Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Langkah kaki Saka terdengar pelan mengikuti Master Handoko menyusuri lorong berkarpet merah yang sangat mewah. Petugas keamanan berbadan besar tadi berjalan di belakangnya dengan wajah yang masih terlihat sangat tegang.
Ceklek.
Pintu kayu jati berukir naga itu dibuka dari luar oleh petugas keamanan tersebut.
"Silakan masuk Master Handoko, ruangannya sudah saya siapkan untuk penilaian pagi ini." Ucap petugas itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam menghormati pria tua tersebut.
Master Handoko mengangguk pelan lalu berjalan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan berbagai barang antik mahal. Ruangan itu terasa sangat sejuk dan memiliki aroma dupa yang langsung menenangkan pikiran siapapun yang menghirupnya.
"Duduklah anak muda, jangan berdiri saja di depan pintu seperti patung batu begitu." Perintah Master Handoko sambil menunjuk sebuah kursi kulit yang terlihat sangat empuk di depan mejanya.
Saka tersenyum canggung lalu duduk di kursi itu dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat kaku. Dia memeluk tas punggung bututnya erat-erat seolah takut barang rongsokan di dalamnya akan dicuri orang.
"Jadi barang pusaka apa yang berani kamu bawa untuk didaftarkan ke acara lelang agung kita besok." Tanya Master Handoko sambil duduk bersandar di kursi kebesarannya di seberang meja kaca.
Pria tua itu menatap Saka dengan pandangan meremehkan dari balik kacamata tebalnya. Dia sudah terlalu sering bertemu dengan penipu atau orang miskin bodoh yang mengira barang rongsokannya bernilai miliaran rupiah.
Saka pura-pura ragu sejenak sebelum perlahan membuka resleting tas punggungnya dengan tangan gemetar. Sret. Suara resleting yang ditarik perlahan memecah keheningan di ruangan mewah tersebut.
Dia mengeluarkan buntalan kain tebal yang terlihat kusam lalu meletakkannya di atas meja kaca dengan sangat hati-hati. Master Handoko hanya mendengus pelan melihat kain pembungkus yang sama sekali tidak terlihat meyakinkan itu.
"Buka kainnya sekarang juga, aku tidak punya banyak waktu luang untuk meladeni lelucon anak muda sepertimu." Ucap pria tua itu dengan nada suara yang mulai terdengar sedikit tidak sabar.
Saka mengangguk cepat dan perlahan membuka lipatan kain tebal itu satu per satu dengan kikuk. Begitu lipatan terakhir terbuka sempurna Piring Kayu Gaharu Berdarah itu akhirnya menampakkan wujud aslinya di bawah cahaya lampu.
Aroma wangi khas gaharu yang sangat pekat langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan seketika itu juga. Hawa hangat yang menenangkan tiba-tiba menyapu tubuh Master Handoko membuat pria tua itu tersentak kaget dari sandarannya.
Brak.
Master Handoko refleks berdiri dari kursinya hingga kedua tangannya menggebrak meja kaca dengan sangat keras.
Mata pria tua itu terbelalak lebar seolah nyaris melompat keluar dari kelopaknya melihat piring kayu berwarna merah gelap tersebut. Mulutnya terbuka setengah namun tidak ada satu patah kata pun yang berhasil keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering.
[Mendeteksi fluktuasi emosi yang sangat drastis dari target bernama Handoko.]
[Target menyadari keberadaan aura murni dan keaslian pusaka tingkat tinggi yang ada di depannya.]
Saka hanya diam memperhatikan reaksi berlebihan pria tua itu dengan wajah yang sengaja dibuat bingung. "Ada apa Tuan, apakah piring kayu peninggalan kakek saya ini tidak laku dijual di sini ya." Tanya Saka dengan nada memelas.
Pertanyaan polos itu seakan menampar kesadaran Master Handoko yang sejak tadi sedang melamun takjub. Tangan keriput pria tua itu gemetar hebat saat dia perlahan menyentuh ukiran naga di pinggiran piring kayu tersebut.
"Anak muda, dari mana sebenarnya kakekmu mendapatkan barang pusaka level dewa seperti ini." Suara Master Handoko bergetar hebat saat menanyakan hal itu langsung kepada Saka.
"Saya tidak tahu Tuan, kakek saya dulu cuma bilang piring ini sering dipakai untuk alas makan ayam peliharaannya di halaman belakang kampung." Jawab Saka berbohong dengan wajah yang sangat meyakinkan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Master Handoko nyaris pingsan mendengar barang seberharga ini pernah digunakan untuk sekadar memberi makan ayam kampung. "Astaga naga, kakekmu pasti orang gila yang sama sekali tidak mengerti nilai sejarah dan seni." Umpat Master Handoko sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Ini adalah Piring Kayu Gaharu Berdarah asli dari era dinasti kuno yang sudah hilang jejaknya selama ratusan tahun lamanya." Lanjut pria tua itu sambil menatap piring di depannya dengan pandangan penuh pemujaan.
"Menurut literatur kuno piring ini menyerap energi dari urat nadi bumi selama berabad-abad di tempat penyimpanannya." Master Handoko terus berceloteh seperti seorang dosen yang sedang memberikan kuliah sejarah.
"Barang ini mengandung energi positif murni yang sangat besar dan bisa membawa keberuntungan tak terhingga bagi pemilik barunya nanti." Jelas Master Handoko panjang lebar dengan mata berbinar-binar.
Saka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal pura-pura tidak mengerti penjelasan rumit tersebut. "Jadi barang ini laku dijual ya Tuan, soalnya saya butuh uang banyak banget buat bayar biaya operasi rumah sakit ibu saya hari ini." Ucap Saka memotong penjelasan pria itu dengan wajah sedih.
Master Handoko terdiam sejenak lalu menatap tajam langsung ke sepasang mata Saka. "Anak muda, balai lelang kami tentu saja akan menerima barang ini dan menjadikannya sebagai kejutan bintang utama di acara puncak lusa."
"Harga penawaran awalnya akan saya buka di angka lima ratus juta rupiah, bagaimana menurutmu." Tanya Master Handoko sambil tersenyum yakin menantikan reaksi kaget dari pemuda udik di depannya ini.
Saka pura-pura terkejut hingga mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O yang terlihat sangat konyol. "Lima ratus juta Tuan, itu uang betulan semua bukan daun kan, wah ibu saya pasti bisa langsung sembuh kalau begitu." Teriak Saka kegirangan memainkan peran bodohnya.
"Tentu saja itu uang sungguhan, tapi saya jamin harganya akan naik berkali-kali lipat saat para konglomerat itu mulai berebut menawarnya." Balas Master Handoko ikut merasa senang melihat reaksi Saka.