NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga

Melewati gerbang perunggu yang hancur, Lin Xuan dan Xiao Ya memasuki lorong menuju jantung Reruntuhan Lautan Pasir. Panas di sini begitu pekat hingga setiap tarikan napas terasa membakar paru-paru.

Xiao Ya menggertakkan gigi. Ia mengerahkan seluruh Qi untuk mempertahankan lapisan es di tubuhnya. Belati Bulan di tangannya terus memancarkan hawa dingin.

Lin Xuan berjalan di depan tanpa perlindungan apa pun. Fisik Berlian dan Tulang Giok Bumi membuat tubuhnya mampu menahan panas ekstrem. Api Teratai Bumi Terdalam di Dantiannya bahkan menyerap bara api yang memenuhi udara.

"Tahan napas dan tenangkan detak jantungmu," ujar Lin Xuan melalui transmisi jiwa. "Kita hampir sampai."

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah balkon batu.

Di hadapan mereka terbentang gua bawah tanah yang luasnya hampir setengah Ibukota Langit Angin.

Di dasarnya menggelegak lautan magma. Sembilan pilar batu hitam menjulang dari dalamnya. Masing-masing dililit rantai besi spiritual setebal tubuh manusia.

Kesembilan rantai itu bertemu di udara dan mengikat sebuah altar giok putih yang melayang di atas kawah.

Di atas altar berdiri sangkar kristal.

Di dalamnya melayang seberkas api sebesar kepalan tangan. Cahayanya begitu menyilaukan hingga tampak seperti matahari kecil.

Lin Xuan menyipitkan matanya.

"Itu dia."

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Kuali Naga Hitam di dalam Lautan Jiwanya bergetar hebat.

Api Pembakar Surga!

Salah satu dari Delapan Belas Api Surgawi. Peringkat ke-14 di Sembilan Benua.

Api Teratai Bumi Terdalam dikenal karena racun dan daya regenerasinya. Namun Api Pembakar Surga berbeda.

Kekuatan utamanya hanya satu.

Kehancuran mutlak.

Lin Xuan menatap api itu dengan sorot mata penuh ambisi.

"Setelah mendapatkannya, kekuatan tubuhku akan meningkat lagi."

Namun, Lin Xuan tidak langsung bergerak. Tatapannya beralih ke dasar kawah.

Di sebuah pelataran batu dekat danau magma, pertempuran sengit sedang berlangsung.

Yan Tianze dan Tetua Gui ternyata belum kembali ke Benua Tengah. Setelah menggunakan Jimat Pelarian Dimensi Darah, mereka berpindah ke perkemahan Sekte Api Suci di luar reruntuhan lalu membawa pasukan mereka masuk.

Tetua Gui tampak mengenaskan. Lengan kirinya yang hangus belum tumbuh kembali. Wajahnya pucat akibat kehilangan esensi darah.

Di hadapan mereka berdiri tiga raksasa setinggi sepuluh meter. Tubuh mereka terbentuk dari magma dan batu vulkanik.

Golem Magma Purba.

Kekuatan mereka setara kultivator Jiwa Baru Lahir Awal.

"Tahan mereka!" Yan Tianze berteriak panik dari belakang. "Jangan mundur! Siapa pun yang berani lari akan kubunuh!"

Para elit Sekte Api Suci menerjang. Tebasan pedang dan formasi penyegel menghujani para golem.

Namun serangan itu tak lebih dari goresan.

Satu ayunan tangan batu menghancurkan tiga kultivator Inti Emas hingga menjadi kabut darah.

"Sial!" Tetua Gui memuntahkan darah. "Kalau bukan karena bocah itu di Ibukota, aku sudah menghancurkan golem ini!"

"Jangan pedulikan mereka!" Yan Tianze menunjuk para bawahannya. "Biarkan mereka menjadi umpan! Gunakan kekuatan ruangmu untuk menembus altar. Begitu Api Pembakar Surga jatuh ke tangan kita, kita bisa menebus semua kegagalan ini!"

Tetua Gui menggertakkan gigi lalu membentuk segel dengan satu tangannya.

"Pengorbanan Jiwa Api!"

Seketika belasan kultivator Sekte Api Suci menjerit.

Qi dalam tubuh mereka ditarik paksa oleh teknik terlarang itu. Tubuh mereka membengkak lalu meledak satu demi satu.

Boom! Boom! Boom!

Kabut darah memenuhi kawah dan menghalangi pandangan ketiga Golem Magma Purba.

Kekejaman itu membuat Xiao Ya yang menyaksikan bergidik.

"Mereka membunuh bawahan sendiri..."

Ledakan darah menjadi pengalih perhatian. Tetua Gui segera mengerahkan sisa kekuatan Jiwa Baru Lahirnya.

Tubuhnya bergetar lalu menghilang.

Teleportasi Ruang!

Dalam sekejap, ia muncul di atas Altar Giok Putih. Tangannya langsung terulur menuju sangkar kristal.

"Dapat!"

Keserakahan memenuhi matanya.

Namun saat jarinya menyentuh sangkar...

Wussh!

Kesembilan pilar batu menyala bersamaan.

Formasi kuno pun bangkit.

Pilar cahaya putih menyembur dari altar dan menghantam Tetua Gui seperti meteor.

"Aaargh!"

Tubuhnya terlempar puluhan meter lalu menghantam dinding kawah. Batu-batu runtuh menimpanya. Tangan kanannya hangus hingga tulang.

"Tetua Gui!"

Yan Tianze panik.

Tiga Golem Magma Purba yang telah pulih kini berbalik menghadapnya. Ketiganya berjalan mendekat dengan langkah berat.

Yan Tianze jatuh terduduk.

"T-Tidak... Jangan mendekat! Aku Tuan Muda Sekte Api Suci! Ketua Sekte akan membunuh kalian!"

Golem-golem itu tidak peduli.

Salah satunya mengangkat tinju raksasa.

Tinju itu siap meremukkan tubuh Yan Tianze.

Tepat ketika maut hendak menimpanya...

Prok. Prok. Prok.

Tepuk tangan pelan terdengar dari balkon batu. Suaranya menembus gemuruh magma dan raungan para golem.

Tiga Golem Magma mendadak berhenti. Naluri purba mereka menangkap keberadaan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari mereka.

Di atas balkon berdiri Lin Xuan dengan jubah hitam. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Kerja bagus. Kalian sudah membukakan jalan untukku."

Tatapannya turun pada mayat para kultivator Sekte Api Suci.

"Bahkan nyawa anak buah sendiri kalian korbankan untuk membuka jalan. Sungguh pengorbanan yang mengharukan."

Yan Tianze mengangkat kepala dengan gemetar. Begitu melihat wajah itu, darahnya seakan membeku.

"D-dia?! Iblis itu! Bagaimana kau bisa ada di sini?!"

Tetua Gui yang tertimbun puing memuntahkan darah hitam.

"Tuan Muda... dia pasti melacak Jimat Pelarian Darah kita. Sejak awal dia memang mengincar Api Pembakar Surga."

Lin Xuan tidak menyangkalnya. Ia berjalan ke tepi balkon dan menatap mereka seperti seorang penguasa yang sedang menghakimi para pendosa.

"Aku membiarkan kalian hidup di Ibukota agar kalian membuka jalan untukku. Sekarang tugas kalian sudah selesai."

Tatapannya menjadi dingin.

"Kalian boleh mati."

Lin Xuan mengangkat satu jari. Fondasi Singgasana Kaisar berputar. Nyala biru kehijauan dari Api Teratai Bumi Terdalam muncul di ujung jarinya.

Tetua Gui menggertakkan gigi.

"Kau ingin membunuhku? Jangan bermimpi!"

Kesombongan seorang ahli Jiwa Baru Lahir telah lenyap. Kedua tangannya telah hancur dan Dantiannya terluka parah. Ia tahu dirinya tak mungkin lolos.

Jika harus mati, ia akan menyeret Lin Xuan ke dalam kematian bersamanya.

Tetua Gui mengerahkan seluruh sisa Qi dan kekuatan jiwanya. Cahaya merah gelap menyelimuti tubuhnya. Ruang di sekitarnya pun bergetar.

"Tuan Muda Yan, larilah! Aku akan meledakkan Jiwa Baruku bersama iblis ini!"

Yan Tianze tak menjawab. Ia langsung berlari menuju lorong tanpa menoleh.

Tetua Gui hendak meledakkan Jiwa Barunya. Ledakan itu cukup untuk menghancurkan seluruh kawah. Namun, Lin Xuan tetap tenang.

"Xiao Ya, lihat baik-baik. Inilah cara menghadapi tikus yang ingin meledakkan diri."

Lin Xuan melompat dari balkon. Kekuatan Jiwanya memadat di bawah kaki. Ia pun melangkah turun di udara seperti menuruni tangga tak kasatmata.

"Mati bersama? Kau terlalu melebihkan dirimu."

Tubuh Tetua Gui terus membesar. Saat ia hendak meledak, Lin Xuan menjentikkan tiga Koin Tembaga Spiritual.

"Seni Alkimia Tempur: Koin Peledak Jiwa!"

Tiga koin itu menancap di dahi ketiga Golem Magma.

Api Teratai Bumi Terdalam merasuki inti spiritual mereka. Dalam sekejap, Lin Xuan merebut kendali ketiga golem.

"Lempar dia."

Ketiga Golem Magma menerjang. Mereka menangkap Tetua Gui yang tubuhnya hampir meledak lalu melemparkannya ke udara.

Sasarannya adalah Altar Giok Putih!

"Jangan!"

Blaarrr!

Ledakan Jiwa Baru Lahir menghantam formasi sembilan pilar.

Seluruh kawah berguncang. Gelombang energi menyapu segala arah. Formasi pelindung yang sebelumnya tak mampu ditembus Tetua Gui akhirnya retak dan hancur.

Lin Xuan mendarat di tepi danau magma dengan senyum tipis.

Ia telah menggunakan ledakan musuh untuk menghancurkan pertahanan altar.

Asap perlahan menipis.

Sembilan pilar telah runtuh. Altar Giok Putih retak parah. Sangkar kristal pun lenyap.

Api Pembakar Surga kini melayang bebas di udara. Cahayanya putih menyilaukan. Hawa panasnya membuat ruang di sekitarnya bergetar.

Lin Xuan menatap api itu dengan mata berkilat.

"Bagus."

Senyumnya semakin lebar.

"Sekarang mari kita lihat apakah kau masih bisa melawan Kuali Nagaku."

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!