Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mata Siska terbelalak lebar mendengar nominal tidak masuk akal yang baru saja diucapkan oleh Arga.
"Lima ratus ribu untuk satu buah cabai, Anda pasti sedang bercanda Mas Arga." Siska hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
"Saya sangat serius Nona, khasiat medis dari cabai itu setara dengan biaya cuci darah di rumah sakit mahal." Arga membalas santai tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Besok pagi saat panen pertama cabai itu tiba saya akan berikan satu buah gratis untuk Nona cicipi."
"Jika Nona merasa rasanya tidak sepadan dengan harganya maka lupakan saja soal kontrak cabai tersebut." Arga memberikan tawaran tantangan yang sangat menggiurkan.
Siska menatap Arga dengan pandangan menilai yang sangat dalam mencoba mencari kebohongan di wajah pemuda itu.
Namun dia hanya menemukan kepercayaan diri yang begitu kokoh bagaikan tebing karang di lautan.
"Baik saya terima tantangan Anda Mas Arga, besok saya akan kembali ke sini untuk mengambil panen tomat dan mencicipi cabai mahal Anda itu." Siska mengemasi kembali kertas kontraknya ke dalam tas.
"Saya akan meminta bagian legal restoran merombak ulang surat kontrak ini sesuai dengan persyaratan arogan Anda hari ini." Siska berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Arga.
"Senang berbisnis dengan Anda Nona Siska." Arga menyambut jabatan tangan itu dengan genggaman yang mantap dan hangat.
Siska berbalik dan berjalan menuju mobilnya dibukakan pintu oleh sopir pribadinya yang sejak tadi menunggu dengan sabar.
Brum.
Mobil MPV mewah itu perlahan mundur dan keluar dari pekarangan rumah Arga meninggalkan kepulan debu tipis di jalanan desa.
Arga berdiri di teras mengamati kepergian mobil Siska dengan senyum kemenangan yang belum pudar dari wajahnya.
Namun sudut mata Arga tiba-tiba menangkap sebuah bayangan mencurigakan yang bersembunyi di balik pohon mangga besar di seberang jalan.
Seorang pria bertubuh kurus kerempeng dengan topi caping ditarik rendah tampak sedang mengintip ke arah rumahnya.
Arga mengenali pria itu sebagai Kardi salah satu preman kampung pengangguran yang sering disuruh-suruh oleh Pak Bowo.
"Ternyata si lintah darat itu mengirimkan anjing pelacaknya untuk memata-mataiku hari ini." Arga bergumam pelan di dalam hati dengan pandangan meremehkan.
Arga sengaja melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah mobil Siska yang sudah menjauh agar Kardi melihat kedekatannya dengan pembeli kota tersebut.
Dia tahu betul Kardi akan segera berlari melaporkan semua adegan ini kepada majikannya yang sedang kepanasan di rumah.
Arga lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan langkah santai tidak mempedulikan mata-mata amatiran di luar sana.
Biarkan saja Pak Bowo merencanakan niat jahatnya karena Arga kini sudah memiliki sistem perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh preman desa manapun.
Di tempat lain Kardi yang merasa tugas mengintipnya sudah selesai langsung berlari terbirit-birit menuju rumah mewah milik Pak Bowo.
Dia menerobos masuk ke pekarangan rumah Pak Bowo dan menemukan bosnya sedang duduk di kursi goyang dengan wajah ditekuk.
"Lapor Pak Bowo, gawat Pak sungguh sangat gawat sekali." Kardi berbicara terengah-engah sambil memegangi lututnya.
"Ada apa Kardi cepat katakan, jangan bernapas seperti anjing asma begitu di depanku." Pak Bowo membentak kasar karena suasana hatinya memang sedang sangat buruk.
"Itu Pak, perempuan kota yang kemarin kita bicarakan tadi datang ke rumah si Arga."
"Saya lihat sendiri pakai mata kepala saya sendiri mereka mengobrol akrab di teras dan salaman kayak orang pacaran." Kardi melebih-lebihkan laporannya agar terlihat penting.
Prang.
Pak Bowo melempar gelas kopi kaca di tangannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Wajahnya merah padam dipenuhi urat yang menonjol keluar menahan amarah yang meledak di ubun-ubunnya.
"Berengsek, anak bau kencur itu benar-benar berniat memonopoli pembeli kota sendirian dan menyingkirkanku." Pak Bowo menggeram dengan suara yang berat dan menakutkan.
"Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut Pak, kalau petani lain tahu Arga bisa jual mahal mereka pasti akan berontak ke bapak." Kardi memanasi suasana dengan kalimat provokatifnya.
"Aku tahu Kardi otakku tidak bodoh sepertimu, kita harus memberi pelajaran berharga pada pengangguran sombong itu." Pak Bowo berdiri dari kursi goyangnya dengan tangan mengepal kuat.
"Kumpulkan dua temanmu nanti malam dan bawa bensin serta korek api yang banyak."
"Kita akan membakar pagar seng kebanggaannya itu dan membumihanguskan kebun sayurnya sampai tidak tersisa akarnya sekalipun." Pak Bowo memberikan perintah keji dengan senyum licik yang mengerikan.
"Siap laksanakan Bos Bowo, malam ini juga kebun si Arga akan berubah menjadi lautan api unggun." Kardi menyeringai lebar membayangkan bayaran yang akan diterimanya nanti.
Pak Bowo menatap ke arah luar rumahnya dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
Dia bertekad akan menghancurkan kerajaan kecil Arga sebelum pemuda itu sempat menikmati hasil panennya besok pagi.