Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Pertahanan yang Retak
Pintu sudah tertutup, tetapi aroma manis itu tertinggal di ruang baca.
Sebastian berdiri sendirian selama beberapa menit. Peniti kecil yang tadi ia pasang pada blus Lia masih terbayang di ujung jarinya. Begitu pula bekas cengkeraman pada pergelangan perempuan itu.
Ia membuka jendela lebar-lebar.
Udara malam masuk, membawa bau kolam dan daun basah. Aroma Lia tetap tidak hilang dari ingatannya.
Sebastian naik ke kamar, mandi dengan air dingin, lalu membuka laptop. Ada revisi proyeksi biaya untuk proyek Nara yang harus diperiksa sebelum pagi. Biasanya angka-angka mampu membersihkan kepalanya dari apa pun.
Malam itu, satu baris pun tak tinggal lama di benaknya.
Pukul satu lewat dua belas, ia masih membaca halaman yang sama.
Pukul dua, ia turun mengambil air dan tanpa sadar berhenti di ujung lorong menuju kamar para pekerja.
Lampu di bawah pintu Lia sudah padam.
Ia tidak mendekat.
Sebastian berbalik dengan kesal kepada dirinya sendiri. Ia bukan anak muda yang baru mengenal perempuan. Ia juga tidak pernah membiarkan rasa tertarik mengacaukan keputusan. Dalam hidupnya, segala sesuatu punya batas, jadwal, dan risiko yang bisa dihitung.
Lia merusak semua perhitungan itu hanya dengan duduk diam, membuka mulut menerima sesendok bubur, lalu menatapnya seolah ia baru saja memberikan sesuatu yang tak pernah Lia miliki.
Kepercayaan.
Kata itu justru membuat dadanya lebih sesak daripada hasrat yang sejak tadi ia tekan.
Ia kembali ke kamar dan berbaring tanpa mematikan lampu. Saat mata terpejam, yang muncul bukan tubuh Lia, melainkan suaranya ketika mengaku takut. Lalu bayangan tangan Bobby mencengkeramnya mengambil alih.
Sebastian bangun terlalu cepat. Kepalanya berdenyut.
Setetes darah jatuh ke punggung tangannya.
Ia menyentuh hidung, lalu menatap merah di ujung jari dengan tidak percaya.
“Gila,” gumamnya.
Kurang tidur, amarah, dan tekanan darah. Penjelasannya masuk akal. Namun, ia tahu bukan itu seluruhnya.
Ia membersihkan darah, menempelkan kompres dingin, dan duduk di tepi ranjang sampai fajar.
Untuk pertama kalinya, Sebastian berhenti menyebut perasaannya sebagai rasa ingin tahu.
Ia telah jatuh kepada Lia.
Kesadaran itu tidak terasa romantis. Rasanya seperti melihat retakan pada pondasi bangunan yang selama ini ia yakini tak bisa runtuh.
Pagi-pagi sekali, ia sudah berada di ruang makan dengan wajah lebih pucat dari biasanya.
Cornelia menurunkan koran yang sedang dibacanya. “Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Mata kamu merah.”
“Kurang tidur.”
Popo Mei Hoa mengaduk tehnya. “Anak muda kurang tidur biasanya karena uang atau perempuan.”
Engkong Tek Sun yang baru memasang alat bantu dengar menoleh. “Siapa kehilangan uang?”
“Tidak ada, Kong,” jawab Edwin sambil menahan senyum.
Lia masuk membawa bubur kacang hijau dan roti panggang. Pergelangan kanannya masih dibalut. Gerakannya lebih lambat karena harus menopang nampan dengan tangan kiri.
Sebastian berdiri sebelum siapa pun sempat bereaksi. Ia mengambil nampan itu dari tangan Lia dan meletakkannya di meja.
Ruangan mendadak hening.
“Saya bisa membawanya, Ko Sebas,” kata Lia pelan.
“Tanganmu cedera.”
“Cuma keseleo sedikit.”
“Sedikit tetap cedera.”
Cornelia memandang mereka bergantian. “Apa yang terjadi dengan tangannya?”
Sebastian menjawab lebih dulu. Ia menceritakan insiden di supermarket secara ringkas, termasuk laporan polisi dan hasil pemeriksaan dokter. Tidak ada bagian dramatis, tetapi nada dinginnya ketika menyebut Bobby membuat Edwin berhenti tersenyum.
“Kenapa tidak bilang semalam?” tanya Cornelia kepada Lia.
“Sudah terlalu malam, Tante. Semua juga sudah ditangani.”
Popo memukul lantai pelan dengan ujung tongkat. “Aho tidak boleh kerja berat sampai tangannya sembuh.”
“Saya setuju,” kata Sebastian.
Cornelia mengangkat alis. “Saya yang mengatur pekerjaan rumah.”
“Kalau begitu, atur agar dia tidak mengangkat apa pun dengan tangan kanan.”
“Sebas.”
“Dokter menyarankan begitu.”
Lia menunduk untuk menyembunyikan wajah yang mulai hangat. Sebastian bahkan memindahkan kursi kosong di dekat meja dan menaruh semangkuk bubur di sana.
“Duduk dan sarapan,” katanya.
“Saya makan di belakang.”
“Sekarang.”
Popo tersenyum tipis, sedangkan Vanessa yang baru turun dari tangga berhenti di ambang ruang makan.
Tatapan Vanessa jatuh pada kursi yang ditarikkan Sebastian untuk Lia. Rasa tidak suka terlihat jelas sebelum tertutup senyum sopan.
Lia akhirnya duduk di ujung meja. Ia makan pelan, sadar terlalu banyak mata memperhatikan. Sebastian tidak melihatnya terus-menerus, tetapi setiap kali sendok Lia berhenti, jarinya mengetuk meja satu kali.
Isyarat untuk melanjutkan.
Setelah setengah mangkuk, kehangatan mulai naik ke kulit Lia. Ia panik aroma manis akan tercium orang lain, tetapi Sebastian berdiri dan menutup pintu kaca menuju ruang makan seolah pendingin ruangan terlalu dingin. Setelah itu ia meletakkan cangkir kopi yang aromanya kuat di dekat Lia.
Gerakan kecil, perlindungan kecil.
Tak seorang pun memahami kecuali mereka berdua.
Ponsel Sebastian bergetar.
Nama Robby muncul di layar. Ia berjalan ke teras belakang sebelum menjawab.
“Gimana?” tanyanya tanpa pembuka.
Suara Robby terdengar serius. “Gue sudah dapat orang yang berani bicara. Utang keluarganya lebih besar dari dugaan kita.”
Sebastian menatap melalui kaca. Di dalam, Lia sedang membantu Popo memotong roti dengan tangan kiri.
“Lanjut.”
“Bapaknya yang bikin utang. Dan uang yang kemarin gue temukan itu bukan kiriman biasa.” Robby berhenti sesaat. “Bos, gue sudah menemukan bapaknya dan orang yang bayar uang muka untuk harga pengantin Lia.”