NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kematian Sang Penguasa, Kelahiran Kembali yang Tak Terduga

Hujan deras mengguyur kota malam itu, membasahi setiap sudut jalan yang gelap dan sepi. Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, bau besi berkarat dan darah segar bercampur menjadi satu. Di tengah ruangan yang remang-remang itu, terbaring seorang wanita muda dengan pakaian hitam yang sudah robek dan penuh noda darah. Napasnya tersengal, tangannya masih menggenggam erat gagang pisau panjang yang telah menembus perutnya sendiri, sebagai bentuk pertahanan terakhir agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Namanya Zerrin Atalea Felix. Selama dua puluh tiga tahun hidupnya, ia dikenal sebagai penguasa bayangan yang paling ditakuti di seluruh jaringan kejahatan terorganisir. Dia adalah pewaris tunggal keluarga Felix, klan mafia yang telah menguasai jalur bisnis gelap, keamanan, dan pengaruh politik selama lebih dari tiga generasi. Zerrin tidak pernah mengenal belas kasihan, kelemahan, atau rasa takut. Setiap langkahnya terencana, setiap keputusannya membawa konsekuensi yang mematikan. Namun malam itu, ia dikhianati oleh orang yang paling ia percayai, wakilnya sendiri yang menginginkan kekuasaan untuk dirinya.

“Kau pikir kau bisa menguasai segalanya selamanya, Zerrin?” suara pria itu terdengar dingin di balik kabut asap rokok. “Kekuasaan butuh tangan yang kuat, bukan tangan yang mulai lunak.”

Zerrin tersenyum miring, meski rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa menyiksa. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya. “Kau salah… siapa pun yang mencoba merebut takhta keluarga Felix… akan mati dengan cara yang paling mengenaskan…”

Itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari mulutnya. Pandangannya mulai kabur, suara-suara di sekitarnya memudar, hingga akhirnya kegelapan total menyelimuti kesadarannya. Ia mengira ini adalah akhir dari segalanya, namun takdir rupanya memiliki rencana lain.

 ◃:✮.❃❃.✮:▹ ◃:✮.❃❃.✮:▹ ◃:✮.❃❃.✮:▹

Saat kesadaran perlahan kembali, Zerrin merasakan sesuatu yang sangat asing. Bukan bau besi dan darah, melainkan aroma sabun bunga yang lembut dan wewangian ruangan yang mahal. Rasa sakit yang terasa bukanlah luka tusukan, melainkan nyeri hebat di kepala dan seluruh tubuh seolah baru saja dipukuli berulang kali.

Dengan susah payah, ia membuka matanya. Pandangannya masih buram, namun perlahan menjadi jelas. Ia melihat langit-langit kamar yang dihiasi lampu gantung kristal yang berkilau, dinding berwarna krem yang rapi, dan perabotan yang terbuat dari kayu mahoni berkualitas tinggi. Ini bukan gudang tua tempat ia sekarat, bukan pula kamar pribadinya yang dipenuhi senjata dan dokumen rahasia.

“Di mana aku?” gumamnya, suaranya terdengar lemah dan sangat berbeda dari nada bicara tegas dan berwibawa yang biasa ia gunakan.

Zerrin mencoba mengangkat tangannya, namun terkejut bukan main. Tangan yang terlihat di hadapannya jauh lebih kecil, lebih ramping, dan kulitnya sangat halus tanpa bekas luka atau kapalan yang biasa ada di tangannya selama bertahun-tahun berlatih bela diri dan memegang senjata. Ia segera meraba wajahnya sendiri, bukan garis rahang tegas dan bekas luka samar di dahi miliknya, melainkan wajah yang lembut, pipi yang sedikit bengkak, dan rasa sakit yang terasa saat ia menyentuh sudut bibirnya yang tergores.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa ingin tahu dan kewaspadaan yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Ia segera melompat turun dari tempat tidur, meski kakinya terasa lemas, dan berjalan terhuyung-huyung menuju cermin besar yang berdiri di sudut ruangan.

Saat bayangan di cermin terlihat jelas, Zerrin terdiam membeku.

Yang terlihat bukan dirinya sendiri. Melainkan sosok gadis berusia sekitar delapan belas tahun, dengan rambut cokelat lurus yang tergerai hingga pinggang, mata berwarna cokelat terang yang kini terlihat bengkak dan sayu, serta wajah cantik yang saat ini dipenuhi memar dan luka lecet. Tubuhnya juga jauh lebih kurus dan lemah dibandingkan tubuh atletis milik Zerrin sebelumnya.

“Ini bukan tubuhku…” bisiknya, matanya menyipit tajam. “Apa yang terjadi?”

Tiba-tiba, seperti aliran air yang deras, serangkaian ingatan yang bukan miliknya masuk ke dalam kepalanya, membuatnya meringis kesakitan sejenak. Potongan demi potongan kenangan mengalir masuk nama, keluarga, peristiwa, hingga rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam.

Nama gadis ini adalah Claudia Ramirez. Ia adalah putri bungsu dari keluarga Ramirez, salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota ini. Namun kekayaan dan status itu tidak membuat hidupnya bahagia.

Claudia memiliki dua orang kakak laki-laki: Adrian Ramirez, yang berusia dua puluh lima tahun dan menjabat sebagai direktur utama perusahaan keluarga, serta Brian Ramirez, yang berusia dua puluh dua tahun dan sedang menempuh pendidikan sambil membantu mengelola cabang usaha. Kedua kakaknya ini membenci Claudia dengan sepenuh hati. Mengapa? Karena selama bertahun-tahun, Claudia selalu terjebak dalam kesalahpahaman yang terus berulang.

Setiap kali ada masalah, setiap kali ada siswa yang terluka atau barang berharga hilang di sekolah, Claudia selalu menjadi tersangka utama. Semua orang percaya bahwa ia adalah gadis yang sombong, suka memamerkan kekayaan, dan senang menindas teman-temannya. Padahal kenyataannya, Claudia adalah korban. Ia selalu dijadikan kambing hitam oleh seseorang yang iri padanya, seseorang yang pandai berpura-pura dan berhasil memutarbalikkan fakta dengan sangat sempurna.

Kesalahpahaman ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa pria yang dicintai Claudia sejak masuk sekolah menengah atas juga membencinya. Namanya Arjuna Pratama, putra dari keluarga pemilik perusahaan raksasa lain. Arjuna adalah pemimpin dari kelompok yang dijuluki “Empat Bintang Kampus” kelompok yang terdiri dari empat pemuda paling tampan, kaya, cerdas, dan berpengaruh di sekolah mereka. Selain Arjuna, ada Daffa, Raka, dan Leo. Keempatnya dihormati dan ditakuti oleh seluruh siswa, bahkan oleh sebagian guru. Bagi mereka, Claudia adalah sampah yang selalu menimbulkan masalah dan pantas untuk dijauhi serta dihina.

Hanya orang tua Claudia, Pak Roberto dan Bu Elena, yang tetap percaya pada putri bungsunya itu. Mereka tahu sifat asli Claudia yang lembut dan pendiam, namun sayang, pengaruh cerita buruk yang beredar begitu kuat hingga suara mereka seolah tenggelam.

Dan kejadian terakhir yang menyebabkan tubuh ini terbaring lemah seperti sekarang adalah insiden tadi siang. Seorang siswa perempuan bernama Sari ditemukan terjatuh dari tangga, kakinya terkilir parah, dan dengan air mata ia menuduh Claudia yang mendorongnya. Semua bukti palsu yang disusun rapi membuat Arjuna dan teman-temannya marah besar. Mereka menghadang Claudia, menghinanya dengan kata-kata kasar, dan dalam kekacauan itu, Claudia terdorong dan jatuh membentur dinding keras hingga pingsan.

Saat itulah jiwa Claudia yang lemah dan sudah menyerah pada nasib seolah pergi, dan digantikan oleh jiwa Zerrin Atalea Felix yang kuat, dingin, dan tak pernah mengenal kata kalah.

Zerrin menutup matanya sejenak, mencerna semua informasi itu. Rasa kasihan sedikit muncul di hatinya untuk gadis malang ini, namun segera digantikan oleh ketegasan. Ia tidak tahu apakah ini hukuman, kesempatan kedua, atau sekadar kebetulan alam semesta. Namun satu hal yang pasti, ia sekarang hidup kembali, dan ia tidak akan membiarkan tubuh ini, serta nama Claudia Ramirez, terus diinjak-injak dan dihina.

“Baiklah, Claudia…” gumam Zerrin sambil menatap tajam pantulan dirinya di cermin, nada bicaranya kini berubah menjadi dingin dan penuh wibawa, meski suara itu masih terdengar lembut. “Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua. Mulai hari ini, tubuh ini bukan lagi milik gadis lemah yang selalu menangis dan memohon belas kasihan. Mulai hari ini… Claudia Ramirez akan berubah total. Mereka yang telah menyakitimu, memfitnahmu, dan membencimu… akan membayar mahal atas setiap tetes air mata dan rasa sakit yang kau terima. Dan aku, Zerrin Atalea Felix, akan memastikan mereka merasakan arti sesungguhnya dari penyesalan.”

Suara ketukan pintu terdengar lembut, menghentikan alur pikirannya. Sebelum Zerrin sempat menjawab, pintu terbuka perlahan, dan tampak seorang wanita paruh baya dengan wajah cemas melangkah masuk. Itu adalah Bu Elena, ibu kandung Claudia.

“Claudia, sayangku… kau sudah sadar?” Bu Elena segera mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh wajah putrinya, namun ragu takut menimbulkan rasa sakit. “Bagaimana perasaanmu? Apakah kepalamu masih terasa pusing? Aku sudah memanggil dokter, dia akan datang sebentar lagi.”

Melihat pandangan penuh kasih sayang itu, hati Zerrin sedikit terasa bergetar. Selama hidupnya sebagai Zerrin, ia hanya mengenal kekerasan, persaingan, dan kesetiaan yang diikat oleh kepentingan. Kasih sayang orang tua adalah hal yang asing baginya. Ia tidak memiliki ibu yang memeluknya atau ayah yang menasihatinya dengan lembut. Orang tuanya telah meninggal saat ia masih sangat muda, dan sejak itu ia dibesarkan dalam lingkungan yang keras.

Zerrin menarik napas panjang, lalu mencoba menyesuaikan sikapnya. Ia tidak ingin mencurigakan terlalu cepat, namun ia juga tidak akan berpura-pura menjadi gadis lemah lagi. Dengan suara yang lebih tenang dan tegas, namun tetap sopan, ia menjawab, “Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit pusing, tapi tidak apa-apa.”

Bu Elena tertegun sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara bicara dan tatapan mata Claudia kali ini. Biasanya putrinya akan menangis, memeluknya, dan mengeluh betapa tidak adilnya perlakuan orang lain padanya. Namun kali ini, tatapannya tenang, dalam, dan seolah menyembunyikan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

“Kau yakin, Nak?” tanya Bu Elena dengan ragu. “Mereka… mereka telah menyakitimu lagi. Ibu tahu kau tidak bersalah, Ibu selalu percaya padamu. Tapi kenapa semuanya selalu seperti ini?”

Zerrin mengangguk perlahan, lalu tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin namun menenangkan. “Jangan khawatir, Bu. Segalanya akan berubah mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terulang lagi. Aku akan membuktikan pada semua orang… bahwa Claudia Ramirez bukanlah orang yang mereka kira selama ini.”

Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu kuat hingga membuat Bu Elena tertegun. Ia tidak mengerti apa yang membuat putrinya berubah begitu drastis setelah pingsan, namun hatinya merasa lega melihat ketenangan itu. Mungkin ini adalah tanda bahwa Claudia akhirnya bangkit dari keterpurukannya.

Sementara itu, di ruang tengah rumah besar keluarga Ramirez, kedua kakak Claudia, Adrian dan Brian sedang duduk sambil membaca koran atau bermain ponsel. Saat mendengar kabar bahwa Claudia sudah sadar, Adrian hanya mendengus dingin.

“Sudah sadar juga gadis itu,” ujar Adrian dengan nada sinis. “Semoga dia sadar diri dan tidak membuat masalah lagi di sekolah. Nama keluarga kita sudah cukup tercemar karena tingkah lakunya.”

Brian mengangguk setuju, wajahnya menunjukkan rasa jijik. “Benar. Dia selalu saja menjadi pusat keributan. Aku bahkan malu mengakui dia sebagai adikku jika ada teman yang bertanya. Kalau saja dia bisa bertingkah laku seperti gadis normal, mungkin Arjuna dan teman-temannya tidak akan membencinya.”

Mereka berdua tidak tahu bahwa mulai detik itu juga, Claudia yang selama ini mereka pandang rendah dan anggap beban, telah berubah menjadi sosok yang paling berbahaya yang pernah mereka temui. Musuh yang akan membalas setiap luka, setiap hinaan, dan setiap kesalahpahaman dengan cara yang terencana, sistematis, dan mematikan, sesuai gaya seorang penguasa mafia sejati.

Di dalam kamar, setelah ibunya pergi, Zerrin berdiri kembali di depan cermin. Ia merasakan denyut nadi di tubuh ini, merasakan napas yang teratur. Masa lalunya sudah berakhir, namun naluri dan keahliannya tetap terbawa. Ia mengingat setiap teknik bertarung, setiap strategi mengatur jaringan, setiap cara membaca gerak-gerik musuh. Semua itu adalah bekal terbaiknya untuk memulai babak baru ini.

“Tunggu saja…” bisiknya pada bayangan di cermin, matanya bersinar tajam seperti mata elang yang mengintai mangsa. “Bersiaplah, Adrian, Brian, Arjuna, dan siapa pun yang berani bermain di belakang layar. Permainan baru baru saja dimulai, dan aku akan menjadi penguasa tunggal dalam permainan ini.”

Dan di luar jendela, matahari mulai terbit, menyinari kota dengan cahaya keemasan, menandakan hari baru yang akan mengubah takdir banyak orang, terutama bagi mereka yang telah salah menilai siapa sebenarnya Claudia Ramirez.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!