NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlahir Kembali Sebagai Pangeran

"Apa kamu menyukai bintang?"

Kalimat itu sangat membekas dalam jiwa seorang pemuda yang tengah berbaring di atas atap gedung sekolah.

Ia masih mengingatnya. Sosok yang begitu ia sayangi. Orang yang selalu menemaninya saat malam hari sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang, membacakan buku cerita ketika ia masih kecil, dan orang yang membuatnya jatuh cinta pada astronomi.

Ibunya.

Rasi bintang—sekumpulan bintang yang tampak berdekatan dan membentuk pola, konfigurasi, atau objek tertentu di langit malam jika ditarik dengan garis imajiner. Masing-masing memiliki bentuk dan kisah uniknya sendiri.

"Kalau ibu sangat suka dengan rasi bintang Cassiopeia."

Kalimat itu kembali terlintas, membangkitkan kenangan lama di dalam benaknya.

Hembusan angin hangat menerpa wajahnya. Rasa kantuk kembali menjalar, membuat matanya terasa berat. Dengan enggan, ia memaksakan diri untuk bangun dan berdiri, lalu meregangkan tubuhnya.

"Uuugghhh…"

"Hoaaamm…"

Ia menoleh ke sekeliling.

Tidak ada seorang pun.

Sepertinya ia sudah tertidur cukup lama, dan kelas telah dimulai.

Pemuda itu mulai melangkah menuju tangga turun, berniat pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Langkahnya pelan, melewati satu demi satu anak tangga.

Namun... Karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang, pijakannya meleset. Tubuhnya oleng. Untung saja, tangannya sempat meraih pagar tangga.

"Huft... hampir saja. Telat sedikit, aku bisa pindah ke isekai." Ia terkekeh kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.

Sesampainya di lorong sekolah, ia berjalan santai, seolah tak merasa bersalah karena membolos. Tujuannya sederhana, menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

Entah sedang sial atau memang hanya kebetulan... Saat kakinya baru saja melangkah masuk—ada sebuah sabun batang tergeletak di lantai. Dan dengan sangat tepat, kakinya menginjaknya.

"Woaaah!"

Brak!

Benturan keras menghantam kepalanya.

Pandangannya mulai berkunang-kunang. Namun, di antara semua warna yang memudar, ada satu yang terlihat begitu jelas—merah. Warna darah yang mengalir dari kepalanya yang bocor akibat menghantam lantai dengan keras.

"Ini... tidak lucu..." gumamnya lirih.

Saat kesadarannya perlahan memudar, sebuah suara terdengar di telinganya.

"Apa kau menyukai bintang?"

Pemuda itu tersenyum tipis.

Lalu, dalam hatinya, ia menjawab, "Ya... aku sangat menyukainya."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah kesadarannya tenggelam bersama rasa dingin yang merambat di seluruh tubuh, ia sempat berpikir bahwa semuanya telah berakhir. Ia sudah tidak bisa merasakan rasa sakit dan mendengar suara dari sekitar. Ia merasa sedang berada di sebuah ruangan gelap yang hampa.

Entah berapa lama ia berada di sana. Ia bahkan tidak bisa memastikan apakah dirinya masih berpikir, atau hanya sebuah kesadaran yang tersisa tanpa bentuk.

Namun perlahan, sesuatu mulai berubah.

Suara-suara asing mulai terdengar samar, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Hangat mulai menggantikan dingin yang sebelumnya menyelimutinya. Lalu, perlahan-lahan, cahaya mulai masuk.

Ketika ia membuka mata untuk pertama kalinya, dunia yang dilihatnya terasa kabur. Ada wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Suara-suara yang tidak dipahaminya. Dan tangan-tangan besar yang mengangkat tubuhnya yang terasa begitu kecil.

Ia ingin berbicara, tetapi yang keluar hanya tangisan. Saat itu, ia belum mengerti. Ia belum tahu bahwa dirinya telah lahir kembali.

Waktu terus berjalan.

Hari-hari berganti menjadi bulan, lalu tahun. Tanpa menyadarinya, ia tumbuh sebagai seorang anak di lingkungan yang sama sekali berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Namanya sekarang adalah Ash van Astoria.

Ia adalah pangeran keempat dari Kerajaan Astoria, sebuah kerajaan besar yang berdiri megah dengan sejarah panjang dan keluarga kerajaan yang dihormati oleh rakyatnya.

Sejak kecil, Ash tumbuh dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kamarnya begitu luas hingga terasa seperti rumah kecil tersendiri. Jendela-jendelanya tinggi, memperlihatkan taman istana yang selalu terawat rapi, dan setiap malam ia bisa melihat langit dengan jelas dari sana.

Meskipun begitu, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu merasa kosong.

Ia tidak tahu alasannya.

Kadang-kadang, saat menatap bintang terlalu lama, dadanya terasa sesak oleh perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang penting yang telah hilang, namun tak mampu ia ingat.

Ash memiliki penampilan yang cukup berbeda dibandingkan saudara-saudaranya.

Rambutnya berwarna hitam kebiruan, gelap namun memantulkan warna lembut ketika terkena cahaya, dengan beberapa helai putih yang menyebar tidak beraturan di antara rambutnya. Banyak pelayan istana mengatakan bahwa rambut itu membuatnya tampak seperti langit malam yang tersapu cahaya bintang.

Matanya pun memiliki warna yang serupa—hitam kebiruan, tenang dan dalam, seperti langit malam yang tak berujung.

Meski usianya baru tujuh tahun, Ash dikenal sebagai anak yang pendiam dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri. Ia senang membaca di perpustakaan kecil dalam istana, berjalan-jalan di taman belakang, atau sekadar duduk diam di dekat jendela sambil menatap langit malam.

Pada malam ulang tahunnya yang ketujuh, seperti biasa, ia duduk sendiri di dekat jendela kamarnya.

Langit malam itu sangat cerah.

Bintang-bintang terlihat lebih banyak dari biasanya.

Tanpa alasan yang jelas, Ash terus menatap salah satu gugusan bintang di langit, merasa ada sesuatu yang menarik pikirannya ke sana.

Lalu tiba-tiba, kepalanya terasa nyeri.

Rasa sakit itu datang begitu mendadak hingga membuatnya memegang sisi tempat tidur untuk menjaga keseimbangan.

Bayangan-bayangan aneh mulai bermunculan di benaknya.

Sebuah atap sekolah.

Langit malam.

Suara seorang wanita yang terdengar lembut.

"Apa kamu menyukai bintang?"

Ash menutup kepalanya dengan kedua tangan. Napasnya menjadi tidak teratur. Gambar-gambar lain mulai bermunculan, hal itu membuat dirinya mengingat sesuatu.

Di antara gambar-gambar itu ada satu yang paling ia ingat, suara dirinya sendiri yang menjawab dalam hati.

"Ya... aku sangat menyukainya."

Ia terjatuh berlutut di lantai kamarnya. Butuh beberapa saat hingga rasa sakit itu perlahan mereda.

"..."

Napasnya masih berat dan tidak teratur. Tangannya gemetar ketika ia menatap telapak tangannya sendiri. Ia terkejut karena melihat ukurannya yang lebih kecil, lalu ia melihat pakaiannya, dan terakhir ia melihat pantulan dirinya di cermin.

Namun kenangan yang baru saja kembali terasa jauh lebih nyata dari apa pun. Ia perlahan memahami satu hal yang sulit dipercaya.

Sebelum menjadi Ash van Astoria... ia pernah hidup sebagai orang lain.

Sebagai seorang siswa SMA biasa yang mencintai bintang karena ibunya. Dan seseorang yang mati karena kecelakaan yang bahkan terasa terlalu konyol untuk disebut tragis.

Ash menundukkan kepala sambil tertawa kecil, meski rasa bingung masih memenuhi pikirannya.

"Jadi... aku bereinkarnasi setelah mati konyol di kamar mandi?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hanya keheningan malam yang menemaninya.

Ia bangkit perlahan, lalu berjalan menuju jendela. Di balik kaca, langit malam tetap sama seperti yang diingatnya.

Bintang-bintang masih bersinar dengan tenang.

Untuk pertama kalinya setelah mengingat semuanya, ia merasa sedikit lega. Ash tersenyum kecil sambil mengangkat pandangannya.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini," gumamnya pelan, "tapi kalau ini benar-benar kehidupan baruku... maka aku ingin menjalaninya dengan baik."

Malam terus berlalu, sementara seorang anak berusia tujuh tahun berdiri diam di depan jendelanya, mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya kini adalah Ash van Astoria, pangeran keempat dari Kerajaan Astoria.

Dan tanpa ia sadari, kehidupan barunya baru saja benar-benar dimulai.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!