Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Masa Lalu dan Takdir Baru
Suasana kamar berdesain klasik abad pertengahan itu terasa begitu mencekam, seolah-olah waktu sengaja memperlambat detaknya hanya untuk menyiksa penghuninya. Di luar, langit Kendari sedang menumpahkan kemarahannya. Hujan badai menderu-deru, menghantam kaca-kaca jendela besar dengan suara berisik yang konstan, diselingi kilatan petir yang sesekali menerangi ruangan yang temaram.
Halra Wiragata berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai ukiran emas yang usang. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun putih polos panjang yang dikenakannya membuat siluet tubuhnya terlihat semakin kurus, dan kulit wajahnya yang pucat tampak begitu rapuh di bawah pencahayaan lampu dinding yang meredup. Malam ini, jam dinding perunggu di sudut kamar baru saja berdentang dua belas kali. Hari ini, ia genap berusia tujuh belas tahun. Sebuah usia yang seharusnya disambut dengan tawa dan perayaan kedewasaan.
Namun bagi Halra, tidak ada perayaan. Hari ulang tahunnya hanyalah sebuah pengingat tahunan tentang malam jahanam sepuluh tahun yang lalu.
Tangannya yang dingin perlahan terangkat, menyentuh permukaan kaca cermin, tepat di bagian dadanya yang mendadak terasa sesak. Setiap kali gemuruh guntur terdengar, otaknya secara paksa memutar ulang rekaman memori yang paling ingin ia kubur hidup-hidup. Malam itu, cuacanya persis seperti ini. Ia duduk di kursi belakang mobil listrik pintar milik orang tuanya, tertawa kecil melihat sang ayah yang sedang menggoda ibunya. Namun dalam hitungan detik, tawa itu berubah menjadi jeritan horor. Layar dasbor digital mobil mendadak berkedip merah secara brutal, memunculkan baris-baris kode enkripsi asing yang bergerak cepat seperti air bah.
"Remnya tidak berfungsi! Sistemnya mengunci, Ayah tidak bisa mengendalikan setirnya!" Teriak ayahnya malam itu dengan urat leher yang menegang panik.
Sistem navigasi otomatis mobil telah diambil alih sepenuhnya oleh entitas luar. Mobil itu berbelok liar secara mandiri, mengabaikan segala upaya manual sang ayah, hingga akhirnya melesat menembus pembatas jalan dan terjun bebas ke dalam jurang sedalam tiga puluh meter. Halra selamat hanya karena tubuh kecilnya terlempar keluar melalui kaca jendela yang pecah dan mendarat di semak-semak lebat, sesaat sebelum mobil itu menghantam dasar jurang dan meledak menjadi bola api raksasa.
Polisi dan media menutup kasus itu dengan cepat, menyebutnya sebagai kelalaian teknis murni atau system error pada perangkat lunak pabrikan. Tapi Halra tahu itu bohong besar. Beberapa hari setelah pemakaman, dari balik lemari ruang kerja yang gelap, Halra kecil mendengar Nenek Daisa berbisik dengan nada penuh dendam kepada seorang detektif swasta. Sistem siber mobil itu sengaja diretas melalui serangan siber (phishing cyber-attack) yang sangat rapi dan terencana. Dan dalang yang mendanai peretas jenius itu adalah satu nama yang menjadi kompetitor paling licik di bisnis mereka: Joharo.
"Menatap cermin terlalu lama tidak akan mengubah apa yang sudah digariskan oleh takdir, Halra."
Sebuah suara parau namun sarat akan otoritas memecah keheningan kamar. Halra tersentak dari lamunannya, matanya beralih dari cermin menuju ke tengah ruangan.
Nenek Daisa duduk kaku di kursi roda peraknya. Wanita tua itu mengenakan pakaian serba hitam, kontras dengan gaun putih yang dipakai Halra. Wajahnya yang dipenuhi keriput tampak sedingin es, seolah-olah hatinya telah membatu selama sepuluh tahun ini. Namun, jika Halra jeli, ada getaran samar yang sangat halus di jemarinya yang keriput, yang saat ini sedang mencengkeram erat sebuah map hukum berbahan kulit tebal dengan segel resmi kejaksaan di atas pangkuannya.
Halra berbalik badan perlahan, melipat kedua tangannya di dada untuk menyembunyikan tubuhnya yang menggigil. "Untuk apa Nenek menyuruh Bi Sumi memanggilku di jam seperti ini? Dan pakaian ini... kenapa Nenek memaksaku memakai gaun putih konyol ini di malam ulang tahunku?"
Nenek Daisa tidak langsung menjawab. Ia menatap cucunya lama sekali, meneliti setiap senti wajah Halra yang sangat mirip dengan mendiang putranya. Ada kilat kesedihan yang melintas cepat di matanya sebelum kembali berubah menjadi tatapan tajam dan dingin.
"Mulai malam ini, kamu bukan lagi anak kecil yang bisa bersembunyi di balik ketakutanmu, Halra," ucap Nenek Daisa, suaranya bergaung berat di antara dinding-dinding kamar yang tinggi. Ia mengangkat map kulit di tangannya dan meletakkannya di atas meja rias dengan hentakan pelan. "Hari ini usiamu tujuh belas tahun. Secara hukum adat keluarga Wiragata dan undang-undang yang berlaku, kamu sudah legal untuk menerima komitmen sebuah pernikahan. Dan semua berkas status perlindungan hukummu sudah selesai diurus."
Halra mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia melangkah mendekati meja rias, menatap map tersebut seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. "Menikah? Apa maksud Nenek? Aku bahkan belum menyelesaikan ujian akhir sekolahku! Konflik sengketa hotel kita dengan investor luar saja belum selesai, dan Nenek malah memikirkan perjodohan konyol?"
Nenek Daisa memejamkan matanya erat-erat, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan sisa kekuatan batinnya untuk menjatuhkan vonis paling berat dalam hidup cucunya.
"Ini bukan perjodohan konyol, Halra. Ini demi melindungimu. Kamu harus menikah dengan Sano Joharo. Minggu depan, pernikahan ini akan terjadi, dengan atau tanpa persetujuanmu.
Deg.
Dunia Halra seolah runtuh dan hancur berkeping-keping saat itu juga. Nama itu... nama belakang itu meluncur dari mulut neneknya sendiri seperti sebuah pisau yang langsung menikam jantungnya.
"Sano... Joharo?" Suara Halra bergetar hebat, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya. Ia melangkah mundur, menatap neneknya dengan pandangan horor yang luar biasa. "Pria dewasa berusia dua puluh empat tahun itu? Anak bungsu dari keluarga... keluarga pembunuh?"
"Jaga bicaramu, Halra!" Potong Nenek Daisa dengan suara yang naik satu oktav, matanya berkilat marah. "Pernikahan ini sudah final!"
"Tidak! Aku tidak akan pernah sudi!" Teriak Halra, tangisnya pecah seketika. Air mata kemarahan yang luar biasa luruh membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya bergetar begitu hebat hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh terjerembap.
Halra melangkah maju dengan nekat, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di hadapan kursi roda neneknya. Ia mencengkeram kedua tangan keriput Nenek Daisa dengan putus asa, menatap wajah wanita tua itu dengan mata yang merah dan basah.
"Tapi Nek! Mobil itu tidak kecelakaan! Nenek tahu betul tentang hal itu! Sistemnya diambil alih, layarnya dimanipulasi! Keluarga mereka yang memprogram kematian Ayah dan Ibu di jurang itu! Mereka pembunuh, Nek!" Jerit Halra dengan suara melengking yang pecah oleh rasa sakit yang teramat dalam. "Bagaimana bisa Nenek menyerahkanku pada anak seorang pembunuh?! Apa Nenek sengaja menjualku pada mereka? Nenek mau menyerahkan seluruh aset Hotel Wiragata pada tangan-tangan kotor yang sudah bersimbah darah orang tuaku?!"
Nenek Daisa menatap lurus ke dalam sepasang mata Halra yang dipenuhi air mata. Rahang wanita tua itu mengeras. Ia tidak membalas pelukan tangan Halra, melainkan menarik tangannya sendiri secara perlahan namun dengan ketegasan yang mutlak, melepaskan cengkeraman putus asa cucunya.
"Pernikahan ini bukan tentang menjualmu, Halra," ucap Nenek Daisa, suaranya mendadak kembali merendah, sedingin dan sedatar permukaan danau di musim dingin. "Kamu terlalu naif untuk memahami badai korporat yang sedang mengincarmu di luar sana. Jika kamu tetap berdiri sendiri dengan nama Wiragata, dalam waktu satu bulan, orang-orang itu akan meretas seluruh hidupmu sampai kamu mati kelaparan di jalanan, atau berakhir di dasar jurang yang sama dengan orang tuamu."
Halra menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak penjelasan itu. "Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan diriku dan tidur di ranjang yang sama dengan seorang Joharo! Aku membenci mereka! Aku membenci Sano Joharo!"
Nenek Daisa memutar kursi rodanya, memunggungi Halra yang masih menangis tergugu di atas lantai dingin dengan gaun putihnya yang kini tampak kusut. Wanita tua itu menatap lurus ke arah jendela yang terus-menerus disambar petir, menyembunyikan setitik air mata yang akhirnya jatuh di pipinya sendiri. Sebuah rahasia besar tentang Sano Joharo sengaja ia simpan rapat-rapat di dalam dadanya, karena Halra belum siap untuk mengetahuinya.
"Menangislah malam ini, Halra. Habiskan air matamu," ucap Nenek Daisa tanpa menoleh lagi, suaranya terdengar dingin tanpa ampun sebelum ia menggerakkan kursi rodanya menuju pintu keluar. "Sebab mulai minggu depan, saat Sano Joharo datang ke mansion ini untuk menjemputmu sebagai istrinya yang sah, air mata tidak akan lagi bisa menyelamatkanmu dari takdir barumu."
Pintu kamar tertutup dengan suara klik yang bergema pelan, meninggalkan Halra sendirian di tengah ruangan yang sunyi, ditemani oleh gemuruh badai yang seolah sedang menertawakan kemalangannya yang baru saja dimulai.