NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Rahasia Sang Suami

Gelas Tiara pecah, tetapi tidak ada yang membungkuk membantunya.

Seorang panitia segera membersihkan lantai. Sang jenderal menyalamiku, menyebut Arya sebagai salah satu perwira terbaik yang pernah dipimpinnya, lalu bergabung dengan tamu lain. Sepanjang sisa resepsi, aku menerima ucapan selamat dari orang-orang yang memandang suamiku dengan hormat yang nyaris sulit dijelaskan.

Tiara, Ratna, dan Bimo pulang sebelum acara selesai.

Malamnya, setelah tenda mulai kosong dan anak-anak tertidur di kamar bawah bersama keluarga Tegalsari, aku menemukan Arya duduk sendiri di ruang kerja.

Seragamnya sudah diganti dengan kemeja putih biasa. Tanda jasa dan kartu identitas lama tersusun di atas meja. Tidak lagi terkunci, seolah dia sengaja menungguku melihat semuanya.

Aku masuk dan menutup pintu.

“Mayor?” tanyaku.

Dia mengusap tengkuk. “Mayor purnawirawan.”

“Kopassus?”

“Dulu.”

“Dan orang yang berpangkat jenderal memanggil Mas Arya komandan?”

“Dia pernah memimpin satuan. Beberapa operasi membuat kami bekerja dekat.”

Aku duduk di kursi seberangnya. “Berapa banyak jawaban yang akan tetap terdiri dari dua kata?”

Dia menatapku cukup lama, lalu menarik napas.

“Tanyakan apa pun.”

“Kenapa berhenti?”

Tangannya berhenti di dekat kotak tanda jasa.

Arya bercerita perlahan. Dia bergabung dengan satuan khusus saat masih sangat muda. Bersama dua orang sahabat, dia menjadi bagian dari tim yang oleh rekan-rekan mereka dijuluki tiga jagoan. Nama itu tidak diucapkannya dengan bangga. Ada kelelahan di wajahnya setiap kali mengingat masa tersebut.

“Operasi terakhir bocor,” katanya. “Informasi jalur masuk diketahui pihak lawan. Kami masuk ke tempat yang sudah menunggu.”

Aku melihat bekas luka tipis di dekat pergelangan tangannya, lalu membayangkan luka lain yang tersembunyi di balik kemeja.

“Ada yang meninggal?”

“Ada.”

“Salah satu dari tiga jagoan?”

Rahangnya mengeras. “Yudha.”

Dia tidak mengatakan lebih banyak. Cara namanya keluar sudah cukup menunjukkan bahwa luka itu belum tertutup.

Arya terluka dan menjalani pemulihan panjang. Pada saat hampir bersamaan, kakaknya Almira dan suaminya Danendra meninggal, meninggalkan Raka, Bayu, dan Sasa. Anak-anak membutuhkan wali yang bisa hadir, bukan lelaki yang terus menghilang ke tempat yang tak boleh disebutkan.

“Mereka memanggil Mas Arya Ayah,” kataku.

“Bayu mulai lebih dulu. Raka menolak hampir setahun.”

“Mas Arya tidak pernah meluruskan di depan orang desa.”

“Mereka kehilangan ayah dan ibu dalam waktu berdekatan. Aku tidak akan merebut nama Danendra, tapi aku juga tidak akan menolak panggilan yang membuat mereka merasa aman.”

Dia menjelaskan bahwa secara darah dia adalah adik Almira, paman kandung mereka. Secara hukum, dia menjadi wali yang mengurus sekolah, kesehatan, dan seluruh kebutuhan hidup anak-anak. Tidak ada adopsi yang menghapus nama orang tua kandung mereka.

“Kalau suatu hari keluarga Danendra datang?” tanyaku.

“Hak anak-anak tetap hak mereka. Aku hanya menjaga sampai mereka mampu memilih sendiri.”

Jawaban itu membuat satu hal lain menjadi jelas. Arya tidak mengumpulkan anak-anak itu untuk mengisi kesepian. Dia sedang menjaga warisan, nama, dan tempat pulang yang dipercayakan kepadanya.

“Jadi Mas Arya pulang karena mereka.”

“Karena mereka. Karena luka. Karena aku tidak lagi percaya semua perintah datang dari tangan yang bersih.”

Itulah kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya tentang dirinya sendiri.

“Kenapa memilih peternakan?”

“Tanah keluarga sudah ada. Sapi tidak berbohong.”

Aku hampir tertawa, tetapi matanya tetap muram.

“Aku ingin hidup yang bisa kulihat hasilnya,” lanjutnya. “Memberi makan, merawat yang sakit, memastikan anak-anak pulang ke rumah yang sama setiap hari.”

Kini aku mengerti kenapa dia memeriksa pintu dua kali setiap malam. Kenapa dia selalu duduk menghadap jalan masuk. Kenapa suara benda jatuh membuat bahunya menegang sebelum pikirannya sempat menyusul.

Lelaki yang dilihat desa sebagai orang kuat ternyata membangun seluruh rutinitasnya untuk menahan dunia agar tidak kembali runtuh.

“Apakah semuanya sudah selesai?” tanyaku.

Arya menggeleng.

“Aku purnawirawan, bukan prajurit aktif. Tapi namaku masih ada dalam daftar cadangan khusus. Kalau negara membutuhkan kemampuan tertentu dan perintah resmi turun, aku bisa dipanggil untuk membantu.”

“Apakah mereka pernah memanggil sejak Mas Arya pulang?”

“Dua kali untuk konsultasi. Tidak turun langsung.”

“Dan orang-orang tadi datang karena masih bekerja dengan Mas Arya?”

“Sebagian pernah menjadi atasan. Sebagian anak buah. Ada juga keluarga orang yang tidak bisa pulang dari tugas.”

Aku teringat beberapa tamu yang memeluknya tanpa bicara. Tiba-tiba penghormatan siang tadi tidak lagi tampak seperti pertunjukan pangkat. Mereka datang membawa ingatan yang sama, termasuk nama-nama yang tidak tercantum pada undangan.

“Kenapa memakai seragam kalau sudah pensiun?”

“Mereka meminta. Upacara kecil untuk menghormati pernikahan dan kawan-kawan lama.” Dia menatap tanda jasa di meja. “Aku hampir menolak.”

“Lalu?”

“Raka bilang aku tidak boleh terus menyembunyikan bagian hidup yang membuat Almira bangga.”

Raka rupanya mengetahui lebih banyak dariku, tetapi dia menyimpan rahasia Arya dengan kesetiaan seorang anak yang takut kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa.

“Pergi berapa lama?”

“Tidak ada yang bisa menjamin.”

“Berbahaya?”

Dia tidak menjawab cepat kali ini. “Bisa.”

Ketakutan menyelinap dingin ke bawah kulitku. Baru pagi tadi namanya tertulis di samping namaku. Malam ini aku diberi tahu bahwa suatu hari sebuah panggilan dapat membawanya ke tempat yang tidak bisa kuketahui.

Arya menutup kotak tanda jasa.

“Karena itu seharusnya aku memberi tahu sebelum akad.”

“Kenapa tidak?”

“Aku takut kamu pergi.”

Pengakuan itu nyaris tak terdengar.

“Seorang komandan takut pada perempuan yang datang membawa dua koper?”

“Aku tidak takut kamu menyakitiku.” Dia menatap meja, bukan wajahku. “Aku takut rumah ini kembali kosong.”

Dadaku terasa perih.

Dia mengaku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa ancaman. Masa lalunya bisa kembali mengetuk pintu. Tugas dapat membuatnya pergi, dan bahaya mungkin mengikuti. Selain itu, ada tiga anak yang akan selalu menjadi tanggung jawabnya.

“Kamu baru tahu siapa yang kamu nikahi setelah semuanya sah,” katanya. “Itu tidak adil.”

“Mas Arya mau membatalkan pernikahan kita?”

“Tidak.” Jawabannya tegas. “Tapi aku tidak akan menahanmu kalau kamu menyesal.”

Dia berdiri, lalu berhenti di dekat jendela. Di luar, lampu tenda yang belum dilepas bergoyang tertiup angin. Lelaki yang siang tadi membuat seluruh ruangan berdiri kini menghindari tatapanku seperti seorang anak yang menunggu hukuman.

“Pikirkan baik-baik, Laras,” katanya. “Menjadi istriku tidak akan selalu mudah.”

Aku sudah memikirkan jalan panjang dari Jakarta, wajah tiga anak yang dulu kelaparan, tangan kasarnya yang membalut jariku, dan namaku yang tercetak utuh di buku nikah.

Jawabannya sebenarnya sudah ada.

Hanya saja aku ingin mengatakannya saat kami tidak lagi duduk berseberangan seperti dua orang yang sedang menandatangani perjanjian.

Namun Arya berbalik dan bertanya sekali lagi, suaranya lebih rendah daripada sebelumnya.

“Kamu sudah yakin?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!