Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Ibu, aku dengar mas Alen akan pulang tiga hari lagi, benarkah itu?" tanya Lilian kepada ibu mertuanya yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil asik bermain ponsel.
"Ya, kau tidak perlu terlalu senang karena bisa saja dia akan memberikan kejutan yang tidak menyenangkan untuk mu," jawab wanita paruh baya itu tanpa menatap Lilian yang wajahnya terlihat sangat antusias karena mendengar kabar kepulangan sang suami.
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Semua kejutan pastinya akan sangat menyenangkan, aku sangat tidak sabar," ucap Lilian masih tetap dengan senyum sumringahnya itu.
"Terserah kau saja, oh ya, siapkan pesta penyambutan untuk putraku, aku mau pesta penyambutan yang meriah atas keberhasilan kali ini, jangan sampai kau membuat ku kecewa, kau paham itu?" ucap Sinta, ibu mertua Lilian.
"Iya Bu, aku paham, aku akan menyiapkan semuanya dari sekarang," ucap Lilian yang kemudian berlalu pergi dari hadapan sang mertua dengan suasana hati bahagia.
"Dasar bodoh, anakku menikahi wanita seperti dia benar-benar membuat keluarga ini sial, ayam yang tidak bisa bertelur sama sekali tidak layak jadi menantuku," gumam Sinta setelah Lilian tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Lilian" nama yang cantik bukan? Ya secantik orangnya, wanita berusia dua puluh enam tahun itu menjadi seorang istri dan juga menantu yang cukup sempurna di keluarga Bayron. Keluarga yang tergolong kaya di kota tersebut.
Kecantikan, kebaikan, kepintaran, semua dimiliki oleh Lilian, ia adalah sosok yang memegang kendali dalam segala urusan rumah tangga di keluarga suaminya, mulai dari A sampai Z.
Dengan semua yang Lilian lakukan untuk keluarga itu, apakah dia mendapatkan kasih sayang? Penghormatan? Atau pujian? Tentu saja ... TIDAK. Lilian sama sekali tidak pernah mendapatkan apapun di keluarga suaminya melainkan hinaan, cacian serta makian, ibu mertua yang jahat, adik ipar yang penindas serta suami yang jarang pulang dengan alasan pekerjaan dan juga bisnis luar kota.
Namun hal ini tidak pernah membuat Lilian mengeluh sedikitpun, meskipun selalu diperlakukan seperti pembantu di rumah itu Lilian tetap mempertahankan posisinya karena cintanya kepada Alen, sang suami.
Lilian sudah menikah dengan Alen selama tiga tahun, akan tetapi mereka berdua tak kunjung diberikan keturunan, hal ini membuat mertuanya selalu mengatakan hal yang menyakitkan untuk Lilian, adik iparnya juga memberinya gelar ayam betina yang tidak bisa bertelur.
Namun Lilian mengacuhkan hal tersebut, baginya anak bukanlah hal yang wajib mereka miliki, cinta dan kasih sayang suami adalah hal yang paling penting, anak hanyalah bonus, jika tidak memiliki juga tidak masalah, itulah yang selalu Lilian pikirkan meskipun sebenarnya jauh di lubuk hati paling dalam dia juga menginginkan kehadiran sang buah hati.
"Huh, akhirnya mas Alen akan kembali, aku tidak sabar menunggu," ucap Lilian sambil membereskan kamarnya, rasanya sungguh tidak sabar menunggu kepulangan sang suami setelah pergi selama setengah tahun ke kota X dengan alasan menjalankan satu proyek dari perusahaannya.
"Kira-kira jamuan seperti apa yang akan aku buat untuknya, pakaian seperti apa yang akan aku pakai nanti, aku harus tampil cantik," ucap Lilian sambil berdiri di depan cermin dan memperhatikan tubuh kurusnya yang terlihat terlalu kurus. Namun Lilian tak pernah terlalu memperhatikan hal tersebut, baginya yang paling penting adalah membuat seluruh keluarga tetap nyaman dan tenang di rumah tersebut.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar milik Lilian saat Lilian sedang memikirkan banyak hal tentang hari kepulangan suaminya itu.
"Siapa?" tanya Lilian sedikit meninggikan nada suaranya.
"Aku," ucap seorang wanita yang seketika langsung membuka pintu kamar itu dan menerobos masuk.
"Raya, ada apa?" tanya Lilian sambil mengerutkan kening dan tampak sedikit terkejut karena adik iparnya itu masuk kamar dengan wajah marah.
Raya adalah adik ipar Lilian, usia mereka tak jauh berbeda, karena Raya pada saat ini sudah berusia 24 tahun.
"Uang bulanan ku habis, aku ada kegiatan di luar bersama teman-temanku malam ini," ucap Raya sambil menadahkan tangan.
"Apa? Bukannya seminggu lalu aku baru saja memberimu uang bulanan sepuluh juta untuk satu bulan, bagaimana bisa habis secepat itu?" tanya Lilian sedikit tersentak.
"Jangan banyak tanya! Berikan saja uang itu padaku, jika tidak aku akan melaporkan ke ibu kalau kau pelit," ucap Raya mengancam.
"Tapi Raya ..."
"Tidak ada tapi-tapian, masih untung kau dikirim uang oleh kakakku, kau pikir dia mengirimmu uang-uang itu untuk dirimu sendiri? Hei, kau itu hanya ayam betina yang tidak bisa bertelur, kau dikirim uang hanya untuk kepentingan aku dan ibu di rumah ini, jangan-jangan kau ingin memakainya sendiri!?" ucap Raya dengan tidak sopannya.
Ya, ini bukan pertama kalinya hal seperti itu terjadi kepada Lilian, melainkan sudah sangat sering, adik iparnya itu adalah wanita yang boros, tidak bekerja dan hanya bermain-main dengan uang yang dia bilang adalah milik kakak laki-lakinya.
Karena tak ingin berdebat dan ibu mertuanya marah, Lilian pun segera mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Raya.
"Jangan buat ibu marah, aku sudah mengirim sejumlah uang padamu," jawab Lilian dengan nada pasrah.
"Bukannya dari tadi! Aku peringatkan padamu sekali lagi, uang yang kakakku kirim jangan sampai kau gunakan untuk dirimu sendiri, jika kau mau uang bekerjalah sendiri, uang itu milik aku dan ibu yang dititipkan ke rekeningmu untuk kau urus agar semua keperluan kami di rumah ini terpenuhi," ucap Raya menuding Lilian lalu setelah itu meninggalkan kamar tersebut.
"Andai kalian tahu kebenarannya seperti apa, aku tidak yakin kalian berani bicara seperti itu lagi kepadaku," batin Lilian sambil menatap datar pintu kamarnya sepeninggal Raya.
TIGA HARI KEMUDIAN
Tak terasa hari yang sudah ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, di mana hari ini adalah hari kepulangan Alen.
"Lilian," panggil Sinta dengan suara lantang.
"Iya Bu," jawab Lilian yang saat ini sedang menata meja makan dengan berbagai macam jenis hidangan serta dihiasi lilin-lilin kecil yang menambah nuansa cantik di meja makan tersebut.
"Semua persiapannya sudah selesai?" tanya Sinta lagi sambil memperhatikan sekaligus memeriksa pekerjaan Lilian.
"Iya Bu, sudah hampir selesai," jawab Lilian tanpa memperlihatkan rasa lelahnya di hadapan sang mertua.
"Bagus, sebentar lagi Alen akan sampai, sebaiknya kau segera urus diri dan penampilanmu, sisa pekerjaan ini biarkan Raya yang merapikannya," ucap Sinta.
"Ibu, aku malas, biarkan saja Lilian yang mengurusnya sampai selesai," jawab Raya yang sedari tadi hanya duduk sambil memainkan ponselnya.
Sang ibu langsung menatap Raya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍