NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 #Jejak yang Terkuak

"Mama... jadi lusa Kai tidak bisa ikut ke kebun binatang, dong? Mama kan lagi sakit?"

Celetukan polos dengan nada kecewa dari Kaivandra itu seketika memecah ketegangan pekat yang tadinya menggantung di udara.

Gibran mengalihkan pandangannya dari Bening, memutar tubuh lalu berjongkok tepat di depan sofa tempat Kai duduk. Tatapan tegas sang CEO seketika melunak hangat saat menatap manik mata bulat putranya.

"Kai... tidak apa-apa, ya?" bisik Gibran lembut, mengusap lutut mungil putranya. "Nanti Papa janji akan ajak Kai ke kebun binatang sendiri... kalau kondisi Mama sudah benar-benar sembuh."

"Ah, Mas... aku sudah baik-baik saja," potong Bening cepat dari atas ranjang. Ia menatap Kai dengan senyuman hangat yang dipaksakan, berusaha meyakinkan putranya. "Kai... kita pasti akan tetap pergi lusa. Tenang saja ya, Sayang?"

Mata Kai seketika berbinar terang. Wajah murungnya menguap tanpa bekas, berganti dengan sorakan gembira. "Yey! Kai senang banget! Kai sudah tidak sabar mau pakai baju kembaran sama Papa dan Mama!"

Gibran tersenyum tipis melihat antusiasme yang begitu jujur dari darah dagingnya. Namun, saat ia mendongak dan mengarahkan kembali pandangannya pada Bening, wanita itu dengan cepat membuang mukanya ke arah jendela, enggan membalas tatapannya.

Kaivandra yang sedang memegang sendoknya mendadak terdiam sejenak. Bocah enam tahun itu bergantian menatap papanya yang berjongkok di bawah, lalu menatap mamanya yang duduk di atas ranjang terlihat kaku.

Sebuah pertanyaan polos yang jujur meluncur begitu saja dari bibir mungilnya.

"Mama... Papa... kenapa sih kalian bercerai?"

Deg.

Dada Bening seketika mencelos. Napasnya tertahan di tenggorokan.

"Kai lihat... Mama sama Papa itu cocok sekali," lanjut Kai dengan raut wajah polos tanpa dosa. Matanya menatap Gibran penuh permohonan yang amat dalam. "Papa... bisa tidak, Papa jangan berpisah lagi sama Mama? Kai maunya kita tinggal di satu rumah yang sama... Ada Mama, ada Papa, dan ada Kai..."

Permohonan sederhana yang meluncur dari mulut Kaivandra bagai sembilu tajam yang menyayat ulu hati Bening tanpa ampun. Kepedihan yang teramat sangat menyengat seluruh kesadarannya. Hatinya remuk hancur berkeping-keping.

Bagaimana mungkin ia bisa mewujudkan impian sederhana anaknya, jika dinding pemisah di antara mereka dibangun di atas fitnah keji dan ancaman keselamatan dari keluarga Aditama sendiri?

Bening tak sanggup lagi menahan tangisnya. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya menetes deras membasahi pipinya. Tanpa kata, Bening terus melemparkan pandangannya ke luar jendela, membelakangi mereka berdua demi menyembunyikan wajahnya yang hancur oleh kesedihan.

Gibran tertegun membisu. Kata-kata putranya merobek pertahanan egonya hingga tak tersisa. Pria itu menelan ludah, menahan gejolak panas di sudut matanya. Dengan kelembutan seorang ayah, Gibran mengusap lembut kepala putra kecilnya.

"Kai... makan dulu yang banyak ya, Nak," bisik Gibran halus, mencoba mengalihkan perhatian Kai agar tak melihat ibunya yang sedang menangis.

Mendengar ucapan papanya, logika polos Kai langsung menyimpulkan jalannya sendiri. Mata bulat bocah itu berbinar penuh harapan.

"Jadi... kalau Kai makan yang banyak, Mama sama Papa tidak akan bercerai lagi?" tanya Kai polos dengan binar gembira. "Baik, Papa! Kai akan makan yang banyak sekali!"

Tanpa perlu disuapi lagi, Kaivandra dengan penuh semangat menyendok nasi dan sup di piringnya, melahapnya dengan riang, meyakini sepenuh hati bahwa dengan menghabiskan makanannya, ia bisa menyatukan kembali kedua orang tuanya dalam satu atap yang utuh.

Setelah menghabiskan makan siangnya dengan sangat lahap, Kaivandra kembali meraih tablet pintar yang dibelikan oleh Gibran. Jarinya yang mungil sibuk menggeser layar permainan interaktif di atas sofa empuk kamar rawat inap. Namun, kelelahan fisik setelah menangis hebat semalaman serta perut yang kenyang perlahan membuat kelopak matanya berat. Tak butuh waktu lama, bocah kecil itu tertidur lelap dengan tablet masih berada di samping lengannya.

Suasana ruangan bernuansa putih itu mendadak hening seketika. Hanya terdengar dengusan napas halus Kaivandra yang teratur serta detak pendingin udara di sudut dinding.

Melihat putranya sudah benar-benar terbuai dalam mimpi, Bening merasa inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Ia mengumpulkan sisa-sisa energinya, memosisikan tubuhnya bersandar lebih tegak di kepala ranjang.

"Mas Gibran..." panggil Bening pelan, suaranya terdengar serak namun menyimpan ketegasan yang tertahan.

Gibran yang tadinya sedang merapikan selimut kecil di tubuh Kai berbalik pelan. Pria itu melangkah mendekati ranjang Bening dengan tatapan mata yang dalam. "Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"

"Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah membawaku kemari dan mengurus semuanya..." Bening menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam iris mata mantan suaminya. "Tapi... aku merasa harus meluruskan sesuatu di antara kita."

Dahi Gibran berkerut tipis. "Meluruskan apa?"

"Kalimatmu tadi..." bisik Bening, jemarinya meremas selimut putih rumah sakit yang menutupi pangkuannya. "Kamu tadi mengatakan bahwa aku masih istrimu... dalam hatimu yang terdalam. Mas... apa maksud dari perkataanmu itu?"

Gibran tak langsung menjawab. Pria bertubuh tinggi berkarisma itu mengambil satu langkah lebih dekat ke tepi ranjang. Wajah kakunya yang biasa tertutup aura dingin kini perlahan runtuh, menyisakan raut wajah yang sarat akan kepedihan dan duka yang amat mendalam.

"Itu fakta yang terjadi dalam hidupku, Bening," bisik Gibran dengan suara rendah yang begitu bergetar. "Selama tujuh tahun ini aku membohongi diriku sendiri. Tapi kenyataannya... sebesar apa pun usahaku untuk membencimu atas apa yang terjadi di masa lalu, nyatanya... rasa cintaku padamu jauh lebih besar dari kebencian itu."

Deg.

Pengakuan jujur dari bibir Gibran bagai sembilu tajam yang dihantamkan tepat ke ulu hati Bening. Mendengar kata cinta meluncur dari pria yang sangat ia rindukan harusnya menjadi momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun saat ini, pernyataan itu justru membuat dadanya terasa nyeri dan dihantam ketakutan yang teramat sangat.

Bening panik luar biasa. Ia sangat takut... sangat takut jika Gibran mulai mencium aroma rahasia keji yang disembunyikannya selama tujuh tahun ini. Jika Gibran terus menggali, keselamatan Kai dan keluarganya akan kembali terancam oleh kekejaman Wira Aditama.

"Buang cintamu itu, Mas!" potong Bening cepat dengan nada suara naik satu oktav. Matanya membelalak, memancarkan keputusasaan yang brutal. "Buang rasa itu jauh-jauh! Aku tidak pantas untukmu! Aku ini wanita kotor... wanita murah yang sudah mengkhianatimu!"

Bening terus cecar menjelek-jelekkan dirinya sendiri tanpa ampun. Ia sengaja mengumbar kata-kata kasar untuk merendahkan martabatnya sendiri, berharap dengan cara tragis ini Gibran akan kembali membencinya, menjauhinya, dan berhenti mencari tahu kebenaran.

Namun, usaha Bening runtuh oleh ketidakmampuan fisiknya sendiri. Pertahanan emosinya hancur, air mata Bening justru menetes deras melintasi pipinya yang pucat, mengungkapkan kerapuhan dan kebohongan yang sangat bertolak belakang dengan kata-kata kasarnya.

Melihat lelehan air mata wanita itu, Gibran tidak terkecoh sedikit pun. Justru rasa iba dan kepemilikan yang teramat kuat membuat Gibran semakin maju mengikis jarak, mengulurkan tangannya hendak merengkuh bahu Bening.

"Jangan, Mas! Jangan mendekat!" jerit Bening tertahan. Wanita itu buru-buru menegakkan kedua tangannya ke depan, mendorong udara untuk menghalangi tubuh Gibran. "Jangan buat aku semakin merasa kotor, Mas... Tolong..."

Air mata Bening makin tak terkendali. "Kita sudah selesai... Kenyataan tujuh tahun lalu memang seperti itu! Aku memang ada di kamar hotel itu bersama pria lain dan tidak ada satu pun yang bisa diubah dari kenyataan itu! Pergilah..."

Gibran tertegun dengan tangan menggantung di udara. Dadanya bergemuruh hebat menyaksikan Bening yang menangis histeris sambil memohon agar dibenci.

Perdebatan panas yang menguras air mata dan penuh duka itu mendadak terhenti saat pintu kamar rawat tiba-tiba diketuk pelan. Seorang petugas kebersihan rumah sakit mendorong troli masuk, bermaksud mengambil nampan bekas makan siang yang terletak di atas meja.

Bening cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengusap air matanya secara kasar demi menyembunyikan wajahnya yang kacau. Gibran pun menarik tangannya kembali, mengontrol ekspresi wajahnya menjadi dingin dan kaku dalam sekejap.

Di saat yang bersamaan, dari balik kaca pintu luar kamar rawat, Toni, asisten kepercayaannya terlihat berdiri memberi kode dengan gestur kepala yang mendesak. Ada kabar penting yang harus segera disampaikan.

Gibran memalingkan pandangannya sejenak pada Bening yang masih terisak pelan tanpa suara. "Aku keluar sebentar," ucapnya singkat.

Gibran melangkah lebar keluar dari kamar rawat inap, menutup pintu rapat-rapat. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding lorong rumah sakit yang sepi, menatap Toni dengan iris mata yang tajam dan menuntut.

"Ada apa, Toni? Sudah ada informasi tentang pria di kamar hotel itu?" tembak Gibran tanpa basa-basi.

Toni mengangguk mantap, mengeluarkan sebuah map dokumen tipis yang baru saja dikirimkan oleh tim penyidik internal mereka.

"Sudah, Pak Gibran," sahut Toni penuh kehati-hatian. "Namun, saat ini orang itu sedang tidak berada di wilayah Jakarta. Tim pelacak kami mendeteksi keberadaannya di salah satu daerah di Kalimantan."

Gibran menyipitkan matanya. "Kalimantan?"

"Benar, Pak. Dari data kependudukan dan pencarian latar belakang yang tim kirimkan, pria itu bernama Heru," lanjut Toni menjelaskan dengan cepat. "Dan ada satu hal penting lagi, Pak... Heru sudah berkeluarga. Pernikahannya tercatat secara resmi sekitar tiga tahun yang lalu."

Gibran tertegun seketika. "Sudah menikah tiga tahun lalu?"

"Benar, Pak Gibran. Saat ini tim kami di lapangan sedang berkoordinasi untuk mengamankan dan membawa Heru ke hadapan Anda secepatnya," tambah Toni.

Rahang Gibran mengeras kaku. Otak jenius sang CEO bekerja dengan kecepatan kilat, menyambungkan setiap potongan teka-teki aneh yang selama ini tidak masuk akal baginya.

Pria yang tujuh tahun lalu berteriak angkuh di kamar hotel bahwa dia sangat mencintai Bening... pria yang mengaku hendak membawa Bening lari dan hidup bersama... ternyata mencampakkan Bening begitu saja?

Gibran mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. 'Tidak... ini tidak masuk akal! Jika pria itu benar-benar kekasih gelap Bening yang sangat dicintainya, tidak mungkin Bening dibiarkan hidup sengsara, jatuh miskin, dan membesarkan Kaivandra sendirian! Pria bernama Heru itu... dia bukan kekasih Bening! Dia hanya orang bayaran yang disewa seseorang untuk mempermainkan dan menghancurkan kehidupan pernikahanku!'

Kobaran amarah dan rasa haus akan kebenaran mendadak membakar dada Gibran hingga matanya memerah. Dugaannya selama ini semakin mendekati kenyataan yang amat kelam.

Gibran menatap Toni dengan tatapan membunuh yang teramat dingin dan mengerikan.

"Usut sampai tuntas, Toni!" perintah Gibran dengan suara rendah yang sarat akan ancaman mematikan. "Bawa Heru ke hadapanku dalam keadaan hidup! Siapa pun yang berada di balik skenario keji tujuh tahun lalu ini... aku tidak akan pernah mengampuninya!"

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!