NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sinar matahari pagi menyinari celah-celah tirai kaca penthouse mewah keluarga Pratama dengan lembut. Udara pagi hari di lantai atas gedung pencakar langit itu terasa segar, berpadu dengan aroma kopi hitam pekat dan wangi panggangan roti panggang mentega yang menguar dari arah ruang makan utama.

Meja makan panjang marmer putih itu kini sudah tertata rapi oleh berbagai macam menu sarapan pagi kelas atas. Setelah beberapa hari sempat absen, Kepala Pelayan setia keluarga, Chef Yap—bersama beberapa staf pelayan rumah tangga—tampak kembali siaga melayani kebutuhan tuan muda mereka dengan postur tubuh tegap dan sopan.

Rangga Pratama duduk di kursi utamanya, mengenakan kemeja kerja lengan panjang yang dilipat rapi sampai siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Di seberangnya, Rania duduk dengan balutan pakaian kasual rapi, bersiap untuk berangkat mengurus toko rotinya setelah sarapan.

Suasana makan pagi itu awalnya berjalan dengan khidmat dan tenang. Namun, ketenangan tersebut tidak bertahan lama begitu Rangga mulai melancarkan aksi manja terselubung miliknya yang mendadak kambuh sejak pagi buta.

Ketika Chef Yap hendak menyendokkan omelet ke piring Rangga, sang CEO langsung mengangkat tangannya menolak.

"Jangan, Chef Yap," kata Rangga dingin namun dengan sorot mata melirik manja ke arah Rania. "Saya tidak mau diambilkan oleh pelayan. Saya mau istri saya yang mengambilkannya."

Rania, yang sedang mengunyah sepotong roti, langsung tersedak pelan. Ia mendelik tajam ke arah suaminya. "Hah?! Kau ini punya tangan sendiri, Rangga! Ambil sendiri! Di sebelahmu ada pelayan profesional yang siap melayani, kenapa harus repot-repot menyuruhku?!"

"Tanganku masih sedikit kaku karena sisa mag semalam," alibi Rangga dengan wajah tanpa dosa, meskipun semalam ia sudah melahap habis semangkuk sup buatan Rania dengan sangat lahap. "Ambilkan aku omelet itu, Rania. Kalau tidak, aku akan potong uang bulananmu dan tidak ada uang bulanan untuk seterusnya."

Mendengar ancaman keji yang menyangkut sumber mata pencahariannya, kedua mata Rania membelalak lebar. Ia menolak dengan tegas, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak mau! Titik! Gak pake koma! Jangan mentang-mentang jadi suami suka semena-mena memeras istri sendiri!"

Rangga tidak bergeming. Dengan gerakan santai yang amat menyebalkan, ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kartu kredit metalik berwarna hitam pekat berlogo emas—sebuah Black Card eksklusif tanpa batas limit yang hanya dimiliki oleh segelintir orang terkaya di dunia. Ia meletakkan kartu itu tepat di sebelah piring Rania dengan bunyi klik yang pelan...

"Ambilkan aku omelet, lalu tuangkan susu hangat ke cangkirku, dan panggil aku 'Mas' manis... atau kartu ini aku blokir permanen sekarang juga," bisik Rangga dengan nada rendah penuh kemenangan.

Seketika itu juga, ekspresi wajah Rania berubah 180 derajat dalam sekejap mata. Senyuman paling manis, ramah, dan tulus yang pernah ada di muka bumi langsung mengembang di bibirnya. Ia dengan sigap mengambil sendok saji, menyendokkan porsi omelet paling sempurna ke piring suaminya, lalu menuangkan susu hangat dengan gerakan teramat hati-hati...

"Baik, Mas suami tercinta..." ujar Rania dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan secara berlebihan, menyembunyikan geram di dalam hatinya. "Ada lagi yang bisa aku layani, Tuan Raja uangku? Sudi kiranya Black Card ini berpindah tangan ke dompetku sekarang?"

Rangga mendengus pelan, menahan senyuman puas di balik cangkir kopi hitamnya. "Bagus anak pintar. Nanti kartu itu akan kuberikan sepenuhnya padamu kalau pelayananmu memuaskan hari ini.

Rencana Rania untuk segera kabur pergi meninggalkan penthouse dan membuka toko rotinya pagi itu mendadak buyar total ketika ia melihat sebuah mobil van logistik perusahaan pengiriman barang parkir di depan pintu masuk penthouse.

Beberapa orang pekerja tampak mengangkat kotak-kotak arsip dokumen, meja kerja minimalis tambahan, dan satu set monitor komputer besar masuk ke dalam salah satu ruang kerja terbuka di sudut penthouse utama yang tadinya kosong.

Rania, yang menenteng tas selempangnya, menghentikan langkahnya di dekat ruang kerja tersebut. Ia melotot tajam ke arah Rangga yang sedang berdiri mengawasi para pekerja mengatur letak meja barunya.

"Mas Rangga! Apa-apaan ini?!" protes Rania dengan suara melengking tinggi. "Kenapa kau memindahkan sebagian kantor kerjamu ke dalam penthouse?! Ini rumah tinggal kita! Bukan kantor cabang Pratama Group!"

Rangga berbalik badan, merapikan kerah kemejanya dengan sangat tenang. Ia menatap Rania dengan sorot mata lurus tanpa beban.

"Mulai hari ini, aku memutuskan untuk menerapkan sistem Work From Home (WFH) secara penuh," jawab Rangga dengan nada formal yang dibuat-buat. "Sebagai suami yang bertanggung jawab, aku harus mengawasi kondisi kesehatan istriku secara langsung sekaligus memastikan tidak ada lagi pria asing bernama Kevin yang berani berkeliaran di dekatmu."

"Aku tidak butuh diawasi! Toko rotiku sedang ramai-ramainya dan aku harus ke sana sekarang!" sergah Rania kesal, menghentakkan kakinya ke lantai.

"Silakan saja pergi ke toko rotimu," balas Rangga santai sambil melipat tangannya di dada. "Tapi setiap kali kau pulang ke rumah, pastikan laporan keuangan toko dan kinerjamu sebagai istri sudah memenuhi standar evaluasiku. Dan ingat, Black Card di dompetmu itu sewaktu-waktu bisa ditarik kembali kalau kinerjamu mengecewakan."

Rania mendengus frustrasi, merutuki nasibnya yang terjebak di bawah kendali seorang CEO diktator yang licik. Mau tidak mau, ia terpaksa menuruti aturan gila tersebut demi mengamankan aset finansial bisnisnya.

Sepanjang siang hingga sore hari itu, penthouse mewah tersebut resmi berubah fungsi menjadi markas besar pengawasan pribadi Rangga Pratama.

Setiap kali Rania mondar-mandir melewati area ruang kerja terbuka yang menyatu dengan ruang utama—membawa nampan berisi loyang kue percobaan atau setumpuk nota pesanan—Rangga selalu saja menemukan seribu satu alasan tidak masuk akal untuk memanggil dan memerintah istrinya.

Kring...

Saat Rania berjalan cepat membawa nampan berisi adonan kue kering dari dapur menuju ruang penyimpanan, suara bariton Rangga langsung menghentikan langkahnya.

"Rania... berhenti sebentar."

Rania menghembuskan napas kasar, memutar bola matanya malas, lalu berbalik mendekati meja kerja suaminya dengan wajah masam. "Apa lagi, Tuan CEO yang terhormat? Dasimu lurus, rambutmu rapi, tidak ada debu di bajumu! Jangan cari-cari alasan lagi!"

Rangga duduk bersandar di kursi kerjanya, menatap Rania dengan ekspresi datar tanpa dosa. "Dasi kemeja kerjaku sedikit miring ke sebelah kiri. Sebagai istri yang baik dan berbakti pada suami pemegang Black Card, kewajibanmu adalah merapikannya."

Rania mendengus kesal. Dengan gerakan kasar dan muka tertekuk, ia maju dua langkah, menyambar ujung dasi sutra abu-abu di leher Rangga, lalu merapikannya dengan sentakan kuat yang hampir mencekik leher suaminya. "Puas?!" sinis Rania ketus.

"Terlalu kasar, tapi lumayan," jawab Rangga tenang, nyaris tersenyum melihat kekesalan istrinya. "Kembalilah bekerja."

Belum ada setengah jam Rania kembali sibuk di dapur kecilnya, suara panggilan itu terdengar lagi.

"Rania... kemarilah sebentar."

Dengan langkah menghentak-hentak kesal, Rania kembali keluar membawa segelas cangkir baru. "Apa lagi kali ini, Mas Rangga?!"

Rangga menunjuk cangkir kopi di atas mejanya dengan dagunya. "Kopi hitam yang kau buatkan tadi rasanya terlalu manis. Lidahku tidak biasa minum gula berlebihan. Buatkan yang baru, lalu duduklah di sini menemaniku bekerja selama satu jam ke depan."

Mata Rania membelalak lebar. "Hah?! Terlalu manis?! Jelas-jelas aku tidak memasukkan sesendok pun gula ke dalam kopi pahit itu! Kau sengaja kan mencari-cari kesalahanku?!"

Rangga menaikkan sebelah alisnya, lalu perlahan merogoh saku jasnya dan memperlihatkan sudut kartu hitam metalik tersebut di antara jari-jarinya. "Mau buatkan atau Black Card ini masuk ke mesin penghancur kertas sekarang juga?"

Rania menelan ludah kelat. Seketika itu juga, ekspresi garangnya mencair, digantikan oleh senyuman terpaksa paling manis yang pernah ia buat. Ia menyambar cangkir kopi tersebut dari meja suaminya.

"Baik, Mas... sebentar ya, aku buatkan kopi pahit sepahit empedu penyesalanku menikah denganmu," desis Rania penuh tekanan lewat giginya yang dirapatkan, lalu bergegas ngeloyor pergi ke dapur.

Di kursi kerjanya, Rangga menyandarkan punggungnya, membiarkan tawanya pecah dalam keheningan sekecil itu. Di balik semua perintah menyebalkan dan alasan konyol yang ia ciptakan sepanjang hari, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Rangga merasakan sebuah kehangatan asing yang sangat nyaman. Ia tidak ingin Rania menjauh darinya sedetik pun; ia ingin wanita itu terus berada di dekatnya, mengisi setiap jengkal ruang kosong di dalam hidupnya yang selama ini dingin dan membeku.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!