NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Rencana

Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian Pertiwi. Namun, tidak ada ruang bagi duka untuk mengendap di rumah keluarga Broto.

Di bawah kendali Pak Sapta, Warung Nasi Broto di jalan raya Madiun beroperasi dengan kegilaan yang kian menjadi-jadi. Ratusan piring rawon berkuah hitam pekat meluncur dari dapur setiap harinya, menyedot kerumunan pembeli yang rela mengantre hingga memadati bahu jalan sejak fajar menyingsing.

Uang kertas mengalir deras bagaikan air bah, menumpuk tebal di laci kasir—tepat di atas rongga tersembunyi tempat tanah kuburan Bayu dan Pertiwi dikunci.

Malam itu, jam dinding tua baru saja menunjukkan pukul sembilan. Bau rempah pekat berpadu aroma kluwek masih menggantung tebal di udara ruang tengah. Pak Sapta duduk santai di kursi jati berukir, memangku laptop mahal berlayar lebar yang baru dibelinya dari Surabaya.

Di sampingnya, Bu Retno duduk kaku bagaikan boneka porselen. Pakaian sutra mewahnya berkilau disiram cahaya lampu gantung, tetapi tatapan matanya tetap redup, dingin, dan hampa—seolah-olah kenangan tentang dua anaknya yang telah tiada telah dihapus bersih dari ingatannya.

Galang berdiri di dekat ambang pintu lorong, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu jati seraya mengawasi kedua orang itu dengan tatapan penuh kebencian yang tertahan. Tangannya terkepal di balik saku celana.

Pak Sapta memutar layar laptop ke arah Bu Retno, lalu mengetukkan jari bercincin batu akik merah darahnya ke atas meja kayu.

"Coba lihat ini, Bu," ucap Pak Sapta dengan suaranya yang mengalun halus, sarat akan wibawa yang memikat. "Penjualan kita di Madiun dalam dua minggu terakhir ini sudah melampaui seluruh target. Laba bersih kita melipat ganda lima kali lipat. Warung ini sudah tidak muat lagi menampung meluapnya pembeli yang datang dari luar kota."

Bu Retno mengangguk lambat, bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala mengukir senyum kaku.

"Semua berkat arahan Bapak. Warung kita tidak pernah seramai ini sewaktu almarhum Mas Broto masih hidup."

Galang menggeretakkan giginya hingga rahangnya menegang. Setiap kali mendengar ibunya memuji Pak Sapta dan merendahkan almarhum ayahnya, dadanya serasa dihantam benda tumpul.

Entah mengapa ada sekilas keraguan di hatinya, bahwa ayahnya telah melakukan perjanjian ghaib.

Pak Sapta tersenyum puas, membetulkan letak kacamata berbingkai emasnya. "Warung yang di sini cuma permulaan, Bu Retno. Potensi rezeki keluarga kita jauh lebih besar dari ini. Karena itu, saya sudah menyiapkan langkah besar berikutnya."

Pak Sapta mengetuk salah satu gambar di layar laptop, menampilkan sebuah cetak biru bangunan megah dan peta lokasi yang ditandai dengan lingkaran merah.

"Kita akan membuka cabang pertama Warung Nasi Broto," ujar Pak Sapta penuh penekanan, matanya berkilat-kilat oleh keserakahan yang menyala. "Bukan di Madiun, tapi di jalur lintas provinsi dekat Ngawi. Lokasinya sangat strategis, berada di tepi jalan utama yang dilalui bus interkota dan truk logistik dua puluh empat jam penuh. Bagaimana ...?"

Bu Retno menatap gambar di layar tanpa berkedip.

"Membuka cabang baru ... di luar kota Madiun? Tapi, Pak ... apakah modal kita cukup? Dan siapa yang akan mengurus dapur di sana?"

"Soal modal, kamu tidak usah khawatir," kekeh Pak Sapta pelan, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan seikat uang kertas seratus ribuan yang masih berbalut pita bank, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja. "Uang hasil 'keberkahan' warung utama kita sudah lebih dari cukup untuk menyewa lahan tiga puluh tahun dan membangun gedung baru lengkap dengan fasilitas restoran modern. Lalu soal dapur ... resep rahasia dan 'bumbu utama' kita tetap berasal dari kuali induk di sini."

Galang yang sejak tadi menyimak perbincangan itu melangkah maju. Langkah kakinya berderak di atas lantai kayu.

"Membuka cabang baru? Bapak mau memperluas pesugihan ini ke luar kota?!"

Pak Sapta menoleh lambat-lambat ke arah Galang. Wajahnya yang semula tampak sumringah mendadak berubah dingin dan arogan.

"Jaga bicaramu, Galang. Ini ekspansi bisnis. Keluarga ini butuh berkembang. Kita tidak bisa terus-menerus merayap di warung kecil tepi jalan Madiun ini sementara dunia di luar sana menawarkan kekayaan yang tak terbatas."

"Kekayaan yang dibeli pakai nyawa!" gertak Galang, menunjuk tepat ke wajah Pak Sapta. "Mas Bayu sudah meninggal! Pertiwi juga! Belum ada sebulan tanah makam mereka kering, Bapak sudah merencanakan cabang baru! Bapak mau menumbalkan siapa lagi buat cabang di Ngawi itu, hah?! Mia? Atau Rian?!"

DUKKK!

Pak Sapta menghentakkan tongkat berkepala naganya ke lantai semen dengan keras hingga suaranya memantul di seluruh penjuru ruang tengah.

Hawa dingin yang mendadak menyapu ruangan membuat nyala lampu gantung bergoyang kencang, melemparkan bayangan-bayangan memanjang yang menari liar di dinding.

"Cukup, Galang!" bentak Pak Sapta, matanya menyipit berbahaya di balik kacamata emasnya. "Saya sudah cukup sabar menoleransi kelakuanmu yang kurang ajar! Kamu hanya anak angkat yang dipungut dari jalanan oleh almarhum Broto! Kamu tidak punya hak satu sen pun atas keputusan bisnis keluarga ini, dan kamu tidak punya hak untuk mengatur jalan hidup adik-adikmu!"

Bu Retno berdiri kaku dari kursinya, menatap Galang dengan tatapan mata yang kosong dan tanpa empati sedikit pun.

"Galang ... jangan kurang ajar pada bapakmu—"

"Dia bukan bapakku!" sebuah Galang. Napasnya memburu.

Namun, Bu Retno tak peduli.

"Pak Sapta melakukan ini semua untuk kita. Untuk masa depan Mia, Rian, dan Gilang. Kalau warung cabang dibuka, adik-adikmu bisa sekolah sampai ke luar negeri ... mereka tidak akan menderita."

"Ibu sadar nggak sih apa yang Ibu omongin?!" jerit Galang, air mata amarah mendadak menetes di pipinya. Ia menatap ibunya dengan tatapan hancur. "Adik-adik nggak butuh sekolah luar negeri kalau ujung-ujungnya mereka harus mati mengenaskan seperti Mas Bayu dan Pertiwi! Ibu sudah melahirkan mereka! Kenapa Ibu tega membiarkan iblis ini mengatur nyawa anak-anak Ibu?!"

Bu Retno tidak menanggapi jeritan hati anak angkatnya. Ia justru memalingkan wajah, kembali duduk di samping Pak Sapta seolah-olah Galang hanyalah sebuah suara bising yang tak berarti.

Pak Sapta tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat kejam. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jati, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja.

"Konstruksi cabang Ngawi akan dimulai minggu depan," lanjut Pak Sapta dengan nada tenang, mengabaikan keberadaan Galang. "Perikatan kita sudah diperbarui, Bu. Tanah dari kuburan kedua telah menyatu dengan fondasi kasir kita. Kekuatan 'Pintu' pesugihan kita sekarang dua kali lebih kuat. Buka cabang baru bukan lagi sekadar pilihan ... tapi sebuah keharusan untuk menampung 'permintaan' dari Sana."

Galang mengepalkan tangannya begitu kencang hingga kuku-kukunya menancap dalam di telapak tangan. Kata-kata Pak Sapta bergema bagaikan lonceng kematian di dalam dadanya.

Ia mengerti arti tersembunyi di balik kalimat itu. Pembukaan cabang baru berarti skala pesugihan ini akan dilipatgandakan. Perikatan darah yang melibatkan tanah kuburan Bayu dan Pertiwi menuntut jangkauan kekuasaan yang lebih luas.

Dan untuk mengunci fondasi cabang baru di Ngawi kelak, ritual pesugihan pasti akan menuntut pasokan darah biologis berikutnya dari silsilah keluarga Broto.

Galang mundur satu langkah, menatap Pak Sapta dan ibunya untuk terakhir kali malam itu sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya.

Ia tahu, berdebat dan mengamuk di rumah ini tidak akan pernah menghentikan iblis berwajah manusia itu. Hukum medis tidak sanggup menyentuhnya, dan ibunya sendiri telah sepenuhnya menjadi budak dari pundi-pundi uang pesugihan.

Jika ia ingin menyelamatkan ketiga adiknya dari nasib tragis, ia harus menyerang dari akar permasalahannya. Ia harus mencari tahu siapa sebenarnya sosok "Pak Sapta", dari mana ia berasal, dan ilmu hitam jenis apa yang ditanamkannya ke dalam darah keluarga Broto.

Di dalam kamar yang sepi, Galang membuka lemari bajunya, merogoh bagian paling dasar, dan mengeluarkan sebuah tas ransel kusam peninggalan sang ayah bersama seluruh sisa uang tabungan tunainya. Ia harus secepatnya keluar dari rumah ini dan meminta pertolongan.

Tepat ketika ujung jarinya menyentuh bagian dasar ransel hendak membersihkan, ia tak sengaja mendapati sesuatu bertekstur agak kasar. Semacam kertas mengering yang sudah lusuh dan lapuk.

"Apa ini ...?" gumam Galang.

Kertas lapuk itu seakan memberi Galang petunjuk, setelah ia membaca tulisan tangan samar karna dimakan usia. Di sana, tertera sebuah alamat yang disertai tanggal.

Galang ingat betul. Ini adalah tulisan tangan ayahnya semasa hidup.

Matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam di luar jendela. Tekad Galang semakin kuat.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!