Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 17: Rok dan Kejutan
Malam tersebut, peringatan Feby membuat Kirana tidak bisa tidur.
Keesokan sore, hujan deras memaksanya masuk ke unit 805 setelah listrik di apartemennya mati. Winda sedang di Bekasi, teknisi gedung belum datang, dan baterai laptop Kirana tinggal delapan persen sementara draf presentasi harus dikumpulkan malam itu.
“Pakai ruang kerja saya,” kata Arya sambil membuka pintu. “Charger ada di meja.”
“Mas nggak keberatan?”
“Saya yang menyuruhmu masuk.”
Arya masih mengenakan pakaian kerja. Ia menerima panggilan Rian di balkon, memberi Kirana ruang untuk menyelesaikan tugas.
Satu jam kemudian, presentasi terkirim. Hujan belum reda. Kirana keluar mencari air minum dan mendengar bunyi notifikasi dari kamar di ujung koridor.
“Mas, ponselnya bunyi,” panggilnya.
Tidak ada jawaban. Arya masih berbicara di balkon.
Pintu kamar terbuka sedikit. Kirana mendorongnya dan berhenti.
Ruangan itu bukan kamar tidur utama. Sebuah tempat tidur kecil berdiri di satu sisi, meja rias di sisi lain, dan lemari besar memenuhi dinding.
Di atas meja ada produk perawatan kulit merek yang biasa dipakai Kirana.
Ia membuka lemari.
Gaun, blus, rok, celana, dan pakaian rumah tersusun berdasarkan warna. Rak bawah berisi sepatu lari, sepatu datar, serta beberapa pasang hak tinggi. Ukuran pada label semuanya sama dengan ukurannya.
Kirana menarik satu gaun biru tua. Modelnya persis seperti foto yang pernah ia simpan di keranjang belanja, tetapi batal dibeli karena merasa tidak punya acara untuk memakainya.
“Mas Arya.”
Langkah mendekat. Arya berhenti di ambang pintu tanpa tampak bersalah.
“Apa ini?” tanya Kirana.
“Kamar untukmu.”
“Saya nggak tinggal di sini.”
“Belum.”
“Jangan pakai kata itu.” Ia menunjuk lemari. “Kenapa ada pakaian ukuran saya?”
“Supaya kamu tidak perlu kembali ke unitmu kalau menginap atau kehujanan seperti sekarang.”
“Saya nggak pernah bilang akan menginap.”
“Pakaiannya tidak memaksa kamu.”
Kirana memeriksa rak lain. Ada kaus berbahan lembut, pakaian olahraga, bahkan jas formal dengan potongan yang sesuai seleranya. “Mas tahu ukuran saya dari mana?”
“Rian.”
“Mas Rian mengukur saya diam-diam?”
“Data pembelian gaun untuk acara kampus tahun lalu. Toko menyimpan ukuran pelanggan.”
“Dan Mas minta tanpa izin saya?”
Arya menangkap ketegangan di wajahnya. “Saya minta Rian membeli pakaian berdasarkan ukuran yang tersedia. Saya tidak meminta data medis atau hal pribadi lain. Kalau ini membuatmu tidak nyaman, semua bisa dikembalikan.”
Jawaban itu meredakan sedikit rasa dingin di punggung Kirana. Namun jumlah persiapan tersebut tetap menakutkan.
“Kapan Mas menyiapkannya?”
“Sebelum pindah.”
“Sebelum saya izinkan Mas jadi tetangga?”
“Kamu tidak pernah mengizinkan. Saya membeli unitnya.”
“Itu bukan pembelaan.”
“Saya memang tidak membela diri.” Arya berjalan mendekat, berhenti satu langkah darinya. “Saya sudah bilang, saya tidak datang untuk mencoba.”
Peringatan Feby berputar di kepala Kirana. Jangan jatuh cinta pada kemungkinan. Lihat konsistensinya.
Di sini, konsistensi Arya memenuhi satu lemari.
“Mas bahkan tahu saya alergi mangga.”
“Kamu pernah memeriksa label jus tiga kali sebelum minum.”
“Tahu saya nggak makan daun ketumbar.”
“Kamu memindahkannya ke sisi piring.”
“Nomor sepatu?”
“Kamu melepas sepatu lari di depan pintu.”
Kirana memandang gaun di tangannya. “Mas memperhatikan semuanya.”
“Tentangmu, ya.”
Arya mengambil gaun lain dari gantungan. Warnanya merah anggur, dengan potongan sederhana dan rok jatuh lembut.
“Coba ini.”
“Untuk apa?”
“Saya ingin tahu apakah ukurannya tepat.”
“Kalau saya nggak mau?”
“Kembalikan ke lemari.”
Tidak ada desakan. Justru karena itu, Kirana menerima gaun tersebut.
“Mas tunggu di luar.”
“Tentu.”
Ia menutup pintu dan mengganti pakaian. Gaun itu pas di bahu dan pinggang, seolah dibuat khusus. Ketika Kirana keluar, Arya yang sedang berdiri di dekat jendela berbalik lalu diam.
Tatapannya bergerak perlahan dari wajah Kirana ke rok, kemudian kembali ke matanya.
“Terlalu sempit?” tanya Kirana, mendadak sadar pada tubuh sendiri.
“Tidak.” Suara Arya lebih rendah. “Sempurna.”
Ia mendekat dan meminta izin dengan tatapan sebelum menyentuh resleting samping yang sedikit terlipat. Jari-jarinya hanya merapikan kain, tetapi panas menyebar di kulit Kirana.
“Mas.” Kirana menahan tangannya sebelum ia mundur. “Saya harus jujur. Semua ini manis, tapi juga membuat saya takut.”
Arya tidak menarik tangan dari genggamannya. “Bagian mana?”
“Mas tahu terlalu banyak tentang saya, sementara saya bahkan nggak tahu pekerjaan Mas sebenarnya selain mengajar dan rapat.”
“Saya bekerja di bidang investasi.”
“Perusahaan apa?”
Ada jeda kecil. “Perusahaan keluarga.”
“Itu masih bukan jawaban lengkap.”
Arya menatap pantulan mereka. “Saya akan menjelaskan ketika waktunya tepat.”
“Feby bilang rahasia adalah tanda bahaya.”
“Kamu cerita tentang saya kepada Feby?”
“Jangan alihkan pembicaraan.”
“Saya tidak marah.” Arya memutar tangannya agar bisa menggenggam jemari Kirana. “Kamu berhak punya orang yang menjaga kewarasanmu. Tapi saya juga punya hal yang tidak bisa dibuka sekaligus.”
“Kenapa?”
“Karena begitu beberapa pintu dibuka, hidupmu ikut berubah.”
Jawaban itu justru menambah misteri. Kirana melepaskan tangannya. “Kalau Mas ingin saya masuk ke ruangan ini, jangan terus menyimpan saya di luar hidup Mas.”
Arya menerima kalimat tersebut tanpa defensif. “Adil.”
“Dan jangan lagi meminta data atau membeli sesuatu untuk saya tanpa bertanya.”
“Baik.”
“Serius?”
“Saya masih boleh memasak?”
Kirana nyaris tersenyum. “Itu bukan membeli data.”
“Berarti boleh.”
Ponsel Arya berbunyi. Pesan dari Rian menanyakan apakah beberapa pakaian yang belum dikirim tetap harus diproses. Arya menunjukkan layar kepada Kirana tanpa diminta.
“Kamu putuskan.”
Kirana membaca daftar itu, lalu memilih membatalkan sebagian besar. Ia menyisakan dua set pakaian rumah dan satu pasang sepatu lari.
“Hanya ini.”
Arya mengetik persetujuan. “Hanya itu.”
Tindakan kecil tersebut terasa lebih berharga daripada seluruh isi lemari. Arya bisa menyediakan apa pun, tetapi kali ini ia menyerahkan kendali kepada Kirana.
“Gaun ini untuk acara apa?”
“Apa pun yang membuatmu mau memakainya.”
“Mas menyiapkan pakaian tanpa tahu kapan digunakan.”
“Saya menyiapkan tempat untukmu sebelum tahu kapan kamu akan datang.”
Kirana menahan napas.
Di cermin, mereka tampak seperti pasangan yang sedang bersiap menghadiri acara bersama. Gambaran itu terlalu mudah terasa benar.
“Ini gila,” bisiknya.
“Mungkin.”
“Sudah berapa lama Mas merencanakan semua ini?”
Arya berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, tetapi kehadirannya memenuhi pantulan cermin.
“Sejak pagi kamu meninggalkan saya di Singapura.”
Kirana memandang lemari yang dipenuhi ukuran, selera, dan kebiasaan dirinya.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa Arya tidak sekadar mengejar.
Lelaki itu telah menyiapkan ruang bagi Kirana jauh sebelum Kirana berani membayangkan tinggal di dalam hidupnya.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Arya serius, melainkan seberapa jauh rencana lelaki itu telah berjalan tanpa sepengetahuannya selama ini.