NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Tamu yang Tak Diundang

Keesokan paginya, Laras terbangun karena seseorang berbisik di balik pintu.

"Mbaknya masih tidur?"

"Jangan mengintip, Kinan," balas suara Bu Rahayu.

"Aku tidak mengintip. Aku cuma mau tahu."

"Kalau mau tahu, ketuk pintunya."

Tiga ketukan langsung terdengar.

Laras menahan senyum, menyingkirkan kursi dari dekat gagang, lalu membuka pintu. Seorang gadis berkacamata dengan rambut diikat tinggi berdiri di luar sambil membawa setumpuk pakaian.

"Hai. Aku Kinan, adik Mas Bram." Tatapannya bergerak cepat dari wajah Laras ke kursi yang baru digeser. Ia tidak bertanya tentang kursi itu. "Ibu bilang ukuran kita mirip. Aku bawa beberapa baju."

"Terima kasih. Yang semalam saja sebenarnya cukup."

"Kaus kampus teknik yang ada noda tinta itu? Tidak. Kalau Mas Bram lihat, dia pasti mengira aku sengaja mempermalukan calon istrinya."

Kinan masuk setelah Laras mempersilakan. Ia meletakkan pakaian di ranjang, lalu duduk dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Jadi, benar mau menikah dengan Mas Bram?"

"Begitu rencananya."

"Kalian bertemu kapan?"

"Kemarin."

"Kemarin pagi atau kemarin malam?"

"Apakah bedanya akan membuat rencana kami lebih masuk akal?"

Kinan berpikir, lalu menggeleng. "Tidak juga."

Laras tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak tiba, ia berbicara dengan seseorang yang tidak mengukur latar belakang atau risiko pernikahannya.

Kinan mengambil sebuah buku tipis yang menonjol dari tas Laras. "Ini boleh dilihat?"

"Boleh."

Di dalamnya ada sketsa blus, rok, pola lengan, dan catatan ukuran. Beberapa halaman penuh bekas penghapus. Kinan membaliknya dengan hati-hati.

"Kamu yang gambar? Bagus sekali."

"Itu catatan kerja lama."

"Aku kuliah teknik, jadi gambarku cuma garis, angka, dan benda yang tidak boleh terlihat cantik. Tapi aku tahu garis yang presisi. Ini bukan gambar iseng."

Laras memandang Kinan dengan penilaian baru. Gadis itu cerewet, tetapi pengamatannya tajam.

"Aku pernah bekerja di konveksi," katanya. "Belajar pola dari penjahit senior, lalu membantu desain pesanan."

"Nanti ajari aku menggambar baju?"

"Kalau kamu ajari aku cara menghadapi keluarga ini."

Kinan mengulurkan tangan. "Sepakat."

***

Menjelang siang, suasana rumah jauh lebih ringan.

Bu Rahayu tidak lagi memeriksa Laras dengan pertanyaan, melainkan dengan piring. Setiap kali Laras menghabiskan makanan, satu potong buah baru muncul di depannya. Gilang duduk di seberang sambil menceritakan penangkapan di kereta yang sudah tersebar di grup warga kompleks.

"Katanya Om Bram menahan penculik pakai satu tangan," ujarnya penuh kagum.

"Yang memegang anak dan melihat kejanggalan pertama kali itu Mbak Laras," kata Bram dari ujung meja.

Laras menoleh. Ia tidak menyangka Bram akan mengalihkan pujian kepadanya.

"Mbak Laras berani sekali," kata Gilang.

"Aku hanya terlalu suka ikut campur."

"Bagus, berarti nanti kalau Om Bram macam-macam ada yang berani menegur."

Bram meletakkan sendok. "Gilang."

Kinan tertawa. Bu Rahayu berusaha menahan senyum.

Ponsel Bram bergetar. Ia menerima panggilan dari Letkol Wibowo dan beranjak ke ruang depan. Laras hanya mendengar potongan kata `izin kawin`, `dokumen belum lengkap`, dan `siap menghadap`.

Jadi ia benar-benar memulai proses itu.

Ada rasa aneh menghangat di dada Laras. Selama ini janji orang lain selalu punya masa kedaluwarsa. Bram justru bergerak sebelum ia sempat menagih.

Bel rumah berbunyi.

Bik Inah membukakan pintu. Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan berdiri di teras dengan seragam perawat yang ditutupi kardigan bersih. Di tangannya ada rantang bertingkat dan sekantong jeruk.

"Siang, Bik. Bu Rahayu ada?"

"Ada, Mbak Tania. Silakan masuk."

Tania memasuki ruang keluarga seperti orang yang hafal letak setiap perabot. Ia mencium tangan Bu Rahayu, menyapa Kinan dan Gilang, lalu tersenyum lebar ketika melihat Bram keluar dari ruang depan.

"Mas Bram, sudah pulang? Kenapa tidak bilang?"

"Baru kemarin."

"Ibu juga baru tahu kemarin," sela Bu Rahayu. Nada suaranya ramah, tetapi tidak mengundang Tania merasa memiliki hak lebih.

Tania tertawa kecil. "Mas Bram memang begitu, Bu. Kalau tidak ditanya, semua disimpan sendiri. Waktu pulang latihan dengan lengan terluka saja dia bilang cuma tergores."

Ia membuka kantong jeruk dan mulai menatanya di meja tanpa diminta.

"Kinan, tugas kuliahmu sudah selesai? Gilang, lukamu yang jatuh dari sepeda sudah sembuh?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan betapa seringnya ia berada di rumah tersebut. Kinan menjawab pendek. Gilang mengangkat siku untuk memperlihatkan bekas luka yang sudah mengering.

"Sudah, Mbak Tania."

"Jangan dikupas. Nanti berbekas."

Tania lalu kembali kepada Bram. "Mas belum makan, kan? Aku juga membawa sambal yang biasa Mas suka. Kalau lutut Mas masih nyeri setelah perjalanan, nanti aku ambilkan obat dari rumah sakit."

Bram mengerutkan kening. "Tidak perlu. Dan jangan membawa obat keluar tanpa pemeriksaan."

"Aku perawat. Aku tahu mana yang aman."

"Justru karena kamu perawat, kamu harus tahu obat bukan buah tangan."

Senyum Tania menegang sepersekian detik. Bu Rahayu mengambil kantong jeruk dari tangannya dan meletakkannya ke samping.

"Bram benar. Kalau dia sakit, biar saya yang periksa. Kamu datang sebagai tamu, duduklah dulu."

Tania mengangguk, meski sorot matanya tidak senang melihat kedekatannya dengan Bram dibatasi begitu halus.

"Aku membawa rawon. Buatan Papa kebanyakan, jadi sekalian untuk semua. Mas Bram pasti kangen masakan rumah setelah dari luar kota."

"Terima kasih. Taruh saja di dapur."

Jawaban Bram sopan, tetapi dingin. Tania tampaknya sudah terbiasa. Ia masih tersenyum sampai tatapannya jatuh pada Laras yang duduk di samping Kinan.

Senyum itu berhenti.

Matanya turun ke pakaian Kinan yang dikenakan Laras, lalu ke jaket Bram yang terlipat di sandaran kursi. Sesuatu yang gelap melintas di wajahnya sebelum ditutup keramahan tipis.

"Ada tamu?" tanyanya.

Bu Rahayu baru hendak menjawab ketika Bram berjalan mendekat.

Ia berdiri di sisi Laras, cukup dekat untuk membuat posisi mereka jelas.

Laras tidak meraih Bram atau bersembunyi di belakangnya. Ia hanya mengangkat wajah dan membalas tatapan Tania. Sikap tenangnya justru membuat jarak satu lengan di antara mereka terasa seperti pernyataan yang lebih kuat daripada sentuhan.

"Tania, ini Laras," katanya. "Calon istri saya."

Pegangan rantang di tangan Tania berderit. Wajahnya kehilangan warna.

"Calon istri?"

"Ya."

"Sejak kapan?"

"Itu urusan kami."

Kinan yang tadi santai langsung duduk tegak. Gilang berhenti mengunyah. Bu Rahayu mengamati Tania dengan kerutan kecil di dahi, seolah baru menyadari bahwa kunjungan-kunjungan perempuan itu mungkin tidak sesederhana membawa makanan.

Tania mencoba melangkah maju. Ujung sepatunya tersangkut karpet.

Rantang logam terlepas dari tangannya dan jatuh dengan bunyi keras.

Kuah rawon merembes dari sela tutup, mengotori lantai mengilap.

Tania tidak melihatnya. Matanya tetap terpaku sepenuhnya pada Laras.

"Mas Bram... perempuan ini siapa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!