-satuan tingkat Korem. Parjo tampak seperti lupa cara bernapas. Dua prajurit muda saling memukul bahu.

“Jangan senang dulu,” kata Kolonel. “Di lomba, lawannya dapur yang punya peralatan lebih bagus.”

“Siap, Pak. Kami latihan.”

“Pelatihnya dipakai.”

Semua mata beralih kepada Laras.

Ia menunduk hormat. “Kalau penugasannya resmi dan pengasuhan Satya tetap terjaga, saya siap membantu.”

Jawaban itu membuat Kolonel tersenyum. “Pandai menjaga syarat.”

“Supaya tidak ada yang saling menyalahkan, Pak.”

Bima menyembunyikan kebanggaan di balik gelas air. Sudibyo justru mengamati Laras dengan kecurigaan yang tumbuh.

Acara berakhir setelah malam. Tumpeng hanya tersisa bagian dasar. Panci rendang hampir bersih. Parjo memastikan penjaga malam mendapat porsi sebelum menyimpan alat.

Saat Kolonel hendak pergi, ia memanggil ajudan.

“Rendang masih ada?”

Parjo melihat Laras. Perempuan itu mengangguk pada wadah kecil yang memang disisihkan sebagai sampel.

“Ada, Pak.”

“Bungkus satu. Istri saya harus percaya dapur batalyon bisa mengalahkan Korem.”

Tawa kembali terdengar.

Kolonel membawa pulang satu wadah rendang bersama surat rekomendasi yang akan dikirim esok hari.

Di luar aula, Parjo menahan air mata. “Bu Guru, bulan lalu kami diketawakan karena sayur lembek.”

“Hari ini belum selesai. Panci harus dicuci.”

“Boleh saya terharu sambil mencuci?”

“Boleh.”

Laras tersenyum, lalu membawa Satya pulang bersama Bu Titin. Ia belum melihat Sudibyo meninggalkan aula lebih awal.

Di kantornya, Sudibyo membuka arsip Laras. Putri guru desa. Istri prajurit gugur. Tidak pernah sekolah tata boga. Tidak punya pekerjaan resmi sebelum menjadi ibu susuan.

Namun perempuan itu mampu menyusun pengadaan, pembagian tugas, keamanan bahan, dan menu untuk ratusan orang.

Sudibyo mengetuk foto identitas Laras dengan ujung jari.

“Aneh,” gumamnya.

Ia menutup map, lalu membukanya lagi.

“Ada orang yang seluruh dasarnya tidak cukup ditampung satu arsip.”

Lampu meja menyala sampai larut, sementara foto Laras tetap berada di bawah jarinya.

Kecurigaan itu kini bercampur dengan keinginan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!