NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Gadis yang Dijual

"Tiga hari lagi, kamu menikah dengan Rayhan Wijaya."

Suara Papa Liem jatuh di ruang makan seperti palu yang memukul meja kaca. Tidak keras, tapi cukup membuat sendok di tangan Senja berhenti di udara.

Di luar jendela, hujan tipis menggantung di langit Jakarta. Airnya menempel di kaca, turun pelan seperti garis-garis yang tidak selesai. Di dalam rumah Liem, pendingin ruangan bekerja terlalu dingin, membuat ujung jari Senja terasa kaku.

Dia menatap bubur ayam di mangkuknya. Belum sempat dimakan. Aroma kaldu yang biasanya bisa menenangkan perutnya tiba-tiba membuat dadanya sesak.

"Rayhan Wijaya?" ulangnya pelan.

Papa Liem tidak mengangkat wajah dari tablet di tangannya. "Pewaris Wijaya Group. Kamu pasti pernah mendengar namanya."

Tentu saja pernah.

Siapa di Jakarta yang tidak mengenal nama itu?

Wijaya Group memiliki gedung-gedung tinggi di SCBD, jaringan properti di kota-kota besar, dan pengaruh yang bisa membuat banyak pintu terbuka hanya dengan satu telepon. Rayhan Wijaya, satu-satunya pewaris keluarga itu, sering muncul di artikel bisnis. Usianya belum tiga puluh, tapi cara media menulis namanya seperti menulis seorang raja muda.

Dingin. Tajam. Tidak bisa disentuh.

Senja pernah melihat fotonya sekilas di layar ponsel Lara. Pria itu berdiri di depan lift kantor, mengenakan jas hitam, wajahnya tampan dengan tatapan yang membuat orang ingin menunduk lebih dulu.

Dan sekarang Papa Liem berkata, tiga hari lagi pria itu akan menjadi suaminya.

"Papa..." Senja meletakkan sendok perlahan. "Kenapa begitu mendadak?"

Baru saat itu Papa Liem menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah yang ingin menjelaskan sesuatu kepada anaknya. Itu tatapan seorang pemilik perusahaan yang sudah menutup rapat sebuah kesepakatan.

"Tidak mendadak. Pembicaraan ini sudah berjalan lama."

Senja merasakan sesuatu di dalam dadanya jatuh lebih dalam.

Sudah berjalan lama.

Berarti semua orang tahu. Semua orang menunggu. Hanya dia yang diberi tahu ketika keputusan itu sudah tidak bisa diubah.

"Keluarga Wijaya membutuhkan pernikahan yang tenang. Keluarga kita membutuhkan kerja sama mereka." Papa Liem menggeser tablet ke samping. "Kamu akan menikah dengan baik-baik. Pernikahan resmi. Gereja sudah diatur, catatan sipil juga."

"Tapi aku..." Suaranya tersangkut. "Aku belum pernah bertemu dengannya."

Serena yang sejak tadi duduk di sisi lain meja akhirnya tertawa pelan.

Tawa itu halus, nyaris sopan, tapi cukup tajam untuk menusuk.

"Memangnya kamu kira pewaris Wijaya punya waktu untuk berkenalan dulu denganmu?" Serena mengaduk kopi tanpa meminumnya. Kuku merah mudanya mengetuk cangkir porselen. "Senja, kamu harus bersyukur. Perempuan seperti kamu diberi kesempatan masuk ke keluarga sebesar itu."

Senja menoleh. Serena Liem tampak rapi seperti biasa, rambutnya jatuh bergelombang di bahu, blus sutranya tidak memiliki satu kerutan pun. Di rumah ini, Serena selalu seperti benda mahal yang diletakkan di lemari kaca.

Senja, sebaliknya, lebih sering merasa seperti barang yang disimpan di gudang, dikeluarkan hanya ketika keluarga ini membutuhkannya.

"Serena," tegur Papa Liem singkat, tapi tidak ada kemarahan di sana.

Serena mengangkat bahu. "Aku hanya bilang fakta, Pa."

Fakta.

Kata itu mengikuti Senja sejak kecil.

Faktanya, dia bukan anak kandung keluarga Liem. Faktanya, dia dibawa pulang ketika masih bayi karena belas kasihan mendiang Mama Liem. Faktanya, semua biaya sekolah, makanan, pakaian, dan atap di atas kepalanya adalah utang yang selalu bisa disebutkan kapan saja.

Faktanya, dia tidak punya hak untuk menolak.

"Bagaimana dengan pekerjaanku di sanggar?" tanya Senja. Dia memaksa suaranya tetap tenang. "Ko Jefri sedang menyiapkan pertunjukan bulan depan."

"Kamu tetap bisa menari kalau suamimu mengizinkan," jawab Papa Liem.

Kalau suamimu mengizinkan.

Kalimat itu menutup semua jalan keluar.

Senja menunduk, melihat telapak tangannya sendiri di pangkuan. Ada bekas kapalan tipis di pangkal jari akibat latihan tari. Tubuhnya mungkin terlihat lemah, tapi di ruang latihan, dia masih bisa memilih kapan harus berputar, kapan harus berhenti, kapan harus menahan napas sebelum musik jatuh.

Di rumah ini, bahkan napasnya seperti harus meminta izin.

"Kamu mengerti, kan?" Papa Liem bertanya.

Bukan benar-benar bertanya.

Senja mengangguk. Pelan. "Aku mengerti."

Serena tersenyum lebih lebar.

Setelah sarapan yang tidak pernah benar-benar dimakan, Senja naik ke kamar. Kamarnya berada di lantai dua, di ujung lorong, tidak sebesar kamar Serena yang menghadap taman. Tetapi kamar itu cukup untuk menyimpan pakaian, beberapa buku, dan satu kotak kayu berisi aksesori tari.

Dia menutup pintu, lalu berdiri diam di baliknya.

Baru setelah suara langkah pembantu menjauh, bahunya turun.

Ponselnya bergetar.

Lara: Sen, kamu ke sanggar hari ini? Ko Jefri cari kamu.

Senja menatap pesan itu lama sebelum membalas.

Senja: Aku mungkin terlambat.

Lara: Kamu sakit lagi?

Senja hampir menulis tidak. Tetapi jari-jarinya berhenti di atas layar.

Bagaimana cara mengatakan bahwa dia tidak sakit, hanya dijual?

Belum sempat dia membalas, pintu kamarnya diketuk dua kali. Tanpa menunggu jawaban, Serena masuk.

"Kamu belum mulai berkemas?" Serena memandang sekeliling kamar dengan ekspresi geli. "Tiga hari itu cepat, lho."

Senja mengunci ponselnya. "Aku belum tahu apa yang harus kubawa."

"Bawa apa saja yang pantas. Jangan mempermalukan keluarga Liem." Serena mengambil sehelai selendang tari dari kursi, menyentuh kainnya dengan ujung jari seolah takut tertular debu. "Atau mungkin tidak usah bawa terlalu banyak. Di Wijaya Mansion nanti, mereka pasti bisa membelikanmu yang baru."

"Aku tidak meminta apa pun dari mereka."

"Kamu tidak perlu meminta." Serena mendekat. Parfumnya manis, terlalu kuat, membuat hidung Senja gatal. "Keberadaanmu saja sudah cukup mahal."

Senja mengangkat wajah.

Untuk sesaat, kedua perempuan itu saling menatap. Serena dengan dagu terangkat, Senja dengan dada yang terasa semakin sempit.

"Apa maksudmu?"

Serena tersenyum, suara turun menjadi bisikan.

"Papa Liem menjadikanmu jembatan ke Wijaya Group. Kamu pikir kenapa bukan aku yang dinikahkan? Karena keluarga Wijaya tidak meminta putri kandung. Mereka hanya butuh istri yang tidak banyak bicara." Matanya menyapu Senja dari kepala sampai kaki. "Dan kamu cocok sekali."

Jari Senja mencengkeram ujung meja rias.

Ada banyak jawaban yang sempat naik ke tenggorokannya. Tentang Serena yang selalu mengambil semua hal terbaik. Tentang dirinya yang selalu diam bukan karena tidak punya suara, melainkan karena setiap suara di rumah ini akan dipatahkan sebelum sampai ke telinga siapa pun.

Tetapi yang keluar hanya, "Keluar dari kamarku."

Serena berkedip. Mungkin karena Senja jarang sekali berkata seperti itu.

Lalu dia tertawa kecil.

"Mulai berani? Bagus. Simpan sedikit keberanian itu untuk malam pertama nanti." Serena berjalan ke pintu. "Katanya Rayhan Wijaya lebih dingin dari batu. Jangan menangis kalau dia bahkan tidak melihatmu."

Pintu tertutup.

Senja tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya gemetar, bukan karena marah saja, tapi karena ketakutan yang mulai terasa nyata.

Rayhan Wijaya.

Nama itu seperti pintu besar yang akan menelannya.

Sore harinya, Senja memaksa dirinya pergi ke Sanggar Tari Jefri. Ruang latihan berlantai kayu itu berbau keringat, damar lantai, dan sedikit minyak kayu putih dari tas para penari. Musik gamelan kontemporer mengalun pelan dari speaker.

Begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya bergerak dengan ingatan yang lebih jujur dari pikirannya. Tangan membuka, bahu turun, kepala menoleh mengikuti hitungan.

Satu. Dua. Tiga.

Untuk beberapa menit, dia bukan anak angkat keluarga Liem. Bukan calon istri seorang pria asing. Bukan barang tukar dalam kesepakatan bisnis.

Dia hanya Senja.

"Berhenti dulu."

Suara Ko Jefri membuat musik dimatikan. Pria itu berdiri di dekat cermin, alisnya sedikit berkerut.

"Kamu kehilangan napas di bagian tengah," katanya. "Ada apa?"

Senja menyeka keringat di leher. Rambut halus di tengkuknya basah. "Tidak apa-apa, Ko."

"Senja." Nada Ko Jefri lembut, tapi tidak mudah dibohongi. "Kamu hampir jatuh tadi."

Lara yang baru datang langsung menghampirinya. "Wajahmu pucat banget. Kamu makan?"

Senja tersenyum tipis. "Sudah."

"Bohong," ujar Lara cepat.

Ko Jefri memberi isyarat agar penari lain istirahat. "Duduk dulu. Jangan paksa tubuhmu."

Senja menurut. Ketika duduk di bangku dekat jendela, ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Besok pukul 10.00, fitting gaun. Jangan terlambat.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada salam. Hanya perintah.

Lara melirik layar sebelum Senja sempat menyembunyikannya. "Fitting gaun? Gaun apa?"

Senja menggenggam ponselnya terlalu erat sampai buku jarinya memutih.

Dia bisa berbohong. Bisa berkata itu gaun pertunjukan. Bisa mengalihkan pembicaraan.

Tetapi mendadak lelahnya terasa lebih berat daripada rasa takut.

"Aku akan menikah," katanya.

Lara terdiam. Ko Jefri yang sedang mengambil botol air juga berhenti.

"Menikah?" Lara mengulang, suaranya naik. "Dengan siapa?"

Senja melihat pantulan dirinya di cermin besar ruang latihan. Wajahnya kecil, matanya merah, tubuhnya berdiri di antara kain-kain tari dan masa depan yang tidak dia pilih.

"Rayhan Wijaya."

Nama itu membuat ruang latihan terasa sunyi.

Lara menutup mulutnya. Ko Jefri tidak langsung bicara. Di luar, suara motor dari jalan raya terdengar jauh dan asing.

"Sen," Lara akhirnya berbisik, "kamu mau?"

Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras daripada semua sindiran Serena.

Kamu mau?

Seumur hidupnya, tidak banyak orang bertanya apa yang dia mau.

Senja menelan rasa panas di tenggorokan. Dia ingin berkata tidak. Dia ingin berkata dia takut. Dia ingin seseorang menariknya keluar dari keputusan yang sudah ditulis orang lain atas namanya.

Namun yang terbayang adalah wajah Papa Liem di ruang makan, Serena dengan senyum tipisnya, dan kata utang yang tidak pernah diucapkan tapi selalu menggantung di atas kepalanya.

"Aku tidak punya pilihan," jawabnya.

Lara memeluknya saat itu juga. Pelukan itu hangat, terlalu hangat, sampai pertahanan Senja retak sedikit.

Dia tidak menangis keras. Hanya matanya yang basah dan napasnya yang tersendat di bahu sahabatnya.

Ko Jefri memalingkan wajah ke jendela, memberi mereka ruang.

Malamnya, Senja pulang ketika rumah Liem sudah sepi. Di atas tempat tidurnya, beberapa kotak baru sudah diletakkan. Gaun, sepatu, clutch kecil, semua masih berlabel butik mahal. Benda-benda itu cantik, tapi Senja menatapnya seperti menatap rantai berlapis emas.

Di antara kotak itu ada map putih.

Dia membukanya.

Jadwal pemberkatan. Jadwal catatan sipil. Daftar tamu terbatas. Nama lengkapnya tertulis rapi di samping nama Rayhan Wijaya.

Senja Liem.

Rayhan Wijaya.

Dua nama yang belum pernah saling memanggil, sudah disatukan di atas kertas.

Ponselnya menyala lagi. Kali ini pesan dari Serena.

Serena: Nikmati hidup curianmu, pengganti.

Senja menatap layar sampai huruf-huruf itu kabur.

Di luar jendela, hujan akhirnya turun lebih deras. Suaranya memukul genting dan kaca, memenuhi kamar kecilnya dengan sesuatu yang mirip tepuk tangan jauh.

Dia meletakkan map putih itu di meja, lalu duduk di tepi ranjang.

Tiga hari lagi, dia akan menikah dengan pria yang tidak pernah dia temui.

Tiga hari lagi, dia akan meninggalkan rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

Dan tiga hari lagi, seluruh Jakarta akan mengenalnya sebagai Nyonya Wijaya, istri dari Young Master paling ditakuti di kota ini.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!