Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019: Robert Salim Menyerah
Pukul 19.42, lampu ruang rawat Anwar tidak dimatikan.
Itu permintaan Alexander.
Yanti duduk di sisi ranjang, ponsel dalam mode rekam suara. dr. Tanto berdiri di ruang dokter jaga, hanya berjarak satu lorong. Dua penyidik berpakaian sipil menunggu di kursi tunggu keluarga, berpura-pura membaca koran lama. Perawat kepala memegang daftar obat asli dari farmasi.
Semua orang tahu sesuatu mungkin terjadi.
Tetapi hanya Alexander yang melihat tanda merah itu ketika Suster Melly muncul di ujung lorong.
Tanda Peringatan Bahaya【!】
Kali ini warnanya lebih tebal.
Ting! Tanda Peringatan Bahaya【!】 meningkat dalam radius target perlindungan.
Melly membawa baki kecil. Seragamnya tetap rapi, tetapi langkahnya lebih cepat daripada biasa.
"Bu Yanti," katanya lembut saat masuk. "Dokter minta obat tambahan malam ini. Pak Anwar perlu istirahat."
Yanti menatap baki, lalu mengingat pesan Alexander.
"Name tag dan nama obatnya, Suster. Saya foto dulu."
Tangan Melly berhenti.
Sangat singkat.
"Tidak perlu, Bu. Ini sudah prosedur."
"Sekarang prosedur kami harus foto."
Alexander berdiri dari kursi dekat jendela. Ia sengaja tidak muncul sejak awal.
"Suster Melly, siapa dokter yang memberi instruksi?"
Melly menoleh. Wajahnya tidak berubah, tetapi pupilnya mengecil.
"Dokter jaga."
"dr. Tanto?"
"Dokter lain."
"Namanya?"
Melly mengambil ampul kecil dari baki. "Pak Alexander, pasien butuh istirahat. Jangan menghambat perawatan."
Alexander melihat tangan itu bergerak menuju jalur infus.
Waktu seperti menyempit menjadi jarum, selang, dan nadi di punggung tangan Anwar.
"Sekarang," kata Alexander.
Pintu terbuka.
dr. Tanto masuk bersama perawat kepala. Dua penyidik sipil berdiri dari luar. Melly tersentak, tetapi tangannya sudah terlalu dekat dengan port infus.
Alexander meraih pergelangan tangannya dari samping, cukup kuat untuk menghentikan gerakan, tidak cukup kasar untuk melukai.
Ampul itu jatuh ke baki, berguling, lalu berhenti di dekat kasa steril.
"Jangan sentuh," kata dr. Tanto tajam.
Perawat kepala segera mengambil kantong segel. Penyidik pertama memotret posisi ampul, baki, tangan Melly, dan jalur infus Anwar.
Melly menarik napas. "Apa-apaan ini? Saya menjalankan tugas!"
dr. Tanto mengambil daftar farmasi. "Tidak ada instruksi obat tambahan pukul 19.42. Tidak ada ampul jenis ini di daftar kamar Anwar Halim malam ini."
"Mungkin belum diinput."
"Saya dokter penanggung jawab malam ini."
Ruangan itu hening.
Yanti mulai gemetar. Anwar memejamkan mata saat ia baru mengerti seberapa dekat sesuatu menyentuh tubuhnya.
Penyidik kedua menunjukkan kartu. "Suster Melly Chandra, kami perlu Anda ikut untuk dimintai keterangan terkait dugaan percobaan pembunuhan atau perbuatan membahayakan nyawa pasien."
"Saya tidak melakukan apa-apa."
Alexander berkata dingin, "Karena belum sempat."
Melly menatapnya. Kali ini tidak ada senyum.
"Bapak pikir bisa menang melawan semua orang?"
"Tidak. Saya hanya perlu mencegah satu orang mati malam ini."
Perawat kepala menyegel ampul. dr. Tanto menandatangani berita acara internal sementara. Penyidik mencatat jam, posisi, saksi, dan nama petugas. Tidak ada teriakan besar. Tidak ada keributan dramatis. Justru karena semua prosedur berjalan rapi, Melly tidak punya ruang untuk membuatnya terlihat seperti salah paham.
Ting! Pengumpulan Bukti mengunci rangkaian bukti darurat.
Ting! Objek bukti prioritas: ampul tidak sesuai catatan, rekaman suara keluarga, saksi dokter, saksi penyidik, daftar farmasi.
Melly dibawa keluar lorong.
Ketika melewati Alexander, ia berbisik sangat pelan, "Kalau saya jatuh, Bapak pikir dia akan membiarkan Bapak hidup tenang?"
"Dia siapa?"
Melly hanya tertawa pendek.
Di Polres Kota Cahaya, tawa itu hilang sebelum tengah malam.
Alexander tidak berada di ruang pemeriksaan. Ia menunggu di luar bersama Gunawan dan Yanti. Di balik kaca buram, penyidik bergerak masuk keluar membawa map. Ampul sudah dikirim untuk pemeriksaan cepat. Rekaman suara Yanti disalin. dr. Tanto memberikan keterangan tertulis.
Pukul 23.18, penyidik keluar.
"Dia mulai bicara," katanya.
Yanti berdiri terlalu cepat. "Siapa yang suruh dia?"
Penyidik menatap Alexander, lalu Gunawan.
"Belum pengakuan lengkap. Tapi dia menyebut pembayaran lewat perantara dan nama yang sama beberapa kali."
Alexander sudah tahu, tetapi tetap menunggu.
"Robert Salim."
Yanti menutup mulut. Gunawan mengembuskan napas perlahan.
Nama itu akhirnya keluar dari mulut orang yang memegang ampul.
Ting! Misi darurat selesai: cegah pembunuhan terhadap Anwar Halim.
Ting! Hadiah diperoleh: Peti Perunggu.
Ting! Level meningkat: Lv9 Advokat Pemula.
Panel itu muncul sesaat, tetapi Alexander tidak membuka hadiah. Tidak sekarang.
"Apakah cukup untuk menangkap Robert malam ini?" tanya Gunawan.
Penyidik menggeleng. "Belum. Kami butuh mengunci transfer, komunikasi, dan perintah. Tapi ini cukup untuk menaikkan status pemeriksaan terhadap Melly dan menyiapkan pemanggilan pihak terkait."
"Berarti Robert masih punya waktu."
"Sedikit."
Alexander menatap lorong Polres yang dingin.
Di kursi tunggu, Yanti menangis tanpa suara. Bukan tangis kalah. Tangis orang yang baru menyadari suaminya masih hidup karena beberapa detik direbut dari tangan maut.
Ponsel Alexander bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada foto.
Hanya satu kalimat:
Kau seharusnya membiarkannya diam.
Alexander membalas untuk pertama kali.
Tidak.
Lalu ia mengirim screenshot pesan itu kepada penyidik.
Malam itu, Robert Salim belum jatuh.
Tetapi namanya sudah tidak lagi berdiri di belakang kaca perusahaan.
Namanya sudah masuk berkas pidana.