Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Yang Digambar di Kertas Itu Dia
`Cara merawat sukulen?`
Pukul sepuluh kurang tiga menit, Amaya memasuki ruang rapat utama lantai dua puluh sembilan.
Selena sudah duduk di sisi kiri meja panjang, dikelilingi tim Adhikara yang selama ini bekerja dengannya. Sebuah kursi kosong tersedia di sebelahnya.
Amaya berjalan melewati kursi itu.
Ia berhenti di sisi kanan Sebastian, tepat di kursi yang biasanya ditempati koordinator utama proyek.
Wajah Selena menegang. "Maya, tim Adhikara duduk di sebelah sini."
Amaya menoleh kepada Sebastian. "Aku harus pindah?"
Pria itu menutup tablet. Tatapannya sempat berhenti pada Amaya, lalu kursi kosong.
"Duduk saja."
Amaya menarik kursi dan meletakkan buku catatannya di meja. Di bawah meja, ujung sepatunya nyaris menyentuh sepatu Sebastian.
Rapat dimulai tepat waktu.
Ivan membagikan agenda digital dan mengingatkan bahwa setiap keputusan lintas grup harus mendapat pemilik tindakan serta tenggat yang jelas. Sebastian memimpin tanpa basa-basi. Ia menolak satu usulan pengadaan karena analisis risikonya tidak lengkap, mengembalikan dua lembar anggaran, lalu meminta tim klinis berhenti memakai istilah `secepatnya` dan menuliskan tanggal pasti.
Amaya memahami alasan orang-orang merapikan punggung ketika pria itu masuk ruangan. Sebastian tidak perlu meninggikan suara. Ia hanya mengetahui terlalu banyak detail untuk bisa dibohongi dengan kalimat kabur.
Selena mendapat giliran setelah pembahasan anggaran ditutup.
Selena mempresentasikan pekerjaan tahap awal: pemilihan vendor, kesiapan fasilitas steril, penyesuaian dokumen mutu, dan jadwal produksi sampel. Ia berbicara tenang, sesekali menyebut nama anggota tim untuk menunjukkan bahwa seluruh fondasi proyek dibangun di bawah koordinasinya.
Amaya mencatat poin-poin utama. Setelah dua puluh menit, alur pembahasan masuk ke bagian yang sudah ia baca tiga kali dari flashdisk Robert.
Perhatiannya mulai berpindah.
Sebastian duduk dengan punggung tegak, lengan kemeja terlihat di bawah jas gelap, satu tangan memegang pena. Saat menelaah angka di layar, ia sedikit menunduk sehingga bingkai emas kacamatanya memantulkan cahaya.
Amaya menggambar garis bahunya di bagian kosong notulen.
Lalu rahang. Dasi. Kacamata.
Gambarnya cepat tetapi hidup. Ia menambahkan satu garis pada bibir datar Sebastian dan menulis kecil di bawahnya: `pas rapat manis banget, pengen cubit`.
Amaya tersenyum sendiri.
Sebastian melirik.
Ia hanya melihat ujung pena bergerak dan wajah Amaya yang terlalu senang untuk seseorang yang sedang mendengarkan laporan validasi.
Lima menit kemudian, ia melirik lagi.
Senyum itu masih ada.
"Untuk tahap uji coba sampel klinis," kata Selena, "koordinasi selanjutnya akan diambil alih Maya. Mungkin lebih tepat kalau dia yang menjelaskan rencana setelah serah-terima."
Semua kepala beralih.
Pena Amaya berhenti tepat di garis pinggang gambar Sebastian.
Selena tersenyum. "Silakan, Maya."
Seorang anggota tim Adhikara tampak tidak nyaman. Materi tersebut belum dibahas bersama Amaya secara resmi. Selena sengaja melempar bagian teknis agar pegawai baru terlihat hanya mengandalkan nama keluarga.
Amaya menutup penanya.
"Baik."
Ia membuka halaman catatan yang benar. Tiga malam terakhir, Amaya tidur lewat pukul dua demi membaca seluruh riwayat proyek. Ia menandai istilah yang tidak dipahami, meminta Robert menjelaskan mekanisme bisnisnya, lalu mencari publikasi resmi untuk memahami urutan validasi tanpa menyentuh data rahasia pasien.
Ia bukan ahli farmasi atau klinis. Karena itu ia tidak akan berpura-pura menjadi satu. Keunggulannya terletak pada membaca meja, menemukan titik yang saling bergantung, dan memastikan orang yang tepat tidak bisa bersembunyi di balik pekerjaan orang lain.
Nada suaranya berubah. Tidak lagi manja, tidak pula tergesa.
"Lini produksi steril berstandar tinggi sudah lolos validasi fasilitas dan proses. Saat ini satu catatan minor pada pemasok bahan kemasan masih menunggu penutupan, tapi tidak menggeser jadwal batch. Sampel pertama direncanakan masuk uji minggu depan."
Ia menekan tombol presentasi dan membuka timeline yang sudah disiapkan semalam.
"Siklus pengujian sekitar dua minggu. Kalau hasilnya memenuhi spesifikasi dan dokumen etik tidak tertunda, bulan depan kita mulai persiapan enrolment klinis. Pada titik itu, Amerta perlu mengunci rumah sakit pelaksana, koordinator penelitian, serta sumber daya laboratorium sesuai protokol."
Kepala klinis Amerta mengangguk. "Daftar kandidat rumah sakit sudah ada. Kami menunggu tanggal batch final."
"Saya kirim pembaruan paling lambat dua hari kerja setelah jadwal manufaktur dikunci. Perubahan kritis akan diberitahukan di hari yang sama."
Amaya melanjutkan dengan tiga risiko: keterlambatan dokumen vendor, kapasitas penyimpanan sampel, dan jadwal komite etik. Ia tidak berpura-pura memahami ilmu yang belum dikuasainya. Ia hanya menunjukkan bahwa dirinya tahu hubungan antarbagian dan siapa yang harus bergerak ketika satu titik terlambat.
"Siapa pemilik penutupan catatan vendor?" tanya Sebastian.
"Tim quality assurance Adhikara, tenggat Rabu pukul tiga. Kalau lewat, saya eskalasi ke direktur manufaktur dan memberi tahu tim uji sebelum akhir hari."
"Kapasitas penyimpanan?"
"Cukup untuk batch pertama. Batch kedua perlu ruang tambahan kalau jadwalnya tumpang tindih. Saya minta skenario kapasitas paling lambat Jumat."
Seorang manajer Amerta yang sejak tadi ragu mulai mencatat jawabannya. Dua anggota tim Adhikara saling pandang. Mereka tahu informasi tersebut memang ada di dokumen, tetapi Selena tidak menyangka Amaya sudah menghubungkannya menjadi rencana tindakan.
Ketika selesai, ruangan hening sesaat.
Sebastian mengetuk ujung pena ke meja. "Sumber datanya?"
"Materi serah-terima, notulen negosiasi, dan timeline implementasi. Aku cocokkan tiga-tiganya."
"Ada perbedaan?"
"Dua tanggal. Sudah kutandai untuk dikonfirmasi hari ini."
Ia menoleh kepada Selena dengan senyum lembut. "Kalau ada yang salah, berarti materi serah-terima Ci Selena yang keliru tulis."
Beberapa orang menunduk untuk menyembunyikan reaksi.
Selena merapatkan jari di atas meja. "Aku senang kamu mau belajar. Tapi saat rapat, notulen juga penting. Jangan sampai terlalu fokus bicara lalu nggak mencatat keputusan."
"Sudah kucatat."
"Kalau begitu boleh dibagikan supaya semua orang memakai catatan yang sama." Selena memandang Sebastian. "Pak Sebastian, mungkin notulen Maya bisa ditinjau sekarang? Sekalian memastikan format tim kita seragam."
Jebakan kedua.
Amaya melihat gambar di bukunya. Sebastian versi tinta hitam memiliki bahu lebar, pinggang ramping, dan catatan ingin mencubit di bawah wajah.
Ia bisa menolak dengan alasan catatan belum dirapikan. Namun penolakan akan memberi Selena bahan untuk menyebutnya tidak transparan.
Sebastian mengulurkan tangan.
"Bu Amaya, silakan bagikan."
Amaya menatap telapak tangan itu. Ekspresi pria tersebut terlalu tenang. Entah ia sedang membantu Selena mengujinya atau benar-benar ingin tahu apa yang membuatnya tersenyum sejak tadi.
Amaya menutup buku, berdiri, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan.
"Silakan diperiksa, Pak."
Sebastian meletakkan buku di depannya dan membuka sampul.
Halaman pertama berisi agenda. Halaman kedua penuh catatan rapi.
Ia membalik ke halaman ketiga.
Tangannya berhenti.
Yang digambar di kertas itu adalah dirinya.