NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Langkah Bima terhenti seketika.

Dia tidak boleh mengambil risiko kehilangan sampel asli itu.

"Apa yang kau inginkan, Kevin?" tanya Bima menahan emosinya.

"Letakkan semua senjatamu dan berlutut di lantai!" teriak Kevin yang merasa di atas angin.

"Aku bilang berlutut, Dokter Sialan!"

Bima mengangkat kedua tangannya perlahan untuk menunjukkan bahwa dia tidak memegang apa-apa.

"Kau ini benar-benar anjing pengecut yang menyedihkan."

"Dulu kau berlindung di balik uangmu, sekarang kau berlindung di balik seekor cacing parasit."

Wajah Kevin memerah karena marah mendengar hinaan itu.

"Tutup mulutmu!"

"Rina mencampakkanmu karena kau memang sampah yang miskin!"

Bima hanya tertawa pelan mendengar nama Rina disebut.

"Aku sudah lupa dengan wanita murahan itu."

"Tapi sepertinya kau masih terjebak di masa lalu, Kevin."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk laboratorium.

Prok, prok, prok.

Pintu baja terbuka secara otomatis.

Seorang pria berbadan tinggi besar dengan tato ular yang menjalar di lehernya melangkah masuk.

Dia adalah Bos Naga.

"Drama yang sangat menarik," ucap Naga dengan suara bariton yang menggema di ruangan itu.

"Tapi kau membuatku kecewa karena tidak langsung menembaknya, Kevin."

Kevin langsung menundukkan kepalanya ketakutan melihat kedatangan bosnya.

"Maafkan saya, Bos Naga."

"Saya hanya mencoba mengancamnya agar menyerah."

Naga mengabaikan Kevin dan berjalan mendekati Bima.

"Jadi kau yang bernama Bima Aditya."

"Dokter magang yang telah menghancurkan lelang bulananku dan membantai regu penyerangku semalam."

Bima menatap Naga tanpa berkedip sedikit pun.

"Itu aku."

"Dan kau pasti bos lapangan dari sindikat kotor ini."

Naga tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya yang dibungkus emas.

"Namaku Naga."

"Aku harus mengakui bahwa kau sangat pintar bisa menemukan tempat ini hanya dalam waktu sehari."

Naga melepaskan jas hitamnya dan melemparnya ke lantai.

"Tapi kepintaranmu akan berakhir di ruangan ini malam ini juga."

Naga mencabut sebuah pisau belati panjang yang bentuknya meliuk seperti tubuh ular.

"Aku sendiri yang akan memotong-motong tubuhmu untuk dijadikan makanan parasit-parasitku."

Bima mundur selangkah dan memasang kuda-kuda bersiap.

"Sistem, analisis kecepatan dan kekuatan otot pria bertato ini," batin Bima.

[Analisis fisik selesai.]

[Target memiliki massa otot di atas rata-rata manusia normal dan refleks tingkat atlet profesional.]

[Peringatan, terdapat racun pelumpuh saraf di ujung bilah pisau target.]

Bima menarik napas panjang untuk menenangkan detaknya.

Pertarungan fisik jarak dekat bukanlah keahlian utamanya.

Namun dengan bantuan penglihatan anatominya, Bima bisa melihat setiap celah kelemahan di tubuh Naga.

"Maju dan serang aku, Tuan Naga," tantang Bima dengan tangan kosong.

Naga menggeram marah dan langsung menerjang maju dengan kecepatan luar biasa.

Sring!

Pisau belati itu menyambar udara, mengincar leher Bima.

Bima merunduk cepat, membiarkan mata pisau itu lewat hanya beberapa sentimeter dari kepalanya.

Wush!

Bima langsung membalas dengan pukulan keras mengarah ke tulang rusuk kanan Naga.

Namun Naga dengan cepat menangkis pukulan itu menggunakan siku kirinya.

Brak!

Benturan keras terjadi, membuat tangan Bima terasa kebas.

"Hanya segini kekuatan seorang dokter legendaris?" ejek Naga.

Naga memutar tubuhnya dan menendang dada Bima dengan sangat keras.

Bugh!

Tubuh Bima terpental mundur hingga punggungnya menabrak meja laboratorium.

Rasa sakit yang tajam menjalar di dadanya, membuat napasnya sedikit tersengal.

"Dokter ini bukan tandingan Bos Naga!" seru Kevin dengan wajah gembira dari kejauhan.

"Bunuh dia perlahan, Bos!"

Bima mengusap sudut bibirnya dan tersenyum sinis.

"Sistem, aku butuh metode instan untuk menghentikan otot besar miliknya," batin Bima.

[Gunakan Titik Akupunktur Darurat pada simpul saraf Neiguan di pergelangan tangan kirinya saat dia menyerang.]

"Aku mengerti."

Bima mengambil sebuah jarum suntik tebal tanpa cairan dari sabuknya.

Dia menyembunyikan jarum itu di telapak tangannya.

"Apakah kau sudah siap mati, Dokter?" ancam Naga sambil kembali mendekat.

Naga menusukkan belatinya lurus ke arah dada Bima.

Kali ini Bima tidak menghindar ke belakang, melainkan melangkah maju memotong jarak.

Dia menangkis tangan kanan Naga yang memegang pisau menggunakan lengan kirinya.

Sret!

Ujung pisau itu menggores sedikit lengan jaket Bima.

Di saat yang bersamaan, tangan kanan Bima melesat cepat seperti kilat.

Jleb!

Bima menusukkan jarum suntik kosong yang tebal itu tepat ke simpul saraf Neiguan di pergelangan tangan kiri Naga.

"Argh!"

Naga menjerit kaget saat rasa ngilu luar biasa menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya.

Seluruh lengan kirinya seketika mati rasa dan terkulai lemas ke bawah.

"Apa yang kau lakukan pada tanganku?!" bentak Naga panik.

"Aku hanya mematikan saklar listrik di sarafmu," jawab Bima tenang.

Bima memanfaatkan kepanikan Naga untuk memberikan serangan mematikan berikutnya.

Dia menggunakan telapak tangannya untuk memukul tepat di bagian bawah rahang Naga dengan sangat keras.

Krak!

Suara tulang rahang yang bergeser terdengar sangat jelas.

Pukulan di titik itu menyebabkan otak Naga berguncang hebat di dalam tengkoraknya.

Mata Naga langsung berputar ke atas dan tubuh besarnya ambruk ke lantai tanpa perlawanan lagi.

Brugh!

Naga pingsan seketika di hadapan Kevin yang berdiri mematung.

"Bos... Bos Naga kalah?" gumam Kevin dengan suara bergetar dan lutut lemas.

Bima memutar tubuhnya dan menatap Kevin dengan pandangan membunuh.

Dia berjalan perlahan mendekati pria pengecut itu.

"Tinggal kau sendiri, Kevin."

Kevin mengangkat pistolnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

"Jangan mendekat!"

"Atau aku tembak tabung parasit ini sekarang juga!"

Bima tidak menghentikan langkahnya sama sekali.

"Tembak saja."

"Jika kau menghancurkan tabung itu, kau tidak akan punya sandera lagi."

"Dan aku akan mematahkan semua jarimu satu per satu."

Suara Bima terdengar sangat datar dan tanpa emosi, membuat nyali Kevin hancur berkeping-keping.

Prang!

Pistol di tangan Kevin terjatuh ke lantai.

Kevin jatuh berlutut sambil menangis ketakutan.

"Ampun, Bima!"

"Aku hanya disuruh oleh mereka, aku tidak ingin mati!"

"Tolong biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggumu lagi!" rengek Kevin memohon belas kasihan.

Bima berdiri di depan Kevin dan menatapnya dengan rasa jijik.

"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk membunuh sampah sepertimu."

"Polisi yang akan mengurusmu besok pagi."

Bima mengangkat tangannya dan memukul tengkuk Kevin dengan pukulan keras terukur.

Bugh!

Kevin langsung tersungkur pingsan menyusul bosnya di lantai.

Bima menghela napas panjang dan segera berbalik menuju meja laboratorium.

Dia mengambil tabung kaca berisi sampel parasit mutan itu dan memasukkannya ke dalam tas pendingin khusus.

"Aku berhasil mendapatkannya," bisik Bima dengan perasaan lega.

Tiba-tiba, suara rentetan tembakan dari arah atas pabrik mulai mereda.

Alat komunikasi dari tubuh Naga yang pingsan berbunyi statis.

"Dokter Bima, apakah Anda bisa mendengar saya?" suara Leo terdengar dari radio komunikasi tersebut.

Bima mengambil radio itu dari kerah jas Naga.

"Aku mendengarmu, Leo."

"Pasukan utama mereka sudah menyerah setelah gas air mata kita masuk ke sistem ventilasi utama."

"Kami sudah menguasai lantai dasar."

"Kerja bagus, Leo."

"Aku juga sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan di bawah sini."

"Segera kirim orang untuk mengikat para bos mereka di ruang laboratorium ini."

"Baik, Dokter Bima, kami segera turun."

Bima menyandarkan tubuhnya ke meja lab dan tersenyum tipis.

Perang melawan markas besar Ular Hitam berhasil dia menangkan malam ini.

Sekarang, dia hanya punya satu tugas tersisa.

Menyelamatkan nyawa Kiara Pratama untuk selamanya.

1
Dhewa Shaied
wahhh ayo cepet bim..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!