NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demo

Pagi itu, langit Jakarta mendung kelabu. Angin kencang menerbangkan selebaran-selebaran putih bertuliskan "#SirenDurhaka" ke udara. Di depan gerbang utama Wijaya Tower, sekitar tiga puluh wanita paruh baya berdiri berbaris. Mereka memegang spanduk merah dengan tulisan provokatif: "ISTRI DURHAKA HANCURKAN KELUARGA!" dan "KEMBALIKAN SUAMI SAH!".

Di barisan paling depan, Ibu Ratna—mantan ibu mertuaku—berdiri dengan mikrofon di tangan. Wajahnya dipoles tebal, rambutnya disanggul rapi, tapi matanya menyala karena kemarahan yang dipaksakan. Ia melihat mobil hitam mewah kami mendekat.

"Ayo teriak lebih keras!" seru Ibu Ratna pada pengikutnya. "Jangan biarkan wanita laknat itu masuk!"

Mobil berhenti. Pintu terbuka. Aku melangkah keluar, mengenakan blazer putih bersih dan rok pensil hitam. Penampilanku sederhana namun elegan, kontras dengan kekacauan di depanku. Arya turun dari sisi lain, posturnya tegak, wajahnya datar seperti batu granit.

"Lihat! Dia datang!" teriak salah satu wanita di kerumunan. "Wajah tidak punya malu!"

Ibu Ratna maju selangkah, mengarahkan mikrofon padaku. Suaranya melengking melalui speaker portable.

"Siren! Kamu berani muncul di sini? Setelah menceraikan anak saya yang sedang sakit? Setelah mengambil semua hartanya? Tuhan tidak akan mengampuni dosa-dosamu!"

Aku berhenti tepat lima meter darinya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan dingin. Aku menatapnya lurus, lalu tersenyum tipis. Senyum yang membuat Ibu Ratna sedikit mundur instingtif.

"Ibu Ratna," ucapku, suaraku jelas tanpa perlu mikrofon, karena keheningan tiba-tiba menyelimuti area itu saat para wartawan media mulai mengerumuni kami.

"Apakah 'sakit' yang Ibu maksud adalah sakit hati karena uang haram hasil korupsi Fadli sudah habis diblokir?"

Kerumunan bergumam kaget. Ibu Ratna memerah.

"Kamu... kamu jangan memfitnah!" desisnya, jarinya menunjuk-nunjuk wajahku.

"Fadli itu korban! Korban hasutanmu! Kamu wanita modern yang tidak tahu adat! Istri harusnya sabar, melayani suami, bukan menggugat cerai seenaknya!"

"Sabar?" ulangku, nadaku naik sedikit, cukup untuk didengar semua orang.

"Saya sudah sabar lima tahun, Bu. Sabar saat Ibu meminta saya memasak untuk tamu-tamu bisnis Fadli sementara Ibu duduk santai menonton sinetron. Sabar saat Ibu menghina masakan saya di depan tetangga. Sabar saat Ibu diam saja mengetahui Fadli berselingkuh, asalkan Nia memberi Ibu tas Hermes palsu."

"Bohong!" teriak Ibu Ratna, tapi suaranya gemetar.

"Itu fitnah! Saya ibu yang saleh! Saya rajin ke pengajian!"

"Rajin ke pengajian, tapi uangnya dari mana, Bu?" potongku tajam. Aku mengeluarkan ponselku, membuka galeri foto, dan memutarkannya ke arah kamera wartawan yang sudah siap merekam.

"Ini adalah screenshot transfer bulanan dari rekening offshore Fadli ke rekening pribadi Ibu. Total dua ratus juta per bulan. Uang yang berasal dari mark-up proyek pemerintah. Apakah ibu-ibu di sini juga menerima uang haram dari keluarga korup?"

Para wanita di belakang Ibu Ratna saling pandang panik. Beberapa mulai menjauh perlahan.

"K-Kamu mencuri data pribadi!" teriak Ibu Ratna, mencoba mengalihkan isu.

"Ini pelanggaran privasi!"

"Ini bukti kejahatan, Bu," jawab Arya tiba-tiba, suaranya berat dan berwibawa. Ia melangkah maju, berdiri di sampingku. Kehadirannya yang dominan membuat kerumunan mundur selangkah.

"Dan menurut Pasal 38 UU Tipikor, menerima harta hasil korupsi adalah tindak pidana pencucian uang. Polisi sudah memiliki salinan bukti ini. Pertanyaannya sekarang, apakah Ibu Ratna ingin menyerahkan diri secara sukarela, atau menunggu jemputan paksa di rumah nanti sore?"

Wajah Ibu Ratna pucat pasi. Kakinya goyah. Mikrofon jatuh dari tangannya, menghasilkan suara feedback nyaring yang menusuk telinga.

"Kamu... kamu jahat..." bisiknya, air mata buaya mulai mengalir.

"Kalian berdua konspirasi jahat! Mau menghancurkan keluarga kami!"

"Bukan kami yang menghancurkan keluarga Ibu," ucapku lembut, tapi dingin.

"Tapi keserakahan Ibu sendiri. Fadli mencuri uang negara. Nia menipu perusahaan. Dan Ibu? Ibu menikmati hasilnya sambil berpura-pura suci. Hari ini, topeng itu runtuh, Bu. Bukan karena saya durhaka. Tapi karena kebenaran akhirnya berbicara."

Seorang wartawan memberanikan diri bertanya, "Nyonya Siren, apakah benar Ibu Ratna menerima dana ilegal?"

"Semua bukti sudah diserahkan ke KPK pagi tadi," jawab Arya singkat, sebelum aku sempat menjawab.

"Silakan konfirmasi ke pihak berwenang. Wijaya Group tidak berkomentar lebih lanjut mengenai kasus pidana individu."

Ibu Ratna menatap kami dengan tatapan penuh kebencian murni. Lalu, ia berbalik, menarik lengan salah satu pengikutnya.

"Ayo pulang! Mereka gila! Mereka setan!" teriaknya histeris.

Para pengikutnya, yang awalnya semangat, kini terlihat ragu dan takut. Satu per satu, mereka membubarkan diri, meninggalkan spanduk-spanduk merah tergeletak di aspal basah. Dalam sepuluh menit, area depan gedung kembali sepi. Hanya tersisa sampah kertas dan harga diri Ibu Ratna yang hancur berkeping-keping.

Aku menghela napas panjang, bahu ku rileks. Tangan Arya langsung menyentuh punggungku, memberikan kehangatan yang menenangkan.

"Kamu hebat," bisiknya di telingaku.

"Cara kamu menjatuhkan argumennya... sangat presisi. Tanpa emosi berlebihan. Hanya fakta."

"Aku belajar dari ahlinya," balasku, menoleh menatapnya. Ada kelelahan di mataku, tapi juga kepuasan.

"Mari masuk," ucap Arya, membimbingku menuju lobby.

"Ada tim humas yang sudah menyiapkan klarifikasi resmi untuk media online. Kita perlu memastikan narasi 'istri durhaka' berubah menjadi 'korban yang berani bersuara'."

Saat pintu kaca lobby tertutup, memisahkan kami dari dunia luar yang kacau, aku merasa lega. Tapi di dalam benakku, ada pertanyaan kecil. Apakah ini benar-benar akhir? Atau Ibu Ratna masih punya kartu lain?

"Arya," panggilku saat kami menunggu lift.

"Ya?"

"Apakah kamu pikir mereka akan menyerah? Ibu Ratna... dia tipe orang yang tidak mudah kalah."

Arya menekan tombol lift, lalu menatapku serius. "Orang seperti dia tidak pernah menyerah, Siren. Mereka hanya mengubah strategi. Dari serangan frontal ke serangan bawah tanah. Kita harus tetap waspada. Jangan lengah bahkan sedetik pun."

Lift datang. Kami masuk. Saat pintu tertutup, aku merasakan tangan Arya menggenggam tanganku erat.

"Tapi ingat," tambahnya, suaranya lembut.

"Selama kita bersama, tidak ada serangan bawah tanah yang bisa menembus pertahanan kita. Karena kita bukan lagi dua individu yang terpisah. Kita adalah satu unit. Satu kekuatan."

Aku menggenggam balik tangannya. Di dalam kotak besi yang naik ke lantai 45 itu, aku merasa aman. Aman dari teriakan ibu mertua. Aman dari fitnah media. Dan yang paling penting, aman dalam pelukan cinta yang finally tumbuh di tengah reruntuhan masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!